My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Penjelasan



...Kamar Alqueen...



"Duduklah nak" Titah Queena kepada kedua menantunya.


"Terimakasih mommy"


"Mommy, apa yang ingin kau bicarakan kepada kami?" Tanya Zenitha dengan langsung membuka pembicaraan.


"Bisakah kalian berjanji terlebih dahulu kepada mommy dan daddy?" Tanya Queena kepada kedua menantunya secara terus terang.


Bukan tidak ingin menjawab karena kediam'an mereka tapi mereka berdua terdiam karena mereka tengah dilanda kebingungan akan ucapan maupun perkataan dari ibu mertuanya itu dan juga ayah mertua mereka atau sering kali mereka panggil 'Mommy dan Daddy'.


Baik Zanitha dan Liora kini keduanya tengah menatap satu sama lain dengan wajah yang tanpa ekspresi, Hingga setelah beberapa saat kemudian keduanya pun tiba-tiba saja menganggukkan kepalanya kecil secara bersamaan. Seakan-akan apa yang mereka pikirkan itu sama didalam otak mereka berdua.


"Kami berjanji" Jawab Zanitha dan Liora secara bersamaan dengan diiringi anggukan kecil oleh keduanya.


"Sebelum kami menjelaskan, bukalah kertas ini dan bacalah setelah itu kami akan menjelaskan apa maksud kami memanggil kalian berdua" Ujar Alvaro dengan memberikan sebuah kertas kepada Zanitha dan Liora.


Tanpa berfikir panjang lagi keduanya pun langsung saja membuka lembar kertas tersebut lalu kemudian membacanya dengan perlahan dan teliti.


...*****...


...Disisi lain.......


...Mansion hutan...



"Bibi, tolong buatkan aku segelas jus dingin. Lalu setelah itu tolong antarkan ke taman belakang mansion karena aku akan berada disana" Pinta Arianna kepada salah satu pembantu yang ada dimansion'nya itu.


"Baik, nona muda"


...Skippppp.......


...Taman belakang...


"Huuffff"


"Belum ada satu hari aku berada disini tapi rasanya aku sudah seperti dua sampai tiga tahun disini. Ini terlalu sepi untukku yang menyukai keramaian, jika kakak Alzo yang berada disini ia mungkin akan menyukainya karena ia menyukai ke sunyian seperti ini sama seperti daddy" Gumam Arianna kecil.


"Huuuffff"


Lagi dan lagi, Arianna kini hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar tanpa bisa melakukan apapun. Ia ingin keluar seperti sebelumnya dan berpergian kemanapun yang ia mau tapi apalah daya? Kini dirinya tengah ingin menjauh dari seseorang yang sangat amat ia cintai, Tunangannya itu. Yaapsss tunangannya.


Jika saja Arianna tidak salah faham dan mau mendengarkan penjelasan dari Arkanza terlebih dahulu, mungkin ia tidak akan seperti ini. Yang mana dirinya harus pergi dan menjauhi keluarganya serta harus mengasingkan dirinya sendiri ditempat yang mana tidak ada salah satu keluarganya sama sekali hanya ada dia, para pembantu serta para penjaga urusan dari sang daddy di mansion yang berposisi ditengah hutan tersebut.


Arianna ingin sekali menarik permintaannya, tapi tidak! Ia kembali mengurungkannya dengan alasan yang sama. Ingin menangkan pikirannya dari hal apapun terutama masalah yang tengah menimpa dirinya itu. Bukan hanya dirinya tapi juga Arkanza.


"Letakkan saja jus dingin itu dimeja bi, bibi boleh kembali" Kata Arianna tanpa menoleh kearah belakang.


"Tapi nona muda" Kata pembantu tersebut tapi terjeda entah kenapa.


"Ada apa bi?" Tanya Arianna yang mana kini akhirnya mau tidak mau menoleh kearah belakang nya.


"Bibi pamit nona muda" Izin pembantu tersebut lalu setelah itu terburu-buru pergi meninggalkan Arianna dan...


...Deeeggggg...


Seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, wajah yang ia kenal, mata yang ia cintai, poster tubuh yang sangat ia kenali dan... Orang yang ia cintai serta sangat ia kenal kini tengah berdiri dihadapannya.


