
...Brraaakkkk...
...Brukkk...
Suara dobrakan pintu kamar Alqueen pun dengan sangat keras terdengar, hingga membuat Queena yang tengah memandangi buket bunga dari seseorang tadi. Menjadi jatuh karena saking terkejutnya mendengar suara dobrakan pintu kamar miliknya dengan sangat keras.
"Katakan padaku kenapa kau menangis?" Tanya Seseorang dengan memegangi kedua bahu Queena. Siapa lagi yang berani mendobrak pintu Alqueen jika bukan Alvaro.
"Kau mengejutkanku" Lirih Queena dengan memegangi dadanya karena jantungnya berdetak sangat kencang bukan karena sedang jatuh cinta melainkan karena terkejut.
"Katakan padaku! Kenapa kau menangis dan tidak menjawab telepon dariku, hingga melempar hendphonemu sampai hancur. Katakan!" Bentak Alvaro tanpa sadar karena dirinya benar-benar dibuat khawatir oleh Queena hingga ia refleks membentak Queena.
"Ak-aku... Ak--aku..."
"Katakan padaku!!"
"Hikssss... hikssss... Ma-aaf hikssss..." Lirih Queena dengan menundukkan kepalanya karena Alvaro membentaknya hingga membuat dirinya kembali menangis.
"Ck, Sial" Gumam Alvaro dengan memegang kepalanya karena merasa bersalah telah membentak Queena hingga membuat Queena manangis kembali.
...Grepppp...
"Maaf, aku tidak sengaja membentakmu" Lirih pelan Alvaro dengan manarik Queena kedalam pelukannya.
"Hikssss... Kenapa kau membentakku? Hikssss... Kau membuatku takut hikssss..." Tangis Queena dengan membalas pelukan dari Alvaro.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja membentakmu. Maafkan aku..." Kata Alvaro dengan mempererat pelukannya sambil menciumi puncak kepala Queena.
"Hiksss... Kau jahat"
"Maaf" Ucap pelan Alvaro dengan kembali meminta maaf kepada Queena. Dan beberapa menit kemudian Queenapun akhirnya berhenti menangis karena mengantuk.
"Aku mengantuk" Lirih Queena dengan sedikit isakan kecil yang belum mau hilang.
"Kemari, dan tidurlah aku akan menemanimu" Kata Alvaro dengan menarik lengan Queena pelan lalu membaringkan Queena diatas kasur bersamaan dengan dirinya yang ikut berbaring disebelah Queena untuk menemani Queena tentunya.
"Tidurlah" Tutur pelan Alvaro dengan memeluk tubuh Queena dan mengelus-elus rambut milik Queena.
"Hmmmm"
...15 menit kemudian......
Queena'pun akhirnya tidak mengeluarkan suaranya maupun isakannya kembali karena dirinya benar-benar sudah tertidur dengan mudahnya, bahkan Alvaro yang melihat itupun hanya bisa tertawa kecil.
Sudah beberapa hari, Queena selalu menangis hingga membuat dirinya menjadi sedikit kesal terhadapnya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Queena karena yang membuat Queena menangis adalah dirinya.
"Tak pernah sedikit'pun terpikir olehku untuk bermain hati. Apalagi mempermainkan hatimu! Tak pernah sedikitpun terpikir olehku untuk melukaimu, Apalagi melukaimu dengan kedua tanganku"
"Cinta ini mengajarkanku... Bagaimana cara memperlakukanmu dengan baik, cinta ini mengajarkanku bagaimana cara mencintaimu dengan tulus. Cinta ini mengajarkanku... Bagaimana cara membahagiakanmu sepanjang waktu mengukir senyum di pipi lesungmu. Ciptakan tawa hingga merona wajahmu, membuatmu bahagia sepanjang usiaku! Menemanimu dalam segala rasa Mendampingimu hingga masa tua"
"Sayang... Peganglah tanganku.. Tatap wajahku dalam-dalam! Pandanglah aku. Lihatlah hatiku!
Sadarilah, betapa besarnya aku mencintaimu. Pahamilah, betapa inginnya ku habiskan sisa umurku bersamamu! Bersamamu tanpa batas waktu, Sampai rambut memutih, menua bersamamu. Sampai nanti.. sampai mati..." Bisik Alvaro dengan memeluk tubuh Queena yang sedang tertidur dengan erat lalu menciumi puncak kepala Queena.
"Jangan pernah tinggalkan aku... Jangan pernah kau berfikir untuk berpisah denganku! Karena bagaimanapun juga kau tidak akan bisa pergi jauh dariku, aku mencintaimu... Aku mencintaimu Queena Angelina Kusuma" Lirih Alvaro memandangi wajah cantik Queena yang tengah tertidur.
