
...Hospital Dirgantara...
"Mari, kita turun" Ajak Alkenzie berniat ingin turun dengan memakai kacamata hitamnya.
"Tunggu kakak" Ucap Arianna dengan mengehentikan pergerakan Alkenzie yang berniat ingin turun.
"Pakai ini! Ini bisa membuatmu tidak dikenali" Ujar Alkenzo dengan memberikan sebuah kacamata hitam besar dengan sebuah topi kepada Arianna.
"Untuk apa Aria memakai itu semua?"Tanya Alkenzie kebingungan.
"Menurutmu?" Tanya balik Alkenzo datar.
"Kakak Alzie, tentu saja untuk menutupi wajahku dan menutupi diriku... Karena jika aku turun secara terang-terangan aku takut semua pengunjung rumah sakit akan mengenaliku dan menganggap bahwa aku mempunyai hubungan dengan kalian dan Bria! Walau wajah kita berempat sangat mirip... Tapi, mereka semua belum pernah melihatku dan Bria secara bersamaan aku takut mereka akan langsung mengenaliku dan Bria saat ini, jika aku tidak memakai ini semua! Biarkan mereka menebak-nebak siapa diriku saja" Jelas Arianna.
"Ck! Ini sebabnya saat itu aku tidak menyetujui kemauan mu dan Bria" Kesal Alkenzie dengan memutar bola matanya malas.
Yaa, jadi Alkenzie saat itu sebenarnya sempat tidak setuju dengan kemauan Aria dan Bria yang menginginkan identitasnya di tutupi dari publik! Entah karena apa tapi Alkenzie saat itu sangat-sangat tidak menyetujui permintaan dari keduanya tapi Aria dan Bria bersikeras bekerja sama untuk meminta persetujuan dari Alkenzie karena tanpa izin dari semuanya mereka tidak bisa melakukannya. Dan akhirnya mau tidak mau Alkenzie pun luluh oleh keduanya karena mereka berdua Mengatakan kesepakatan didepan semaunya.
Dan kesepakatan tersebut yang mereka bedua buat adalah "Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu kepada kami, maka kalian boleh mengungkap identitas kami di depan publik! Hanya ketika kami benar-benar terjadi sesuatu. Jika masalahnya masih bisa ditangani maka kalian tidak boleh memberitahukan kepada publik tentang identitas kami! Apa kalian setuju?" Itulah yang mereka berdua katakan kepada seluruh keluarganya baik Atmadja maupun Williams.
Dan semua orang yang mendengar kesepakatan dari twins An pun langsung saja menyetujui permintaan dari mereka, bahkan Alkenzie yang tadinya tidak menyetujui permintaan dari keduanya mini mulai menyetujuinya.
"Sudahlah..." Relai Alkenzo lalu keluar dari dalam mobilnya lalu setelah itu Alkenzie pun ikut pergi menyusulnya.
...Skippppp......
...Ruangan Brianna...
"Jadwalku hari ini sangat tidak padat! Huuuffff ini tidak asik.. Aku lebih suka sibuk dari pada harus santai" Gerutu Brianna dengan melempar kertas jadwal miliknya sambil menarik nafasnya berat. Lalu.. iapun mulai memejamkan kedua matanya secara perlahan.
'Ingin tidur rupanya, bukankah ia bilang ia lebih suka kesibukan? Maka aku akan membuatnya sibuk hari ini!Hahahaha... Anggap saja ini adalah hadiah atas kepulangannya diriku' Batin Arianna.
...Pletakk...
"Jangan berniat yang tidak-tidak terhadap adikmu" Bisik Alkenzo dengan menyentil pelan kening Arianna.
"Kakak sakit tau, hari ini aku telah mendapatkan dua kali sentilan di keningku! Dan orang kedua yang menyentil ku adalah dirimu kakak" Gerutu Arianna pelan dengan mengelus pelan keningnya.
"Hahahaha, siapa yang pertama?" Tawa Alkenzie kecil.
"Tentu saja he is daddy" Jawab Arianna dengan nada kesalnya.
"Hahahaha. Memangnya apa yang kau lakukan?hingga membuat daddy menyentil kening mu? Sama seperti kakak Alzo barusan" Tanya Alkenzie dengan tertawa sangat bahagia.
"Tidak ada" Balas Arianna dengan menaikkan kedua bahunya sambil memanyunkan bibirnya kedepan.
"Apa kau mengantuk little baby?" Bisik Alkenzo ditelinga Brianna.
