My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Drama Arianna



"Mommy, apa Bria sudah pulang?" Tanya Arianna kepada Queena.


"Belum, Bria tadi mengatakan kepada mommy jika kau ingin menemuinya kau bisa langsung datang ke rumah sakit dan menunggunya di ruangan miliknya" Jawab Queena dengan menggelangkan kepalanya kecil sambil terkekeh melihat tingkah putrinya dan suaminya itu.


"Baiklah, aku akan pergi kesana nanti! Lagi pula aku sudah meminta kakak Alzo untuk pergi ikut bersamaku. Dan kakak Alzo menyetujuinya" Balas Arianna dengan mengangguk kecil.


"Hmmmm, apa yang kau ingin lakukan disana? Lagi pula kau akan merepotkan adikmu saja nanti disana. Sebaiknya kau pergi dan beristirahatlah... Apa kau tidak lelah" Celetuk Alvaro kepada putrinya itu.


"Daddy ku yang galak! Apakah aku pernah merepotkan adikku selama ini... Tidak bukan? Lagi pula adikku sendiri telah memperbolehkan aku atau kakaknya ini datang kesana. Lalu... Mengapa kau malah tidak mengizinkanku? Hmmmm" Tanya Arianna dengan wajah mengejek.


"Sudahi drama kalian. Mommy pusing mendengarnya... Aria, pergilah untuk bersiap. Bukankah kau bilang kakak mu akan menemanimu? Jika kau terlambat dan membuatnya menunggu, kakak mu pasti akan marah bukan? Jadi... Cepatlah bersiap dan ganti pakaianmu. Jangan melanjutkan drama kalian lagi" Tutur Queena dengan kembali menggelengkan kepalanya.


"Baik mommy" Jawab Arianna.


"Daddy, our drama isn't over yet you understand" Bisik Arianna dengan memainkan kedua alisnya sambil menatap wajah tampan Alvaro.


...(Daddy, drama kita belum selesai kau mengerti)...


"Yes girls" Balas Alvaro dengan tersenyum manis.


"Ahh, aku lupa! Dimana little prince ku?" Gumam Arianna dengan mencari-cari keberadaan Alan di sekitarnya.


"Aaaaa--" Teriak Arianna hanya saja tidak dilanjutkan karena Queena dan Alvaro lebih dulu mengehentikan nya.


"Jangan berteriak!" Ucap Queena dan Alvaro bersamaan dengan menatap tajam wajah Arianna.


"Alan tidak ada" Kata Alvaro dengan menatap tajam wajah cantik putrinya itu.


"Apaa? Dimana? Maksudku kemana? Little prince ku di aman ia" Tanya Arianna dengan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan kepada Queena dan Alvaro.


"Tanyakan pada daddy mu! Karena mommy ada urusan sebentar" Tutur Queena dengan pergi begitu saja sambil membawa koper milik Arianna.


"Mommy, biarkan aku saja" Teriak Arianna.


"Haisss... Mommy ini" Gumam Arianna karena Queena tak menjawab teriakkan nya.


"Alan pergi bersama paman kecilmu" Celetuk Alvaro lalu pergi begitu saja karena ingin menyusul Queena istinya itu.


"Paman kecil?"


"Issshhh... Mengapa ia membawa little prince ku pergi di waktu yang tidak tepat. Haisss... sudahlah sebaiknya aku pergi ke kamar ku setelah itu aku langsung pergi menemui kakak kembar ku dan adik kembar ku. Hahahaha... Sudah sedikit lama aku tak menemui mereka" Tutur Arianna dengan tertawa kecil lalu iapun langsung saja pergi menuju kamarnya dengan perasaan bahagia.


...*****...


Sedangkan di Cafe,K, Alkenzo, Alkenzie, Shaka, Aldo, Alan, beserta Karan kini mereka semua tengah melakukan meeting dengan membahas proyek yang mereka tengah bagun, entah proyek apa tapi yang jelas mereka benar-benar sangat serius membicarakannya. Sedangkan Alan walau ia masih kecil, tapi ia sudah sangat jelas paham akan sebuah perusahaan! Alan sendiri bahkan memberikan sedikit ide di dalam proyek yang tengah di bahas itu. Tidak heran karena Alan adalah putra dari Alvaro.


Dan akhirnya setelah satu setengah jam lamanya, mereka semua pun selesai membahas proyek tersebut.


"Uncle, kapan kau akan menikah?" Tanya Alan yang berada di dalam gendongan Aldo kepada Karan.


