
"Kakak. Kakak!!" Teriak seseorang yang datang ke mansion dirgantara dengan berteriak-teriak.
Teriakan Sesillia pun mampu terdengar oleh Queena yang kini tengah berada di taman belakang mansion miliknya, mendengar teriakan itu. Queena pun terburu-buru menghampiri adik nya. Yaa, dia adalah Sesillia yang baru saja datang bersama David dibelakang'nya.
"Sesillia" Panggil Queena.
"Dimana Alzo ku? Dimana dia? Apa dia baik-baik saja. Aku tadi ke rumah sakit tapi mereka mengatakan bahwa kau sudah pulang. Lalu.... Dimana Alzo keponakan kecil ku kakak" Tanya Sesillia dengan nada cemas dan khawatir.
"Ia sudah baik-baik saja" Jawab Queena dengan santai.
"Lalu..."
"Dia tidak ada dirumah, dia pergi ke perusahaan Alzie. Ia mengatakan bahwa ia ingin disana bersama Alzie karena jika dia disana, dia akan menganggap bahwa dia sedang kerja walau kenyataan sedang tidur" Balas Queena kembali dengan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya kecil.
"Kapan keponakan ku ini akan berupah. Mengapa ia sangat keras kepala seperti kakak ipar" Ucap Sesillia pelan ketika menyebut nama "Kakak ipar" karena ia takut jika orang yang ia maksud itu akan mendengar nya.
"Mengapa ketika kau memanggil kakak ipar mu suara mu menjadi hilang?" Tanya Queena dengan menaikkan satu alisnya.
"Kakak kau pasti sudah tau jawaban ku bukan? Jangan memaksa ku untuk mengatakan nya kembali, Kakak kau tau kan...." Tutur Sesillia.
"Hahahaha! Ah sudahlah, kau datang kemari kakak pikir ingin mengunjungi putramu" Tawa Queena yang terkekeh geli akan sang adik.
"Entah mengapa aku tiba-tiba tidak merindukan nya, Karena sekarang aku lebih mengkhawatirkan kondisi keponakan kecil ku tersayang dari pada putraku tersayang, hehehe" Cengenges Sesillia.
"Alkenzo sudah besar begitupun ketiga adik nya, kau tau Sesillia? Jika keponakan mu itu mendengar jika kau terus menyebut atau memanggilnya "Keponakan kecil" kakak tidak yakin bahwa ia tidak akan marah" Ujar Queena.
"Ya! Ya! Dia sudah besar, tapi bagiku ia masi--"
"Aunty, uncle?" Panggil seseorang yang baru saja datang bersama Brianna dan Arianna, yang mana orang tersebut yang tak lain adalah Alkenzo.
"Aaaa... Keponakan ku!" Ucap Sesillia dengan mendekat kearah Alkenzo sambil mengecek-ngecek kondisi keadaan Alkenzo saat ini, karena dirinya ingin memastikan apakah keponakan nya itu baik-baik saja atau tidak.
"Cukup aunty! Aku baik-baik saja" Pinta Alkenzo dengan ingin melepaskan dirinya dari cengkraman sang aunty.
"Dia bukan mamah ku"Sahut seseorang dengan menatap wajah Sesillia dengan geli, karena melihat tingkah over protective Sesillia kepada saudara nya siapa lagi jika bukan Shaka yang datang dari arah belakang pula dengan menggendong tubuh mungil Alan di dalam gendongan nya.
"Kakak ku bukankah sudah besar?" Tanya Alan dengan menatap heran wajah Sesillia.
"Kakak mu memang sudah besar, tapi aunty masih menganggap nya kecil" Terang Sesillia kepada si kecil Alan.
"Aunty cukup. Jangan pernah memanggilku kecil lagi, Aku harap kau mengerti. Maafkan aku jika aku mengecewakan mu" Kata Alkenzo datar menatap wajah Sesillia.
"Baik, baik kau sudah besar"
"Itu lebih baik, sudahlah aku pamit! Aku ingin pergi beristirahat di dalam kamarku" Izin Alkenzo.
"Pergilah"
"Kau baik-baik saja Alzo?" Tanya Queena yang kini mulai cemas.