...Deggggg...
"Kakak" Panggil Brianna dengan membuka kedua matanya karena terkejut mendengar suara Alkenzo.
"Apa kau lelah?" Tanya Alkenzo dengan mengelus pelan puncak kepala Brianna.
"Tidak aku hany---" Ucap Brianna terpotong.
"Mulai ingin berbohong kembali" Celetuk Arianna dengan melipat kedua tangannya.
"Aku benar-benar tidak lelah kakak, aku hanya merasa sedikit mengantuk saja" Jawab Brianna dengan berhamburan memeluk tubuh Arianna karena ia sepertinya sangat merindukan kakak kembar perempuan nya itu yang sudah dua setengah tahun pergi melakukan pemotretan diluar negeri dengan jangka waktu yang lama menurutnya.
...Grepppp...
"Apa kau benar-benar tidak apa-apa? Mengapa aku merasa tubuhmu sangat kurus sekarang? Apa kau makan dengan tepat waktu?" Tanya Arianna dengan nada khawatir terhadap Brianna.
"Aku benar-benar tidak apa-apa kakak. Mungkinkah ini karena hari-hariku yang selalu sibuk, hingga membuatku menjadi lebih kurus?" Balas Brianna dengan melepaskan pelukannya.
"Jika kau tidak sehat, sebaiknya kau istirahatlah! Biar nanti kakak yang akan mengatur waktu kerjamu" Celetuk Alkenzo dengan menempelkan telapak tangannya dikening Brianna.
"Kakak! Aku baik-baik saja... Tenanglah dan tidak usah khawatir. Aku benar-benar tidak sakit" Ujar Brianna dengan perlahan melepaskan telapak tangan milik Alkenzo dikeningnya.
"Aku benar-benar tidak membutuhkan itu kakak" Kata Brianna.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi, jika kau benar-benar tidak ingin beristirahat. Sebaiknya kau katakan langsung mengenai kondisi Austin" Relai Alkenzo dengan duduk disofa yang berada didalam ruangan Brianna dan itupun diikuti oleh ketiganya dengan terduduk juga disofa sama seperti Alkenzo.
"Kondisi dia benar-benar sudah baik-baik saja kakak. Hanya tinggal menunggu kapan dirinya sadar saja... Aku ingin mengatakan padamu. Bahwa aku sudah lelah untuk merawatnya kembali, bisakah kakak mengirimnya ke negara asalnya saja? Biarkan keluarganya yang mengurusnya! Sudah cukup lama ia berada disini" Kata Brianna dengan nada tanpa ekspresi.
"Tidak bisa! Kakak tidak bisa mengirimnya kembali begitu saja" Tolak Alkenzo.
"Kenapa begitu kakak? Kakak... Aku lelah! Aku mohon padamu. Jika kau masih ingin dia dirawat disini sebaiknya kau menyuruh dokter lain saja untuk merawatnya. Jangan aku, aku lelah kakak" Lirih Brianna dengan menatap wajah Alkenzo dengan tatapan sendu.
"Kakak tau, tapi kakak tidak bisa membiarkan Austin dirawat oleh siapapun atau dipulangkan ke negaranya begitu saja. Karena kakak tau kau wanita kuat... Darah keluarga Dirgantara mengalir ditubuhmu, jadi kakak harap kau bisa merawatnya kembali dengan baik" Tutur Alkenzo dengan menyemangati Brianna adiknya itu.
"Kakak, aku lelah! Sudah cukup selama dua tahun ini aku menuruti ucapanmu untuk merawatnya... Kali ini saja kakak, tolong Izinkan aku untuk melepaskannya" Pinta Brianna dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Alkenzo.
"Maafkan kakak" Ucap Alkenzo.
"Kakak aku mohon padamu hiksss... tolong Izinkan aku untuk--" Isak Brianna kecil tapi terhenti ketika mendengar suara Alkenzie.
"Bria, kau ingin tau mengapa Austin bisa mengalami koma selama dua tahun ini? Apa kau tidak penasaran mengapa ia tiba-tiba saja koma setelah kau mengatakan padanya bahwa kau dan dia tidak ada lagi hubungan? Kau ingin dengar?" Celetuk Alkenzie.
"Tidak!"
"Apapun yang menyangkut dirinya aku tidak ingin tau... Biarkan itu menjadi masa lalu saja, aku tidak peduli" Jawab Brianna cepat.