Lalu... Karan yang mendengar ucapan dari Alan pun justru malah membulatkan kedua matanya karena merasa terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Alan kepadanya. Memang ada benarnya Alan bertanya seperti itu kepada Karan! Karena di usianya yang mau menginjakkan kepala tiga itu, ia masih belum mau memiliki pendamping ataupun pasangan. Makanya tidak heran Alan melontarkan pertanyaan seperti itu kepadanya.


"Bocah tengik ini" Gumam Karan dengan gemas terhadap Alan putra kecil Alvaro itu.


"Kau masih kecil, dan tidak tau apa-apa! Sebaiknya kau diam saja dan tunggu undangan pernikahan dari uncle saja. Jangan banyak bertanya" Jawab Karan dengan nada sedikit kesal.


"Kau sudah tua uncle, apa kau masih tidak ingin menikah? Jika kau tidak memiliki pasangan biarkan aku menyuruh mommy atau daddy untuk mencarikan pasangan untukmu! Lagi pula aku yakin mommy dan daddy tidak akan keberatan dalam mencari pasangan untukmu" Tutur Alan dengan menunjukan ekspresi wajah imutnya.


"Hahahaha, uncle Karan! Yang di katakan oleh Alan ada benarnya juga... Sebaiknya kau mencari pasangan agar kau tidak perlu cape-cape lagi dalam mengurus hal perusahaan. Biarkan nanti putra atau putrimu saja yang mengambil alih kedua perusahaan mu itu...." Celetuk Shaka dengan tertawa kecil.


"Ck, tidak putra si batu tidak putra si tengik... keduanya sama saja" Kesal Karan lalu pergi begitu saja bersama dengan sekertaris nya.


"Hahahaha, Shaka! Kau mulai membuat uncle Karan kesal lagi terhadapmu. Lihat... Ia marah kembali dan pergi begitu saja" Tawa Alkenzie.


"Biarkan saja, lagi pula uncle kalau marah tidak pernah lewat lebih dari setengah hari" Balas Shaka dengan santainya.


"Hahahaha, yaa.. kau memang benar" Jawab Alkenzie tertawa kembali.


"Paman, apa kau ingin membawa Alan pulang kembali?" Tanya Alkenzo datar.


"Yaa tentu saja, lagi pula sudah cukup lama paman membawa adik mu keluar! Jika paman berlama-lama kembali paman takut mommy mu akan memarahi paman" Jawab Aldo dengan cepat.


"Hmmmm, baiklah! Kalau begitu berhati-hatilah paman" Ujar Alkenzo.


"Kakak Alzo, sebelum aku pulang! Berikan aku kiss terlebih dahulu... Dan kau juga kakak Alzie. Berikan aku sebuah kiss" Pinta Alan dengan menunjuk kearah pipi bulatnya itu.


"Baiklah" Jawab Alkenzo dan Alkenzie bersamaan, lalu mereka berdua pun langsung saja memberikan sebuah ciuman kecil di pipi tembam Alan.


"Muachhh"


"Muachhh"


"Sudah?" Tanya Twins Al secara bersamaan.


"Already, thank you kakak" Balas Alan dengan mengangguk dengan imutnya.


"Yasudah, kalau begitu paman pergi duluan" Pamit Aldo yang di angguki oleh semuanya.


"Hmmmm" Dehem semuanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Shaka, apa kau ingin ikut dengan kami?" Tanya Alkenzie kepada Shaka putra dari Sesillia dan David itu.


"Tidak, terimakasih! Aku masih ada urusan kantor yang belum aku selesaikan... Nanti saja jika urusanku sudah selesai" Jawab Shaka cepat.


"Baiklah" Balas Alkenzie.


"Alzie, sebaiknya kita pergi cepat ke rumah sakit! Aria sudah menunggu kita di depan" Ajak Alkenzo kepada Alkenzie.


"Aria, sudah pulang? Dan dia sekarang berada di depan?" Tanya Alkenzie dengan menaikkan satu alisnya.


"Hmmmm" Dehem Alkenzo lalu pergi begitu saja di ikuti Dion di belakangnya.


"Haisss... Es batu ini" Kesal Alkenzie lalu berlari kecil mengejar Alkenzo dan itupun di ikuti Leo di belakangnya sama seperti Dion tadi.


"Hahahaha" Tawa Shaka dengan geli karena melihat ekspresi wajah Alkenzie yang menurutnya sangat imut.


Shaka tertawa bukan karena Alkenzie yang berwajah imut sebenernya, tapi ia tertawa karena melihat ekspresi wajah Alkenzie yang kesal terhadap Alkenzo! Karena tiba-tiba saja Alkenzo pergi dengan meninggalkan kembarannya yaitu Alkenzie berdua bersama Leo.


