My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Lima tahun telah berlalu



Seorang Alvaro yang dikatakan memiliki sifat datar, dingin dan tak tersentuh bahkan arogan! Kini justru berbalik fakta tentang sifatnya... Dan itu semua karena ulah istri kecilnya itu yang telah tega pergi meninggalkan dirinya untuk kedua kalinya dalam hidupnya...


Seorang yang amat ia cintai justru kini malah kembali pergi meninggalkannya untuk kesekian kalinya... Lalu... Apa yang harus Alvaro lakukan saat ini? Tidak ada! Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah menangis dan menangis... Lemah? Ia sebenarnya membenci kata itu, tapi kali ini sepertinya tidak.


...Skippppp......


...Lima tahun kemudian......


Tak terasa kini sudah lima tahun lamanya... Sudah lima tahun ini Queena bahkan masih tidak ada niatan untuk kembali bersama dengan Alvaro! Dan sudah lima tahun ini, Queena juga telah melahirkan putra-putrinya di negara asing tanpa sosok Alvaro di sampingnya.


Yaps... Jadi Queena sudah melahirkan keempat anaknya, dimana mereka berempat berjenis kelamin dua laki-laki dan dua perempuan. Dan kini keempatnya sudah berusia lima tahun, mereka berempat tumbuh dengan baik. Walaupun tanpa sosok sang daddy di sisi mereka.


...Rumah Queena....



Kini Queena tidak tinggal di apartemen miliknya lagi, karena dirinya sudah membeli sebuah rumah kecil untuk dirinya tinggal bersama dengan anak-anaknya begitu juga dengan Lauren yang ikut menemani dan menjaga keempat keponakannya itu.


Bagi Queena itu bukanlah mansion tapi rumah kecil miliknya, dimana empat tahun sebelumnya ia sudah membeli rumah tersebut.


"Mommyyy!!" Teriak seorang gadis kecil dengan berlari menuju pelukan sang mommy.


...Haaappppp...


"Ariaaa!"


"Sudah mommy katakan padamu untuk tidak berlari-lari seperti ini, apa kau mau lutut kaki-mu kembali terluka? Hmmm" Ujar sang mommy yang tak lain adalah Queena yang kini tengah menasehati putrinya itu untuk berhati-hati dalam segala kelakuan yang dibuat putrinya itu.


"I'm sorry mommy, aku hanya ingin memberitahumu mengenai adikku" Jawab gadis kecil tersebut yang bernama Arianna.


"Ada apa dengan adikmu? Hmmmm... Katakan dengan cepat kepada mommy" Pinta Queena dengan nada khawatir.


"Aku tidak bisa mengatakannya mommy! Tapi... Kau harus segera ikut denganku kebelakang rumah" Tutur Arianna dengan menunjukan wajah khawatirnya.


"Baiklah" Balas Queena lalu menggendong tubuh mungil putrinya itu untuk segera pergi menuju taman belakang rumahnya. Lalu sesampainya di sana.


...Taman Belakang...


"Mommy! Itu Briaaa" Tunjuk Arianna kepada adiknya yang kini tengah terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.


"Brianna sayang, ada apa denganmu nakk? Katakan pada mommy mengapa kau menangis" Tanya Queena dengan menurunkan Arianna dalam gendongannya lalu perlahan dirinya mulai memangku putri bungsunya itu yang bernama Brianna.


"Huwaaaaaaa"


"Mommy sakit! Huhhhh... huhhhh... hikssss..." Tangis Brianna dengan memeluk erat tubuh sang mommy Queena dan mengadu bahwa dirinya tengah merasa sakit.


"Apa yang terjadi? Mengapa Brianya mommy menangis? Apa yang sakit sayang" Tanya Queena kembali dengan lirih.


"Mommy" Panggil Arianna dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa Aria?" Tanya Queena dengan menarik pelan putrinya itu kedalam pangkuannya juga sama seperti Brianna.


"Ini semua salahku!"


"Aku tidak bisa menjaga adikku hikssss... Mommy berikan aku hukuman hikssss..." Isak kecil Arianna dengan terus menundukkan wajahnya karena dirinya takut dengan wajah sang mommy saat ini, sekaligus merasa bersalah terhadap adiknya karena tidak bisa melindungi adiknya sebagai seorang kakak.


