My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kemarahan Queena



...-Lihat, berani sekali sekertaris Rio menyuruh tuan Alvaro pergi!....


...-Aku yakin, sekertaris Rio akan menyesal nanti karena berani masuk kedalam kandang singa yang sedang tertidur....


...-Kau benar, sebaiknya kita diam saja atau nanti kita akan terkena imbasnya juga....


...-Apakah nona Queena adalah istri dari tuan Alvaro?....


...-Sepertinya begitu, lebih baik kita menonton saja dan jangan berisik....


...-Baiklah-baiklah....


"Sudah ku katakan padamu untuk menyingkir dari jalanku, atau kau akan tau akibatnya!" Geram Alvaro dengan memperingatkan Rio yang masih enggan untuk menyingkir dari jalannya.


"Tidak bisa tuan--" Ucap Rio tapi terpotong.


...BUUUUGGGGG...


Habis sudah kesabaran Alvaro kepada Rio, karena Rio tidak mau mendengarkan perkataan'nya dan melarang'nya masuk... pada akhirnya Alvaro'pun kini sudah lepas kendali hingga ia memberikan satu hadiah spesial yaitu sebuah bogeman mentah yang sangat keras terhadap Rio. Dan mengakibatkan Rio terjatuh kebawah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.


"Aaaaaaaaaa!!" Teriak seluruh karyawan yang terkejut karena menyaksikan pertengkaran antara Alvaro dan Rio.


"****!" Desit Rio dengan memegang ujung bibirnya yang kini mengeluarkan darah.


"Sudah kukatakan bukan? Jangan pernah menghalangi jalan'ku atau kau akan tau akibatnya" Tegas Alvaro dengan menarik kerah baju Rio.


"Hehhhh, karena anda sudah memberikan hadiah yang spesial buat saya maka saya akan membalasnya tuan" Tutur Rio lalu mulai membalas menonjok balik Alvaro.


...Buugghhh...


"Hehhhh, berani juga kau rupanya... Maka jangan salahkan aku jika aku akan membalasnya berlipat-lipat" Balas Alvaro lalu menonjok balik Rio tepat di wajahnya.


...Buuugghhh...


...Buuugghhh...


...Buuugghhh...


"Berhenti!!" Teriak Queena yang baru saja datang bersamaan dengan David yang datang untuk bertemu dengan Alvaro. Bedanya Queena datang dari arah life sedangkan David datang dari arah pintu masuk.


...Buuugghhh...


Alvaro tidak mendengar teriakkan Queena karena dirinya kini sudah benar-benar tersulut dengan emosi... hingga ia terus saja memukuli Rio yang terus ingin memberontak secara bertubi-tubi, hingga Rio kini tidak mampu untuk melawan balik Alvaro.


"Alvaro berhenti..." Teriak David lalu berlari kearah Alvaro dan mulai memisahkan Alvaro dari Rio agar tidak kembali berkelahi.


"Lepas Davidddd!!" Kata Alvaro yang memberontak karena David mengunci pergerakan'nya dan lengan'nya.


"Rio, apa kau tidak papa?" Tanya Queena dengan membantu Rio untuk berdiri karena dirinya yang sudah babak belur akibat ulah Alvaro.


"Aku perintah'kan padamu untuk melepaskan tangan'mu dari si brengsek itu, QUEENA!" Marah Alvaro yang tidak suka jika Queena menyentuh pria lain terutama Rio di depan matanya sendiri.


"Al, mengapa kau memukul'nya?" Tanya Queena dengan tatapan yang sulit diartikan menatap wajah sang suami sambil melepaskan tangan nya yang tadi menyentuh Rio.


"Kau tanyakan saja pada si brengsek itu! Mengapa aku bisa memukulinya!" Geram Alvaro yang masih menatap tajam kearah Rio.


"Rio, bisa kau katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?" Ucap Queena yang bertanya pada Rio tapi Rio justru tidak ingin menjawabnya.


"Rio" Panggil Queena.


"Rio, jawab pertanyaan'ku?" Panggil Queena kembali.


"....."


"....."


"....."


"Kalian semuaaa"


"Katakan padaku apa yang telah terjadi sebenarnya!" Tanya Queena yang kian mulai geram terhadap Rio dan Alvaro karena telah berkelahi. Dan ditambah tidak ada satupun diantara mereka yang ingin memberi tahunya tentang apa yang telah terjadi.


"Nona" Panggil salah satu manager keuangan yang juga ikut serta menyaksikan pertengkaran antara Alvaro dan Rio tadi.


"Katakan" Ujar Queena.


"Nona saya tidak bisa mengatakannya dengan jelas tapi saya hanya bisa menyarankan anda untuk melihat kamera CCTV yang ada disini saja... Agar anda bisa tau apa yang sudah terjadi sebenarnya" Ujar Manager keuangan tersebut.


