My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kanker otak



...Keesokan harinya......


...Cuuupppp...


"Morning" Ucap Alvaro dengan mencium pipi Queena yang mana kini masih memejamkan kedua mata cantiknya itu.


"Emmm, Al jangan menggangguku" Kata Queena dengan suara serak khas bangun tidur.


"Apa kau tidak ingin bangun? Ini sudah pagi" Tanya Alvaro pada Queena dengan menciumi seluruh wajah cantik milik istrinya itu


"Al! Ku mohon jangan mengganggu aku... Aku masih mengantuk Al" Ucap Queena dengan nada meminta pada Alvaro.


"Heyyy, bangunlah"


"....."


Queena tidak menjawab ucapan Alvaro karena dirinya benar-benar masih mengantuk saat ini, ia bahkan menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya bahkan hingga wajahnya, untuk tidur kembali! Dan mencampakkan Alvaro begitu saja.


"Kau nakal sayang"


"Baiklahh. Jika kau masih ingin tidur maka aku akan mengizinkan mu, kalau begitu aku akan bersiap dan akan pergi berangkat kekantor sekarang" Ujar Alvaro yang pasrah mengetujui Queena yang kembali pergi tidur.


"Jangan menutupi wajahmu dengan selimut sayang, Atau nanti kau tidak akan bisa bernafas" Tutur Alvaro dengan membenarkan posisi dan selimut Queena, bahkan Alvaro berjalan menuju gorden dan menutupnya kembali agar Queena tidak terganggu dengan sinar matahari yang akan masuk nantinya.


...Cuuuppp...


"Mimpikan aku" Bisik Alvaro dengan kembali mencium pipi dan kening Queena.


"Eeemmmm"


Setelah berpamitan dengan istrinya Queena, Alvaro langsung saja pergi untuk bersiap dan pergi menuju kantornya, dan tak lupa ia terlebih dahulu menyuruh Bi Ijah untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Queena, karena saat ini Queena belum sarapan.


...Siang harinya......


...Dretttt... Dretttt......


"Kenapa tidak dijawab?" Gumam orang tersebut dengan bertanya-tanya karena telponnya tidak dijawab oleh seseorang, siapa lagi jika bukan Alvaro yang tengah merindukan sang istri dengan menelpon nya tapi justru sang istri malah tidak menjawab telepon darinya.


"Sedang apa dia? Mengapa tidak mengangkat telpon dariku?" Tanya'nya dengan kebingungan lalu kembali


menekan panggilan kepada nomor telpon sang Istri.


...Dretttt... Dretttt......


"Apakah ia masih mematikan hendphonenya? Tapi tidak mungkin juga karena aku sudah menghidupkan hendphone miliknya kembali tadi pagi bahkan baterai Hendphonenya masih terisi banyak"


"Apakah Anna belum bangun?"


"Sebaiknya aku menelpon Bi Ijah saja" Tutur Alvaro lalu mencari nomor Bi Ijah dan setelah dapat iapun langsung saja menekan nomor telpon tersebut.


...Dretttt... Dretttt......


...Callon...


'Halo, disini kediaman kusuma apakah ada yang bisa saya bantu?' Jawab diseberang sana yang tak lain adalah Bi Ijah.


'Halo, Bi'


'Ahh, Tuan Alvaro ada yang bisa bibi bantu?'


'Bi, apa Queena sudah bangun?'


'Belum tuan, dari tadi pagi non Queena belum keluar dari kamarnya'


'Apakah dia masih tidur?'


'Sepertinya begitu tuan... Bagaimana jika bibi bantu bangunkan non Queena Tuan?'


'Tidak perlu Bi, karena aku akan pulang kesana sekarang'


'Baik tuan'


'Hmmm'


"Anna belum bangun? Tidak biasanya dia seperti ini!" Gumam Alvaro.


"Apakah Anna sedang sakit? Sepertinya tidak, Lalu? Sudahlah, aku akan mencari tahu nanti" Ujar Alvaro lalu bersiap untuk pulang menuju mansion kusuma karena dirinya ingin melihat sang istri.


