
"J-jika ak--aku tidak bis-bisa me-lewati semua i--ini, tol-long kata--kan pad-pada kenzo d--dan samp-aikan padanya ba---hwa aku sang-sangat mencintai-nya dan sam-samp--aikan juga permin---taan maaf-ku bah-wa ak--aku tid--daak bis-bisa menepa--ti jan-janjiku untuk te--tap bers--saman-nya. Tap--tapi ji--jika aku bis--bisa melewati in--ini sem--mua tolong da--ddy sembu--nyikan tent---tang diri--ku" Pinta Anitha dengan terbata-bata karena menahan sakit yang begitu amat luar biasa disetiap bagian tubuhnya terutama kepalanya.
Seluruh tubuh Anitha semua tergores-gores dengan luka yang begitu dalam, hidung, mulut, telinga, kepala serta yang lainnya hingga sampai saat ini kini masih terus mengeluarkan darah segar. Makanya Anitha sampai saat ini dengan sekuat tenaga memakai sisa kekuatannya untuk membuka kedua matanya dan mengatakan apa yang ia ingin katakan sebelum ia kembali menutup kedua matanya.
"Mengapa daddy harus menutupi semuanya kepada Alkenzo?" Tanya Alvaro dengan mengerutkan keningnya sambil menatap aneh wajah Anitha yang terdapat begitu banyak luka.
"Kar--karena ji---jika Ken-zo ta--tau bah-hwa ak--aku mas--masih hidup dan ter--terluka sep-seperti i-ini ak--aku takut, aku takut ked--depann-nya Ken--zo akan ter-us menyalah--kan dir--dirinya akan semu--a in--ini. Jadi ak--aku mohon tol-ong sem--bunyikan ak--u! Kar--karena ak-aku yakin kedep-pannya aku aka-n melu--pakan semu--ua hal" Pinta kembali Anitha dengan ucapan yang terbata-bata.
Sakit yang sangat luar biasa kini masih ia rasakan dan ia tahan dengan sekuat tenaga, Anitha ingin menutup kedua matanya kembali tapi ia terlebih dahulu ingin mengatakan dan menyampaikan sesuatu kepada Alvaro untuk terakhir kalinya sebelum ia menutup kedua matanya kembali.
"Tol--long berj--janjilah kep--kepadaku untuk menut--tupi semu--a tenta--ng diriku jik-a ak--aku bisa mel--lewati in--in semu--a" Kata Anitha kembali dan tanpa sadar kedua matanya pun kembali tertutup dengan rapat.
"Pasien kembali drop. Tuan... Maaf" Panik lima dokter hebat itu yang mana telah dipanggil oleh Alvaro untuk membantu Anitha.
"Cepatlah!!" Titah Alvaro dengan panik pula.
"Daddy berjanji asalkan kau bisa selamat dan mau bertahan demi putra daddy" Ucap Alvaro pelan dengan menatap tubuh Anitha yang mana kini tengah dibawa dan berniat untuk dimasukkan didalam ruang operasi.
"Alzo nak, maafkan daddy! Jika kedepannya daddy harus menutupi semua hal mengenai kekasih kecilmu" Gumam Alvaro pelan.
Sebenarnya ada rasa ingin menolak perkataan ataupun permintaan yang di ucapkan Anitha tadi, Karena Alvaro berfikir jika ia menutupi semua hal kepada putranya maka putranya kedepannya nanti akan terus lebih merasa bersalah atas kepergian palsu Anitha, tapi jika ia tidak berjanji maka Alvaro takut Anitha tidak akan mau berusaha untuk tetap hidup di dunia ini.
Jadi tidak ada cara lain selain menjawab dan menyetujui permintaan dari Anitha, calon menantunya itu.
