My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Kesadaran Austin



"Stop, what do you want to do to my lover! I hope you don't touch my little sweetheart, or you will know the consequences" Ucap Austin yang baru saja datang.


...(Hentikan, apa yang ingin kau lakukan pada kekasihku! Saya harap anda tidak menyentuh kekasih kecil saya, atau anda akan tahu konsekuensinya)...


"Who are you? How dare you stop us! Aren't you afraid of us" Tanya ketua preman tersebut kepada Austin.


...("Siapa kau? Beraninya kau menghentikan kami! Apa kau tidak takut dengan kami)...


"Afraid? Of course not, heh! You guys will be afraid of me and not me" Ejek Austin.


...(Takut? Tentu saja tidak, heh! Kalian yang akan takut kepadaku dan bukan aku)...


"Tuan! Maafkan kami, karena kami baru sampai..." Ucap seseorang yang tak lain adalah tangan kanan Austin.


"Bereskan mereka" Titah Austin kepada tangan kanannya, lalu... Austin pun mulai mendekat kearah Brianna yang masih setia tergeletak ditengah jalan.


"Baik tua--"


"TUAN MENYINGKIRLAHH!!" Teriak kaki tangan Asutin dengan kencang ketika melihat bahwa sekelompok preman tersebut ingin pisaunya kepada Austin. Tapi sayangnya ia terlambat mencegahnya untuk Austin menghindar.


...SREKKKK...


Karena marah dengan Austin yang sudah menghentikan nya untuk membawa Brianna, ketua preman tersebut pun melempar pisaunya kepada Austin! Dan lemparan pisau tersebut pun berhasil mengenai bagian dekat jantung milik Austin... Hingga membuat Austin pun terjatuh di samping tubuh Brianna.


Karena pisau tersebut pun menancap dengan begitu dalam ditubuh Austin! Dan dengan cepat tangan kanan Austin pun berlari membantu Austin dan anak buah Austin yang lainnya pergi menangkap sekelompok preman tersebut dan sisanya membantu Brianna.


Dengan terburu-buru, kaki tangan milik Austin tersebut pun pergi mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menuju kerumah sakit. Di ikuti oleh anak buah Austin yang lainnya.


Karena terlalu khawatir mengenai kondisi tuannya, tangan kanan Austin pun tidak sadar bahwa di depannya ada sebuah tikungan yang tajam. Akibat dirinya terlalu fokus melihat kearah belakang tepat dimana Austin berada sedangkan Brianna, ia berada di belakang mobil anak buah Austin yang lainnya.


Dan ketika melihat kearah depan, seketika tangan kanan Austin pun terkejut hingga membanting stir mobilnya dan berakibat mobilnya mengalami kecelakaan yang sangat tragis. Untungnya Brianna tidak berada satu mobil dengan Austin dan kaki tangannya Austin. Jadi Brianna selamat dan tidak ikut mengalami kecelakaan.


"Brianna" Panggil Austin lirih lalu iapun mulai kembali menutup kedua matanya dengan menahan rasa sakit yang begitu luar biasa di sekujur tubuhnya.


"Maaf"


"Tuan! Tuannnn!" Panggil anak buah Austin yang lainnya kepada Austin dan kaki tangan Austin tersebut.


"Cepat-cepat! Keluarkan tuan Austin dan tuan bayu segera dari mobil... Cepat bantu, karena mobil ini akan segera meledak" Teriak salah satu anak buah Asutin dengan nada panik.


"Cepat!" Teriak yang lainnya dengan terburu-buru mengeluarkan Austin dan Tangan kanan Austin yang bernama bayu itu.


Setelah bersusah payah mengeluarkan Austin dan Bayu dari mobil Austin yang terbalik akibat kecelakaan yang terjadi tadi! Benar saja... ketika Austin dan Bayu baru saja di masukkan kedalam mobil yang sama dengan Brianna benar saja, tiba-tiba mobil yang terbalik itupun meledak dengan sangat kerasnya hingga membuat beberapa anak buah Austin yang berada diluar tengkurep sambil menutup kedua telinganya dijalan.


...Duuaaarrrr...


"Selamat"


"Sangat mengerikan. Cepat... Sebaiknya kita bawa tuan kerumah sakit" Ucap anak buah Austin tersebut lalu pergi terburu-buru dengan kecepatan mobil yang tinggi untuk menuju kerumah sakit.


...Rumah sakit finlandia...


Setelah sampai kerumah sakit, Austin dan Bayu langsung saja dibawa pergi keruang rawat! Lebih tepatnya Austin dibawa ke ruang operasi sedangkan Bayu berada diruang rawat yang lain. Dan Brianna, Ia kini berada di dalam ruang VVIP dengan jarum infus yang melekat ditangannya sedangkan Austin dan Bayu mereka bukan hanya jarum infus saja melekat ditubuhnya tapi semua alat medis rumah sakit melekat di setiap tubuhnya.


Sebelum Austin dibius untuk melakukan operasi terlebih dahulu kepada tusukannya! Austin sempat terbangun dan berkata.


