
Ketika Zea baru saja membuka kedua matanya dengan perlahan, Zea pun terkejut dengan pemandangan di depannya! Yang mana kini seorang pria tampan tengah berdiri di hadapannya sambil memegangi sebuah payung berwarna hitam untuknya.
"Ka-kau siapa?" Tanya Zea dengan gugup karena melihat pria tampan yang ada didepannya saat ini.
"Tidak penting siapa aku! Tapi yang terpenting adalah kau" Jawab pria tersebut dengan nada acuh tak acuh.
"Aku?" Tanya Zea dengan berdiri dari kursinya sambil memandangi wajah tampan pria yang ada di depannya saat ini dengan tatapan bingung.
"Jangan menjadi wanita lemah! Bila kau sedang dalam keadaan sulit, sebaiknya kau berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Tidak peduli seberapa sulitnya kehidupan kau harus menjalaninya dan melewatinya dengan baik! Bukan malah menangis seperti anak kecil" Kata Pria tersebut sambil memakaikan jaz nya kepada Zea.
"Pakailah ini, agar kau tidak merasa kedinginan!Setelah itu pulanglah dan pikirkan baik-baik untuk mencari jalan keluar dari masalah yang tengah menimpamu saat ini. Karena pada dasarnya setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya" Ujar pria tersebut dengan kembali lalu mulai memberikan sebuah payung yang ia genggam saat ini kepada Zea.
"Ambilah payung ini, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Cari aku bila kau ingin mengembalikan jaz ku! Jika terdapat sesuatu di dalam jaz ku ambil saja. Karena aku tidak membutuhkannya... Tapi jika kau tidak ingin mengembalikan jaz ku aku tidak akan mempermasalahkannya pula" Ucap pria tersebut dengan pergi begitu saja tanpa membawa payung miliknya, hingga membuat pria tersebut justru menjadi basah kuyup karena air hujan yang turun dengan begitu deras saat ini.
Tapi sebelum pergi, pria tersebut membalikkan badannya terlebih dahulu dan memberikan sebuah senyuman manis beserta anggukan kecil kepalanya. kepada Zea.
...Deggggg...
'Ada apa dengan jantungku?' Batin Zanitha.
Dengan pikiran yang masih berantakan, Zea bahkan tidak sempat berterimakasih kepada pria tersebut yang telah memberikan nya sebuah payung beserta jaz hangat miliknya itu, Lalu... Beberapa menit kemudian... Zea pun akhirnya tersadar dan langsung berlari untuk mencari pria tersebut. Tapi sayang nya ia tidak bisa menemukan keberadaan pria tersebut hingga membuat dirinya lagi-lagi harus membuang nafasnya secara kasar.
"Diaman pria itu? Mengapa ia cepat sekali menghilang? Aku bahkan belum mengucapkan kata terimakasih kepadanya" Gumam Zea dengan bertanya kepada dirinya sendiri.
"Tapi... Yang di katakan pria tadi memang benar! Aku seharusnya tidak lemah hanya karena masalah yang sedang menimpaku saat ini! Dengan cara menangis di depan umum bahkan dengan sengaja menangis diatas guyuran air hujan seperti ini... Itu tidak akan pernah menyelesaikan semua masalahku. Yang ada aku hanya bisa menambahkan masalah baru dengan sakit nya diriku" Gumam Zea pelan.
Karena Zea tidak bisa menemuka pria tadi, Ia pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Karena memang sebentar lagi matahari akan tenggelam.
...*****...
...Kontrakan Zea...
Setelah sampai didalam kontrakan nya, Zea pun langsung saja pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat basah karena air hujan tadi.
Lalu.... Setelah selesai, Zea pun mulai mengambil jaz yang diberikan untuknya dari pria asing tadi. Dengan sangat teliti Zea mengamati jaz tersebut dan tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang seperti berbentuk kertas.
"Jika dilihat-lihat, jaz ini pasti sangat mahal! Tapi... Mengapa pria itu malah memberikan jaz nya padaku? Tunggu..." Kata Zea dengan terus mengamati jaz tersebut.
"Ini... Kertas apa?" Tanya Zea kepada dirinya sendiri karena dirinya tiba-tiba menemukan sebuah kertas entah itu kertas apa.
