
...Ruang vvip no 1...
...Ceklekkkk...
"Alzo nak. Dari mana saja kau hmmm? Ketika mommy bangun mommy terkejut ketika melihat kau tidak ada, untungnya mommy tidak sengaja bertemu Bria tadi yang tengah ingin menyusul pasien nya. Nak! Jangan membuat mommy cemas" Kata Queena dengan langsung menghampiri Alkenzo yang mana baru saja datang.
"Sorry mommy, I didn't ask your permission first when I wanted to go out for some fresh air" Ucap Alkenzo pelan.
...(Maaf mommy, aku tidak meminta izin kepadamu terlebih dahulu ketika aku ingin keluar untuk mencari udara segar)...
"Jangan mengulanginya lagi nak. Jangan membuat mommy cemas" Lirih Queena pelan.
"Sudahlah. Nak berikan itu kepadaku" Relai Alvaro dengan meminta kursi roda Alkenzo kepada Zanitha. Dan Zanitha pun dengan cepat memberikan kursi roda Alkenzo kepada Alvaro.
"Terimakasih nak. Sudah mau membantu putraku kembali" Ujar Queena dengan tersenyum menatap wajah Zanitha.
"Tidak apa tante, emmm tante aku kemari hanya untuk memberikan kembali obat herbal untuk tuan Alkenzo. Karena aku sudah bertemu dengan mu maka dari itu aku pamit pulang, karena aku harus berangkat kerja kembali" Balas Zanitha dengan tersenyum manis pula membalas senyuman dari Queena.
"Kau tidak ingin berlama disini dulu?" Tanya Queena dengan menaikkan kedua alisnya.
"Tidak tante! terimakasih, sebaiknya aku pamit. Karena mungkin jam kerjaku akan dimulai" Tolak halus Zanitha.
"Ahh baiklahh. Kalau begitu berhati-hatilah nak" Ujar Queena yang diangguki oleh Zanitha.
"Baik tante" Balas Zanitha lalu setelah itu pamit untuk pergi bekerja tidak lupa juga ia berpamitan dengan yang lainnya termasuk Alkenzo.
Setelah kepergian nya Zanitha, Alkenzo langsung saja meminta kepada sang daddy untuk membantunya duduk diatas bangsal tempat tidurnya. Setelah selesai Alkenzo langsung saja bertanya mengenai nama "Zanitha Zayna Alzea" yang dibisikkan oleh Alvaro tadi malam di telinganya.
"Daddy, apa maksud dari bisikkan nama tadi malam di telingaku?" Tanya Alkenzo dengan menatap dalam wajah sang daddy.
Queena, Arianna, Alkenzie, Serta Alan yang memeng berada sudah berada disana sedari tadi! Kini menatap wajah Alkenzo dengan tatapan bingung karena secara tiba-tiba Alkenzo bertanya kepada sang daddy yang mereka tidak mengerti. Sedangkan Alvaro! Ia justru malah terdiam sambil membalas tatapan mata dari sang putra.
"Apa maksudmu nak? Nama... Siapa" Tanya Queena dengan raut wajah kebingungan menatap wajah sang putra.
"Zanitha Zayna Alzea, siapa itu?" Tanya Alkenzo kembali kepada sang daddy.
"Zanitha Zayna Alzea? Bukankah itu Zanitha? Wanita yang memiliki wajah sama persis dengan kakak Anitha" Gumam Alkenzie dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, dan tanpa sadar gumam kecilnya itu terdengar oleh Arianna, Queena serta si kecil Alan.
"Daddy aku bertanya padamu" Kata Alkenzo datar.
"Zanitha? Wanita cantik yang barusan telah menolong kakak mu" Ujar Queena dengan kembali bertanya.
"Daddy"
"Wanita tadi adalah wanita yang sudah menolong mu dua kali dari maut. Dan dua kali mempertahankan nyawanya hanya untuk menolong mu, pertama ketika kecelakaan delapan tahun yang lalu... Kedua beberapa hari yang lalu ketika dirinya mengambil obat herbal untukmu diatas bukit" Jawab Alvaro datar.
"Delapan tahun yang lalu...? Kecelakaan" Gumam Alkenzie.
