
"Tidak ingin pergi juga? Hmmm, baiklah jangan salahkan aku jika sapu ini melayang ke kalian berdua" Geram Queena yang turun bersama dengan Anva dan tak lupa dirinya membawa sapu ditangannya.
"Kenapa kau akhir-akhir ini sangat aneh sayang? mood-mu selalu saja berubah-ubah kadang kau marah, kadang kau menangis, dan kadang kau bahagia, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Alvaro yang sudah sangat kesal dengan mood-nya Queena akhir-akhir ini.
'Aku juga tidak tau mengapa aku seperti ini! Sebenarnya ada apa dengan diriku' Batin Queena.
"Kau membentak ku Al? Hikssss... kau jahat Al!" Lirih Queena yang tiba-tiba saja manangis hingga membuat Alvaro dan Karan yang melihatnya menjadi terkejut dibuatnya.
'Entah mengapa aku ingin menangis' Batin Queena.
"Ha?"
"Huuuffff, Baru saja mengatakannya sekarang sudah menangis! Membuatku menjadi kesal saja" Gumam Alvaro yang masih didengar oleh Karan.
"Puuutff"
"Hikssss... Kalian berdua Pergilah! Aku tidak ingin melihat kalian hikssss..." Isak Queena dengan melempar sapu yang di pegang nya ke sembarang arah dan alhasil sapu tersebut pun mengenai wajah tampan Karan.
...Buughhh...
"Awasss, Sialan! tadi pipiku mendapatkan hadiah dari si batu sekarang wajahku juga mendapatkannya dari sapu sialan" Kesal Karan dengan mengusap-usap wajahnya yang terasa sakit akibat ulah Queena yang melempar sapu kewajah nya.
"Mampus"
"Kau--"
"Apa?"
"Ka Queenaaaaaa" Teriak Seseorang yang baru datang bersama sang kekasih siapa lagi jika bukan Sesillia dan David.
"Bisakah kau tidak berteriak" Ujat Alvaro dan Karan dengan kesal sambil memegangi kedua kupingnya yang terasa sakit mendengar teriakan dari Sesillia.
"Ohh, ada ka Karan disini rupanya. Sejak kapan kau berada disini ka?" Tanya Sesillia.
"Tadi pagi"
"Owhh... Ha? Ka Queena kenapa kau menangis? Katakan padaku siapa yang membuatmu menangis" Ucap Sesillia lalu memalingkan wajahnya ke arah Queena yang tengah menangis.
"Hikssss, mereka berdua" Jawab Queena dengan memeluk tubuh Sesillia, Dan untuk Alvaro dan Karan yang mendengar jawaban Queena menjadi melongo dibuatnya.
"Anaa, mengapa aku juga dibawa-bawa? Aku sedari tadi tidak ikut campur loh" Bela Karan yang tak ingin disalahkan oleh Queena.
"Kau salah"
"Hahaha, lihat... Bukan aku yang salah tapi kau monyet" Celetuk Alvaro dengan bangganya.
"Ckckck, Anaa menangis itu semua karenamu batu! Mengapa kau malah menyalahkan aku?" Balas Karan.
"Kalian berdua salah, hikssss..."
"Kenapa kami?" Tanya mereka berdua dengan kompak.
"Karena kalian berdua salah, hikssss..." Teriak Queena dengan membentak keduanya.
"Kakak ipar, ka Karan sebenarnya ada apa dengan ka Queena? Mengapa ka Queena bisa menangis" Tanya Sesillia yang kebingungan begitu juga dengan David yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Kami tidak tau" Jawab Alvaro dan Karan kembali bersama.
"Lalu... Kenap bisa kakak ipar Queena menangis?" Celetuk David dengan bertanya kepada Keduanya.
"Kami bilang kami tidak tau!" Tegas kembali mereka berdua dengan kompak, lalu mereka berdua pun langsung saling pandang dengan tatap tajam.
"Apaaa?"
"Apaaa?"
"Ini semua salahmu" Ujar Alvaro dengan tatapan Tajam.
"Bukan aku yang salah, tapi kau" Elak Karan dengan membalas tatapan tajam Alvaro, entahlah sejak kapan Karan menjadi berani terhadap Alvaro.
Author: Gak tau.
"Kakak Ipar, ka Karan sebaiknya kalain berhenti bertengkar" Tutur Sesillia yang diangguki David Sang Kekasih.
"Huuuffff, sayang maafkan aku! Kamarilah...." Bujuk Alvaro dengan membuang nafasnya dengan kasar.
"Hikssss."
"Apa kau tidak ingin memaafkan aku? Hmmm, Aku sudah minta maaf bukan" Tutur Alvaro dengan menatap wajah Queena yang sudah banjir dengan Air matanya.
"HUWAAAAAAA.... Hikssss... hikssss..." Tangis Queena dengan berganti memeluk tubuh kekar Alvaro dan tentu saja Alvaro membalas pelukan dari Queena.