"Cek? Dan... Ti-tiga ratus miliyar? Ap-apa aku tidak salah lihat? Baa-bagaimana bisa pria itu meninggalkan sebuah cek yang bernilai sangat tinggi ini di dalam jaz nya? Dan justru malah memberikan nya ini kepadaku?" Tanya Zea dengan nada terkejut karena melihat apa isi kertas yang terdapat didalam jaz pria asing itu.
"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau memberikan ku sebuah cek yang bernilai sangat tinggi ini? Apa maksud mu dengan memberikan sebuah cek ini kepadaku?" Lirih pelan Zea dengan menyandarkan dirinya kesamping tempat tidurnya sambil bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
"Ambilah payung ini, karena aku sudah tidak membutuhkan lagi. Cari aku bila kau ingin mengembalikan jaz ku. Jika terdapat sesuatu didalam jaz ku ambil saja. Karena aku tidak membutuhkannya... Tapi jika kau tidak ingin mengembalikan jazku aku tidak akan mempermasalahkan nya pula"
Zea pun kini mulai teringat kembali dengan kata-kata pria asing yang saat itu di katakan nya sebelum pergi, setelah mengingat-ingat kata-kata pria asing itu, Zea pun kini mulai berfikir kembali. Apakah ia harus menggunakan cek tersebut untuk membayar hutang-hutang almarhum kedua orang tuan angkatnya yang sudah tidak atau tidak.
Memang, belum lama kedua orang tua angkat Zea meninggal karena kecelakaan, dan kedua orang tua Zea pun bahkan pergi meninggalkan begitu banyak hutang dan melimpahkan kepadanya... Hingga membuat Zea terkejut. Bahkan Zea saat itu sempat tidak percaya bahwa kedua orang tua angkatnya itu yang mana memiliki hutang sebanyak tiga ratus miliyar kepada salah satu rentenir keliling. Tapi... Dengan adanya bukti yang ditunjukkan oleh rentenir itu, Zea pun akhirnya mau tidak harus membayar semua hutang kedua orang tuanya.
Karena Zea, selalu menunda-nunda hutang kedua orang tua angkatnya! Yang di sebabkan oleh masalah gaji kerjanya yang memang tidak mencukupi kebutuhannya. Akhirnya rentenir tersebut pun memberikan waktu kepada Zea. Selama satu bulan! Jika Zea tetap tidak bisa membayarnya maka Zea terpaksa harus dibawa pergi oleh rentenir tersebut ketempat neraka (Bar).
Dan kini shdah satu minggu waktu yang lewat! Dan Zea masih belum bisa mengumpulkan uang sebanyak tiga ratus miliyar. Makanya Zea pun tadi menangis dengan meratapi nasibnya saat ditaman tadi.
...Tokkk tokkk tokkk...
"Siapa itu?" Tanya Zea pelan.
"Apakah, rentenir itu kembali lagi? Bagaimana ini! Ayah, ibu mengapa kalian membuatku menjadi seperti ini! Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan" Kata Zea dengan nada cemas.
...Tokkk tokkk tokkk...
"Huuuffff, Kau harus tenang Zea! Kau harus tenang" Ucap Zea dengan menarik nafasnya dalam-dalam.
...Ceklekkk...
"Zea" Panggil salah satu rentenir itu dengan tersenyum miring menatap wajah cantik Zea.
"Ada apa? Mengapa kalian lagi kemari?" Tanya Zea dengan ketus.
"Tentu saja, untuk menagih hutang kedua orang tuamu! Memangnya apa lagi? Tidak mungkin kan kami kesini untuk menemuimu" Jawab rentenir tersebut dengan wajah mesum sambil menatap wajah Zea.
"Ini, ambilah! Sekarang semua hutang kedua orang tuaku sudah lunas bukan? Ingat! Jangan pernah datang kesini lagi! Atau aku akan melaporkan kalian ke kantor polisi" Balas Zea dengan memberikan cek tersebut kepada rentenir tersebut.
"Tiga ratus miliyar? Ck, lumayan! Baiklah... Sekarang semua hutang orang tuamu sudah lunas" Ucap rentenir tersebut dengan tersenyum lalu setelah itu mereka-pun akhirnya pergi dari kontrakan Zea.
...Brraaakkkk...
"Sekarang hikssss... Aku harus mencari pria tersebut untuk berterima kasih kepadanya hikssss... Lalu setelah itu aku akan berusaha mengembalikan uang nya dengan cara menyicil kepadanya" Isak Zea dengan mengangguk kecil.
