
"Hikssss... Putraku! Mengapa kau kembali seperti ini hikssss..." Tangis Maura dengan terduduk lemas dilantai rumah sakit yang dingin tersebut.
"Hikssss... Tidak mungkin" Isak Queena kembali.
"Kakak!" Panggil Sesillia yang baru datang dengan David dibelakangnya.
Yaa, jadi... Sesillia dan David memang tidak berada disitu sebelumnya dan mereka berdua baru datang sekarang karena dirinya yang baru selesai mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
"Sesillia hikssss..." Panggil Queena dengan berhamburan memeluk tubuh Sesillia yang baru saja datang dengan begitu eratnya.
"Kakak ipar, pasti akan baik-baik saja ka hikssss... Aku yakin kakak ipar pasti bisa melewati ini semua hikssss..." Kata Sesillia dengan mengeratkan pelukannya.
"Hikssss... Ini semua karena kakak hikssss... Jika kakak tidak menutupi fakta tentang kebenarannya, mungkin ini semua tidak akan terjadi hikssss... hikssss..." Lirih Queena yang lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi kepada suaminya Alvaro itu.
...Bruuukkkk...
Ketika ingin melepaskan pelukannya Queena tiba-tiba saja jatuh pingsan dibahu milik Sesillia, hingga membuat Sesillia terkejut dan dengan cepat memeluk tubuh Queena agar Queena tidak jatuh kebawa nantinya.
"Kakak! Ka Queena" Panggil Sesillia dengan panik karena Queena yang tiba-tiba pingsan dalam pelukannya.
"Anna!!"
"Annaaaa!!"
"Queenaaa!!"
Panggil semua orang yang panik dengan keadaan Queena yang pingsan di bahu milik Sesillia secara tiba-tiba.
...Grepppp...
Dengan Cepat, Zayyann-pun menggendong tubuh Queena dan membawa Queena pergi kedalam ruang VVIP untuk membaringkan Queena disana, sekaligus memeriksa kondisi keadaan Queena saat ini.
"Nakk, cepat hubungi dokter Vanessa! Dan katakan padanya untuk segera datang keruang VVIP untuk memeriksa keadaan kondisi Anna" Titah Zian kepada Alea dan itupun dibalas anggukan kecil oleh Alea.
Untuk Aldo, ia tidak ikut pergi kerumah sakit karena dirinya yang masih syok karena kejadian tadi, hingga membuat dirinya pergi pulang ke mansion saja.
...Ruang VVIP No 2...
Kini dengan perlahan Zayyann-pun menurunkan tubuh Queena dan membaringkannya di kasur rumah sakit tersebut yang terdapat di dalam ruangan VVIP No 2. Dan untuk Alvaro ia juga telah dipindahkan ke ruang VVIP No 1 tepat di sebelah ruangan milik Queena, agar Alvaro lebih nyaman nantinya begitu juga dengan Queena.
"Tolong kau periksa keadaan kondisi keponakan-ku" Titah Zayyann kepada Vanessa yang baru datang.
"Baik tuan" Jawab Vanessa dengan cepat, lalu setelah itu iapun mulai memeriksa kondisi Queena dengan sangat telaten dan hati-hati.
"Bagiamana kondisinya?" Tanya Zian.
"Apakah nyonya muda seharian ini tidak berhenti menangis?" Tanya Vanessa dengan mengerutkan keningnya.
"Hmmmm" Dehem Zian sambil mengangguk kecil.
"Sekarang kondisi tubuh nyonya muda semakin melemah! Dan tubuh nyonya muda kekurangan vitamin dan cairan, karena nyonya muda yang terus saja tak henti-hentinya menangis dalam seharian ini, bahkan nyonya muda lupa meminum vitaminnya dan lupa untuk mengisi perutnya! Itulah sebabnya nyonya muda jatuh pingsan... Karena kelelahan dan kekurangan cairan bahkan kekurangan Vitamin" Jelas dokter Vanessa dengan memasangkan sebuah jarum infus kepada Queena di telapak tangan kanannya.
"Sekarang yang dibutuhkan nyonya muda adalah istirahat, dan mohon berikan vitamin nyonya muda dan makanan untuk nyonya muda segera... Karena janin yang didalam perut nyonya muda ikut lemah karena tidak adanya asupan apapun" Ujar dokter Vanessa kembali.