"Tolong... Sa--sampaikan kepada tu--ann pertama Dirgantara! Ba---bahwa aku--hh... ingin ke-kedepannya... Bri--aa yang merawat--kuhh. Tolon--gg sampaikan pesa--nku" Pinta Asutin dengan terbata-bata karena dirinya tengah sekuat tenaga menahan sakit yang begitu luar biasa ditubuhnya.


"Baik tuan! Kami pasti akan menyanyikan pesan anda" Balas Dokter yang tengah menangani Austin.


Austin yang sudah mendapat jawaban dari dokter yang menangani dirinya tersebut pun kini mulai kembali menutup kedua matanya dengan rapat, bukan karena obat bius melainkan Austin sendiri telah pingsan kembali karena tubuhnya yang mulai tidak kuat menahan rasa sakit yang dideritanya hingga membuatnya pingsan.


...Flashback off...


"Lalu... Apa kau tau Bria apa yang terjadi selanjutnya? Apa kau ingin tau... Hmmm" Tanya Arianna dengan menatap wajah Brianna yang seakan sedang tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Tidak hikssss... Jangan katakan lagi! Kakak, tolong jangan kembali menceritakan apapun tentangnya... Aku mohon hikssss..." Tolak Brianna dengan menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang terus saja keluar dari pelupuk matanya selama Arianna bercerita mengenai kejadian dua tahun lalu yang telah dialami oleh Austin dan dirinya.


"Saat kau masih belum sadar, kakak Alzo dan kakak Alzie datang ke filandia untuk melihat kondisimu! Karena mereka sudah mendengar semua cerita dari mata-mata yang mereka utus untuk menjagamu selama di filandia... Kau bahkan tidak tau bahwa kakak Alzo dan kakak Alzie telah menaruh mata-mata selama kau berada di filandia hanya untuk melindungi dirimu dari bahaya... Bahkan ketika kau kabur saat kau ingin dilecehkan, orang-orang yang ingin melecehkan mu saat itu sempat mengejar mu tapi mata-mata kakak Alzo lebih dulu menangkap orang-orang tersebut. Dan ketika kau di rampok... memang mata-mata kakak Alzo dan kakak Alzie terlambat datang untuk menolongmu tapi untungnya Austin lebih dulu datang bersama anak buahnya untuk menyelamatkan mu... Tapi sayangnya..." Jelas Arianna kembali terpotong.


"Kakakkkk!!"


"Hikssss... Berhenti! Aku mohon padamu hikssss... Jangan menceritakan kembali tentangnya" Teriak Brianna dengan menggelengkan kepalanya terus.


"Jika aku tidak menceritakannya, kau pasti tidak akan mau merawatnya! Kau tau Austin koma karena telah menyelamatkan mu dari bahaya. Dan tentang rencana saat itu, Austin memang bekerjasama dengan Elena tapi mengenai kejadian saat itu ia tidak tau menahu Austin--" Ucap Arianna terpotong.


"Arianna cukup! Kau tidak perlu memojokkan adikmu kembali seperti itu... Intinya kau sudah menceritakannya saja, itu sudah cukup! Karena kakak yakin Bria pasti bisa menyimpulkan cerita dua tahun lalu" Potong Alkenzo.


"Baik kakak" Balas Arianna dengan mengangguk pelan.


"Hikssss... hikssss..." Isak Brianna dengan terus menangis sambil menutup kedua telinganya dengan kepala yang terus menggeleng.


"Maafkan aku, jangan menangis.... Maafkan aku Bria" Lirih Arianna dengan memeluk tubuh Brianna yang tengah gemetar hebat.


"Kakak hikssss... hikssss... Jangan pernah seperti tadi... hikssss... Kakak aku takut" Tangis Brianna dengan membalas pelukan hangat dari Arianna dengan begitu eratnya.


"Tidak akan lagi, maafkan kakak" Jawab Arianna pelan.


...Tokkk tokkk tokkk...


Alkenzo, Alkenzie, Arianna dan Brianna yang mendengar suara ketukan pintu dari luar pun seketika menatap wajah satu sama lain.


"Hapus air matamu, jangan menangis lagi" Tutur Arianna dengan menghapus air mata Brianna dan Brianna pun hanya membalas dengan anggukan kecil dan deheman saja.


"Hmmmm" Dehem Brianna dengan mengangguk kecil.


"Masuk" Titah Brianna dengan terburu-buru menghapus sisa air matanya.


...Ceklekkk...


"Dokter" Panggil Panggil salah satu suster kepada Brianna.


"Valencia? Ada apa" Tanya Brianna dengan menaikkan satu alisnya menatap wajah suster tersebut yang bernama Valencia. Serkertaris suster miliknya.


"Dokter. Ini... Dokter sebaiknya anda ikut saja pergi saja" Jawab Valencia dengan menarik pergelangan tangan Brianna dengan terburu-buru tapi pergerakannya terhenti karena Brianna menahan dirinya.


"Valencia ada apaaa?" Tanya Brianna dengan kebingungan.


"Maaf dokter, tapi saya cuma ingin membawa anda ke ruangan pasien yang bernama Austin. Pasien anda" Balas Valencia.


