
...Ruangan Alvaro...
"Tuan" Panggil Ray dengan hormat kepada Alvaro.
"Ada apa Ray?" Tanya Alvaro kepada Ray tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop miliknya.
Bukan karena apa-apa atau pekerjaaan, tapi Alvaro menatap layar laptop-nya karena tengah melihat Queena dari kamera CCTV yang terdapat di ruang medis. Alvaro kini memang tidak bisa bertemu dengan Queena saat ini! Karena ia takut Queena akan merasa stres bila dirinya berada disamping Queena... Jika Queena stres maka kondisi keadaan calon anak-anaknya tidak akan baik-baik saja nanti.
Maka dari itu ia lebih memilih untuk tidak berada disamping Queena, tapi tetap memantau kondisi Queena dari jarak jauh! Karena itu yang terbaik untuk saat ini.
"Ini tentang nona Amanda tuan" Jawab Ray dengan menekankan suaranya.
"Ada apa lagi dengannya" Kesal Alvaro dengan menatap wajah Ray.
"Saya baru mendapatkan kabar bahwa tadi siang nona Amanda datang mengunjungi rumah sakit hospital dirgantara! Bersama dengan seorang wanita yang mengantarnya" Ujar Ray.
"Lanjutkan..." Titah Alvaro dengan datar.
"Nona Amanda kini telah terkena penyakit gangguan mental yang bernama Sindrom Peter Pan. Dimana penyakit tersebut adalah penyakit mental yang bertingkah seperti layaknya anak kecil atau lebih tepatnya kembali ke momen pada masa kecilnya. Dan bertingkah layaknya seorang anak kecil yang berusia lima tahun tuan" Jelas Ray dengan memberikan bukti hasil laporan kondisi Amanda tadi.
"Hmmmm, kenapa ia bisa tiba-tiba terkena gangguan mental Sindrom Peter Pan?" Tanya kembali Alvaro dengan mengerutkan keningnya.
"Mungkin saja nona Amanda menjadi terkena gangguan mental seperti ini karena kejadian tadi pagi tuan. Hingga membuat Nona Amanda mulai merasa tidak percaya diri, takut, tidak mampu, dan merasa cemas! Sehingga... Nona Amanda terkena gangguan mental Sindrom Peter Pan tersebut yang bertingkah seperti anak kecil untuk melindungi dirinya" Tutur Ray kembali.
"Lalu... Siapa wanita yang sudah mengantarnya ke rumah sakit?" Tanya Alvaro kembali.
"Dokter Arlan bilang, bahwa nona yang mengantarkan nona Amanda sama sekali tidak menyebut namanya tuan" Balas Ray kembali.
"Hmmm, kalau begitu kau boleh pergi" Tutur Alvaro kepada Ray, dan itupun dibalas anggukan hormat oleh Ray.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi" Balas Ray dengan pamit lalu setelah itu iapun pergi.
"Sindrom Peter Pan? Hehhh... Kau memang pantas mendapatkannya Amanda! Atas apa yang sudah kau lakukan. Walaupun itu tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan selama ini" Gumam Alvaro.
...*****...
...Ruang Medis...
'Aku tidak tau, apa yang aku lakukan sekarang adalah hal yang benar? Dengan tidak mendekatkan diriku kepada Alvaro saat ini! Tapi... Tapi sebenarnya aku ingin sekali memeluknya dan bermanja-manja dengannya... nakk apakah kalian merindukan daddy kalian? Hingga meminta kepada mommy dengan membuat mommy ingin terus berada didekat daddy-mu. Bahkan dengan meminta mommy untuk terus bermanja-manja?' Batin Queena dengan mengelus pelan perutnya itu.
'Maafkan mommy sayang... Mommy masih belum ingin daddy kalian di dekat mommy! Mommy butuh waktu sebentar untuk berfikir jernih sayang... Jadi... Maafkan mommy' Batin Queena kembali.
"Kakak" Panggil Seseorang.
"Ada apa? Sesillia" Tanya Queena dengan pelan sambil menatap wajah Sesillia, Yups... Jadi yang datang adalah Sesillia.
"Bolehkan aku berbicara denganmu sebentar?" Tanya Sesillia balik dengan menatap wajah Queena dengan tatapan memohon.
"Kemarilah" Kata Queena dengan menepuk pelan ranjang tidurnya.
"Kakak... Mengapa kau bisa seperti ini? Kau tau ka, rasanya aku ingin sekali menangis ketika melihatmu seperti ini... hiksss... rasanya aku--" Ucap Sesillia yang terpotong karena Queena tiba-tiba saja menarik dirinya kedalam pelukannya dengan erat.
"Maaf. Maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir terhadapku, maafkan aku... Menangis-lah jika kau ingin menangis! Jangan memendamnya" Ujar Queena dengan lirih.
"Hikssss... hikssss... Apa kau tau ka? Seberapa aku menghawatirkan-mu hikssss... Tapi... Ada yang lebih menghawatirkan-mu selain aku... Hanya saja saat ini kau tidak ingin berbicara ataupun melihatnya" Lirih Sesillia dengan menghapus air matanya..