"Dua tahun lalu... Setelah kau mengucapkan kata pisah antara hubungan kau dan dirinya..." Sahut Arianna lalu mulai menceritakan kejadian dua tahun lalu.
Walaupun Brianna sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin mendengar kronologi kejadian yang telah menimpa Austin, tapi tetap saja... Arianna menceritakan dua tahun lalu.
...Flashback...
Setelah menyuruh anak buahnya untuk menangkap Elena, Austin pun pergi berlari menuju mobilnya untuk mengejar taksi yang telah ditumpangi oleh Brianna. Dengan terburu-buru Austin pun membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan Ia tidak memperdulikan lampu merah karena dirinya kini hanya terfokus kepada Brianna saja.
...Sedangkan disisi Brianna......
"Hiksss... hiksss... Kau jahat Austin! Kau jahat hiksss... Aku tidak akan pernah mau memaafkan mu" Isak Brianna.
"Miss, are you sad?" Tanya supir taksi tersebut dengan menatap wajah Brianna dari pantulan kaca mobilnya.
...(Nona, Apakah kamu sedih?)...
"Yes" Balas Brianna singkat lalu terburu-buru menghapus air matanya.
"Miss, beside you is a box of tissues. You can use it to wipe your tears" Ujar supir taksi tersebut.
...(Nona, disamping mu ada sekotak tisu. Kau bisa memakainya untuk menghapus air matamu)...
"Thank you sir" Balas Brianna dengan mengambil satu tisu yang berada di sampingnya itu lalu iapun langsung saja menghapus air matanya dengan tisu tersebut.
Tapi tanpa sadar dan tanpa menyadarinya! Brianna pun pingsan setelah menggunakan salah satu tisu yang berada di dekatnya itu. Lalu... Supir tersebut yang melihat Brianna pingsan langsung saja membawa mobilnya kearah lain tempat dimana jalan yang sepi dan tidak ada siapapun yang melintasi jalanan tersebut.
"I heard you are one of the daughters of the Dirgantara family! The biggest family in the whole world, I'm sorry miss because I have to target you this time... because it's all for my good and for your bad hahahaha" Tawa supir taksi tersebut dengan bahagia, lalu perlahan iapun mulai mengeluarkan Brianna dari dalam mobil taksi miliknya.
...(Saya mendengar anda adalah salah satu putri keluarga Dirgantara! Keluarga terbesar di seluruh dunia, maafkan aku nona karena aku harus mengincarmu kali ini... karena itu semua untuk kebaikanku dan keburukanmu hahahaha)...
Setelah mengeluarkan Brianna, supir taksi tersebut pun mulai mencari-cari benda berharga yang ada ditubuh Brianna, mulai dari perhiasan, hendphone, dompet dan lain-lain. Dan setelah mengambil semua barang milik Brianna! Supir taksi tersebut pun mulai masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Brianna yang tengah berbaring ditengah jalan sepi tersebut.
Brianna pun sampai saat ini bahkan masih tidak sadarkan diri, karena efek obat bius yang telah ia cium di salah satu tisu yang ia ambil tadi! Dan karena dirinya masih belum sadarkan diri... itupun mengakibatkan dirinya kembali di dalam situasi yang sangat tidak pernah inginkan.
Dimana dirinya yang hampir saja di per*osa oleh orang-orang suruhan Elna, lalu dirinya yang dibius dan semua benda-benda berhaganya telah dirampok dan kini dirinya kembali didalam situasi yang sangat berbahaya, dimana kini ada beberapa sekelompok preman yang datang mendekati dirinya yang sampai saat ini dirinya sendiri masih tidak sadarkan diri.
"Boss, look at his face. isn't it very pretty? what a coincidence that he was on a deserted street like this" Ucap salah satu anak preman tersebut.
...(Bos, lihatlah wajahnya. Bukankah sangat cantik? kebetulan sekali ia berada dijalan yang sepi seperti ini)...
"What a coincidence, you... bring him to our headquarters! And don't let him get the slightest bit hurt when you carry him, or else? you will know the result" Jawab ketua preman tersebut dengan tersenyum Devils.
...(Memang benar-benar kebetulan, kau... bawa dia kemarkas kita! Dan jangan biarkan ia terluka sedikit pun ketika kau membawanya, jika tidak? kau akan tau akibatnya)...
"Oke boss" Balas anak buah preman tersebut lalu berniat untuk menyentuh tubuh Brianna tapi tiba-tiba saja.