My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Ikat rambut



...Mansion Alqueen...


"Anna!! Tidak bisakah kau diam sebentar? Aku sedang bekerja" Kesal Alvaro karen Queena terus saja mengganggu dirinya yang tengah mengecek pekerjaaan kantornya yang sempat tertunda.


"Aku hanya ingin menguncir rambutmu saja, kenapa kau sangat pelit sekali" Ketus Queena dengan cemberut lalu pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya dan duduk disofa.


"Aku sedang bekerja Anna, nanti saja jika pekerjaanku sudah selesai, maka kau boleh sesuka hatimu melakukan apapun terhadapku" Ujar Alvaro dengan menatap kearah Queena yang tengah mengambek terhadapnya.


Queenapun tidak membalas ucapan yang keluar dari mulut Alvaro, ia justru terlihat seperti seseorang yang tidak mendengar apapun saat ini.


'Sayangnya mommy, nanti saja kita kunci rambut daddy mu! Karena sekarang daddy mu sedang bekerja. Yaa, walaupun mommy tau bahwa daddy mu itu penggila kerja' Batin Queena.


'Tapi... Tapi... Tapi aku ingin sekali saat ini untuk menguncir rambut Varo seperti bayi, tapi aku juga takut dengannya jika ia marah nantinya. Bisa-bisa aku digantung di pohon toge olehnya' Batin Queena.


"Anna?" Panggil Alvaro.


"....."


Lagi-lagi Queena tidak menjawab panggilan ataupun ucapan yang keluar dari mulut Alvaro, karena dirinya yang terlalu sibuk dengan pikirannya itu. Mungkin Alvaro tidak tau bahwa Queena saat ini tengah mengidam untuk menguncir rambunya agar terlihat seperti bayi.


Tapi namanya juga Alvaro? Jelas ia tidak akan peka terhadap hal yang seperti ini. Apalagi sekarang Queena tengah mengandung untuk pertama kalinya bukan kesekian kalinya, jadi jelas saja Alvaro tidak tau mengenai permintaan ibu hamil ataupun mood ibu hamil itu.


"Baiklah, kau boleh melakukan apapun terhadapku" Ucap Alvaro dengan pasrah.


"Benarkah?" Tanya Queena memastikan.


"Hmmm"


"Baiklah" Balas Queena dengan tersenyum bahagia lalu kemudian berjalan mendekat kearah Alvaro, Dan Alvaro juga melanjutkan kembali pekerjaaan nya.


"Tolong pegang ini dulu suamiku" Pinta Queena dengan memberikan karet kunciran untuk rambut, kepada Alvaro.


"Letakkan saja dulu dimeja Anna" Tolak halus Alvaro karena tangannya tidak mampu untuk memegangi terus karet kuncirannya, karena dirinya yang tengah memainkan laptopnya dengan kedua tangannya makanya ia menolak.


"Baiklah"


Queenapun menuruti perkataan Alvaro dengan menaruh kunciran rambut tersebut dimeja, lalu Queena pun mulai memainkan setiap helai rambut milik suaminya itu dan mulai mengikatnya dengan karet kunciran tadi secara perlahan, agar Alvaro nantinya tidak berteriak kesakitan karenanya.


Akhirnya Queena pun selesai menguncir rambut milik Alvaro suaminya itu, dan betapa imutnya wajah Alvaro ketika dikuncir dua oleh Queena tanpa mengasih lihat hasil karyanya itu pada Alvaro agar Alvaro tidak melepasnya nanti.


"Puuuttffff"


"Kenapa?" Tanya Alvaro yang mendengar tawa Queena yang sudah payah di tutupinya.


"Tidak ada, kau hanya lucu saja" Jawab Queena dengan bersusah payah menahan tawanya, lalu iapun mengambil hendphonenya dan membuka aplikasi kamera untuk berfoto bersama suaminya itu.


"Suamiku lihatlah kearah kamera, aku ingin memfoto dirimu" Titah Queena tapi tidak ditanggapi oleh Alvaro.


Queena pun tidak masalah dengan sikap acuh Alvaro barusan, ia justru sangat senang hingga mengambil foto begitu banyaknya bersama suaminya itu walau suaminya itu tidak melirik sedikitpun kearah kamera.


"Sudah" Gumam Queena dengan tertawa kecil, lalu mengutak-atik hendphonenya karena ingin mengganti wallpaper hendphonenya dengan foto barusan yang ia baru saja ambil.


...Tingggg... Tonggg......


"Bi, tolong bukakan pintunya" Titah Alvaro pada bi Lin tapi tatapannya tetap fokus kearah layar laptopnya.


"Biarkan aku saja" Celetuk Queena dengan antusiasnya berniat untuk pergi menyambut seseorang yang datang.


"Diam, duduklah dengan patuh. Jangan membantah! biarkan bi Lin yang membukakan pintunya" Tegas Alvaro dengan menatap tajam kearah Queena tapi justru Queena malah tertawa kecil bukan takut, karena saat ini Alvaro sangat imut dengan kedua rambutnya yang diikat seperti anak kecil.


