
"Aa--aku hikssss... Aku" Isak kecil Queena dengan bersusah payah menahan air matanya pula dan isak tangisnya.
"Aku apaa?" Tanya Alvaro kembali dengan datar.
"Hikssss... hikssss... Maafkan aku hikssss..." Tangis Queena pecah karena ia sudah tidak bisa lagi menahannya.
"Maaf untuk apa?" Ujar Alvaro kembali dengan bertanya kepada Queena yang kini tengah menangis didepannya.
Kecewa, sakit, marah, kesal itu semua bercampur aduk yang kini sedang ia rasakan! Ia ingin mengutarakan semuanya kepada Queena saat ini tapi tetap tidak bisa... Kenapa? Karena jika ia mengurungkan semuanya. Ia takut bahwa Queena akan pergi lagi darinya dan mungkin ia akan pergi sejauh mungkin darinya lagi.
Dengan perlahan iapun bangun dari kursi rodanya dengan sedikit menahan sakit tepat ditempat yang baru saja di operasi, dan dengan perlahan iapun berjalan mendekat kearah Queena yang kini tengah berdiri tidak jauh darinya.
"Hikssss... hikssss..."
...Grepppp...
"Jangan pernah tinggalkan akuuuu..." Lirih Alvaro dengan memeluk erat tubuh Queena secara tiba-tiba.
Queena pun terkejut dibuat Alvaro yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya, tanpa berfikir panjang Queena langsung saja membalas pelukan hangat yang diberikan oleh Alvaro untuknya. Karena sudah lima tahun ini pelukan yang diberikan oleh Alvaro tetap sama, terasa sangat hangat. Rindu pelukan ini sudah terbalaskan, rindu wajahnya bahkan juga sudah ia lihat, aroma tubuhnya, suaranya, tatapan tajam nya dan perkataan'nya. Semuanya sudah terbalaskan sekarang.
"Hikssss... Jangan tinggalkan aku hikssss... hikssss... Aku mohon padamu. Jangan pernah meninggalkan aku lagi Anna" Tangis Alvaro dengan terisak bahkan Queena bisa merasakan getaran hebat yang diberikan oleh Alvaro.
...Deggggg...
Tubuh Alvaro bergetar hebat? jantungnya berdetak sangat kencang, rasa takut yang melanda begitu besar. Apa ini? apa yang telah terjadi selama dirinya tidak ada, apakah Alvaro suaminya itu baik-baik saja? Mengapa ia merasa tubuh suaminya itu lebih kurus sekarang. Apakah suaminya tidak menjaga pola hidupnya disaat ia pergi?.
"Tidak"
"Jangan menangis hikssss... Jangan menangis seperti ini..." Lirih Queena dengan memeluk erat tubuh Alvaro.
"Maafkan aku... Maafkan aku atas apa yang pernah terjadi hikssss... Maafkan aku yang selama ini selalu menyakitimu. Maafkan aku" Isak Alvaro dengan memeluk tubuh Queena seerat mungkin.
"Tidak jangan katakan seperti itu... Hikssss... Ini bukan salahmu. Tapi ini salahku! Ini semua salahku bukan salahmu hikssss..." Kata Queena dengan menggeleng pelan.
"Jangan pernah kembali tinggal aku.Kau tau seberapa gilanya aku ketika kau pergi meninggalkanku? Hikssss... Aku tidak bisa hidup tanpamu Anna" Lirih Alvaro kembali.
"Maafkan aku hikssss... Maafkan aku... Maafkan aku. Hikssss..." Ucap Queena yang terus saja mengatakan mengulang kata maaf kepada Alvaro. Karena dirinya benar-benar merasa sangat bersalah telah takut pada ancaman kecil dari Mira.
...Bruuukkkk...
"Al"
"Al... kau kenapa Al?" Tanya Queena dengan panik karena tiba-tiba saja Alvaro terjatuh.
"Hikssss... Al bangun, Al. Kau jangan menakutiku" Tangis Queena yang semakin kencang karena Alvaro kini mulai tidak sadarkan diri di lantai.
Dengan sekuat tenaga Queena pun memangku kepala Alvaro kedalam pangkuannya, lalu... Iapun mulai memeriksa tubuh Alvaro apakah terdapat hrndphone genggam miliknya atau tidak. Dan benar saja... Queena pun akhirnya menemuka hendphone milik Alvaro di dalam saku celananya dan dengan cepat Queena langsung saja menekan nomor David.
...Callon...
'Halo, Al ada apa?' Jawab David.