...Ceklekkk...


"Alvaro" Panggil seseorang yang baru saja datang.


"Kenapa kau kemari?" Tanya Alvaro dengan datar karena melihat siapa yang datang menemuinya siapa lagi jika bukan Amanda.


"Al, bisakah kita berbicara sebentar? Hanya sebentar" Mohon Amanda dengan wajah lemah.


"Dimana?" Tanya Alvaro.


"Terserah kau" Jawab Amanda.


"Duduklah" Titah Alvaro pada Amanda untuk duduk disofa yang berada di ruangannya.


"Terimakasih Al"


"Katakan apa yang ingin kau katakan! Aku masih ada urusan" Desak Alvaro.


"Al, bisakah kau menemaniku didunia ini disaat-saat terakhirku? Aku hanya ingin sisa waktuku terhabiskan olehmu! Berdua" Lirih Amanda dengan lemah dengan wajah yang pucat.


"Apa maksudmu?" Tanya Alvaro kebingungan dengan ucapan Amanda saat ini.


"Aku... Mengidap kanker otak Al! Dan aku sudah diagnosis tidak akan lama lagi berada didunia ini, hikssss..." Tangis Amanda dengan menundukkan kepalanya.


"Kanker otak?"


"Hikss... Benar Al! Kanker otak, ia bahkan sudah memasuki stadium 4 atau akhir, hikssss... Maka dari itu bisakah kau menemaniku di sisa-sisa hidupku?" Isak Amanda lalu memegangi kepalanya.


"Awasss" Rintih Amanda dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Amanda, kau kenapa?" Tanya Alvaro pada Amanda karena tiba-tiba Amanda merintih Kekesakitan hingga membuatnya khawatir.


"Tidak apa Al! Ini sudah biasa..." Balas Amanda dengan tersenyum lemah.


"Kita kerumah sakit" Kata Alvaro dengan menarik pergelangan Amanda dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa Al!"


"Kau harus memeriksakan dirimu! Aku takut kau terjadi apa-apa nantinya"


"Biarkan dokter pribadiku yang merawatmu saja Al! Karena aku sudah terbiasa ditangani olehnya."


"Dimana?"


"Rumah sakit pratama"


"Baik"


...*****...


...Hospital Pratama...


"Bagaimana?" Tanya Alvaro dengan dingin pada dokter yang menangani Amanda bername tage Dr. Yanto.


"Tidak Apa-apa tuan! Gejala yang nona Amanda rasakan pusing itu sudah biasa pada umumnya hanya saja kondisi nona Amanda semakin hari semakin memburuk, kanker otak yang diderita nona Amanda kini sudah stadium akhir dan sisa waktunya sudah tidak akan lama" Terang Dr. Yanto dengan menjelaskan perihal kondisi Amanda saat ini.


"Berapa lama lagi Amanda bisa bertahan?"


"Biasanya penderita kanker otak stadium 4 rata-rata memiliki kesempatan hidup selama 12–18 bulan saja. Sebanyak 25 persen orang yang terkena kanker stadium 4 bahkan hanya bertahan 1 tahun. Hanya 5 persen yang bisa bertahan sampai 5 tahun" jelas Dr. Yanto.


"Apakah kita tidak bisa memperpanjang sisa hidup Amanda?"


"Kanker stadium 4 adalah tingkatan kanker yang paling parah. Pada tingkat ini, penyembuhan memang sudah sulit untuk dilakukan. Meski begitu, perawatan tetap bisa dilakukan untuk memperpanjang angka harapan hidup dan meredakan gejala yang terjadi" Jawab Dr. Yanto.


"Lakukan saja yang terbaik untuk Amanda! Berapapun harganya akan saya bayar" Tutur Alvaro dengan wajah datarnya menatap wajah Dr. Yanto yang berada di hadapannya saat ini.


"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nona Amanda tuan! Walaupun itu sangatlah mustahil" Balas Dr. Yanto kepada Alvaro dengan menunjukan raut wajah seriusnya.