"Baik"
"Dan satu lagi, mohon untuk tidak membuat nyonya muda kembali stres. Lalu... Jangan biarkan nyonya muda pergi terlebih dahulu dari ruangan Ini. Biarkan cairan infusnya habis terlebih dahulu dan pastikan nyonya muda beristirahat dengan tenang tanpa adanya gangguan" Tutur dokter Vanessa.
"Hmmmm"
"Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, karena masih ada pasien yang harus saya tangani saat ini" Pamit dokter Vanessa dengan hormat.
Ohh yaa, bukankah tadi Vanessa ikut kedalam acara pernikahan Sesillia dan David? Lalu mengapa ia bisa terpisah secara tiba-tiba, jawabnya karena saat ucap janji suci selesai. Vanessa meminta izin kepada Alvaro untuk pergi memeriksa pasien nya yang mendesak terlebih dahulu. Dan Alvaro'pun mengizinkan nya selagi Vanessa bisa membagi waktunya untuk Queena disaat Queena membutuhkannya, makanya tidak heran Vanessa tadi tidak ada di kejadian barusan.
"Baiklah, terimakasih" Jawab Alea dengan Tersenyum kecil.
"Sama-sama myonya" Balas dokter Vanessa dengan membalas senyuman kecil dari Alea barusan, lalu setelah itu iapun pergi.
"Aku akan menyuruh salah satu suster untuk membawakan makanan buat Anna, dan Vitamin untuk Anna" Kata Kiana dan Alea secara bersamaan.
"Pergilah" Jawab Zian.
"Aku ingin menjenguk putraku disebelah terlebih dahulu" Tutur Maura lalu pergi begitu saja.
"Suamiku, aku ingin ikut dengan mommy... Untuk menjaga kakak ipar Alvaro" Bisik Sesillia kepada David.
"Kita pergi bersama" Kata David dengan berbisik
pula, lalu setelah itu mereka berdua-pun pergi untuk menyusul Maura.
Dan tinggallah Zayyann dan Zian didalam ruangan Queena berdua saja.
...*****...
...Alam bawah sadar......
"Dimana ini?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Alvaro dengan nada kebingungan setelah tersadar bahwa dirinya sedang berada di tempat yang asing.
Yaapp, jadi alam bawah sadar tersebut adalah alam bawah sadar milik Alvaro.
"Mengapa aku berada disini? Tempat apa ini... Mengapa semuanya berwarna putih... Tempat apa ini sebenarnya" Tanya Alvaro yang kebingungan.
"Daddy" Panggil seorang anak kecil yang imut yang mana berada didekat Alvaro saat ini.
"Kau siapa?" Tanya Alvaro lagi-lagi kebingungan dengan semuanya karena secara tiba-tiba ada seorang anak kecil yang kini tengah berada didekatnya dengan wajah imutnya menatap dirinya.
"Daddy pulanglah..."
"Pulanglah daddy! Mommy merindukanmu... Hingga tidak bisa berhenti menangis karena merindukanmu" Kata anak kecil tersebut dengan menarik-narik baju milik Alvaro.
"Aku putrimu"
"Dan kaudDaddyku... Dan mommyku adalah istrimu" Jawab anak kecil tersebut yang berjenis kelamin perempuan.
"Putriku?" Gumam Alvaro.
"Iyaa, daddy!"
"Kalau begitu cepatlah pulang.... mommy merindukanmu" Ujar anak kecil tersebut dengan terus saja menarik baju milik Alvaro.
...Kembali ke dunia nyata......
...*****...
...Ruang VVIP No 1...
"Putraku" Lirih Maura dengan berjalan mendekat kearah Alvaro yang kini tengah berbaring tidak berdaya dengan seluruh tubuh yang terpasang alat-alat medis disetiap tubuhnya.
"Mengapa kau seperti ini kembali nakk? Mengapa kau membuat mommy menangis kembali dengan keadaan-mu yang sama seperti dulu" Tanya Maura pelan dengan duduk disamping ranjang Alvaro.
"Kau kembali koma, karena Anna kembali. Dulu... Dan sekarang... Itu karena kau melindungi Anna! Hingga membuat dirimu kembali koma seperti ini" Ucap Maura pelan.
