My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Austin Edzard Anderson



...Ruangan VVIP No 5...


"Dimana kakak ku?" Tanya Alkenzie kepada Leo dan Dion yang kini tengah asik mengobrol.


"Tuan" Panggil Leo dan Dion.


"Aku disini" Celetuk Alkenzo yang baru saja datang dengan wajah datarnya.


"Kau dari mana kakak?" Tanya Alkenzie dengan mengangkat satu alisnya.


"Hanya dari luar, mengangkat telpon dari paman" Balas Alkenzo datar.


"Oowwhh" Ucap Alkenzie dengan mengangguk kecil.


"Kau sudah memesan makanan kakak?" Tanya Alkenzie kembali bertanya.


"Sudah, tinggal menunggu saja" Balas Alkenzo dengan mengangguk kecil.


"Hmmmm" Dehem Alkenzie.


...Dreetttt... Dreetttt......


"Brianna?" Gumam Alkenzo dengan menaikkan satu alisnya.


"Brianna?" Sahut Alkenzie dengan mengerutkan keningnya.


...Callon...


My baby 2(Bria)📞: Kakak


^^^Alkenzo: Hmmm? Ada apa?^^^


My baby 2(Bria)📞: Kakak, bisakah kau nanti datang ke rumah sakit?


^^^Alkenzo: Bisa, kakak akan datang nanti bersama dengan Aria.^^^


My baby 2(Bria)📞: Baiklah


^^^Alkenzo: Ada apaa?^^^


My baby 2(Bria)📞: Aku hanya ingin berbicara mengenai kondisi


^^^Alkenzo: Kakak mengerti! Kakak akan kesana nanti bersama Aria dan Alzie^^^


My baby 2(Bria)📞: Baik, aku menunggumu kakak


^^^Alkenzo: Hmmmm^^^


My baby 2(Bria)📞: Dahh kakak! I love you


^^^Alkenzo: Too^^^


Tut.


"Mungkinkah dia sudah sadar kakak?" Kata Alkenzie dengan bertanya.


"Mungkin saja, sudah dua tahun ini ia koma! Dan selama dua tahun ini Bria selalu mengurusnya. Kemungkinan Bria akan memberi tahu bahwa dia akan segera sadar bukan?" Jawab Alkenzo.


"Apakah kita harus memberitahu Bria, mengenai mengapa dia bisa koma seperti itu kakak? Tapi... Bagaimana jika Bria tidak percaya?" Tutur Alkenzie.


"Huuuuffff, percaya atau tidaknya itu tergantung Bria. Tapi yang jelas kita akan mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada Bria. Mengapa dia bisa sampai koma seperti itu" Ujar Alkenzo dengan menatap serius wajah Alkenzie.


"I'm afraid, Bria won't be able to hear all these facts! And I'm afraid that Bria will cry when she hears that fact" Ucap Alkenzie dengan sendu.


...(Aku takut, Bria tidak akan bisa mendengar semua fakta ini! Dan aku takut Bria akan menangis ketika dia mendengar fakta itu)...


"Bria pasti akan menangis setelah mendengar fakta itu, tapi... yang terpenting adalah! Bria tidak akan pernah kembali menyalahkan dia atas kejadian dua tahun lalu" Balas Alkenzo.


"Hmmmm, kau benar kakak. Ahh sudahlah sebaiknya kita makan siang sekarang" Ujar Alkenzie yang diangguki oleh Alkenzo.


"Hmmmm" Dehem Alkenzo.


...*****...


...Hospital Dirgantara...



Seorang wanita cantik dengan jaz dokter yang melekat ditubuhnya dengan begitu indah, kini tengah menatap salah satu pasiennya yang tengah berbaring lemah tidak berdaya. Wanita tersebut yang tak lain adalah Brianna Angelina Putri Dirgantara. Putri dari keluarga Dirgantara dan putri kesayangan semua orang.


Brianna kini tengah memandangi salah satu pasiennya yang sedang koma selama dua tahun terakhir ini! Dengan begitu dalam menatap wajah pasiennya, tanpa sadar air mata Brianna lolos begitu saja dari pelupuk matanya yang cantik itu.


"Aku tidak tau, apakah kau pantas mendapatkan semua ini atau tidak..." Ucap Brianna pelan dengan mata berkaca-kaca menatap wajah seseorang yang kini tengah terlelap dalam keadaan koma.