"Kakak tau" Jawab Queena dengan pelan sambil tersenyum sendu menatap Sesillia.
"Kakak apa kau tau... Seberapa khawatirnya kakak ipar terhadap-mu? Kau tau ka... Disaat dirimu tertidur ketika kau lelah menangis, kakak ipar Alvaro terus saja menggendong-mu untuk membawa pulang, hingga Kakak Ipar tidak mau melepaskan-mu! Ketika dirinya tengah menghadapi Amanda" Kata Sesillia.
"Kakak tidak ingin mendengarnya" Ujar Queena dengan pelan.
"Bahkan ketika kau kesakitan... Yang paling mengkhawatirkan kondisi dirimu adalah kakak ipar! Kau lihat sendiri bukan ka? Kakak ipar saat itu begitu panik hingga memarahi seluruh anak buahnya... Karena apa ka? Itu karena kau kakak! Bahkan ketika kau meminta kakak ipar untuk tidak mendekatinya, kakak ipar tidak memperdulikan itu, karena yang ia pedulikan adalah keselamatan calon anak-anaknya dan dirimu. Tapi apa yang sudah kau lakukan ka? Kau justru malah membalasnya dengan---" Jelas Sesillia dengan berhenti sejenak.
"Huuuuffff... Sudahlah kakak! Aku tau kau pasti kecewa dengan kakak ipar Alvaro saat ini... Tapi... kekecewaan-mu itu diwaktu yang salah, jika kau ingin kecewa dengan kakak ipar Alvaro kau seharusnya lebih dulu melihat kejadian sebenarnya saat itu... Bukan langsung mengambil keputusan untuk tidak mau bertemu dengannya dan tidak mau melihatnya! Bahkan dengan kau kecewa kepadanya" Kata Sesillia dengan menaruh flashdisk yang pernah Alvaro berikan saat itu disamping Queena.
"Beristirahatlah ka, agar kau kembali sehat seperti biasanya... Ingatlah ka. Beberapa hari lagi Aku akan menikah! Aku ingin kau dan kakak ipar datang keacara pernikahanku dengan David... Kado pernikahan yang aku inginkan adalah dirimu dan kakak ipar Alvaro berbaikan, kalau begitu aku pergi dulu ka Beristirahatlah" Pamit Sesillia dengan tersenyum kecil kepada Queena yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
...Ceklekkkk...
"Anna... Sayang" Bisik Alvaro ditelinga Queena yang masih enggan untuk membuka kedua matanya.
"Emmmmmm"
"Bangunlah... Ada yang ingin aku berikan untukmu" Ucap Alvaro pelan.
Bukannya menjawab ucapan dari Alvaro... Queena justru malah diam sambil terduduk diatas ranjangnya sambil mengingat-ingat kembali kejadian tadi.
"Pergilah Alvaro" Kata Queena pelan.
"Aku akan pergi setelah kau melihat ini..." Jawab Alvaro dengan memberikan sebuah flashdisk kepada Queena, Yaa... dimana flashdisk tersebut yang berisi rekaman CCTV dimana yang Alvaro inginkan tadi kepada David.
"Aku tidak ingin melihatnya! Pergilahhh... Aku tidak ingin melihatmu saat ini" Ujar Queena dengan membuang wajahnya kearah balkon kamarnya.
"Aku sudah mengatakan padamu. Aku akan pergi... Jika kau sudah melihat isi dari flashdisk ini" Tegas Alvaro.
"Pergilahhh Alvaro!!" Usir Queena kembali dengan lirih.
"Tidak sebelum--" Ucap Alvaro yang terpotong.
"Hikssss... Pergilahhh Alvaro" Lirih Queena.
"Baik!"
~
"Arghhhhhh!!"
"Aku benci semuanya... Aku benci hikssss... hikssss... AAAAAAAAAA. Aku benci" Teriak Queena.
...Pranggg...
...Pranggg...
...Pranggg...
...Brraaakkkk...
"Annaaaa!!" Teriak Alvaro.
Alvaro terpaksa mendobrak pintu kamarnya karena lupa bagaimana cara membuka pintu kamarnya_-! Alvaro mendobrak pintu kamarnya karena mendengar suara pecahan-pecahan kaca dari dalam kamarnya disertai teriakkan Queena yang sangat frustasi.
"Jangan mendekat"
"Pergilahhh hiksss... hikssss... Pergii" Kata Queena dengan berteriak kepada Alvaro untuk tidak mendekat kearahnya.
"Tenanglah" Ucap Alvaro dengan pelan.
"Pergi! Kalian semua pergi hikssss... hikssss... Pergilahhh" Histeris Queena dengan mengusir Alvaro beserta yang lainnya. Lainnya, adalah keluarganya serta yang lainnya yang mana kini juga berada di dalam kamarnya.
"Maafkan aku suamiku" Lirih Queena yang tengah mengingat-ingat kembali tentang semua yang telah terjadi hari itu.