
...Mansion Williams...
"Mah, dimana Sesillia?" Tanya Gani sambil memandang koran dan tak lupa menyantap kopi yang berada disampingnya pula.
"Masih tidur pah" Jawab Silsila dengan mengalihkan pandangannya ke arah Gani karena ia tadi sedang bermain hendphonenya.
"Tidak biasanya putri kita belum bangun? Coba kau lihat dia mah" Titah Gani yang menyuruh Silsila untuk membangunkan putri semata wayangnya itu.
"Biarkan saja pah, mungkin Sesillia kecapean karena pekerjaaan kantornya! Makanya sekarang ia belum bangun" Ujar Silsila dengan menasehati Suaminya untuk membiarkan Putrinya tidur kembali.
"Hmmm, yasudah kalau begitu"
...Tinnn... Tinnn......
"Siapa itu mah?" Tanya Gani.
"Tidak tau! Mari kita lihat saja pah" Ajak Silsila yang diangguki Gani, lalu mereka berdua pun langsung saja melangkahkan kakinya menuju pintu mansionnya karena ingin melihat siapa yang datang. Sekaligus ingin menyambut kehadiran sang tamu.
"Aunty" Panggil Queena dengan melepaskan genggaman tangan Alvaro lalu berlari memeluk tubuh Silsila.
"Aaaaa, putrikuuu" Teriak Silsila dengan merentangkan kedua tangannya dan membalas pelukan hangat dari Queena.
"Haishhh"
"Mari masuk" Kata Gani dengan tersenyum dan dibalas anggukan kepala dari semuanya.
...Ruang tamu Williams...
"Silahkan duduk"
"Terimakasih Uncle/Tuan" Jawab semuanya berbarengan.
"Bi, tolong buatkan minuman ya" Titah Silsila pada salah satu maid'nya.
"Baik nyonya" Jawab Maid tersebut lalu pergi menuju dapur.
"Tuan dan nyonya kedatangan kami kemari disini ingin berniat melamar putri anda yaitu Sesillia, untuk menjadi istri dari putra saya yang bernama David sekaligus menjadi menantu saya. Menantu kedua dari keluarga dirgantara" Ucap Maura dengan tersenyum kecil menjelaskan maksud dari kedatangannya saat ini.
"Ha?"
Gani dan Silsila pun terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Maura, bagaimana tidak terkejut Maura langsung saja too the points mengatakan maksud kedatangannya adalah ingin melamar Sesillia menjadi menantunya tanpa embel-embel lagi.
"Anda tidak bercanda kan?" Tanya Gani memastikan kembali.
"Ini minumannya tuan, nyonya dan nona" Ucap Maid tersebut dengan membawakan minuman dan cemilan.
"Terimakasih, bibi boleh kembali" Balas Silsila.
"Baik nyonya"
"Maaf menyela tuan dan nyonya, maksud dan tujuan kami datang kesini ingin meminta izin kepada tuan dan nyonya untuk melamar putri anda yaitu Sesillia, untuk menjadikan putri anda yaitu Sesillia sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya bahwa saya mencintai anak anda tuan, izinkan kehadiran hidup saya mewarnai hidup anak anda dan izinkan saya mengajak anak anda kejenjang yang lebih serius dengan menikahinya" Sela David dengan wajah serius agar Gani dan Silsila percaya padanya bahwa ia benar-benar tulus ingin melamar Sesillia sebagai istrinya.
"Apakah kau benar-benar mencintai putri kami nakk?" Tanya Silsila dengan menatap wajah David dengan serius.
"Tentu saja! Saya benar-benar tulus mencintai Sesillia putri anda, saya mencintai Sesillia bukan dari harta ataupun parasnya, tetapi saya mencintai putri anda dari jiwa maupun raganya. Cinta saya pada putri kalian benar-benar tulus dari lubuk hati saya, saya ingin menjaga Sesillia disamping saya, jika izinkan tolong terimalah lamaran dari saya" Kata David dengan penuh keyakinan.
"Tuan sudah menjaga putri anda dengan sangat baik, sekarang bolehkan saya menggantikan posisi anda dengan menjaga dan membahagiakan putri anda layaknya perhiasan dunia yang paling berharga? Jika tuhan mengizinkan saya ingin menjadikan putri anda sebagai istri saya satu-satunya, satu-satunya wanita yang akan menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya kenal putri anda, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya anda menyetujui, saya ingin melamar putri anda dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang yang lebih serius yaitu jenjang pernikahan" Jelas David kembali dengan nada penuh keyakinan dan kepercayaan diri.