"Mommy mohon padamu, bukalah matamu hikssss... mommy sangat sedih jika melihatmu seperti ini hikssss... Jika waktu bisa diulang kembali, biarkan mommy saja yang seperti ini! Biarkan mommy yang menggantimu hikssss... hikssss..." Isak Maura dengan bersusah payah tidak mengeluarkan suara tangisnya karena suara tangisnya nanti akan menggangu ketenangan putranya Alvaro, maka sebab itu ia menahannya.
"Mommy" Lirih seseorang yang tak lain adalah Sesillia dari luar ruangan Alvaro, yang kini tengah mengintip dari kaca.
Ruangan Alvaro tidak diperbolehkan untuk masuk melebihi satu orang, karena dokter Arlan dan dokter Vito mengatakan jika beberapa orang ikut masuk kedalam ruangan Alvaro itu akan membuat istirahatnya Alvaro menjadi terganggu, oleh sebab itu hanya satu orang saja yang bisa masuk dan secara bergantian.
"Suamiku, lihatlah mommy. Kasihan mommy" Kata Sesillia dengan menatap sang auami yang kini tengah berada disampingnya.
"Aku tau... Maka dari itu kita berdoa-lah. Agar Alvaro bisa melewati masa komanya dengan cepat, agar mommy dan kakak ipar tidak merasa sedih seperti tadi" Ujar David yang diangguki oleh Sesillia.
"Hmmmm, kau benar suamiku" Tutur Sesillia dengan menatap sendu kepada Maura.
...Ruangan VVIP No 2...
"MENGAPA!!"
"Mengapa kau menyembunyikannya darikuuu! Katakan padaku Angel" Teriak Alvaro yang marah akan fakta yang sebenarnya.
"Hikssss... Maaf" Tangis Queena dengan terduduk lemas karena dirinya yang tidak sanggup untuk berdiri lagi.
~
"Apakah drama kalian ini sudah selesai? Aku lelah... Aku ingin mengakhiri semuanya sekarang" Kata Mira dengan kembali menodongkan pistol miliknya kearah Queena.
...Dooorrr...
...Dooorrr...
...Dooorrr...
...Dooorrr...
"Bajingan! Sialan!" Marah Mira.
~
"TIDAAKKK!!" Teriak Queena dengan histeris.
"PUTRAKU ALVAROOO!!" Teriak Maura dengan berhamburan mendekat kearah Alvaro yang telah tertembak.
~
"Ja-jangan... pernah me-nya-lahkan dirimu at-tas ap--ap yang telah terjadi... Ini... Su--sudah kehendak tuhan" Kata Alvaro dengan terbata-bata.
"Hikssss... hikssss... Berjanjilah kepadaku! Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku hiksss..." Isak Queena.
"Aku janji!" Ucap Alvaro dengan tersenyum manis lalu tak lama kemudian iapun mulai menutup kedua matanya secara perlahan.
"TIDAKKKK!!"
...*****...
"TIDAAKKKK!!" Teriak Queena yang tersadar dari pingsannya, hingga membuat Alea, Zayyann, dan Zian terkejut ketika mendengar teriakannya.
"Anna, apa kau bermimpi buruk?" Tanya Alea yang buru-buru mendekat kearah Queena lalu mengelap keringat dingin yang berada di kening Queena.
"Hahhh... Hahhh... Hahh..."
"Dimana Varo?" Tanya Queena dengan nafas yang naik turun naik turun.
"Suamimu berada disebelah ruangan-mu" Jawab Zian yang ikut mendekat kearah cucunya itu begitu juga dengan Zayyann.
"Aku... Aku ingin melihat suamiku" Kata Queena yang bersusah payah untuk turun dan melepas jarum infusnya.
"Kau tidak boleh keluar" Kata Zayyann dengan menghalangi Queena untuk melepaskan jarum infus yang berada ditangannya dan langkah kakinya.
"Uncle, aku ingin menemui suamiku" Pinta Queena dengan lirih.
"Saat ini kau tidak bisa... Diamlah disini! Kondisimu sedang tidak baik-baik saja, kau tidak boleh keluar dari ruangan-mu sebelum kau kembali memulihkan kondisimu" Tutur Zayyann dengan tegas agar Queena mau menurut.
"Tapi uncle--" Ucap Queena yang terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian sayang... Kau harus beristirahat sebentar. Apa kau tidak merasa kasian dengan anak-anakmu?" Ujar Zian.
"Tapi, baiklah Grendpa" Jawab Queena yang kini mulai berbaring kembali.