My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kembalinya Queena



Tak terasa akhirnya Queena kini sudah sampai dan sekarang berada didepan mansion kusuma, Empat tahun sudah berlalu. Selama Empat tahun sudah pergi meninggalkan mansion yang ada didepannya ini, Hingga pada akhirnya ia-pun kembali setelah sekian lamanya. Dan tak terasa kini buliran-buliran bening keluar dari kedua pelupuk mata cantik-nya itu.


...Mansion Kusuma...



"Aunty, Kau menangis?" Tanya Aldo dengan menatap wajah Queena, Aldo bahkan juga ikut serta merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Queena saat ini tapi ia lebih memilih untuk menyembunyikannya.


"Tidak Al, Aunty tidak menangis aunty hanya kelilipan saja! Aunty tidak menangis" Elak Queena dengan terburu-buru menyeka air matanya.


"Kau berbohong aunty" Kata Aldo yang tau bahwa kini Queena tengah berbohong padanya.


"Ka Queena, Mari kita masuk" Ajak Sesillia dengan menggenggam tangan Queena dan itu-pun dibalas oleh Queena.


"Nona mudaaaa" Teriak seseorang dengan berlari kearah Queena, Orang tersebut yang tak lain adalah bi ijah yang datang dengan berlari lalu berhamburan memeluk tubuh Queena dengan begitu eratnya karena dirinya kini sudah sangat-sangat merindukan nona mudanya itu.


"Bibi" Panggil Queena dengan membalas pelukan hangat yang diberikan oleh bI ijah.


"Hiksss... hikssss... Akhirnya nona muda kembali pulang, Hikssss... Bibi Sangat merindukan nona muda Queena" Tangis bi ijah dengan bahagia karena bisa melepaskan rasa rindunya terhadap Queena kembali saat ini.


"Aku juga sangat merindukan bibi" Balas Queena dengan perlahan melepaskan pelukannya.


"Nona muda... Mereka berdua siapa?" Tanya bi ijah dengan wajah yang penuh dengan kebingungan menatap kearah Aldo dan Sesillia. Maklum saja karena dirinya memang baru pertama kali melihat Aldo dan Sesillia.


"Dia Aldo bi, Putra pertama uncle Zayyann kakak kembar dari bunda, Dan ini Sesillia adik angkatku yang aku angkat ketika aku berada di australia" Jelas Queen kepada bi ijah dan itu-pun diangguki bi ijah karena kini bi Ijah sudah mengerti sekarang.


"Perkenalkan nama bibi... Ijah! Tuan muda Aldo dan nona muda Sesillia bisa memanggil bibi, Dengan panggilan bi ijah sama seperti nona muda Queena" Tutur Bi ijah dengan sopan kepada Aldo dan Sesillia.


"Baik, Bi!" Ucap Aldo dan Sesillia bersamaan, Dan seketika mereka berdua-pun langsung saling memandang satu sama lain dengan pandangan tajam.


"Sudah puas tatapan-tatapannya? Jika kalian berdua masih mau disini silahkan saja.... Karena aku akan masuk sekarang" Tanya Queena kepada Aldo dan Sesillia, Karena Queena tadi sempat tidak sengaja melihat tatapan tajam dari keponakan-nya dan adik angkatnya itu yang tengah saling memandang satu sama lain. Lalu Queena-pun langsung saja masuk dan pergi meninggalkan kedua anak tikus itu.


Aldo dan Sesillia yang mendengar ucapan Queena, Seketika langsung saja membuang pandangannya secara bersamaan. Lalu mulai kembali berjalan mengikuti Queena.


...Sesampainya didalam......


"Aku kembali bunda! Ayah!" Gumam Queena dengan tanpa sadar Menintikan air matanya kembali.


"Nona"


"Tidak bi, Aku tidak menangis" Elak Queena dengan cepat menseka air matanya lagi dan lagi karena ia sadar bahwa bi ijah tengah menatapnya.


"Jangan berbohong nona muda... Menangis-lah jika nona muda ingin menangis, Keluarkan saja air mata yang selama ini nona tahan! Karena bibi akan selalu ada disamping nona... Dan bibi akan selalu menjadi pundak nona muda bersandar jika memang nona muda tengah ingin bersandar sambil menangis" Jelas bi ijah dengan memeluk tubuh Queena yang kini tengah menahan isak tangisnya hingga membuat tubuhnya gemetar hebat.


"Hikssss... hikssss... hikssss... Aku merindukan mereka, Aku sangat-sangat merindukan mereka hikssss.. hikssss... Aku Merindukan pelukan mereka bi, Aku merindukan sebuah rasa kasih sayangnya mereka lagi. Aku... hikssss... Aku merindukan suara mereka bi, Hikssss... hikssss... Aku merindukan semuanya bi" Tangis Queena pecah yang sedari tadi ia tahan, Karena Queena sudah tidak sanggup kembali menahan isak tangisnya jadi kini ia mulai mengeluarkannya.