"Puuutff"


"Suamiku" Panggil Queena dengan berjalan mendekat kearah Alvaro, tapi tanpa sengaja kakinya menendang meja dan itupun membuat Queena kesakitan hingga membuat dirinya jatuh tepat dipangkuan Alvaro.


"Assswwww"


...Grepppp...


Kenapa bisa? Karena ketika kaki Queena tidak sengaja menendang meja. Alvaro langsung saja bergerak cepat dengan menyingkirkan laptopnya yang berada di dalam pangkuannya dan iapun dengan cepat menarik pergelangan tangan Queena, karena pada saat itu Queena mulai tidak seimbang, Alvaro'pun bergerak dengan cepat menarik pergelangan tangan Queena, dan alhasil Queena pun terjatuh didalam pangkuan Alvaro.


"Tidak bisakah kau berhati-hati ketika berjalan?" Tanya Alvaro dengan tajam.


"Maaf, aku--"


...Cuppppp...


"Hukumanmu" Bisik Alvaro dengan mencium bibir manis milik Queena sebagai tanda bahwa Queena dihukum.


"Kau curang" Kata Queena dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku masih baik padamu, dengan hanya memberikan hukuman kecil sebuah ciuman untukmu saja" Ujar Alvaro.


"Jika kau tidak baik?" Tanya Queena dengan bodohnya dan jangan lupakan Queena yang masih berada diatas pangkuan Alvaro.


"Maka aku akan menghukummu dengan berat, hingga kau tidak bisa berjalan kembali, jikalau kau bisa berjalan kembali aku akan lagi dan lagi menghukummu hingga kau benar-benar tidak dapat lagi berjalan" Jawab Alvaro dengan Tersenyum Devil.


...Glekkkk...


'Mengapa pada saat itu aku sudah berhasil keluar dari kandang macan justru malah masuk kembali kedalam kandang serigala?' Batin Queena.


"Kau mengerikan" Ucap pelan Queena dengan menatap wajah suaminya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Benarkah?" Tanya Alvaro.


"Hmmm"


"Mari kedalam, karena aku akan memperaktekan kepadamu seberapa mengerikannya aku" Ajak Alvaro dengan tersenyum jail.


"Tidak! Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya" Tolak cepat Queena sambil menggelengkan kepalanya.


"Ekhemmm" Dehem seseorang.


Alvaro dan Queena yang mendengar suara deheman seseorang pun langsung menoleh kearah asal suara deheman tersebut, dan Queena yang melihat siapa yang datang pun buru-buru bangun dari pangkuan Alvaro dan berniat ingin berlari. Tapi lagi-lagi tangannya ditarik oleh Alvaro.


"Berani berlari?" Tanya Alvaro dengan menatap tajam kedua mata cantik Queena.


"Hehehehe, Aku lupa! Maaf" Cengenges Queena dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Auntyyyyyyyy" Teriak anak laki-laki dengan berlari menuju kearah Queena sambil merentangkan kedua tangannya bahkan melempar kaca mata hitamnya begitu saja setelah melihat Queena.


...Grepppp...


"Al, aunty merindukanmu" Balas Queena dengan berjongkok menyeimbangi tinggi anak laki-laki tersebut, yaa siapa lagi jika bukan Aldo dan keluarga Atmadja yang datang.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Queena dengan melepaskan pelukannya bersamaan dengan Aldo.


"Baik, bagaimana dengan aunty?" Tanya balik Aldo karena dirinya benar-benar sangat merindukan auntynya ini.


"Sangat baik, sama sepertimu" Jawab Queena dengan tersenyum manis sambil mengusap pelan rambut Aldo.


"Bagiamana dengan kami?" Tanya Kiana dengan cemberut karena sepertinya dirinya tidak dianggap begitupun yang lainnya.


"Apa kau tidak merindukan kami juga?" Tanya Zian dengan tersenyum manis.


"Kenapa kalian berkata seperti itu? Tentu saja aku juga merindukan kalian" Ujar Queena dengan membalas senyuman manis Zian lalu pergi berhamburan memeluk satu persatu keluarga Atmadja.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Zayyann.


"Tentu saja sangat baik uncle" Jawab Queena.


"Baguslah"


"Uncle, Aunty, Grendpa, Grendma, dan Aldo duduklah kalian pasti lelah bukan" Titah Alvaro dengan diangguki yang lainnya.


"Dan untukmu Sesillia lalu kau David, apa aku harus memerintahkan kalian untuk duduk juga?" Tanya Alvaro dengan datar.


"Tentu saja kami akan duduk sendiri, tanpa perintah dari tuan Alvaro" Sahut David dengan wajah meremehkan.


"Tidak perlu kakak ipar, sudah pasti kami akan duduk sendiri" Kata Sesillia dengan tersenyum manis.


"Hmmm, itu lebih baik"