
"Zanitha Zayna Alzea, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus" Ucap Alkenzo dengan lantangnya sambil tersenyum manis menatap wajah Zanitha.
"Alkenzo Keano Putra Dirgantara, aku mengambil engkau menjadi seorang suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus" Jawab Zanitha yang tak kalah lantangnya dari Alkenzo, dan dengan membalas senyuman manis dari Alkenzo.
"Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih kristus yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu cincin ini menyatukan bagi saudara berdua, untuk meniru kasih kristus dalam kehidupan rumah tangga; Dan mengasihi pasangan tanpa awal juga tanpa akhir" Ucap pendeta kembali.
"Zanitha Zayna Alzea, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta dan kasih kesetiaan ku" Kata Alkenzo kembali lalu memasangkan sebuah cincin cantik di jari manis milik Zanitha pula dan itupun kembali dilanjutkan oleh Zanitha tentunya dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan.
"Alkenzo Keano Putra Dirgantara, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta dan kasih kesetiaan ku" Balas Zenitha kembali yang juga ikut mambalas memasangkan cincin di jari manis Alkenzo.
...Visual cincin...
...Prokkkk...
...Prokkkk...
...Prokkkk...
...Prokkkk...
"Kini kalian berdua juga sudah SAH menjadi pasangan suami istri, kelak kalian akan selalu di limpahkan kebahagiaan bersama dengan dua pasangan ini" Tutur pendeta tersebut dengan tersenyum manis yang mana ikut terkagum akan kisah cinta dari Alkenzo dan Zenitha.
Suara tepuk tangan yang begitu luar biasa dan meriah pun kembali terdengar dari semua orang, tapi kali ini bukan untuk Karan dan Lauren melainkan Alkenzo dan Zanitha! Walaupun tanpa persiapan dan tanpa adanya sebuah hal yang luar biasa. Tapi keduanya begitu banyak di kagumi oleh semua orang khususnya kisah cinta mereka yang begitu amat luar biasa, Tidak pernah tau bahwa akhir-nya akan seperti ini. Tapi.... Kisah keduanya sangatlah luar biasa dan menakjubkan bagi semua orang.
...*****...
"Aku tidak pernah percaya, bahwa akhirnya kisah cintaku akan berakhir di pelaminan seperti ini. Apalagi yang pertama meminta untuk menikah adalah dirinya sendiri, begitu bahagianya diriku untuk semua hal yang terjadi hari ini, mungkin inilah akhir dari sebuah kisah cintaku dan perjuagan ku untuk nya dan... Mungkin akan ada awal baru kembali"
...~Alkenzo Keano Putra Dirgantara đź–¤...
"Perjungan mu tidak sia-sia untuk menunggu diriku, terimakasih karena kau sudah bersabar selama bertahun-tahun demi diriku. Aku sadar bahwa aku telah mengecewakan dirimu saat itu sampai-sampai kau terluka karena aku bahkan hingga kau mengalami depresi! Maafkan aku atas apa yang telah terjadi, tapi... Aku berjanji kepadamu untuk terakhir kalinya bahwa aku benar-benar tidak akan pernah meninggalkan dirimu apapun masalah yang akan datang kedepan nya aku akan melewatinya bersama dirimu kedepan nya. Kenzo i love you"
...~Zanitha Zayna Alzea🤍...
...*****...
...Dua bulan kemudian.......
"Suamiku bangunlahhh" Teriak Queena yang mana kini tengah membangunkan sang suami yang amat sangat kebo.
"Sayang, diamlah! Aku lelah biarkan aku beristirahat sebentar lagi. Kau ini, jangan menggangguku" Ujar Alvaro dengan suara serak-nya.
"Andes datang, apa kau tidak ingin menyembunyikan diriku?" Tanya Queena kepada sang suami.
Alvaro yang tadinya masih mengantuk dan tidak mau terbangun dari tidurnya kini secara tiba-tiba malah terbangun dengan tatapan tajam dari kedua matanya, ketika mendengar nama "Andres" yang disebutkan oleh sang istri yaitu Queena.
"Andres?"
"Aku bercanda, karena kau sudah bangun maka cepat bawa aku pergi" Pinta Queena dengan tersenyum manis menatap wajah tampan Alvaro yang mana baru saja bangun dari tidurnya.