Alvaro sebenarnya tidak habis pikir dengan permintaan Anitha tadi, karena katanya jika putranya mengetahui fakta tentang keselamatan Anitha maka Anitha takut bahwa kedepannya Alkenzo putranya itu akan terus menyalahkan dirinya atas semua hal yang terjadi hari ini. Tapi Alvaro lebih berfikir bukankah jika ia menutupi tentang keselamatan Anitha kekasih kecil putranya itu maka putranya itu akan lebih-lebih menyalahkan dirinya atas kehilangan palsu kekasih kecilnya itu? Dan jika ia mengatakan fakta tentang keselamatan Anitha bukankah itu lebih bagus? Agar kedepannya putranya itu tidak lah terus menyalahkan dirinya nanti kedepannya.
Tapi ia sudah terlanjur berjanji kepada Anitha calon menantu-nya itu agar ia lebih baik menutup mulutnya dari pada harus membuka mulutnya dan mengatakan semua fakta tentang Anitha. Ada rasa bersalah karena Alvaro dirinya itu harus menyetujui permintaan dari Anitha yang tidak masuk akal itu, Jalan pikiran Anitha rupanya sama halnya dengan Queena istri kecilnya itu.
...Tujuh jam berlalu.......
"Tuan! Saya sudah menjalankan perintah yang ada titah kan kepada saya" Ucap Ray dengan hormat kepada Alvaro.
"Hmmmm, jangan biarkan putraku tau bahwa sebenarnya Anitha masih hidup. Dan jangan biarkan pula putraku itu menggali kuburan palsu tersebut" Jawab Alvaro dengan datar.
Kuburan palsu? Benar! Alvaro telah memerintahkan anak Ray dan Rey untuk membuat sebuah kuburan palsu yang mana nantinya kuburan palsu itu akan menjadi kuburan Anitha, agar putranya dan semua orang percaya atas kepergian Anitha.
"Baik tuan" Balas Ray.
...Ceklekkkk...
Mendengar suara pintu ruang operasi terbuka, Alvaro yang sedari tadi menunggu lama para dokter tersebut kini akhirnya tiba. Dimana pintu ruang operasi tersebut kebuka dan terlihatlah kelima para dokter hebat itu dengan wajah yang dipenuhi keringat.
"Tuan" Panggil kelima dokter tersebut.
"Katakan padaku, apakah operasi nya berjalan lancar? Dan apakah calon menantuku selamat?" Tanya Alvaro dingin.
"Syukurlah nona Anitha kini sudah melewati masa kritisnya, dan nyawa nona Anitha bisa selamat berkat doa dan dukungan yang anda berikan kepadanya" Jawab salah satu dari kelima dokter tersebut.
"Huuuuffff syukurlah"
"Tapi tuan..."
"Apaa?" Tanya Alvaro kembali dengan mengerutkan keningnya sambil menatap wajah para dokter tersebut.
"Amnesia? Aku sudah mengetahui akan hal ini dari awal... Begitu juga dengan Anitha sendiri" Gumam Alvaro dengan mengusap wajahnya secara kasar.
"Tidak apa. Yang terpenting ia bisa selamat, untuk masalah ingatan saya yakin itu akan kembali dengan sendirinya nanti. Walaupun akan lama" Ujar Alvaro dengan mengangguk kecil.
"Baik tuan"
...Flashback off...
"Dari situ daddy membawa Anitha kepada kedua orang tua angkatnya. Dan memberikan biaya hidup kepada Anitha secara diam-diam melalui orang tua angkatnya, kakak mu tau namanya Anitha tapi tidak dengan kepanjangan nya! Jadi... Ketika nanti kakak mu bertemu kembali dan melihat secara jelas wajah Anitha mungkin ia hanya akan menganggap nya mirip dengan sebuah kebetulan saja" Cerita Alvaro kepada Brianna putrinya itu.
"Lalu..." Tanya Brianna kembali.
"Zanitha Zayna Alzea, itu adalah nama kepanjangan dari Anitha. Tapi yang kakak mu tau hanyalah nama "Anitha" saja jadi daddy yakin kedepannya kakak mu tidak akan mengenali kekasihnya itu" Ucap Alvaro.