"Sebenarnya semua keputusan sudah kami serahkan pada putri kami! Jika putri kami menerima maka tidak ada alasan untuk kami menolaknya, karena bagaimanapun juga Sesillia tumbuh besar bukan dengan kami melainkan dengan nakk Queena, jadi mintalah restu kepada nakk Queena juga seperti kau meminta restu pada kami" Ujar Gani dengan tersenyum manis lalu memandang wajah Queena yang tengah tersenyum padanya pula.
"Terimakasih"
"Kakak ipar aku ingin meminta izin kepadamu untuk menikahi Sesillia adikmu? Bolehkan?" Tanya David dengan memandang wajah cantik Queena yang tengah tersenyum padanya, berbeda dengan halnya Alvaro. Alvaro ia justru sedang menahan kesal karena David memandang wajah istrinya Queena sangat dalam, padahal jelas-jelas David memandang wajah Queena hanya untuk meminta persetujuan saja tidak lebih.
"Jangan kau terima" Bisik Alvaro dengan nada kesal hingga membuat Queena menahan tawanya.
"Terimakasih, kakak ipar" Balas David yang ingin mendekat kearah Queena tapi tertahan karena ucapan Alvaro.
"Jangan mendekati istriku! Karena anak-anakku tidak ingin kau mendekatinya" Tegas Alvaro yang menghentikan niat David untuk mendekat kearah Queena.
Berbeda dengan Gani dan Silsila yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alvaro, hingga membuat mereka berdua menjadi berfikir keras. Apa maksud yang dikatakan oleh Alvaro mengenai anak-anak.
"Maksud nakk Alvaro? nakk Queena sedang hamil?" Tanya Silsila dengan kebingungan.
"Ahhh, Anna sampai lupa memberitahu aunty bahwa Anna memang sedang hamil" Celetuk Queena dengan cengengesan.
"Kau serius nakk? Kau sedang hamil, benarkah?" Tanya kembali Silsila dengan antusiasnya.
"Benar aunty"
"Sampai kapan kau akan berdiri disitu, sayang?" Tanya David dengan menatap keatas, hingga membuat semua orang seketika menoleh ke atas juga.
"Sesillia?"
"Turunlah nakk" Titah Gani.
"Kau sudah mendengar semuanya, sayang! Jadi apa jawabanmu?" Tutur David dengan bertanya kepada Sesillia yang tengah memandangnya dengan dalam.
"Aku..."
"Aku menerimanya" Jawab Sesillia dengan mata berkaca-kaca karena bahagia atas kabar yang ia dengar, bukan hanya kabar tentang pernikahannya saja tapi juga kabar tentang kehamilan Queena.
"Selamat" Ucap mereka semua dengan senyum kebahagiaan.
"Jadi... Kapan kalian akan melangsungkan acara pernikahan?" Tanya Queena dengan penasaran.
"Mengapa kau yang penasaran?" Tanya Alvaro pada Queena yang tengah menatapnya.
"Aku hanya bertanya saja" Jawab Queena dengan cemberut.
"Satu minggu lagi" Bukan David yang menjawab melainkan Alvaro lah yang menjawab.
"Kenapa kau yang menentukan?" Tanya Queena balik.
"Apakah ada masalah? Lagi pula aku yang akan menyiapkan semuanya" Kata Alvaro.
"Aku tidak yakin kau yang akan menyiapkannya! Aku lebih yakin bahwa anak buah'mulah yang akan menyiapkannya" Gumam pelan Queena.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada"
...Grepppp...
"Aaaaaaaaaa"
"Kaaaaa Queenaaaaa" Teriak Sesillia dengan memeluk tubuh Queena tanpa aba-aba hingga membuat Queena menjadi terkejut ketika mendapatkan pelukan mendadak dari Sesillia.
Berbeda dengan Queena! Semua yang mendengar teriakkan Sesillia justru malah menutup kedua telinganya karena teriakan Sesillia tadi, bahkan Gani dan Silsila pun ikut menutup kedua telinganya.
"Kau mengejutkanku" Ujar Queena dengan memegangi dadanya karena jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat dari biasanya, dan itu semua karena ulah Sesillia.
"Maafkan aku kakak, aku hanya sedang merasa bahagia saja atas kehamilan mu, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang aunty" Tutur Sesillia dengan melepaskan pelukannya dan mengelus perut rata milik Queena.
"Kami juga ikut merasa senang atas kehamilanmu nakk, semoga kau selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan yang berlimpah" Celetuk Gani yang diangguki Silsila.
"Kau akan mendapatkan empat keponakan kembar sekaligus" Bisik Queena ditelinga Sesillia.
"Benarkahhhh!!" Teriak kembali Sesillia dengan lebih keras hingga membuat semua orang lagi-lagi menutup kedua telinga mereka.
"Sesilliaaaa!!"