My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Operasi untuk Brianna



...Hospital Dirgantara...



"Dokter!!"


"Cepat kalian semua bantu putrikuuu!!" Teriak Alvaro yang menggelegar keseluruh ruangan rumah sakit.


Dokter dan para suster pun yang mendengar teriakkan pemilik rumah sakit langsung saja berlarian menuju kearah Alvaro saat ini... Karena untuk kesekian kalinya Alvaro datang kembali dengan berteriak.


"Tuan" Panggil para dokter dan suster dengan nafas yang tersenggal-senggal karena berlarian untuk menuju Alvaro begitu juga dengan dokter Vito dan dokter Arlan yang ikut serta berlarian menghampiri Alvaro.


"Cepat periksa keadaan putriku! Jangan biarkan terjadi apa-apa dengannya... Atau kalian akan menanggung konsekuensinya" Ancam Alvaro dengan nada yang kian semakin panik karena tiba-tiba saja suhu tubuh Brianna menjadi panas.


"Baik tuan" Jawab semuanya dengan serempak, lalu dua orang diantara suster tersebut-pun langsung saja mendorong brankar untuk menaruh Brianna diatasnya.


Setelah itu, para dokter pun dengan cepat mendorong brankar milik Brianna dengan sangat hati-hati pastinya walau mereka mendorongnya dengan cepat menuju ruang rawat.


"Maaf, tuan besar! Anda tidak diizinkan untuk masuk kedalam" Ujar dokter Vito dengan hormat.


"Kalau begitu, cepat pergi dan tangani kondisi keadaan putriku" Jawab Alvaro yang dibalas anggukan kecil oleh dokter Vito.


"Kauuu!"


"Namamu Lauren bukan?" Tanya Alvaro dengan menatap wajah Lauren intens.


"Benar, kakak ipar" Jawab Lauren.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi dengan kondisi fisik putriku... Mengapa ia bisa seperti ini" Tutur Alvaro dengan kini mulai terduduk.


"Aku akan menceritakannya dari awal" Kata Lauren lalu kini dirinya mulai menceritakan tentang mengapa Brianna bisa seperti ini.


"....."


"Begitulah ceritanya.... Kakak ipar. Sejak lahir Brianna sudah dengan kondisi fisik yang lemah" Jelas Lauren yang sudah selesai menceritakan kejadian mengapa Brianna putri bungsunya bisa seperti itu.


"Leukimia? Sial!" Marah Alvaro dengan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat eratnya.


"Daddy" Panggil Arianna dengan lirih karena dirinya mulai sedikit takut terhadap Alvaro, karena Alvaro saat ini tengah sangat marah dan menunjukkan ekspresi seramnya.


"Maafkan daddy, jangan takut nakk" Lirih Alvaro dengan berjongkok memeluk tubuh mungil putrinya itu.


"Apakah Bria akan baik-baik saja?" Tanya Arianna dengan membalas pelukan hangat dari sang daddy untuk kedua kalinya.


"Daddy akan memastikan bahwa Bria akan baik-baik saja" Tutur Alvaro dengan memasang wajah memastikan agar putrinya itu percaya padanya dan tidak khawatir.


"Daddy... apa kau tidak ingin tau nama kami?" Tanya Alkenzie yang memang belum memberitahukan namanya kepada sang daddy.


"Tidak perlu nak, karena daddy sudah mengetahuinya. Daddy yakin bahwa mommy kalian pasti menepati ucapanya untuk memberikan nama kalian sesuai yang daddy inginkan" Balas Alvaro dengan mengelus pelan puncak kepala sang putra yaitu Alkenzie.


"Ka Alzo" Panggil Alkenzie dengan menatap wajah Alkenzo yang sedari tadi hanya diam dan menyimak.


"Hmmm... Ada apa?" Tanya Alkenzo dengan datar.


"Kau menuruni sifatku rupanya... Alkenzo Keano Putra Dirgantara? Benar bukan" Kata Alvaro dengan mengelus puncak kepala Alkenzo juga.