"Hikssss... Ka Queena" Lirih Sesillia dengan berhamburan bergabung memeluk Queena dan bi ijah, Dan si kecil Aldo hanya bisa diam menyaksikan saja walau sebenarnya ia juga merasa sedih karena belum pernah melihat uncle-nya dan aunty-nya yang tak lain adalah Albert dan Zia.


"Hikssss... Hikssss... Bibi ngerti nona, Sebaiknya nona muda pergi ke-pemakaman tuan besar dan nyonya nesar saja. Bukankah nona muda merindukan mereka? Maka pergilah mengunjungi mereka hiksss..." Tutur Bi Ijah dengan menghapus air matanya begitu juga menghapus air mata Queena.


"Hmmmm"


...*****...


...Pemakaman...


"Hikssss... hikssss... Aku pulang ayah, Bunda" Lirih Queena dengan terduduk ditengah-tengah perbatasan makam Zia dan Albert.


"Aku merindukan kalian... Apa kalian merindukanku juga? hikssss... Aku yakin kalian pasti juga merindukanku bukan? Hikssss... Ayah! Bunda!lihatlah aku, Sekarang aku sudah tumbuh besar. hikssss... Aku pulang karena aku akan melanjutkan perusahaan Ayah dan aku akan tinggal disini lagi" Tangis Queena dengan memeluk nisan Albert dan Zia secara bergantian.


Queena tidak sendiri, disana ia ditemani oleh Aldo, Sesillia dan juga bi ijah tentunya.


"Ayah... Bunda... Hikssss... Lihatlah keponakan kalian, Keponakan yang belum pernah kalian lihat! Tampan dan menggemaskan bukan? hikssss .. namanya. Aldo Putra Atmaja anak uncle Zayyann dan aunty Alea hikssss... hikssss... Apa kalian sudah melihatnya?" Isak Queena dengan memperkenalkan Aldo kepada mending kedua orang tuanya.


"Aku sangat-sangat merindukan kalian, hikssss... hikssss... Hikssss..." Lirih Queena dengan sangat amat terisak.


"Nona muda"


"Baiklah, Nona" Balas bi ijah lalu pergi begitu saja diikuti oleh Sesillia dan Aldo dibelakangnya karena bi ijah kini sangat paham bahwa mungkin Queena tengah ingin sendiri saat ini.


Tepat ketika Bi ijah, Aldo dan Sesillia pergi tiba-tiba saja Arwah Zia dan Albert-pun muncul dan menampilkan dirinya dihadapan sang putri yaitu Queena.


"Putriku" Panggil seseorang yang tak lain adalah arwah Albert dan Zia yang muncul tepat didepan Queena, Dan Queena yang melihat arwah kedua orang tuanya atau lebih tepatnya bunda dan ayahnya-pun menjadi semakin terisak.


"Hahh... hahhh... hikssss..."


"Hikssss... hiksss... Ayah, Bundaaaa" Panggil Queena dengan sangat terisak.


"Jangan menangis sayang" Ujar Zia dan Albert secara bersamaan sambil menatap lirih wajah sang putri yang amat sangat mereka cintai.


"Aku merindukan kalian berduaaa, Aku ingin memeluk kalian? hikssss... Aku merindukan pelukan kalian... Hikssss... hikssss..." Pinta Queena dengan menatap arwah kedua orang tuanya.


"Kemarilah" Tutyr Zia sambil menintikan air matanya dan kemudian memeluk tubuh Queena putrinya itu, Walaupun kenyataannya tembus tapi setidaknya Queena masih bisa merasakan keberadaan dan rasa pelukannya.


"Hikssss... hiksss... Jangan pergi lagi ayahhh, Bundaaaa. Aku masih ingin bersama dengan kaliannnn... hiksss... Lihatla aku! Aku sekarang sudah tumbuh manjadi wanita cantik hiksss... Apa kalian lihat wajahku? Wajahku sangat cantik bukan? Cantik sepeti bunda!! Lihatlah" Lirih Queena.


"Hiksss... hikssss... Queena putriku, Kau tumbuh dengan sangat baik dan cantik nak hiksss... Maafkan ayah sayang karena ayah sudah tidak bisa menjagamu, Merawatmu dan melindungimu. hikssss... Maafkan ayah nakk!!" Tangis Albert yang merasa bersalah kepada putri semata wayangnya itu.