"Briaaa, untuk apa kau selalu menangisi pria ini. Jangan pernah kau tangisi pria ini lagi... Aku harus ingat apa yang sudah ia lakukan kepadamu" Kata Brianna dengan menepuk-nepuk pelan pipinya sambil menghapus air matanya yang sempat keluar tadi.


"Kau tidak pantas aku tangisi Austin! Setelah semua yang telah kau perbuat kepadaku..." Tutur Brianna dengan menatap benci wajah orang tersebut yang bernama Austin, yaa... Dia adalah pasien pria yang selama ini Brianna rawat dalam dua tahun terakhir ini.


"Bria, dengarkan aku! Semua yang kau dengar dan kau lihat tidak seperti yang apa yang telah terjadi..." Kata Austin dengan berlari mengejar Brianna yang berlari entah kemana.


"Lepaskan akuuu! Jangan pernah sekalipun kau datang kembali kehadapan ku... Karena aku membencimu" Tutur Brianna dengan mata berkaca-kaca.


"Why do you suddenly hate me? Don't you know what really happened! I already told you to listen to my explanation first... Because what you saw today is nothing like what actually happened between us" Ujar Austin dengan Mengerutkan Keningnya kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"What do you need to explain again? What I saw today is the truth! No matter how hard you want to tell the truth I will never trust you again... Because you are a big liar Austin! A big liar..." Teriak Brianna lalu pergi berlari meninggalkan Austin begitu saja.


...(Apa yang perlu kau jelaskan lagi? Apa yang aku lihat hari ini adalah kebenaran nya! Tidak peduli seberapa Kerasnya kau ingin mengatakan kebenarannya aku tidak akan pernah mempercayaimu kembali... Karena kau adalah seorang pembohong besar Austin! Seorang pembong besar)...


"Memori dua tahun lalu... Aku masih mengingatnya!Hahahaha, bodoh. Seharusnya aku melupakan itu semua tadi nyatanya tidak" Tawa Brianna dengan cengenges tapi matanya dan hatinya berbeda.


"Aku berharap kau cepat bangun dari tidurmu panjang mu ini... Agar kedepannya kau tidak lagi merepotkan aku" Bisik Brianna kepada pria yang bernama Austin tersebut.


Setelah berbisik kata terakhir itu, Brianna langsung saja pergi keluar dari ruang rawat Austin dengan pandangan dan tatapan yang penuh kebencian.


...Brraaakkkk...


"I hate you, Austin Edzard Anderson" Kata Brianna pelan dengan menatap sekilas pintu ruang rawat milik Austin yang sudah tertutup rapat olehnya.


...*****...


...Austin Edzard Anderson...


Austin Edzard Anderson, seorang pria tampan yang memiliki postur tubuh yang ideal adalah seorang CEO dari perusahaan ternama di negara filandia yang bernama Anderson Company! Austin Edzard Anderson yang biasa dipanggil Austin memilik Sifat Dingin, datar, arogan, baik, dan perhatian walaupun dingin tapi tidak melebihi Alkenzo.


Austin ini anak dari Andes Anderson, masih ingat? sahabat Queena yang mana pernah mengirimkan sebuah buket bunga untuk Queena.


...Visual Austin...



Austin sendiri adalah kekasih dari Brianna Angelina Putri Dirgantara. Hanya saja saat ini... Hubungan diantara keduanya tengah terpecah belah menjadi dua yang disebabkan oleh orang ketiga. Dan saat ini Austin sendiri tengah koma karena tragedi kecelakaan yang menimpannya hingga membuat dirinya kini berbaring lemah dan tidak berdaya selama dua tahun terkahir ini.


Dan yang merawatnya saat ini adalah Brianna sediri atas perintah dari kakak tertuanya yaitu Alkenzo. Padahal jelas-jelas Brianna sama sekali tidak ingin merawat Austin tapi karena sang kakak saat itu sangat marah sampai mengancamnya dengan ancaman akan mengirimkannya keluar negri untuk selamanya dan akhirnya mau tidak mau iapun menerima perintah tersebut dengan sangat berat hati.


...*****...


...Flashback dua tahun Lalu......


...Filandia...


"Rencana apa yang kau sudah buat untuk menyakiti Brianna! Katakan padaku..." Tanya seseorang yang tak lain adalah Austin yang kini tengah bertanya kepada seorang wanita di dalam salah satu untin kamar hotel.


"Apaa? Aku tidak merencanakan apapun terhadap Brianna baby..." Jawab wanita tersebut dengan tersenyum manis sambil menggoda Austin.