"Kau membohongiku? Hmmmm, hanya untuk meminta aku mengantarmu" Tanya Alvaro dengan perlahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju Queena yang sedikit menjauh darinya.
"Kau tidak mau bangun, maka tidak ada cara lain selain berbohong bukan?" Terang Queena dengan tersenyum kecut.
"Masih pagi dan aku sudah ingin mendapatkan hukuman dariku! Apa kau ti--"
"Ck! Selalu saja ada yang mengganggu. Lama-lama aku akan membawa istriku pergi dari sini dan tinggal berdua saja tanpa ada gangguan dari yang lain, merepotkan" Gerutu Alvaro.
"Aku masih mempunyai seorang putra kecil, kau tidak akan pernah bisa membawaku pergi kemana pun apa lagi hanya tinggal berdua dan pergi menjauhi semua orang" Balas Queena dengan berjalan kearah pintu kamarnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya kamarnya tersebut.
"Aku akan menitipkan Alan kepada kakak-kakak nya jadi aku pasti akan bisa membawa mu pergi, jika ia menangis maka aku akan menyuruh para kakak nya untuk membuangnya saja" Ujar Alvaro kembali membalas.
"Dia putramu, enak saja kau berkata ingin membuang nya dengan begitu mudahnya" Ucap Queena.
"Karena mulutku tidak terdapat batu di dalamnya jadi aku bisa begitu mudahnya berkata ataupun berbicara" Balas Alvaro dengan santainya lalu pergi berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...Ceklekkkk...
"Mommy" Panggil Arianna.
"Ada apa sayang?" Tanya Queena dengan menatap wajah sang putri.
"Ada... Ada yang aku ingin bicarakan kepada mu mommy" Ujar Arianna dengan bertingkah aneh hingga membuat Queena kebingungan terhadapnya.
"Baiklah, tunggu mommy dan daddy dibawah" Tutur Queena dengan tersenyum manis kepada sang putri.
"Baiklah"
...Ruang tamu...
"Karena mommy dan daddy sudah berada disini, Jadi... Aku akan langsung mengatkan saja! Aku ingin keluar negeri untuk waktu dua tahun" Ujar Arianna dengan langsung to the poins kepada kedua orang tuanya.
"Apakah tentang pekerjaan atau tentang masalahmu?" Tanya Alvaro dengan nada sedikit datar kepada sang putri.
"Hanya ada masalah tapi tidak terlalu besar, hanya masalah sepele. Tapi... Aku ingin pergi saja" Jawab Arianna dengan lirih.
"Nak. Jika kau mempunyai masalah mommy mohon jangan lari. Jangan seperti mommy, jika kau mengikuti apa yang pernah mommy lakukan pada saat itu mommy yakin kau pasti akan menyesal! Lebih baik kau selesaikan saja masalahmu mommy dan daddy memang tidak tau apa masalahmu dan dengan siapa tapi mommy dan daddy percaya kau pasti akan bisa melewati semua masalah yang tengah menimpamu hari ini" Jelas Queena dengan tersenyum lembut sambil mengusap pelan kepala sang putri.
"Aku butuh menyendiri dan aku butuh healing mommy, bukan aku lari dari masalahku hanya saja...." Balas Arianna pelan.
"Kau tidak perlu pergi keluar negeri, bagaimana jika kau pergi ke mansion daddy saja. Biar daddy bisikkan dimana tempatnya dan letaknya. Daddy yakin kau pasti akan menyukainya" Terang Alvaro.
"Apa ditengah hutan?" Tanya Queena.
"Benar! Ditengah hutan, yang mana kita pernah tinggal disana. Tempatnya tidak jauh tapi mungkin akan menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam atau tiga jam" Jawab Alvaro.
"Baiklah! Aku akan pergi kesana saja. Tapi daddy aku minta padamu jangan beritahu siapapun mengenai diriku yang berpindah ke mansion hutan" Pinta Arianna dengan cepat menyetujui ucapan sang daddy.
"Baguslah! Daddy dan mommy tidak akan memberitahukan kepada siapapun mengenai dirimu termasuk kakak-kakak mu atau keluaga kita yang lainnya. Cukup kita bertiga saja yang tau" Balas Alvaro dengan cepat pula yang mana ikut disetujui oleh Queena.
"Hari ini aku akan kesana"
"Secepat itu?"
"Benar, baiklah biarkan mommy ikut bersamamu"
"Baik mommy"