"Mengapa setiap kali aku dekat denganmu, aku merasa bahwa kita sudah benar-benar akrab satu sama lain. Aku merasa bahwa kau adalah orang penting yang hilang dalam hidupku, Tapi... Sebenarnya kau hanya wanita biasa yang mampu mengambil hatiku dengan begitu mudahnya! Maafkan semua kesalahanku dulu terhadapmu Sayang... Aku menyesali setiap perbuatanku padamu dulu... Jika kau ingin menghukumku maka hukumlah aku tapi yang terpenting kau tidak boleh meninggalkanku" Kata Alvaro pelan.
...Cuppppp...
"Aku mencintaimu sayang... Tidurlah dengan baik dan mimpikan aku" Bisik pelan Alvaro lalu perlahan-lahan melepaskan tangan Queena yang melingkar dipingganya karena ia ingin bangun.
Setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Queena, Alvaro langsung saja pergi menuju pintu kamarnya untuk keluar, tapi sebelum keluar mata tajamnya tidak sengaja menangkap buket bunga yang cantik punya Queena tadi.
"Bunga? Dari siapa?" Gumam Alvaro dengan mengambil buket bunga tersebut dari bawah karena tadi Queena menjatuhkannya akibat terkejut akan dirinya.
"Kertas apa ini?" Tanyanya lalu membuka kertas tersebut dan pergi membacanya, dan tak lama kemudian wajahnyapun berubah menjadi marah karena buket bunga tersebut.
"Beraninya mengirim bunga jelek ini pada istriku" Geram Alvaro lalu pergi berjalan keluar sambil membawa Buket bunga tersebut. Sesampainya di bawah, Alvaro langsung saja memanggil Bi Lin untuk datang menemuinya.
"Bibi"
"Iyaa, tuan"
"Buang ini bi" Titah Alvaro dengan memberikan buket bunga tersebut.
"Baik, tuan"
"Bi, tunggu" Kata Alvaro.
"Iyaa tuan?"
"Jika ada seseorang yang mengirim bunga lagi tolong berikan pada saya saja bi, jangan berikan pada nyonya muda walaupun itu buat nyonya muda sekalipun. Jika nanti ada buket bunga yang dikirimkan lagi bibi bisa membawanya ke ruang kerja saya" Tutur Alvaro yang diangguki Bi Lin.
"Tidak ada"
"Kalau begitu bibi permisi."
"Hmmmm" Dehem Alvaro setelah itu iapun langsung saja mengeluarkan hendphone miliknya dan mencari nomor seseorang yang ia ingin hubungi.
...Dreetttt... Dreetttt......
...Callon...
'Halo Al' Sapa seseorang diseberang sana.
'David, selidiki siapa orang yang bernama Andes Anderson sekarang! Jika kau sudah menemukannya kau langsung kiriman file nya ke email-ku'
'Andes Anderson? Sepertinya aku mengenalnya memangnya kenapa Al'
'Jangan banyak bertanya atau gajimu akan aku potong'
'Ya-yaa, baiklah'
Tut.
"Ckk"
"Aku melupakan ucapanku untuk menyuruh David pergi ke mansion utama" Kata Alvaro dengan kesal kepada dirinya sendiri.
...Dreetttt... Dreetttt......
...Callon...
'Ada apa lagi Al?" Tanya David.
'Besok datanglah ke mansion utama'
'Kemarin aku sudah datang tapi kau malah tidak datang Al'
'Jika kau sudah datang mengapa kau tidak mengabariku bodoh? Jelas aku tidak datang karena aku pikir kau tidak datang' Bohong Alvaro jelas-jelas ia melupakan perkataannya waktu itu.
'Yaa, baiklah'
Tut.
"Baru kali ini aku berbohong dengan David! Ck. Ini semua karena terpaksa" kata Alvaro lalu pergi begitu saja.
...*****...
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" Tanya seseorang yang tak lain Adalah Mira.
"Tentu saja! Kau pikir aku ini bodoh? Hehh, jangan meremehkanku" Jawab orang tersebut dengan sinis.
"Aku tidak mengatakan kau bodoh" Kata Mira dengan wajah lebih sinis.
"Apa kau benar-benar sudah meyakinkan orang suruhanmu itu? Bahwa nanti dia tidak akan berkhianat?" Tanya Mira.
"Tentu saja tidak!"
"Kerja bagus"
"Yaa, itulah diriku"
"Ck, baru ku puji sudah besar kepala" Sinis Mira.
"Aku tidak peduli"
"Sudah sebaiknya kita membahas kembali tentang rencana kita" Ujar orang tersebut.
"Yaa"
"Apakah kau yakin dia benar-benar percaya padamu? Mengapa aku merasa ia tidak percaya denganmu?" Tanya kembali Mira dengan memastikan sekali lagi.
"Apa kau tuli? Aku sudah bilang bahwa dia sudah benar-benar percaya dengan renacana yang sudah kita buat itu! Jika dia tidak percaya untuk apa dia mengkhawatirkan diriku?" Kesal orang tersebut dengan nada yang sangat kesal.
"Aku harap perkataanmu tidak salah"
"Tentu saja tidak"
...****...
...Jangan lupa Like, karena Like itu gratis ❤️🥀....