
"Suamiku, mari" Ujar Queena tersenyum manis dengan menarik pintu mobil untuk masuk tapi pergelangan tangannya lebih dulu ditarik oleh Alvaro.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Alvaro dengan menatap tajam wajah Queena.
"Me-melakukan apa?" Tanya balik Queena dengan gugup karena ia lupa untuk menyembunyikan bekas tamparan yang diberikan oleh Mira tadi padanya.
"Jangan berbalik bertanya padaku! Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu" Tunjuk Alvaro pada pipi Queena yang sangat merah karena tamparan tadi.
"I-ini... Ini bukan apa-apa suamiku! Ini cuma make-up untuk pipi saja, jangan terlalu berlebihan sebaiknya kita pulang saja" Kata Queena dengan menarik lengan Alvaro untuk segera masuk kedalam mobil tapi justru Alvaro tidak bergerak sedikitpun.
"Aku bukan orang bodoh yang bisa kau dapat bodohi Anna! Aku bisa membedakan yang mana make-up yang mana bekas tamparan. Katakan padaku siapa yang melakukannya padamu atau aku akan berbuat kekacauan disini agar kau mau mengatakannya" Ancam Alvaro dengan nada marahnya.
"Mantan kakak tiriku, Mira..." Jawab Queena dengan menundukkan wajahnya karena takut melihat wajah Alvaro yang sedang marah.
"Dimana orang itu?" Tanya Alvaro yang diam-diam mengepalkan kedua tangannya.
"Su-sudah pergi" Balas Queena yang masih menundukkan kepalanya.
"Kita pulang" Kata Alvaro lalu masuk kedalam mobil dan diikuti Queena dibelakangnya.
'Kenapa semakin hari aku semakin takut dengan Varo' Batin Queena.
...*****...
...Mansion Alqueen...
"Suamiku!!" Teriak Queena dengan mengejar Alvaro yang lebih dulu masuk kedalam mansion dengan meninggalkannya.
"Bi, dimana David?" Tanya Alvaro dengan dingin hingga membuat Bi Lin yang sedang membersihkan meja menjadi ketakutan karena aura dingin yang dipancarkan oleh Alvaro.
"Di-didalam ruang kerja tuan" Jawab Bi Lin dengan gugup.
Tanpa membalas kembali, Alvaro langsung saja pergi melangkahkan kakinya menuju ruang kantor pribadi miliknya yang berada di mansion Alqueen. Dan untuk David! Saat Alvaro masih ditengah jalan ia menelpon David dan memerintahkan David untuk pergi Ke mansion'nya dan itupun disetujui David makanya David bisa ada di mansion Alqueen saat ini.
...Brraaakkkk...
Sesampainya di ruang kerja miliknya Alvaro langsung saja masuk dengan membanting pintu ruang kerjanya, hingga membuat David yang tengah berada didalam sambil terduduk disofa dan tak lupa dengan memainkan hendphonenya terkejut setengah mati dibuat Alvaro.
Alvaro membanting pintu karena agar Queena tidak ikut masuk kedalamnya, karena ia yakin Queena tengah membuntutinya makanya mau tidak mau ia membanting pintu agar Queena tidak berani masuk kedalam. Ya walau pintu ruang kerja Alvaro itu terkunci otomatis tapi tetap saja ia mendobrak pintu ruang kerjanya.
...Deggggg...
Jantung Queena yang terkejut karena melihat tingkah Alvaro yang membanting pintu ruang kerjanya dengan keras hingga membuat ia berhenti tepat didepan pintu ruang kerja pribadi milik Alvaro. Setelah melihat kemarahan yang Alvaro tunjukkan.
"Tidak! Jika aku masuk pasti Varo akan tambah marah karena terus melihat pipiku yang memar ini, tapi... Arghhhhhh sudahlah sebaiknya aku pergi saja. Aku tidak ingin Varo bertambah marah karena melihat pipiku ini" Gumam Queena lalu melangkahkan kakinya untuk pergi entah ingin kemana.
Sebenarnya Alvaro bukan marah dengan Queena, ia hanya marah ketika melihat pipi Queena yang memar akan tamparan yang entah dari siapa.
"Al!!" Teriak David dengan memegangi dadanya karena jantungnya dibuat maraton oleh Alvaro secara mendadak.
"Cepat cari tau tentang seseorang yang bernama Mira Kusuma, cari sampai ke akar-akarnya dan retes CCTV yang ada di dirgantara mall tepat di dalam toilet. Ketika Queena masuk kedalamannya" Titah Alvaro lalu duduk di kursi kebesarannya dengan terus memancarkan api kemarahan sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya David dengan mengambil Laptop miliknya yang berada didekatnya.
"Jangan banyak bertanya jika wajahmu masih ingin utuh David!" Geram Alvaro dengan menatap tajam wajah David.
...Glekkkk...