"Aa-austin? Ada apa dengannya" Tanya Brianna dengan sedikit gugup lalu iapun seketika menoleh kearah sampingnya yang terdapat ketiga kakaknya itu.


"Pasien sudah sadar... Sekarang pasien sedang mencari anda dokter" Ujar Valencia kepada Brianna.


"Sudah sadar?" Gumam Brianna dengan menundukkan pandangannya kebawah karena dirinya sekarang merasa seakan tak percaya dengan semua ini.


"Bria" Panggil Arianna dengan menepuk pelan pundak Brianna.


"Aku akan memeriksanya! Tapi aku ingin kalian ikut denganku" Balas Brianna dengan menatap ketiga kakak kembarnya itu.


"Kami memang akan ikut denganmu" Celetuk Alkenzie dengan mengangguk pelan sama sepeti Alkenzo dan Arianna.


'Aku harap, adikku akan baik-baik saja dan mau menerima kenyataan ini semua' Batin Alkenzie.


'Apakah Bria akan menerima kembali kehadiran Austin?' Batin Arianna.


"Brianna, kakak harap kau masih mengingat ucapan mommy dan daddy saat itu" Tutur Alkenzo menatap wajah Brianna datar.


"Ucapan mommy dan daddy?" Gumam Brianna lalu mulai mengingat-ingat kembali ucapan dari Queena dan Alvaro kembali kepadanya.


...Flashback...


"Bria, Aria, Alzo dan kau Alzie! Kemarilah... Ada yang daddy ingin katakan pada kalian" Panggil Alvaro kepada keempat anaknya.


"Ada apa daddy?" Tanya Brianna kecil dengan duduk diatas pangkuan Alvaro.


"Daddy hanya ingin berpesan kepada kalian saja" Tutur Alvaro dengan Mencium pipi Brianna.


"Apaa?"


"Jika kalian berempat sudah dewasa, daddy harap kalian berempat menjadi orang-orang yang hebat! Jika suatu saat kalian mempunyai masalah... Daddy harap kalian tidak gampang menyerah, daddy ingin kalian menjadi orang hebat dengan selalu menyelesaikan semua masalah yang akan menimpa kalian nanti kedepannya... Entah itu kecil atau besar daddy ingin kalian menyelesaikannya sampai tuntas dan jangan menjadi orang yang pengecut sama seperti daddy dan mommy" Jelas Alvaro kepada keempat anaknya itu.


"Daddy! Kau tenang saja... Aku dan kakak-kakak ku pasti akan selalu menjadi kebanggaan kalian... Aku dan kakak-kakak ku pasti akan selalu menjadi orang yang hebat dengan cara menyelesaikan semua masalah yang akan menimpa kami kedepannya nanti" Jawab Brianna dengan tersenyum manis.


"Benar daddy, tang dikatakan Bria benar... Kami pasti akan selalu menjadi orang hebat sepertimu dan mommy! Kami tidak akan pernah menyerah setiap kali kami akan terkena masalah karena kami pasti akan selalu berjuang untuk menyelesaikan setiap masalah yang akan menimpa kami kedepannya...." Celetuk Arianna dengan mengangguk kecil.


"Ingatlah satu hal sayang... Kalian adalah putra dan putri keluarga Dirgantara dan Kusuma... Darah Dirgantara yang hebat mengalir ditubuh kalian dan darah Kusuma yang kuat juga ikut serta mengalir ditubuh kalian... Jika kedepannya kalian mempunyai masalah... Daddy dan mommy harap kalian tidak akan pernah menjadi seorang pecundang kedepannya" Sahut Queena dengan tersenyum manis menatap keempat wajah anak-anaknya.


"Jadilah kuat dan jangan takut apapun... Hadapi apapun setiap masalah yang akan menimpa kalian nantinya. Jangan pernah menangis dan takut untuk menyelesaikan apapun di setiap masalah... Karena jika kalian mundur dan pergi dari masalah, kalian akan selalu ditindas dan diremehkan nantinya... Kalian akan dikatakan pecundang oleh orang-orang kedepan'nya. Jadi, kami harap kalian menjadi orang hebat" Kata Queena dan Alvaro bersamaan.


"Kami berjanji kepadamu mommy dan daddy! Bahwa suatu saat nanti kami pasti akan menjadi orang yang hebat. Apapun setiap masalah dan rintangan yang akan menimpa kami suatu saat nanti... Kami pasti akan selalu menyelesaikan secara bersama-sama, baik itu masalah kecil maupun besar kami pasti akan menyelesaikannya" Jawab Keempatnya secara kompak.


"Itu baru anak-anak mommy dan daddy" Puji keduanya secara bangga.


"Garis keturunan keluarga Dirgantara dan Kusuma adalah orang-orang yang hebat! Jadi kami pasti akan menjadi orang-orang hebat pula" Kata Alkenzo dengan tersenyum kecil.


"Mommy dan daddy percaya itu" Jawab Alvaro dengan tersenyum bangga kepada Alkenzo.


...Flashback off...