"Tuan, apakah anda masih ingin berada disini?" Tanya serkertaris Shaka.


"Tentu saja tidak, Mari... Kita kembali ke perusahaan" Balas Shaka lalu pergi begitu saja dengan santainya.


...*****...


"Kakak! Mengapa kau sangat lama..." Gerutu Arianna kepada Alkenzo dan Alkenzie yang baru saja keluar dari dalam cafe.


"Maaf" Jawab Alkenzo singkat.


Bukannya melanjutkan kembali kekesalannya! Arianna justru malah terbengong dan melamun seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar, karena selama ini ia belum pernah mendengar kata 'Maaf' yang keluar dari mulut Alkenzo kakak kembarnya itu.


"Tutup mulutmu, atau lebah akan masuk" Tutur Alkenzo lalu masuk kedalam mobilnya.


Sedangkan Alkenzie? Ia sama hal nya dengan Arianna. hanya saja ia tidak terbengong, ia lebih milih terdiam sambil menggosok-gosokkan telinganya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan sama seperti Arianna tadi.


"Lebih baik kita pakai satu mobil saja... Berikan kunci mobilmu ke Dion. Biarkan ia membawa mobilmu pulang ke mansion! Karena mobil kakak juga sudah dibawa pulang oleh Leo" Tutur Alkenzie kepada Arianna dan itupun dibalas anggukan kepala saja oleh Arianna lalu setelah itu, iapaun masuk kedalam mobil milik Alkenzo.


"Kakak, mari kita jalan" Ucap Arianna.


"Hmmmm" Dehem Alkenzo lalu iapun langsung saja mulai menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit atau lebih tepatnya ke Hospital Dirgantara tempat di mana Brianna berada saat ini.


...Sedangkan disisi Zea.......


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Zea kepada yang lainnya.


"Aku sudah" Jawab Tania dengan tersenyum kecil.


"Aku juga sudah" Balas Liora dengan mengangguk kecil juga.


"Dan aku juga" Jawab Zaza dengan tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari kita kembali ke perusahaan! Sebentar lagi waktu jam istirahat akan habis" Ajak Zea yang dibalas anggukan kepala saja oleh ketiganya.


"Baiklah" Balas Tania.


"Tunggu! Biarkan aku membeli es krim terlebih dahulu..." Ujar Zaza dengan menghentikan pergerakan Zea, Tania dan Liora secara bersamaan.


"Es krim?" Tanya Zea.


"Dia sudah biasa seperti itu, jika habis makan ia harus memakan es krim. Karena itu sudah jadi kebiasaannya" Celetuk Liora.


"Owhh, begitu kah? Aku baru tau" Sahut Tania dengan sedikit menatap aneh kepada Zaza.


Bagaimana Tania tidak menatap aneh terhadap Zaza, jelas saja... Karena kebiasaan Zaza yang harus memakan es krim setelah makan sangatlah aneh menurutnya! Apakah jika habis makan lalu makan es krim ia tidak akan muntah? Itulah yang menjadi pertanyaan aneh yang berada didalam otaknya saat ini kepada Zaza.


"Dia memang aneh" Ucap Liora dengan menatap wajah Tania karena Liora sepertinya mengetahui maksud dari tatapan aneh yang di berikan kepada Zaza oleh Tania.


"Dia tidak aneh, karena sebagiam orang juga ada yang sama sepertinya! Hanya saja kita jarang bertemu orang seperti Zaza" Sahut Zea dengan menatap punggung Zaza yang tengah berdiri didepan kasir untuk memilih varian es krim yang ia inginkan.


"Apa kau seperti Zaza?" Tanya Liora kepada Zea yang tengah asik menatap Zaza yang berada didepan kasir.


"Dulu, tapi tidak sekarang" Jawab Zea pelan.


"Maksudmu?" Tanya Liora dengan kebingungan hingga membuatnya menaikkan satu alisnya keatas.


"Ahhh, sudahlah... Sebaiknya kita pergi ke kantor atau kita akan terlambat" Ujar Zea dengan tersenyum kecil tanpa menjawab pertanyaan dari Liora tadi.


"Emmmmmm, yaaa.. baiklah." Balas Liora kecil.


'Maafkan aku, bukan aku tidak ingin mengatakannya padamu! Hanya saja itu adalah masa laluku entah itu bahagia atau tidak aku juga tidak tau' Batin Zanitha.