"Dua kali? Delapan tahun yang lalu? Bukankah delapan tahun yang lalu yang menyelamatkan Alzo adalah... Anitha" Gumam Queena secara bersamaan dengan Alkenzie.
"Apa yang kau maksud daddy?" Tanya Arianna pelan.
"Apa maksud perkataan mu daddy?" Terkejut Alkenzo hingga menatap wajah sang daddy dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tau nama Anitha tapi tidak dengan nama aslinya... Kau hanya tau nama "Anitha" tapi kenyataan nya nama aslinya adalah "Zanitha Zayna Alzea" wanita tadi adalah Anitha kekasih mu delapan tahun yang lalu" Jelas Alvaro hingga membuat semua orang yang mendengar ucapan nya itu terkejut setengah mati.
"Apaaa?"
"Hhaaaa?"
"Jadi...."
"Suamiku kau jangan bercanda!! Kau jangan membual" Tutur Queena.
"Aku tidak bercanda ataupun membual, aku akan menceritakan semuanya" Jawab Alvaro dengan kembali menceritakan kejadian delapan tahun yang lalu kepada Queena, Arianna, Alkenzie serta Alkenzo itu adalah yang paling utama karena disini Alkenzo-lah yang menjadi peran utama.
"Delapan tahun yang lalu...."
...*****...
"Suamiku cepatlah. Mengapa kau sangat lamban membawa mobilnya" Marah seseorang kepada sang suami yang tak lain adalah Sesillia.
"Diamlah sayang, apa kau tidak lihat didepan sedang lampu merah? Apa kau ingin menerobosnya? Hmmmm" Kata David yang kesal mendengar suara sang istri yang terus saja memarahi dirinya.
"Alzo-ku sudah berada dirumah sakit sedari kemarin! Bahkan kakak mengatakan bahwa Alzo ku sempat ingin dibawa ke london. Bagiamana aku bisa diam? Hmmm, jemarin aku sudah mau pergi sendiri tapi kau justru malah menghalangiku. Bahkan aunty Alea dan uncle Zayyann yang dari australia saja langsung lepas landas menuju kemari tapi aku? Aku malah... Ini semua karena kau" Geram Sesillia kepada sang suami karena menuruti perkataan sang suami dirinya jadi tidak bisa menjenguk keponakan tersayang nya dengan cepat dan malah harus menunda sampai besok.
Hingga membuat ia harus ketinggalan sebuah info dari sang keponakan tersayang yang kini tengah sakit dirumah sakit.
"Kemarin aku melarang mu untuk pergi menyusul kakak ipar dan kakak dirumah sakit. Bukan karena apa, tapi karena kau harus beristirahat terlebih dahulu. Bukankah kau tidak tidur dengan teratur saat menemani Alzo kemarin di mansion? Bukan aku melarang mu hanya saja kemarin kau butuh istirahat" Balas David dengan menasehati sang istri.
"Haisss... Sudahlah"
"Emmmm"
...*****...
"Mengapa kau menyembunyikan ini semua kepada kami suamiku?" Tanya Queena dengan nada tak percaya menatap wajah sang suami yang mana telah menyembunyikan sebuah fakta besar tentang kekasih putranya.
"Daddy, mengapa kau... Kau..." Ucap Arianna dengan menatap wajah sang daddy tak percaya.
"Jadi memang Zanitha adalah kakak Anitha. Bukan wajahnya yang mirip tapi memang itu adalah kakak Anitha sendiri. Dan dia... Dia amnesia" Lirih Alkenzie pelan.
"Kakak cantik tadi adalah kekasih kakak ku?" Gumam Alan pelan.
"Maafkan daddy, karena telah menutupi ini semua dari-mu. Tapi daddy hanya menepati janji daddy saja kepadanya! Bukan maksud daddy untuk menutupi semuanya kepadamu" Ujar Alvaro datar dengan menatap wajah sang putra yang kini tengah menintikan air matanya.
"Tidak apa, aku mengerti" Jawab Alkenzo dengan lirih sambil menitikkan air matanya untuk pertama kalinya didepan keluarganya.
"Alzo" Panggil Queena dengan lirih.