"Mommy tidak mengerti, tolong ceritakan pada mommy apa yang telah terjadi? Mengapa Bria bisa menangis dan keningnya bisa berdarah seperti ini. Lalu... Mengapa Aria meminta hukuman kepada mommy? Memangnya apa yang Aria lakukan kepada Bria?" Tanya Queena lagi-lagi yang memang tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan kedua putrinya ini.


"Hikssss... Mommy ini semua bukan salah kakak Hikssss... hikssss... Kepalaku berdarah karena Ellen melemparkan batu kepadaku hikssss..." Celetuk Brianna dengan menggelangkan pelan kepalanya karena sang kakak yaitu Arianna meminta sebuah hukuman kepada sang mommy hanya karena tidak mampu melindungi'nya.


"Ceritakan pada mommy, kalau tidak mommy akan menghukum kakakmu" Pinta Queena dengan berbohong kepada putrinya mengenai hukuman untuk sang kakak Arianna, padahal ia tidak akan memberikan hukuman apapun pada putrinya itu.


"Tadi hikssss... Bria sama kakak lagi bermain disini!Tapi... Tiba-tiba Ellen datang dan dengan mengejek kami lalu mengatakan bahwa kami tidak punya daddy! Ellen bilang hikssss... Aku dan kakak-kakaku adalah anak haram hikssss... hikssss... Lalu setelah itu... Huwaaaaaaa... huhhhh... huhhhh..." Tangis Brianna yang tidak bisa kembali melanjutkan ceritanya.


"Setelah itu Bria marah karena mendengar ejekan yang diberikan Ellen untuk kami. Lalu... Ellen-pun tidak terima karena Bria berkata bahwa Ellen jahat sambil berteriakk! Dan Ellen pun mulai mengambil batu yang tajam dan mulai melemparkannya kepada Bria, hingga membuat Bria seperti ini, mommy! Maafkan aku karena aku tidak bisa melindungi adik-ku Bria. Mommy tolong berikan aku hukuman" Sahut Arianna yang masih enggan untuk menatap wajah Queena.


"Mom--myyy hikssss... huhhhh... huhhhh... Bria dan kakak hikssss... bukan anak haram kan? hikssss... huhhhh... huhhhh... mommy, bukan kan? hikssss" Isak Brianna dengan bertanya kepada sang mommy.


...Deggggg...


'Anak haram? Tidak! Anak-anakku masih mempunyai seorang daddy, mereka bukan anak haram... Hanya saja' Batin Queena.


"Mommy tidak akan menghukummu Aria, bagaimana pun juga Aria tidak salah... Jadi mommy tidak akan menghukum-mu" Tutur Queena dengan tersenyum sendu sambil menatap wajah kedua putrinya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Mommy" Panggil Brianna.


"Apakah yang dikatakan Ellen benar? Hikssss... Bahwa kami adalah anak haram hikssss... Tolong katakan padanya mommy. Huhhhh... huhhhh... bahwa kami punya daddy hikssss... kami bukan anak haram" Lirih Brianna.


...Jeduaarrrrrr...


Bak disambar petir disiang hari, Queena yang mendengar pertanyaan dari putri bungsunya itu malah kini menjadi diam mematung dengan menatap kosong sekitarnya lalu... Tak lama kemudian iapun mulai tersadar kembali.


"Tidak!"


"Kalian bukan anak haram sayang, kalian masih mempunyai daddy" Jawab Queena dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu dimana daddy kami?" Celetuk seorang anak laki-laki yang baru saja datang bersamaan dengan Lauren. Dengan aura dingin dan datar bocah laki-laki tersebut pun bertanya. Persis seperti Alvaro kecil.


"Alzo?" Ucap Queena pelan.


"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku mommy" Kata anak laki-laki tersebut yang bernama Alkenzo yang kini tengah menatap wajah Queena dengan tatapan datar dan dingin sama seperti kembarannya yaitu Alkenzie yang biasa dipanggil Alzie yang juga ikut menatap wajah sang mommy.


"Alzo, kau tidak boleh berkata seperti itu terhadap mommymu" Ujar Lauren dengan menasehati Alkenzo putra pertama Queena dan Alvaro itu.


"....."