'Hikssss... David. Tolong bantu kakak hikssss... Alvaro tiba-tiba pingsan hikssss...'
'Apaa? Aku akan keatas sekarang kakak ipar. Kau tenanglah'
'Hikssss... Kakak mohon cepatlah'
'Baiklah kakak ipar'
Tut.
"Kumohon bangunlah! Hikssss... Jangan membuatku khawatir seperti ini hikssss... Aku berjanji untuk yang terakhir kalinya, demi nyawaku aku berani bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu kembali Al" Tangis Queena dengan memeluk erat Alvaro dan mengucap sumpah untuk tidak akan pernah meninggalkan Alvaro kembali setelah semuanya terjadi.
"Ini.... darah?" Panik Queena karena tidak sengaja melihat darah yang keluar dari tubuh Alvaro.
"Al! Jangan membuatku panik Al hikssss... Kumohon bangunlahhh hikssss... Buka matamu. Aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu asalkan kau mau bangun hikssss..." Isak Queena kian semakin menjadi.
...Brraaakkk...
"David" Panggil Queena yang melihat David datang bersama dengan Ray dan Rey.
"Al" Panggil David yang langsung saja berhamburan mendekat kearah Alvaro.
"Ray, Rey cepat bantu aku" Pinta David kepada Ray dan Rey.
"Baik" Jawab keduanya secara bersamaan.
"Kakak, sebaiknya kau diam disini saja! Biarkan kami yang menangani Alvaro" Kata David dengan nada sedikit datar.
"Tidak hikssss... Biarkan kakak ikut bersamanya hikssss... Kakak mohon" Pinta Queena dengan lirih.
...Ruang Medis...
"Apa dokter vito dan dokter Arlan sudah datang?" Tanya David kepada Ray dan Rey.
"Mereka sudah dibawah" Jawab Ray yang disetujui oleh Rey.
"Huuuuffff... Dimana tuan?" Tanya Dokter Arlan dengan nafas tersengal-sengal karena dirinya berlari dari bawah sampai keatas begitu juga dengan dokter Vito. Yang terburu-buru naik ke atas sambil berlari karena ingin cepat-cepat melihat kondisi Alvaro.
"Di dalam... Sebaiknya kalian cepatlah! Karena Sepertinya luka tuan Alvaro kembali terbuka" Titah David kepada kedua dokter tersebut.
"Baik" Jawab keduanya secara kompak, Dan tanpa membuang waktu lagi mereka berdua pun langsung saja memeriksa kondisi Alvaro.
"Brianna?" Lirih Queena pelan karena mata cantiknya tidak sengaja melihat putrinya yang tengah berada disamping ranjang milik Alvaro.
"Benar, Brianna memang dipindahkan ke mansion dan ditaruh di dalam ruang Mlmedis... Karena perintah dari Alvaro. Alvaro berkata bahwa ia tidak ingin putrinya berada dirumah sakit terlalu lama makanya ia menyuruh kami memindahkan Brianna ke ruang medis ini tepat disebelah Alvaro" Jawab David yang tidak sengaja mendengar Lirih pelan Queena.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Queena pelan.
"Sudah lebih baik, tapi tidak dengan Alvaro" Balas David dengan menatap wajah Alvaro yang kini tengah ditangani oleh dokter Vito dan dokter Arlan.
"Aku tau... Dan ini semua karenaku" Balas Queena dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Alvaro dari luar karena dirinya saat ini tidak diizinkan masuk terlebih dulu kedalam ruang medis begitu juga dengan Ray, Rey dan David.
"Aku berharap aku tidak akan pergi lagi kakak ipar" Tutur David.
"Aku baru saja berjanji untuk tidak meninggalkannya. Dan telah bersumpah untuk tidak meninggalkan nya lagi dalam keadaan apapun itu" Kata Queena pelan sambil terus memandang kedalam ruang medis dimana kedua cintanya tengah berjuang didalam sana dengan alat-alat medis.
"Aku harap kali ini kau bisa menepati janjimu dan sumpahmu ka, tidak seperti janji sebelumnya" Ujar David kembali.
"Ingatkan aku bila aku mengingkarinya kembali, agar aku tersadar dan tidak mengulangi kesalahku untuk kesekian kalinya" Ucap Queena lirih.
...Ceklekkkk...
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Queena dengan langsung mendekat kearah dokter Vito dan dokter Arlan.
"Nyonya muda?"
"Ahhh.. kondisi tuan Alvaro kini sudah kembali membaik, dan luka tusukannya sudah kami kembali terjahit! Sebaiknya nyonya muda masuk saja untuk memastikan kondisi tuan Alvaro" Jelas dokter Vito yang sedikit kebingungan dengan kehadiran Queena saat ini.
