
"Maafkan aku" Ujar Alvaro.
"Kau tau suamiku, aku berusaha payah membuat cemilan ini untuk Alan tapi kau justru malah membiarkan Alan pergi..." Kesal Queena kepada suaminya itu.
"Biar aku saja yang menghabiskannya" Tutur Alvaro.
"Huuuffff, baiklahh. Kalau begitu pegang ini" Jawab Queena dengan membuang nafasnya secara kasar lalu memberikan piring cemilan tersebut kepada Alvaro.
"Kau ingin kemana sayang?" Tanya Alvaro kepada Queena yang kini mulai pergi meninggalkannya.
"Mengganti pakaianku" Teriak Queena.
"Biarkan aku ikut" Balas Alvaro dengan berlari kearah Queena dan terlebih dulu meletakkan piring cemilan tersebut diatas meja ruang tamu.
"Jangan mengikuti ku" Ujar Queena dengan berlari sambil berteriak karena Alvaro suaminya itu ingin pergi mengikutinya berganti pakaian.
"Aku tidak mendengarnya" Teriak Alvaro dengan mengejar Queena yang masuk kedalam kamar dengan berlari.
...*****...
...Skippppp......
...Siang harinya......
"Zea, mari kita pergi beristirahat" Ajak Tania kepada Zea.
"Mari" Jawab Zea dengan tersenyum sambil mengangguk-angguk kepalanya.
"Tunggu" Ucap seseorang dengan memberhentikan langkah kaki Zea dan Tania.
Zea dan Tania yang mendengar suara seseorang memberhentikan dirinya langsung saja menghentikan pergerakan langkah kakinya dan melihat kebelakang siapa yang telah memanggilnya dan memberhentikannya.
"?"
"?"
Zea dan tania pun saling pandang satu sama lain ketika melihat dua wanita tengah menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Zea dengan sopan.
"Bisakah kita ikut bersama kalian? Maafkan kami jika kami mengganggu kalian, hanya saja kami berdua karyawan baru disini jadi kami tidak tau diaman letak kantin disini... Jadi bolehkah kami bergabung bersama dengan kalian?" Ucap salah satu wanita tersebut dengan sopan.
"Ahhh, maafkan aku. Pertama-tama perkenalkan namaku Liora Fouzia Alison aku karyawan baru disini kalian bisa memanggil namaku Liora" Kata wanita tersebut yang bernama Liora.
"Namaku, Zanitha Zayna Alzea! Kalian bisa memanggilku Zea" Jawab Zea dengan membalas uluran tangan dari Liora.
"Senang bisa mengenal kau Zea" Ujar Liora dengan tersenyum bahagia.
"Senang bisa mengenalmu juga"
"Hmmmm, kalian belum menjawab pertanyaan ku" Kata Liora dengan tersenyum kecil.
"Tentu saja kalian berdua bisa bergabung dengan kami, karena kami tidak memilih-milih seseorang untuk bersama dengan kami... Lagi pula kami juga karyawan baru disini... Jadi bisakah kita berteman?" Balas Zea dengan bertanya sambil menaikkan satu alisnya.
"Aku tidak ingin menjadi teman" Kata Liora yang berhasil membuat Zea dan Thania Mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Tanya Zea.
"Karena aku lebih ingin menjadi sahabatmu... Bukan sebagai teman, bolehkah?" Jawab Liora.
"Hahahaha, tentu saja! Sekarang kita adalah sahabat" Tawa Zea dengan mengangguk kecil.
"Terimakasih"
"Sama-sama"
"Ahh, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Tania Agatha Syakayla kalian bisa memanggilku Tania sama seperti Zea" Celetuk Tania dengan mengulurkan tangannya.
"Liora" Balas Liora dengan membalas uluran tangan Tania.
"Namamu?" Tanya tania kepada wanita yang berada didekat Liora.
"Maafkan aku, aku lupa memperkenalkan diriku hehehe.. Perkenalkan namaku Zahira Chakira kalian bisa memanggilku Zaza" Kata wanita tersebut yang bernama Zaza. Lalu iapaun langsung saja membalas uluran tangan dari Tania.
"Salam kenal Zaza" Ucap Zea dan Tania secara bersamaan.
"Salam kenal juga untuk kalian" Balas Zaza dengan tersenyum bahagia.
"Yasudah, kalau begitu mari kita pergi mencari makan sekarang" Ujar Tania yang diangguki oleh ketiganya secara bersamaan.
"Mari" Balas semuanya.
Lalu setelah itu, mereka berdua pun mulai pergi untuk mencari makan siang karena kini memang sudah memasuki waktu istirahat dan waktu untuk makan siang.
...*****...
...Ruangan Alkenzie...
"Tuan, ini sudah waktunya makan siang" Panggil Leo kepada Alkenzie yang masih setia didepan laptopnya.