"Berhenti menangis"
"Hikssss"
"I-ini menyenangkan, aku tidak ingin berhenti. Hikssss... hikssss..." Balas Queena.
"....."
"....."
"....."
"....."
"....."
...Ruangan Alvaro...
Setelah kejadian dimana Queena menangis akhirnya Alvaro'pun memutuskan untuk pergi kekantornya, begitu juga dengan Karan yang sudah kembali keaktifannya sendiri.
"David" Panggil Alvaro.
"Ada apa?"
"Bagaimana? Apa kau sudah memastikannya kembali" Tanya Alvaro dengan wajah seriusnya.
"Sudah! Bahkan aku sudah melihatnya dengan jelas bahwa itu benar-benar dia" Jawab David dengan Mengambil laptopnya dan memberikannya kepada Alvaro untuk melihat sesuatu yang terdapat didalamnya.
"Lihatlah, aku sudah meminta Leo untuk mengirim salinannya padaku" Kata David, lalu Alvaro'pun langsung saja melihat isi dalam laptop milik David tersebut. Leo adalah kaki tangan Alvaro yang lainnya.
"Ckckck. Rupanya dugaanku benar bahwa dia hanya berakting! Hehhh, apakah dia berfikir bahwa aku ini bodoh?" Sinis Alvaro dengan tersenyum devil.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan padanya?" Tanya David dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ikuti saja apa yang dia inginkan, Selama dia tidak mencelakai istriku aku tidak akan berbuat perhitungannya dengannya! Kita tunggu tanggal akhir permainannya saja" Ujar Alvaro dengan menutup Laptop milik David.
"Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa nantinya"
"Kau tenang saja David! Aku akan memastikan bahwa istriku akan baik-baik saja. Orang-orang Dirga Grup dan Tara Grup sudah aku perintahkan untuk menjaga istriku dari jarak jauh agar istriku nantinya tidak akan merasa risih terhadap mereka"
"Hmmm, Al sebenarnya kakak ipar Queena dulu juga dijaga dari jarak jauh oleh Orang-orang yang sangat terlatih. dan aku juga sudah tau siapa orang yang menjaga kakak Ipar Queena dari jauh yaitu orang-orang terlatih milik keluarga Atmadja, tapi sekarang mereka telah mengambil kembali orang-orang yang diutus untuk menjaga kakak ipar Queena entah karena apa bahkan aku sendiri sudah mencari taunya tadi hasilnya nihil. Aku tetap tidak tau" Jelas David dengan menceritakan tentang orang-orang terlatih milik keluarga Atmadja yang diutus untuk menjaga Queena pada saat itu.
"Masalah itu aku sudah tau! Karena Grendpa Zian sudah menceritakan semuanya kepadaku" Kata Alvaro.
"Hmmm, David kau harus tetap awasi pergerakan mereka! Jangan sampai kau lengah" Titah Alvaro.
"Baik, Al"
"Kapan kau akan melamar Sesillia?" Tanya Alvaro dengan mengganti topik pembicaraan.
"Ha?"
"Jangan berpura-pura menjadi orang bodoh! Apa kau pikir aku tidak tau tentang dirimu dan Sesillia?" Sinis Alvaro dengan menatap malas wajah David yang tengah melongo.
"Aku tidak tau kapan aku bisa pergi melamar Sesillia, karena aku sendiri sekarang sedang mengumpulkan uang yang sangat banyak untuk pergi melamar Sesillia! Kau tau bukan? Sesillia bukanlah Sesillia yang dulu sekarang dia adalah pewaris tunggal Keluarga Williams" Terang David dengan menjawab ucapan Alvaro dengan jujur.
"Si bodoh ini" Gumam Alvaro dengan memijat pelipisnya.
"Lalu? Apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Tanya kembali Alvaro kepada David.
"Huuuffff, Sekarang yang aku ingin lakukan hanya satu yaitu membahagiakan Sesillia terlebih dahulu" Jawab David dengan membuang nafasnya dengan berat.
"Besok datanglah ke mansion lama" Titah Alvaro.
"Untuk apa?"
"Datang saja"
"Hmmm, Baiklah"
...Dretttt... Dretttt......
"Siapa Al?."
"Amanda"
...Callon...
'Halo' Ucap Alvaro.
'Halo Al... Hmmm, Al apa kau sudah lupa dengan permintaan'ku?'
'Aku ingat'
'Baguslah, aku pikir kau lupa tentang pergi menemaniku'
'Tidak'
'Kau pergilah ke rumah sakit terlebih dahulu, aku akan menyusulmu nanti karena kau harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu'
'Baiklah Al, aku menunggumu'
'Hmmm'
'Dah Al'
Tut.
...*****...
...Jangan lupa Like, Karena Like itu gratis!!!....
...See you tomorrow<°--°><><....