"Benar daddy" Jawab Alkenzo lalu tiba-tiba saja iapun memeluk tubuh Alvaro dengan sangat erat dan itupun mampu membuat Alvaro tercengang karena tingkah putra pertamanya itu.


"Ada apa" Tanya Alvaro dengan lembut.


"Jemputlah mommy... Ia berada di negara prancis. Tepatnya di paris! Kota cahaya... Alamat rumah kami adalah XxxxX " Bisik Alkenzo ditelinga Alvaro.


"Selama ini kalian berada di prancis?" Tanya Alvaro dengan berbisik pula.


"Benar, jemputlah mommy. Ia selalu menangis setiap malam dengan memandangi wajahmu difoto yang selama ini ia simpan, jemputlah ia daddy... Tapi kau tidak boleh menjemputnya dengan secara terang-terangan... Aku yakin kau pasti tau apa yang aku maksud bukan?" Bisik kembali Alkenzo lalu setelah itu iapun mulai melepaskan pelukannya dengan memandangi wajah sang daddy yang benar-benar tampan.


Alvaro yang mendengar bisikan dari putranyapun hanya membalasnya dengan mengangguk patuh. Tanpa membalas bisikan putranya kembali.


...Dreetttt... Dreetttt......


"Mengapa kau tidak mengangkatnya aunty?" Tanya Arianna dengan menatap wajah Lauren yang kini tengah terdiam sambil memandangi layar hendphone yang kini tengah mendapat panggilan telepon dari seseorang dengan nama yang tertera disana adalah 'Kakak Queena♡'.


"Berikan padaku saja, biar aku yang mengangkatnya ini pasti dari mommy" Ujar Arianna dengan mengambil paksa hendphone genggam milik Lauren secara tiba-tiba.


"Ariaaa, kembalikan hendphone aunty" Pinta Lauren.


...Callon...


'Halo' Ucap disebrang sana yang tak lain adalah Queena.


'Halo mommy' Balas Arianna dengan antusiasnya.


'Arianna? Ini kau nakk'


'Benar mommy, ini Aria... Mommy apa kau baik-baik saja disana?'


"Sudah mommy, terimakasih karena kau sudah mengizinkan kami untuk bertemu daddy! Hanya saja Brianna saat ini...'


'Ada apa dengan Brianna, nakk?'


'Brianna ia--.'


'Pulanglah'


'Jika kau ingin mengatahui kondisi putri kita' Kata Alvaro dengan nada lemah karena ia merindukan suara istri kecilnya itu yang selama ini ia sudah tidak dengar.


Ketika Arianna, mengambil paksa hendphone genggam milik Lauren secara tiba-tiba... Lauren pun berniat untuk mengambil kembali hendphone miliknya! Tapi... Tiba-tiba saja Alkenzo dan Alkenzie menarik pergelangan tangannya dengan menatap wajahnya sambil menggelengkan kepalanya, agar Lauren tidak menghalangi daddy mereka untuk mendengar suara sang mommy dari mereka.


Karena mereka berdua sangat yakin saat ini, bahwa daddy mereka sekarang tengah merasakan sebuah rindu yang mendalam terhadap sang mommy mereka, maka dari itu mereka berdua-pun menghentikan pergerakan Lauren yang tadi sempat berniat untuk merebut kembali hendphone genggam miliknya.


Ketika mendengar suara Queena yang memanggil 'Daddy' dirinya langsung saja lepas kendali hingga tanpa sadar langsung saja merebut hendphone genggam milik Lauren yang tengah dipegang oleh Arianna tadi secara tiba-tiba.


'Aa-alvaro'


'Kenapa? Setelah mendengar suaraku apa kau ingin menutup sambungan telpon ini'


'Baa-bagaimana kabarmu?'


'Tidak baik dalam lima tahun terkahir ini'


'O--ohhh... Mulai sekarang jagalah kesehatanmu dengan baik'


'Aku berfikir bahwa kau sudah tidak mengkhawatirkan ku. Hehhhh.... Rupanya kau masih memperduliakan ku bahkan kau masih mengkhawatirkan ku. Anna'


'Ak-aku hanya...'