"Bisakah kalian semua keluar sebentar? Aku... Ingin sendiri" Pinta Alkenzo pelan dengan membuang wajahnya ke sembarang arah lebih tepatnya ke luar jendela.
"Al--"
"Mari" Ajak Alvaro dengan menatap wajah Queena dan putra putrinya yang lain.
"Huuuuffff... Baiklahh" Ucap Queena pasrah dengan perlahan keluar dari ruang rawat sang putra tapi pandangannya masih terus menatap kepada sang putra.
...Ceklekkkk...
Setelah semua keluarganya keluar, Alkenzo langsung saja menangis dengan histerisnya. Entah menangis karena terharu atau kecewa terhadap sang kekasih maupun sang daddy karena sudah menyembunyikan semua hal dari dirinya selama delapan tahun ini.
Rasa sedih, kecewa, bahagia mungkin saja kini tengah bercampur aduk dalam dirinya. Dan ia tidak bisa melampiaskannya saat ini kepada siapapun! Dirinya saat ini benar-benar tengah bercampur aduk perasaannya.
"Mengapa? Mengapa semua ini terjadi padaku... Mengapa kisah cinta mommy dan daddy juga dirasakan oleh ku? Mengapa begitu" Lirih Alkenzo pelan.
"Apa salahku sebenarnya? Mengapa aku bisa merasakan apa yang pernah terjadi di kehidupan mommy dan daddy. Sebenarnya apa salahku?" Tanya Alkenzo kepada dirinya sendiri.
"Mengapa kau tega denganku Anitha?"
"Daddy tidak salah! Karena daddy hanya menjalankan apa yang seharusnya ia lakukan, yang daddy katakan juga benar. Aku mencintainya tapi aku sendiri tidak tau nama kepanjangan nya, itu semua karena Anitha sendiri yang menutupinya dariku" Kata Alkenzo.
"Selama ini... Mengapa kau tidak ingin memberitahuku tentang nama kepanjangan mu? Mengapa kau hanya memberitahu nama panggilan mu saja hmmmm" Tanya Alkenzo kepada Anitha yang kini mereka berdua tengah terduduk disalah satu kursi yang berada ditaman.
"Jika kau ingin tau namaku, maka kau kau harus mencarinya sendiri... Atau... Jika kau sudah mencarinya dan masih belum dapat juga! Maka tunggu saja aku. Aku akan memberimu nanti ketika kita sudah berada diatas pelaminan. Hahahaha" Jawab Anitha dengan tertawa melihat ekspresi datar sang kekasih.
"Kau ingin membuatku langsung membawamu keatas pelaminan? Jika kau menginginkan nya sekarang. Aku tidak akan menolak. Mari" Balas Alkenzo dengan memainkan kedua alisnya.
"Hahahaha"
"Tidak! Tidak! Aku masih tidak ingin menikah muda. Tunggu umur mu tepat dua puluh lima tahu dan umurku tepat dua puluh satu tahun, maka kau baru bisa menikahimu" Elak Anitha dengan cepat sambil tertawa dengan geli-nya.
"Lagi-lagi kau mempermainkan ku! Jika saat ini kau dan aku sudah menikah aku pasti akan langsung menguhukum mu" Kesal Alkenzo dengan berpura-pura.
"Benarkah?"
"Tentu saja, ingin aku praktekan sekarang?" Tanya Alkenzo.
"Tidak perlu! Tidak perlu! Hahahaha"
"Mengapa kau sangat nakal"
"Tapi hanya kepadamu"
"Hahahaha, memori yang selalu memutar-mutar diatas kepalaku" Tawa hambar Alkenzo.
"Amnesia! Saat ini kau benar-benar melupakan ku, Maka aku akan berusaha mengembalikan ingatan mu secara perlahan. Itu pasti"
"Aku telah kembali menemukan mu"
"Terimakasih, karena kau masih berpihak kepadaku, terimakasih. Terimakasih"
...*****...
..."Padamu selalu ada kerinduan yang menyisa pada sengal senja dan aku mulai gelisah tersebab tak ingin malam cepat menyapa, dan padamu selalu ada cerita ketika jemari saling bertaut dan hati saling menyanjung ketahuilah padamu tak pernah ada kata usai"...
..._Alkenzo Keano Putra Dirgantara 🥀...