"Tidak Ayah!! hikssss... Sudah cukup kalian melindungi aku dari maut! Hiksss... Itu sudah cukup bahkan sangat-sangat cukup hikssss... hikssss... bahkan kalian mengorbankan nyawa kalian hanya demi aku hikssss... hiksss..." Tutur Queena dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Auntyyyy" Panggil Aldo yang datang secara tiba-tiba lalu mulai menghampiri Queena yang kini tengah terduduk kembali ditanah.


"Al, Mengapa kau kemari? Hikssss..." Tanya Queena dengan cepat menghapus air matanya agar Aldo tidak kembali melihat dirinya yang benar-benar menangis dengan histerisnya.


"Aku khawatir denganmu aunty, Apakah mereka uncle albert dan aunty Zia, Aunty?" Tanya Aldo kepada Queena karen ia tiba-tiba saja bisa melihat arwah Zia dan Albert yang tengah berdiri didepan Queena saat ini.


"Hmmmm? Kau bisa melihatnya Al?" Tanya Queena dengan kebingungan.


"Keponakan-nya aunty dan uncle, Kau bisa melihat keberadaan kami nakk?" Tanya Zia yang ikut serta menghapus air matanya yang sempat keluar begitu pula dengan Albert.


"Iya Aunty... Aku bisa melihat aunty bahkan aku juga bisa melihat uncle" Jawab Aldo dengan mengangguk kecil.


"Kau sangat lucu Al... Nama depanmu sama dengan uncle (Albert) dan nama depanmu juga sama dengan nama depan Al (Alvaro) kecilnya aunty-mu Queena" Kata Albert dengan tersenyum kecil.


"Namaku sama dengan Al kecilnya aunty? Lalu nama sebenarnya Al kecilnya aunty siapa?" Tanya kembali Aldo dengan kebingungan hingga membuat ketiganya menjadi gemas karena melihat tingkah lucu dari Aldo.


Sebenarnya Aldo membuat tingkah gemas itu karena ingin membuat Queena dan aunty serta uncle-nya bisa kembali tertawa ataupun tersenyum, Karena Aldo sebenarnya sangat tidak ingin melihat Queena menangis apalagi sampai meneteskan air matanya. Ia tidak ingin itu! Maka dari itu ia membuat tingkah lucu dan menggemaskan didepan aunty-nya.


"Alvaro" Celetuk Queena sambil tersenyum kecut, Ohh.. Yaa! Ngomong-ngomong Queena sebenarnya tidak mengetahui nama belakang Alvaro... Yang ia tau hanya nama depannya saja! tetapi Alvaro mengetahui Queena.


"Aunty... Bisakah aunty tidak menangis kembali?Jika kau menangis kembali maka aku pasti akan mendapatkan hukuman dari daddy karena membiarkanmu menangis kembali" Pinta Aldo dengan menatap tajam kearah Queena sambil memanyunkan bibirnya kedepan.


"Daddymu-kan tidak berada disini Al" Jawab Queena.


"Tap-"


"Queena sayang kini sudah saatnya bunda dan Ayah kembali pergi! Bunda dan ayah harap kau bisa mengikhlaskan kami nakk, Kami mencintaimu dan menyayangimu... Dan untuk Aldo kami berdua sangat menyayangimu nakk. Tolong ingatkan aunty-mu jika ia kembali menangis dan katakan padanya bahwa jika ia menangis kembali, Maka kami berdua juga akan ikut menangis nantinya diatas sana, Tolong ingatkan itu nak! Selamat Tinggal" Pamit Zia sambil tersenyum bersamaan dengan Albert, Dan lagi-lagi Mereka berdua-pun pergi meninggalkan Queena untuk kesekian kalinya.


"Tidakkkkk!! Bundaaaa!! Ayahhhh!! Hikssss... hikssss... hahh... hahhhh... hikssss" Histeris Queena kembali.


"Aunty" Panggil Aldo.


"Hiksss... hikssss... Bunda, Ayah mengapa kau tega meninggalkanku kembali? Mengapaaaa? Hiksss... hiksss..." Tangis Queena dan Aldo-pun langsung saja memeluk tubuh Queena dengan erat ketika Queena menangis bahkan berteriak dengan histerisnya.


"Aunty"


"Aunty!! Jangan menangis...., Apa kau tidak mendengar apa yang tadi aunty Zia katakan? Jika kau menangis maka mereka berdua-pun juga akan ikut menangis. Apa kau sudah melupakannya?" Lirih Aldo dengan menghapus air mata Queena yang terus saja mengalir keluar.


"Hmmm, Kau benar Al... Seharusnya aunty mengikhlaskan kepergian mereka dan bukan menangisi mereka. Aunty tidak akan pernah menangisi mereka kembali" Tekat Queena dengan memaksakan dirinya tersenyum.


"Kau berjanji"


"Hmmm, Aunty berjanji"