"Baik, tolong bawakan saya satu laptop kemari" Titah Queena pada manager itu.


"Baik, nona" Jawab Manager tersebut.


"Nona... Saya mohon berikan saya keadilan!" Kata Rio yang meminta keadilan kepada Queena, dan Alvaro yang mendengar itu menjadi geram kembali dibuatnya!dan tak lupa dirinya kini masih di kunci pergerakan'nya oleh David.


Sebenarnya Alvaro bisa kapan saja melepas'kan dirinya dari david, tapi ia mencoba untuk menahan amarahnya sekuat mungkin.


"Aku tidak bisa membela siapapun saat ini karena aku belum melihat apa yang sebenarnya telah terjadi" Tutur Queena yang memang tidak memihak siapapun termasuk suaminya Alvaro.


"Ini... Laptop'nya nona" Ucap Manager keuangan itu dengan memberikan laptop yang di pinta oleh Queena tadi.


"Terimakasih" Kata Queena lalu iapun mulai meretas CCTV yang berada di lobby kantor'nya tersebut. Karena ia ingin melihat kejadian yang sebenarnya.


Setelah teretes oleh Queena, iapun langsung saja melihat kejadian yang terjadi sebenarnya antara Alvaro dan Rio.


"Rio" Panggil Queena.


"Saya, nona" Balas Rio.


"Rio, Mengapa kau melarang suami'ku untuk pergi menemui'ku? Kau mencoba mengusir'nya" Tanya Queena yang tak percaya apa yang ia lihat barusan.


"Su-suami?" Kata Rio dengan terbata.


"Iyaa, Alvaro Kenan Dirgantara adalah suamiku! Mengapa kau melarangnya? Bukankah kau tau siapa Dia?" Tanya Queena kembali yang juga ikut kesal terhadap perilaku Rio kepada suaminya itu tadi.


"Sa--saya tidak tau bahwa tuan Alvaro adalah suami anda nona... Yang saya tau ia hanyalah tuan Alvaro saja" Jawab Rio yang terkejut dengan perkataan Queena yang mengatakan bahwa Alvaro adalah suaminya.


"Saya tau... Maksud saya, mengapa kau melarang tuan Alvaro untuk bertemu dengan saya! Itu yang menjadi pertanyaan saya sebenarnya? Selama ini saya tidak pernah menyuruh'mu untuk melarang orang lain yang ingin bertemu saya! Lalu mengapa malah kau melarang semua orang yang ingin bertemu dengan saya?" Tanya kembali Queena dengan nada kecewa.


"Tolong semua jawab pertanyaan saya! Katakan padaku apa sekertaris Rio selalu melarang orang lain yang ingin bertemu saya?" Teriak Queena dengan bertanya kepada seluruh karyawann'ya yang kini tengah menyaksikan adegan tersebut.


Seluruh karyawan Kusuma Grup'pun kini justru tidak berani berbicara ataupun menjawab pertanyaan Queena, entah karena tidak punya keberanian untuk menjawab atau yang lainnya.


"Nona" Panggil salah satu resepsionis.


"Katakan padaku!" Titah Queena.


"Nona!"


"Selama ini sekertaris Rio memang selalu melarang semua orang yang ingin bertemu dengan anda... Bahkan sebenarnya sudah banyak direktur dari perusahaan lain yang datang kemari bersama sekertaris'nya jauh-jauh hanya untuk menemui anda. Tapi... Sekertaris Rio selalu berkata bahwa anda sedang tidak ingin di ganggu!" Jelas resepsionis itu dengan mengatakan yang sebenarnya terjadi selama ini.


"Tutup mulutmu" Bentak Rio dengan kesal.


"Diammm!!"


"Aku perintahkan padamu Rio untuk tidak membuka mulutmu!" Bentak Queena dengan menunjuk kearah Rio saking kesalnya.


"Tapi nona--" Ucap Rio lagi-lagi terpotong.


"DIAM!" Bentak Queena.


"...."


"Lanjutkan" Titah Queena.


"Nona... jika boleh saya jujur selama ini sebenarnya sekertaris Rio selalu menggoda para karyawan Kusuma Grup, lalu... Sekertaris Rio juga sebenarnya selama ini juga selalu memerintahkan kami untuk patuh atas perintah yang diluar batas... jika kami tidak melakukan perintah'nya maka kami akan dihukum dengan sangat berat oleh sekertaris Rio, salah satunya adalah kami akan di pecat dari perusahaan anda dan kami akan dimasukkan kedalam buku blacklist hitam. Lalu... kami juga harus mengerjakan pekerjaan'nya atau yang lainnya pula, nona" Kata Resepsionis itu.


"Itu semua tidak benar, nona!" Bantah Rio dengan berteriak membela dirinya.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk, DIAM! MENGAPA KAU TIDAK BISA DIAM!!" Bentak Queena lagi dan lagi terhadap Rio.