"Kau tidak ingin memberitahukan kepada putramu yang sebenarnya?" Tanya seseorang dengan masuk kedalam ruangan Brianna, Orang tersebut yang tak lain adalah Zayyann.
Zayyann memang sudah mendengar semua cerita dari Alvaro yang sebenarnya. Secara diam-diam, Jadi... Ia langsung saja bertanya dan masuk kedalam ruangan Brianna.
"Uncle" Panggil Brianna dengan terkejut akan kehadiran Zayyann yang secara tiba-tiba.
"Aku sudah tau kehadiran mu sejak awal jadi aku hanya bisa diam dan langsung saja menceritakan semuanya agar kau bisa keluar dari tempat persembunyian mu" Tutur Alvaro datar.
"Hmmmm"
"Jadi, apakah kau akan terus menutupi semua kebohongan tentang kematian Anitha kepada semua orang? Apakah kau tidak ingin melihat putramu sembuh dan tidak terus menerus depresi seperti ini hingga membuat putramu sakit?" Kata Zayyann dengan kembali bertanya lagi dan lagi.
"Aku tidak tau, kita lihat saja kedepannya" Jawab Alvaro dengan menyandarkan kepalanya dipinggir sofa.
...*****...
...Ruangan vvip no 1...
...Ceklekkkk...
Setelah mengobrol dan mengatakan kebenaran tentang Anitha Alvaro pun langsung saja kembali keruangan Alkenzo putranya itu, dan ketika Alvaro masuk ia bisa melihat dengan jelas istri kecilnya itu tengah tidur dengan pulasnya disamping sang putra.
Dan dengan perlahan Alvaro pun mulai mendekat kearah keduanya, berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara dan tidak mengganggu istirahat keduanya.
"Kau cepatlah sembuh nak! Daddy berjanji jika kau besok membuka matamu, maka daddy akan memberitahu sebuah fakta tentang kekasih kecilmu itu. Anitha" Bisik Alvaro pelan ditelinga sang putra.
"Zanitha Zayna Alzea"
"Daddy harap kau bisa mendengar suara daddy! Jika kau benar-benar bisa mendengar suara daddy maka cepatlah buka matamu dan cepatlah sembuh. Jangan biarkan mommy mu terus seperti ini, faddy yakin kau paham dengan apa yang daddy bicarakan karena kau adalah putra daddy" Ucap Alvaro pelan dengan kembali berbisik ditelinga sang putra.
Setelah berbisik ditelinga sang putra untuk menyemangati sang putra, Alvaro pun perlahan berjalan mendekati Queena dan setelah itu Alvaro pun langsung saja menggendong tubuh Queena dengan perlahan dan menempatkan Queena sang istri ke sofa besar yang ada disebelah bangsal tempat tidur sang putra.
Untungnya ketika Alvaro memindahkan sang istri, Queena tidak bangun dan tidak terganggu dari tidurnya. Dan justru Queena malah semakin terlelap tidurnya ketika selesai dipindahkan. Mungkin saja Queena sudah benar-benar kecapean seharian ini dengan hanya terus menerus menjaga serta merawat sang putra yang tengah sakit.
Queena kemarin bergadang bersama Lauren serta Brianna, jadi wajar saja saat ini Queena tertidur lebih awal akibat kelelahan. Dan Alvaro bahkan tidak mempermasalahkan hal tersebut malahan justru ia bahagia dan senang karena bisa melihat istri kecilnya itu terlelap tidur karena bagaimana pun sudah beberapa hari ini istrinya itu selalu disibukkan dengan mengurus putranya hingga tidak bisa tertidur dengan lelap karena sebentar-sebentar Queena bangun untuk mengecek kondisi kesehatan putranya itu entah itu putra besarnya (Alkenzo) atau putra kecilnya (Alan).