"Benarkah?" Tanya Alkenzie yang tidak sadar bahwa kini sudah siang hari.
"Benar tuan" Jawab Leo.
"Hmmm, baiklah! Mari kita pergi keluar" Ajak Alkenzie dengan menutup layar laptopnya lalu pergi bersiap untuk keluar mencari makan.
"Mari tuan" Balas Leo.
...Ruangan Alkenzo...
Sama hal nya dengan Alkenzie tadi, Alkenzo pun kini masih berada di dalam ruangan nya dengan mata yang masih terfokus menatap layar laptop nya dengan wajah santainya ia mengerjakan pekerjaannya kantornya. Bahkan dengan sangat santainya ia sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Dion yang sedari tadi berdiri di depannya dengan terus memanggil namanya. Tapi tetap saja Alkenzo tidak mendengarnya karena ia memang benar-benar gila akan pekerjaaan sama seperti Alkenzie dan itu turunan dari sang daddy.
'Tuan Alzo ini... Benar-benar gila akan pekerjaaan! Apa ia tidak merasa lelah?' Batin Dion.
"Tuan" Panggil Dion.
"....."
Masih sama seperti tadi, tidak ada jawaban dari Alkenzo sama sekali karena dirinya yang benar-benar sangat fokus dalam pekerjaannya.
"Tuannnn" Teriak Dion yang kini mulai tidak ada lagi jalan keluar selain berteriak agar Alkenzo dapat tersadar akan kehadirannya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak ada pilihan lain selain memanggil anda dengan berteriak. Karena saya sedari tadi sudah memanggil anda tapi anda tidak mendengarnya" Jawab Dion dengan menundukkan kepalanya.
"Hmmmm, ada apa?" Dehem Alkenzo dengan bertanya kepada Dion.
"Tuan, saya ingin menyampaikan bahwa kini sudah waktunya untuk makan siang" Kata Dion yang kini mulai mengangkat wajahnya kembali.
"Hmmmm, bersiaplah" Balas Alkenzo dengan merapikan berkas-berkas miliknya dan dibantu oleh Dion tentunya.
"Baik tuan" Jawab Dion.
...*****...
...Cafe,K...
"Tunggulah disini Leo, aku ingin pergi ke toilet sebentar" Titah Alkenzie kepada Leo.
"Baik tuan" Jawab Leo.
Setelah memerintahkan Leo untuk tetap di kursinya. Alkenzie pun langsung saja pergi menuju ke arah toilet tapi ketika dirinya baru mau menginjakkan kakinya ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Alkenzo yang baru keluar dari dalam toilet.
"Kakak?" Panggil Alkenzie kepada Alkenzo.
"Kau makan siang di sini juga?" Tanya Alkenzo sedikit datar.
"Benar, kau juga ka?" Tanya balik Alkenzie.
"Hmmmm, dimana kursimu? Kakak akan duduk bersamamu saja" Kata Alkenzo dengan bertanya kepada Alkenzie dimana kursi duduk yang sudah di pesan oleh Alkenzie.
"Tidak jauh dari sini, ruangan VVIP no 5" Jawab Alkenzie.
"Hmmmm, baiklahh!" Balas Alkenzo lalu pergi begitu saja setelah menepuk pelan pundak Alkenzie.
Setelah kepergian Alkenzo, Alkenzie pun langsung saja masuk kedalam toilet dengan cepat.
...Bruuukkkk...
"Ahh, maaf! maafkan saya tuan" Kata seorang wanita yang tidak sengaja menabrak tubuh Alkenzo.
"....."
"Maafkan saya tuan... Saya--" Ucap wanita tersebut dengan berhenti diakhir kalimat ketika melihat wajah tampan Alkenzo.
'Aku menemukannya' Batin Zanitha.
"Kau... Kau pria yang telah membantuku waktu itu bukan? Terimakasih! Terimakasih berkat bantuan anda masalah saya telah terselesaikan" Ujar wanita tersebut yang tak lain adalah Zea.
"Hmmmm" Dehem Alkenzo dengan mengangguk kecil.
Yaa, Benar! Jadi waktu itu yang memberikan jaz dan cek berisi senilai tiga ratus miliyar adalah Alkenzo. Saat itu Alkenzo memang baru pulang dari perjalanan bisnisnya... Tapi saat itu juga Alkenzo sempat keluar untuk mencari angin luar ia bilang, lalu... Iapun tidak sengaja berhenti tepat disamping Zea yang tengah menangis meratapi dirinya! Karena Alkenzo tidak tega dengan Zea.. Alkenzo pun pergi masuk kedalam mobilnya dengan mengambil cek dirinya dan menulis angka sebesar tiga ratus miliyar karena ia tidak sengaja mendengar bahwa Zea tengah membutuhkan uang sebanyak itu. Tanpa berfikir panjang... Alkenzo pun langsung saja memasukkan cek tersebut kedalam jaz miliknya.