"Jangan cemas ataupun merasa khawatir kepadaku! Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin pergi tidur, jika mommy tidak percaya mommy boleh tanyakan saja kepada dokter (Brianna) yang ada disebelah ku ini" Tutur Alkenzo lalu pergi menaiki anak tangga begitu saja untuk menuju ke arah kamarnya yang memang terdapat lantai atas.
"Bria?"
"Yang dikatakan kakak memang benar, ia baik-baik saja. Hanya saja ia masih benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk beristirahat" Balas Brianna dengan menggangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak.
"Kakak mu... Apakah sudah meminum obat? Obat herbal dari Anitha" Tanya Queena kembali.
"Anitha?"
"Anitha?"
"Kakak Anitha?"
"Syukurlah... Mengapa kakak mu itu sangat nurut jika kakak kedua mu yang memerintah? Mommy sendiri yang sebagai mommy nya saja tidak pernah ia turuti perkataan nya" Cemberut Queena.
"Jangankan kau mommy, bahkan daddy saja tidak atau jarang. Karena kakak Alzo selalu lebih ke kakak Alzie" Celetuk Arianna dengan menyetujui perkataan sang mommy pula.
"Sudah, Ohh! Aria. Bukankah kau ada pemotretan siang ini? Mengapa kau belum pergi juga?" Relai Queena.
"Tidak jadi mommy"
"Mengapa?"
"Aku membatalkan nya"
"Mengapa begitu?"
"Huuuffff, seperti biasa dengan alasan yang sama" Jawab Arianna dengan menghela nafasnya berat.
"Yasudah, kalau begitu bagaimana jika kita pergi masak-masak saja? Karena hari ini aunty kalian juga berada disini jadi... Bagaimana jika kita pergi masak-masak makanan untuk makan siang nanti?" Ajak Queena.
"Baik, aku setuju kakak. Lagi pula kita sudah lama tidak pergi masak-masak" Jawab cepat Sesillia dengan langsung menyetujui ajakan dari Queena sang kakak.
"Bria?"
"Hari ini aku libur, jadi mari..."
"Ya, ini akan menjadi hari terbaik"
"Suamiku sebaiknya kau pergilah ke belakang, bergabunglah bermain dengan putramu dan keponakan kecil ku" Tutur Sesillia kepada David.
"Aku sudah tau" Jawab David lalu pergi begitu saja menuju taman belakang mansion dirgantara yang mana terdapat Shaka dan Alan disana.
Shaka dan Alan memang tadi sudah kembali pergi setelah mengucapkan kata terakhir itu, tanpa berpamitan lagi mereka berdua pun kembali pergi bermain dibelakang taman mansion dengan santainya.
Jika ingin tau apa yang mereka lakukan dibelakang? Jawabannya maka hanya satu, tengah bermain tanah. Atau lebih tepatnya tengah berkebun dengan menanam pohon ataupun bibit-bibit bunga cantik kesukaan seluruh keluarga dirgantara.
'Lagipula siapa yang ikut bergabung dengan para nenek-nenek yang akan memasak? Hehh! Aku tidak berminat. Lebih baik aku pergi berkebun saja dibelakang bersama si laknat (Shaka putranya itu) dan si licik Alvaro kecil (Alan)' Batin David.
...*****...
"Haachimmmm"
"Haachimmmm"
"Mengapa kita berdua tiba-tiba bersin secara bersamaan uncle?" Tanya Alan kepada Shaka yang kini tengah berkebun bersama hingga tanpa sadar bersin secara bersamaan.
"Mungkin si pak tua itu (David) sedang membicarakan kita di dalam hatinya" Jawab Shaka santainya kepada Alan.
"Pak tua siapa?" Tanya Alan kembali.
"Uncle David si tua itu" Balas Shaka kembali.
"Owhhh... Kira-kira apa yang membuat uncle David tertarik dengan kita? Hingga membuatnya harus membicarakan kita di dalam hati busuk nya" Kata Alan dengan bertanya.
"Hahahaha. Ini baru keponakan yang uncle inginkan, savage" Tawa Shaka dengan memuji perkataan Alan yang mengatakan "Busuk" kepada David.
"Daddy yang mengajarkan ku, tapi uncle... Kau tidak boleh memberitahu mommy. Atau nanti aku akan dihukum" Pinta Alan dengan wajah imutnya.
"Daddy mu memang pantas di juluki singa atau macan loreng, Karena daddy mu memang keren" Puji Shaka kembali.
"Daddy ku" Bangga Alan.