"Luka tusuk?" Tanya Queena dengan mengerutkan keningnya.
"Biarkan aku menceritakannya nanti kepadamu kakak" Celetuk David yang diangguki oleh Queena.
"Baik"
"Kalau begitu kami pamit untuk kembali kerumah sakit" Pamit dokter Arlan dan dokter Vito secara bersamaan.
"Silahkan" Jawab David dengan tersenyum kecil.
"Terimakasih"
"Apa kau sudah bisa menceritakannya David?" Tanya Queena yang penasaran.
"Masuklah terlebih dulu kakak ipar, baru setelah itu aku akan akan menceritakannya" Ujar David.
"Hmmmm" Dehem Queena lalu mulai masuk dan duduk disamping ranjang milik Alvaro dan sebelahnya adalah ranjang milik putrinya.
"Aku akan menceritakannya, saat kau pergi dengan membawa anak-anakmu. Alvaro terus saja mencari ke-beradaanmu dengan memberikan perintah kepada seluruh anak buah Dirga Grup dan Tara Grup buat menyebar keseluruhan negara hanya untuk mencari keberadaanmu... Tapi... Setelah satu bulan pencarian-mu Alvaro masih tidak bisa menemukanmu juga akhirnya membuatnya menjadi depresi" Jelas David.
"Dee-depresi?" Tanya Queena dengan terbata.
"Benar. Alvaro saat itu menjadi depresi hingga setiap harinya selalu mengurungkan dirinya bahkan melukai dirinya tanpa sadar... Saat itu. Alvaro tidak sengaja tertusuk oleh pisau buah tepat diperutnya karena depresinya saat itu sedang kambuh, untungnya Alvaro menusuk perutnya tidak terlalu dalam. Dan saat itu iapun dilarikan kerumah sakit hingga mengakibatkan dirinya harus dioperasi untuk menutupi luka perutnya yang habis tertusuk itu, sampai satu minggu lamanya ia dirawat di dalam ruang sakit, dengan setiap menitnya akan ada seseorang yang menjaga dirinya secara bergantian... Agar sewaktu-waktu saat depresinya kambuh ia tidak bisa melukai kembali dirinya"
"Dan... Akhirnya depresinya itu sembuh setelah dua tahun lamanya. Karena saat itu ia rajin meminum obatnya agar bisa mencari keberadaanmu lagi... Dan akhirnya setelah sembuh iapun memulai aktivitasnya kembali tapi... Ketika sudah sembuh sifat Alvaro justru semakin menjadi datar, dingin, arogan dan tak tersentuh dari sebelumnya! Bahkan Alvaro hanya akan menjawab kata-kata singkat bila ada yang sedang berbicara dengannya... Alvaro bahkan juga selalu mengurungkan dirinya dan tidak ingin menemui siapapun, ia akan keluar bila hanya ada tugas kantor saja seperti meeting dan menanda tangani berkas saja.. selebihnya tidak"
"Hari-hari ia akan selalu seperti itu... Bahkan sudah lima tahun ini ia terus saja tidak ingin menemui siapapun termasuk mommy, karena yang ia ingin temui hanya mendiang daddynya! Dan juga mendiang bunda dan ayahmu... Setiap minggu ia akan berkunjung kemakam daddynya dan kedua orang tuamu saja ka" Jelas kembali David.
"Inis semua karena ku... Alvaro begini karena aku. Jika saat itu aku tidak pernah bertemu dengan Alvaro... Mungkin Alvaro tidak akan seperti ini" Lirih pelan Queena.
"Kakak ipar... Aku berharap kau bisa menurunkan ego-mu dan keras kepalamu. Pikirkan kembali apa yang akan kau lakukan nantinya... Dan jangan langsung mengambil keputusan secara tiba-tiba tanpa berfikir terlebih dahulu" Tutur David dengan menepuk pelan pundak Queena.
"Yaa, kau benar David. Terimakasih" Balas Queena dengan tersenyum kecil.
"Soal wanita gila itu... Ia sudah berada didalam neraka! Karena tiga tahun yang lalu ia secara tiba-tiba berbuat nekat dengan membunuh dirinya sendiri" Tutur David kembali.
"Mira? Sudah meninggal" Tanya Queena pelan.
"Benar" Jawab David lalu pergi begitu saja setelah menceritakan tentang kehidupan Alvaro selama lima tahun terakhir ini tanpa adanya Queena.