'Sebenarnya ada apa dengan Alvaro? Kenapa ia datang-datang dengan marah-marah tidak jelas?' Batin David.
"David!!" Bentak Alvaro karena melihat David terdiam sambil memandangi wajahnya.
"Ahhh, ya baiklah Al!" Ucap David yang tersadar bahwa ia sudah terciduk oleh Alvaro ketika dirinya sedang memperhatikan wajah Alvaro.
"Aku beri waktu kau tiga puluh menit untuk menyelesaikan tugasmu! Jika kau tidak menyelesaikan dalam waktu tiga puluh menit maka bersiap-siap saja tanggal pernikahanmu aku ku undur sampai sebulan" Ancam Alvaro.
"Iyaa, Al"
'Ckckck, Sebenarnya siapa yang sudah membangunkan singa tidur ini? Apa dia tidak tau bahwa singa yang sedang tidur tidak suka di ganggu ketika dirinya tidur atau dia akan menanggung konsekuensinya nanti' Batin David.
...30 menit kemudian......
"Bagaimana?" Tanya Alvaro dengan datar tak lupa tatapan intens yang tajam.
"Mira Kusuma, atau lebih tepatnya adalah Mira Renata anak dari hasil hubungan malam dengan pria-pria asing. Ibu Mira lebih tepatnya Mara Renata sendiri tidak tau siapa ayah kandung dari putrinya Mira itu, pada saat umur 10 tahun Mira pergi melarikan diri dari ibu kandungnya karena tidak kuat tinggal bersama dengan ibu kandungnya itu, lalu ketika ia pergi melarikan diri ia tidak sengaja bertemu dengan mendiang uncle Albert saat dirinya tengah menangis dipinggir jalan, hingga iapun dibawa pergi oleh mendiang uncle Albert ke dalam mansion kusuma" Jelas David.
"Lalu Mira pun diangkat menjadi bagian dari keluarga Kusuma atau lebih tepatnya diangkat menjadi putri dari mending uncle Albert dan aunty Zia sekaligus menjadi kakak angkat dari kakak ipar Queena" Ucap kembali David.
"Lalu?"
"Selama tinggal di mansion kusuma, Mira selalu iri dengan perhatian yang diberikan oleh aunty Zia dan uncle Albert pada kakak ipar Queena ketika kecil, lalu Mira pun berencana untuk membunuh kakak ipar Queena dengan cara mengajak kakak ipar Queena untuk pergi kedapur, dan setelah pergi Mira.pun langsung memegang sebuah pisau yang terdapat disana! Mira berniat ingin membunuh kakak ipar Queena tapi Mira tidak tau bahwa aunty Zia pergi mengikutinya kedapur, dan ketika Mira ingin menusukkan pisau tersebut untuk kakak ipar, Aunty Zia lebih dulu berlari dan pergi melindungi kakak ipar dengan memeluknya dan..." Kata David terpotong karena sedih dengan apa yang ia sedang ceritakan tentang masa kecil kelam Queena.
"Dan aunty Zia pun tertusuk hingga kehilangan nyawanya ditempat, lalu kakak ipar Queena pun menangis dan berteriak menyalahkan Mira tapi Mira justru diam bergetar karena ia salah membunuh orang. Ketika kakak ipar Queena tengah menangis dengan histeris uncle Albert pun datang dan berlari memeluk aunty Zia yang sudah tidak bernyawa, dan tepat saat itu Mira pun berpura-pura menangis bahkan menyalahkan kakak ipar Queena atas kejadian itu. Lalu dari situ kakak ipar benar-benar membenci Mira bahkan uncle Albert juga menyalahkan atas kematian aunty Zia pada kakak ipar Queena karena termakan ucapan dari Mira"
"Dan kejadian ini pun terulang kembali ketika kakak ipar berumur 17 tahun, dimana ketika kakak ipar sudah menemukan bukti kematian dari bundanya. Kakak Ipar Queena pun memberikan bukti tersebut bersama dengan uncle Albert kepada pihak polisi tanpa sepengetahuan Mira! Lalu Mirapun akhirnya tertangkap oleh polisi. Tapi ketika ingin dibawa pergi Mira justru memberontak dan mengambil salah satu pistol milik polisi, lalu kemudian Mirapun menembak peluru pistol tersebut kearah kakak ipar Queena sebanyak tiga kali, tapi kakak ipar lagi-lagi terselamatkan. Karena uncle Albert lebih dulu melindunginya hingga membuat dirinyalah yang tertembak tepat didekat jantungnya hingga tidak bernyawa, dan dari situ Mira pun langsung dibawa pergi kekantor polisi dan dihukum penjara seumur hidup. Tapi kakak ipar kembali kehilangan orang yang ia sayang karena lagi dan lagi melindunginya" Terang David dengan menghapus air matanya yang keluar sedikit.
"Kisah ini, cerita ini... mirip seseorang" Gumam Alvaro dengan berusaha mengingat sesuatu.