'Kembalilah...'


'.....'


'Kembalilahhh sayang'


'Tidak cukupkah selama lima tahun kau pergi meninggalkanku? Berapa lama lagi aku harus bersabar menantimu pulang. Hmmmm, katakan padaku... Berapa lama lagi?'


'Maaf, karena ada sesuatu yang aku harus urus sekarang! kalau begitu sampai nanti'


Tut.


"Anna!!" Panggil Alvaro dengan kesal karena sambungan telponnya dimatikan secara sepihak begitu saja.


"Daddy, jangan membuat Arianna ketakutan... Akan kekesalanmu" Tutur Alkenzie dengan memegang lengan Alvaro.


"Huuuffff... Apakah kali ini kalian berempat akan kembali pergi lagi?" Tanya Alvaro dengan lirih sambil menatap wajah ketiga Anaknya.


"Kakak dan aku beserta Brianna, tidak akan meninggalkan daddy lagi" Balas Arianna dengan tersenyum manis.


"Daddy mencintaimu girls, daddy juga mencintai kalian berdua boy" Kata Alvaro dengan tersenyum kecil.


...Ceklekkkk...


Alvaro, Lauren beserta twins three langsung saja mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut. Dan... Asal suara tersebut adalah suara pintu ruang rawat Brianna.


"Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Alvaro dengan datar tapi bernada panik.


"Maafkan saya tuan, karena saya harus menyampaikan ini kepada anda... Kondisi nona muda kecil saat ini sangatlah lemah akibat penyakit yang ia derita. Penyakit yang nona muda kecil alami sebaiknya harus segera ditindak lanjuti atau nyawa nona muda kecil tidak akan bisa... terselamatkan" Jelas dokter Vito yang disetujui oleh semua dokter yang lainnya terutama dokter Arlan.


Memang bukan hanya dokter Arlan dan dokter Vito saja yang berada didalam tapi beberapa dokter lainnya juga ikut membantu memeriksa kondisi keadaan Brianna.


"Cepat lakukan operasi sumsum tulang belakang untuk putriku. Karena sumsum tulang belakang putriku pasti sama dengan milikku" Titah Alvaro dengan wajah serius.


"Baik tuan, tapi pertama-tama anda harus menjalankan tes kecocokan sumsum tulang anda dan darah anda dengan nona muda kecil" Celetuk Dokter Arlan dengan mengangguk kecil.


"Siapkan dengan segera... Karena aku ingin segera melihat putriku sembuh" Tutur Alvaro kembali.


"Baik tuan" Balas kembali para dokter tersebut lalu... Dengan cepat mereka pun berpencar untuk menyiapkan apa yang akan terjadi.


"Daddy" Panggil Alkenzie dengan menatap wajah Alvaro dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ada apa? Apa kau khawatir dengan daddy Alzie? Hmmmm... Kau jangan khawatir karena daddy dan adikmu pasti akan baik-baik saja. Berdoalah untuk kami nakk" Ucap Alvaro dengan meyakinkan sang putra.


"Aku akan berdoa untuk keselamatan kalian" Sahut Alkenzo dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


"Thank you boy" Balas Alvaro dengan tersenyum bahagia.


"Daddy, kau harus berjanji padaku satu hal... Bahwa kau tidak boleh pergi nanti begitu juga dengan adikku Brianna nanti" Kata Arianna dengan mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda bahwa Alvaro berjanji ketika membalas jari kelingkingnya.


"Jangan mengkhawatirkan daddy. Karena daddy pasti akan baik-baik saja, begitu juga dengan adikmu! Tapi... Jika memang nanti terjadi sesuatu pada daddy. Kalian harus berjanji untuk menyampaikan pesan kepada daddy kepada mommy kalian bahwa daddy sangat mencintainya... Dan suruh mommy kalian kembali kesini" Tutur Alvaro.


"Baik daddy"