"Jawab pertanyaan ku. Aku tau kau sedang merencanakan sesuatu terhadap Brianna bukan" Bentak Austin dengan mendorong tubuh wanita tersebut hingga membuat wanita tersebut jatuh tersungkur kelantai.


...Bruuukkkk...


"Baby, kau menyakitiku" Kata wanita tersebut dengan cemberut. Nama wanita tersebut adalah Elena.


"Jawab aku Elenaaaa!! Rencana apa yang kau sudah buat untuk Brianna" Marah Austin dengan berteriak kepada Elena.


"Shutttt! Tidak baik untuk tenggorokan mu jika kau terus berteriak seperti tadi baby" Ujar Elena dengan bangun dari duduknya karena ia tadi habis terjatuh kelantai oleh Austin.


"Jawab pertanyaan kuu Elena!" Bentak Austin lagi-lagi dengan berteriak kepada Elena.


"Tidak ada baby, aku hanya menyuruh seseorang untuk menculiknya dan bermain bersamanya saja. Tidak lebih... Hanya itu, dan mungkinkah sekarang ia sedang bermain dengan gembira bersama dengan pria-pria yang aku sudah bayar itu untuknya di salah satu kamar hotel yang ada di sini juga" Jawab Elena dengan santainya sambil tersenyum manis kepada Austin.


"Apaaaa! Katakan padaku kamar nomor berapa kamar yang ada Brianna sekarang" Tanya Austin dengan terkejut dengan jawaban Elena.


"Kamar nomor 1522. Tepat dibawah unit kamar hotel ini... Ada apaa? Apa kau ingin menemuinya... Sebaiknya aku katakan jangan baby, jangan mengganggu kesenangan Brianna dengan pria-pria itu... Biarkan ia bermain dengan puas! Kau jangan menganggunya" Balas Elena kembali dengan perlahan mendekat kearah Austin.


"Apa kau sudah gila Elena! Bagaimana bisa kau melakukan ini kepada Brianna" Geram Austin kembali dengan lagi-lagi mendorong keras tubuh Elena hingga membuat Elena kembali jatuh tersungkur kelantai.


"Mengapa kau marah baby? Bukankah seharusnya kau senang dengan rencanaku ini... Bukankah dari awal kau mendekatinya karena ingin menghancurkannya. Jadi... Saat ini aku sedang membantumu... Bagaimana bisa kau marah denganku" Tanya Elena dengan mengerutkan keningnya.


"Itu dulu sebelum aku mengetahui bahwa Brianna bukanlah orang yang telah membunuh adikku! Aku memang berniat untuk menghancurkan nya saat itu untuk membalas kematiannya adik ku... Tapi sekarang--" Ucap Austin dengan terpotong.


"Kalian yang merencanakan semua ini kepadaku?" Tanya seseorang dengan memotong ucapan Austin.


"Brianna?"


"Brianna?"


"Katakan padaku?" Tanya Brianna dengan menatap wajah Austin berkaca-kaca.


"Aku bisa menjelaskannya" Kata Austin dengan perlahan mendekat kearah Brianna.


"Berhenti... Jangan mendekat kearah ku satu langkah pun... Tetap berada disitu dan jangan pernah mencoba untuk mendekat kearahku" Teriak Brianna yang mampu membuat pergerakan Austin terhenti.


"Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu... Aku mempunyai cerita yang sebenarnya di balik kejadian ini semua" Kata Austin dengan menatap wajah Brianna dalam.


"Hari ini aku sadar, bahwa yang dikatakan oleh kakak ku adalah benar... Kau adalah seorang laki-laki yang tidak pantas bersama denganku... Kau adalah seorang laki-laki pembohong besar" Lirih Brianna dengan menintikan air matanya sambil menatap wajah Austin dalam.


"Aku bisa menceritakan semuanya kepadamu Bria" Tutur Austin dengan perlahan mendekat kembali kearah Brianna.


"Cukupppp!"


"Berhenti disanaaaa..." Teriak Brianna kembali.


"Apa yang kau ingin jelaskan padaku... Semuanya sudah jelas hikssss... kau dan Elena telah membayar pria-pria bajingan itu untuk memper*kosaku hikssssksss... karena kau ingin melihatku hancur, kalian berdua sejak lama telah merencanakan ini semua untuk mengancurkanku! Hikssss... hikssss... Dengan pertama-tama membuatku jatuh cinta terhadapmu Austin. Lalu kemudian kau akan mengancurkan ku dengan perlahan-lahan hikssss... Itu bukan recanamu dan Elena... Katakan!" Jelas Brianna dengan menangis sejadi-jadinya.


"Benar"