"Aku berharap. Pria tersebut bisa memahami kondisiku" Gumam Zea.
...Skippppp.......
...Dua bulan kemudian......
"Zea" Panggil seseorang kepada Zea.
"Tania?" Panggil Zea.
"Kau dari mana? Aku mencarimu sedari tadi" Kata wanita cantik tersebut dengan bertanya kepada Zea dan wanita cantik tersebut bernama Tania Agatha Syakayla, Sahabat baik Zea.
...*****...
...Tania Agatha Syakayla...
Tania Agatha Syakayla seorang wanita cantik, Yang memiliki postur tubuh ideal sama seperti Zea. Tania Agatha Syakayla yang biasa dipanggil Tania. Memiliki sifat ceria, periang, baik, pintar dan murah senyum sama seperti Zea karena memang ia adalah sahabat terbaik dari Zea.
...Visual Tania:...
...*****...
"Aku baru saja dari toilet, ada apa? Mengapa kau mencariku?" Tanya Zea kepada Tania.
"Zea, apa kau ingin ikut denganku?" Ajak Tania dengan terlebih dahulu bertanya kepada Zea.
"Ikut kemana?" Tanya Zea kembali dengan mengerutkan keningnya sambil menatap bingung wajah Tania.
"Bekerja di perusahaan Kusuma Grup, Kau mau ikut bersamaku tidak?" Jawab Tania dengan tersenyum bahagia.
"Bekerja sebagai apa?" Ucap Zea dengan antusias bertanya kembali kepada Tania.
"Tentu saja, menjadi salah satu karyawan disana.. Memangnya apa lagi? Apa kau mau menjadi office girls disana? Jika kau mau... Aku tidak akan keberatan" Balas Tania dengan tersenyum kecil.
"Tidak! Aku ingin menjadi salah satu karyawan disana saja" Elak Zea dengan cepat menolak tawaran Tania untuk memilih menjadi office Girls.
"Hahahaha, baiklah! Mulai besok kita sudah bisa bekerja disana" Kata Tania dengan tertawa kecil.
"Besok? Bahkan aku saja belum mengirim CV kerjaku kesana? Dan data-dataku, dan bahkan... Aku saja belum interview disana" Ujar Zea dengan terkejut.
"Maafkan aku, tapi data-datamu sudah aku berikan kepada manager yang mengurus karyawan baru. Dan... Soal interview, itu tidak dibutuhkan karena katanya perusahaan Kusuma Grup memang sedang membutuhkan kita segera. Jadi mereka tidak perlu interview kita lagi" Jelas Tania dengan tersenyum manis sambil mengangguk kecil kepalanya.
"Kau mengambil data-dataku tanpa persetujuanku! Tapi... Tidak masalah, terimakasih" Kata Zea dengan cemberut lalu tersenyum kembali.
"Kau tau? Berapa gaji Karyawan biasa disana?" Tanya Tania dengan antusias.
"Berapa?" Tanya Zea balik.
"Sepuluh juta untuk karyawan biasa" Jawab Tania dengan bahagianya.
"Ha? Benarkah?" Terkejut Zea.
"Tentu saja"
"Besar sekali" Kata Zea dengan terbengong.
"Hm-hm, Kau benar! Gaji di perusahaan kusuma Grup dan Dirgantara Company memang paling besar diseluruh negara. Makanya tidak heran banyak orang yang datang untuk bekerja menjadi karyawan Kusuma Grup maupun karyawan Dirgantara Company, Tapi sayangnya mereka semua tidak di terima... Dan justru malah kita yang keterima! Hahahaha" Jelas Tania dengan tertawa bahagia.
"Gaji karyawan Kusuma Grup sebesar sepuluh juta hanya untuk karyawan biasa? Jika dibandingkan
dengan perusahan yang lain sangat berbeda jauh! Karena gaji diperusahan biasa paling besar hanya lima sampai tujuh juta saja" Tutur Zea yang mana disetujui oleh Tania dengan anggukan kepala.
"Kau benar Zea, maka dari itu! Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan bagus ini bukan?" Balas Tania.
"Kau benar Tania, yasudah. Sekarang lebih baik kita pergi untuk membeli beberapa kebutuhan buat besok. Bagaimana?" Ajak Zea kepada Tania.
"Tentu saja, mari" Jawab cepat Tania.
"Mari"