Lauren tidak heran lagi dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alkenzo saat ini! karena pada dasarnya Alkenzo memang sudah seperti itu sedari kecil, berbeda dengan Alkenzie... Alkenzie lebih cenderung memiliki sikap ceria dibandingkan dengan Alkenzo yang memiliki sifat seperti sang daddy. Yaitu berwajah datar dan berwajah dingin bak tembok yang terbuat dari es dan juga sikap arogan yang sama persis seperti Alvaro. Karena Alvaro adalah daddy mereka maka sifatnya Alvaro tidak heran menurun ke putranya.


"Mommy sudah berulang kali mengatakan bahwa daddy kalian saat ini sedang bekerja di luar negeri... Jadi... Kalian tidak bisa bertemu dengannya saat ini" Balas Queena dengan berbohong.


"Pembohong"


"Mommy, mengapa kau berulang kali mengatakan sebuah kebohongan kepada kami? kami memang masih kecil tapi tidak dengan pemikiran kami, kau tidak dapat membohongi kami" Jelas Alkenzo dengan datar menatap wajah sang mommy.


"Ka Alzo. Kau tidak boleh melawan mommy" Sahut Alkenzie yang kini mulai membuka suaranya.


"....."


Queena yang mendengar balasan dari putra sulungnya itu-pun hanya bisa terdiam, karena bagaimanapun dirinya saat ini sedang tidak bisa berkata-kata. Ia dibuat mati kata oleh putranya itu.


"Kakak" Panggil Lauren dengan nada panik.


"Ada apa?" Tanya Queena.


"Kakak, Brianna ka!" Panik Lauren dengan terburu-buru berlari mendekati Queena dan Brianna.


"Brianna sayang... Bangun nakk! Jangan membuat mommy cemas seperti ini. Brianna bangun sayang jangan menakuti mommy" Khawatir Queena dengan menepuk pelan pipi putrinya itu yang sudah tak sadarkan diri.


Bagaimana tidak khawatir dan panik, saat ini Brianna tiba-tiba tidak sadarkan diri... Bahkan darah tiba-tiba saja keluar dari lubang hidungnya dengan sanga banyak, saking banyaknya bahkan darah Brianna mengenai baju milik Queena.


"Lauren, bantu kakak! Kita pergi kerumah sakit sekarang" Pinta Queena yang diangguki oleh Lauren, lalu dengan cepat Lauren-pun mulai mengambil alih tubuh Brianna dan membawa Brianna secepat mungkin menuju rumah sakit diikuti oleh Queena dibelakangnya yang kini tengah menggendong Arianna.


Tapi sebelum Queena pergi, Ia terlebih dahulu berhenti tepat di hadapan putranya yaitu Alkenzo dan Alkenzie.


"Maafkan mommy, mommy pasti akan mengatakan dimana keberadaan daddy kalian jika sudah saatnya! Sekarang... Kalian ikutlah dengan mommy" Ucap Queena dengan lirih kepada putranya.


"Baik mommy" Jawab Alkenzie sedangkan Alkenzo ia hanya diam sambil menatap wajah sang mommy saja.


...Rumah Sakit...


"Lauren, bagaimana keadaan Bria?" Tanya Queena dengan nada cemas dan khawatir.


Masih ingat dengan pekerjaaan Lauren? Pasti kalian ingat! Yups... Seorang dokter. Jadi... Selama ini Lauren telah menjadi dokter pribadi keluarganya sendiri. Dan mengenai kondisi Brianna ia sudah berulang kali mengatakannya kepada Queena bahwa kondisi keadaan Brianna semakin memburuk.


"Jawabannya tetap sama kakak" Jawab Lauren.


"Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Brianna? Selain..." Ucap Queena dengan berhenti di kalimati terakhirnya.


"Aku rasa ucapan Alzo saat itu benar kakak. Bahwa kau sangat keras kepala" Ujar Lauren dengan menatap wajah Queena dengan wajah sedikit kecewa.


"Kalian semua tidak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan" Kata Queena pelan.


"Aku mengerti kakak, tapi... Tidak bisakah kau menyingkirkan egomu untuk kali ini saja? Demi Brianna ka!" Tutur Lauren dengan memegang tangan Queena.


"Kakak.... Kakak akan pikirkan baik-baik! Dan besok kakak pasti akan memberikan keputusannya" Tutur Queena lalu perlahan melepaskan tangan Lauren dan pergi menuju ruang rawat putrinya itu.


"Kakak aku percaya padamu, bahwa kau pasti bisa menyingkirkan ego mu demi anak-anakmu" Gumam pelan Lauren dengan tersenyum manis.