Tapi ketika dirinya baru mau keluar dari mobil, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya dan itupun mampu menghentikan pergerakannya. Tapi Alkenzo saat itu ingat bahwa Alan adik kecilnya itu pernah menaruh payung berwarna hitam dibelakang mobilnya... Dan dengan cepat Alkenzo pun saat itu mengambil payung tersebut dan pergi menemui Zea yang masih menangis dikursi taman tersebut dengan mata tertutup karena dirinya tengah merasakan sensasi air hujan yang deras.
"Bolehkan saya tau siapa nama anda tuan? Karena saya ingin mengembalikan jaz yang anda pernah berikan untuk saya... Dan mengenai uang tiga ratus miliyar itu saya akan berusaha mengembalikannya kepada anda tuan! Dengan cara menyicil bolehkan?" Ujar Zea kepada Alkenzo tapi Alkenzo hanya menatap datar saja wajah Zea.
"Hmmmm, terserah kau! Jika kau ingin mengembalikan jaz milikku.. pergilah ke perusahaan Kusuma Grup dan berikan jaz tersebut kepada sekertaris Leo" Jawan Alkenzo datar.
"Perusahaan Kusuma Grup?" Gumam Zea dengan terbengong lalu setelah itu iapun kembali tersadar.
Tapi ketika dirinya tersadar, tiba-tiba saja Alkenzo menghilang dari pandangannya begitu cepat! Dan dengan cepat iapun mencari ke sekitar pandangannya untuk mencari keberadaan Alkenzo.
"Ketemu" Kata Zea lalu berlari entah kemana.
"Tuan, mengapa anda sangat cepat pergi... Untungnya saya masih bisa melihat anda disini" Kata Zea dengan menatap wajah Alkenzie bukan Alkenzo melainkan Alkenzie.
Alkenzie yang mendengar perkataan Zea pun justru malah mengerutkan keningnya karena ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Zea katakan padanya saat ini. Mungkinkah Zea salah mengenali Alkenzo dan Alkenzie? Yaa.. mungkin saja seperti itu.
Karena memang sulit untuk seseorang yang baru pertama kali melihat Alkenzo dan Alkenzie membedakannya. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengenali Alkenzo dan Alkenzie.
Bahkan Zayyann dan Alea saja kadang masih suka salah membedakan antara Alkenzo dan Alkenzie, begitu juga dengan David dan Sesillia.
"Tuan, anda menyuruh saya untuk mengembalikan jaz anda ke perusahaan Kusuma Grup dan memberikannya secara langsung ke sekretaris Leo! Kalau begitu saya akan mengembalikannya besok... karena sebenarnya saya juga bekerja disana, dan hari ini saya baru masuk bekerja. Apa anda bekerja disana juga tuan?" Tanya Zea kepada Alkenzie.
'Apakah yang dimaksud wanita ini? Jaz? Jaz apa' Batin Alkenzie.
'Mungkinkah yang ia maksud kakak Alzo? Dan ia salah mengenali aku dan kakak Alzo' Batin Alkenzie kembali.
"Saya ceo anda" Jawab Alkenzie sedikit datar.
"Haa? Ahh, maafkan saya tuan! Saya tidak tau... Maafkan saya" Tutur Zea dengan hormat.
"Tidak masalah" Balas Alkenzie.
"Kalau begitu, saya permisi tuan! Karena teman-teman saya sedang menunggu saya" Pamit Zea kepada Alkenzie.
"Hmmmm pergilah" Jawab Alkenzie kembali dengan mengangguk kecil.
'Mengapa aku merasa tuan ini berbeda dengan yang tadi? Apa ini hanya perasaanku saja? Ahh sudahlah mungkin memang aku yang aneh' Batin Zanitha.
"Ck, ada-ada saja" Ucap Alkenzie pelan lalu iapun langsung saja pergi untuk menyusul Alkenzo dan Sekertarisnya yang sudah lama menunggu dirinya apa lagi sebentar lagi ia akan melakukan meeting disini.
...*****...
...Liora Fouzia Alison...
Liora Fouzia Alison, seorang wanita cantik yang biasa dipanggil Liora memiliki sifat ceria, periang, baik, pintar dan murah senyum adalah sahabat baru dari Zea dan Tania.
...Visual Liora...
...Zahira Chakira...
Zahira Chakira, seorang wanita cantik yang bisa di panggil Zaza memiliki sifat, ceria, periang, baik, pintar, murah senyum, dan jahil adalah sahabat dari Liora. Zaza sendiri kini telah menjadi sahabat baru dari Zea dan Tania.
...Visual Zaza...