Tidak! Mungkin ini mimpi, bagaimana bisa Arkanza secepat itu mengetahui tentang keberadaannya apalagi mansion milik keluarganya ini tidak ada yang mengetahui selain... Keluarganya yaitu mommy dan daddy'nya. Mungkinkah? Yaapsss "Arkanza Gevano Smith"! Kekasih dari seorang wanita cantik yang bernama "Arianna Angelina Putri Dirgantara" kini tengah berdiri tepat dihadapan Arianna.


Seperti tengah mendapatkan kejutan yang luar biasa, Jantung dan hati Arianna kini tengah berdetak sangat cepat bahkan mata cantik yang berwarna hitam pekat tersebut tanpa sadar kini tengah mengeluarkan butiran bening yang sangat indah dari dalam sana. Kedua tangannya kini bahkan ikut mengepal dengan erat hingga membuat luka di bagian telapak tangannya itu akibat kuku-kuku panjangnya itu.


"Darimana kau tau mansion ini?" Tanya Arianna dengan lirih sambil menatap lurus ke arah depannya.


"Maafkan aku, apa kau baik-baik saja? Apa ka--"


"Jawab aku!" Pinta Arianna dengan memundurkan langkah kakinya karena Arkanza yang berniat ingin mendekat kearahnya.


"Mommy dan daddy" Jawab Arkanza dengan mata yang tertuju ke arah kepalan tangan Arianna.


"Jangan menyakiti dirimu" Pinta Arkanza lirih.


"Bukan urusanmu" Kata Arianna.


"Apa yang kau inginkan kembali? Tidak puas kah kau dengan hatiku? Apakah kau ingin meny--"


"Shuutt diamlah! Jangan seperti ini. Aku mohon padamu, cukup. Sudah cukup kau mengabaikan diriku seharian ini taukah kau bahwa aku hampir gila karena'mu? Aku kemari mencarimu karena ingin memberikan'mu sebuah bukti yang sangat penting. Bukti yang mana akan mempersatukan kita kembali" Bisik Arkanza dengan memeluk erat tubuh Arianna.


Arianna terkejut akan tindakan Arkanza yang tiba-tiba saja berlari kearahnya dan langsung memeluk erat tubuhnya, Saat ketika ia ingin melepaskan pelukan tersebut gerakannya tiba-tiba saja terhenti ketika mendengar sebuah bisikan lirih dari sang kekasih yaitu Arkanza.


"Bukti apa? Bukti hasil usg penerus mu? Apa itu yang kau maksud?" Lirih Arianna dengan kembali bertanya.


"Aku tidak mengizinkan'mu untuk berkata seperti itu, penerus'ku hanya boleh lahir didalam rahim'mu tidak dengan siapapun. Aku hanya menginginkan penerus dari dirimu bukan dari siapapun, Bukti yang ada ditangan'ku adalah bukti keberadaan tentang kehamilan palsu Eli" Terang Arkanza dengan perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Arianna.


"Palsu?"


"Ya palsu, dia telah menipu kita. Sebelum aku benar-benar mempercayai dirinya aku terlebih mengutus anak buah'ku untuk mencari keberadaan mengenai hal ini" Jelas Arkanza dengan perlahan menarik tangan Arianna dan membawa Arianna untuk duduk disofa yang terdapat disana.


"Pada malam itu, aku diberikan obat oleh Eli kedalam minumanku dan saat itu aku memang dibawa pergi oleh Eli kedalam salah satu kamar hotel yang ia sudah pesan. Tapi... Dia tidak berbuat apa-apa ia hanya membuka baju'ku saja tidak dengan yang lainnya dan lagi Eli hanya memfoto diriku dengannya dan langsung mengirimnya padamu agar kau percaya bahwa aku telah menghabiskan malam dengan'nya. Tapi kenyataannya itu semua bohong! Aku sama sekali tidak bermalam dengannya"


"Karena sebenarnya Eli telah memesan dua kamar yang mana satu untukku dan satu lagi untuk'nya, tapi ketika pagi harinya ia kembali berpura-pura tidur bersamaku. Mengenai usg tersebut! Ia membeli foto tersebut dan membayar hasil usg milik seseorang yang ia bayar untuk melancarkan rencananya" Ucap Arkanza dengan menjelaskan kepada Arianna sedetail mungkin lalu juga memberikan sebuah bukti-bukti yang ia katakan tadi mengenai kebohongan wanita yang bernama Eli tersebut kepada Arianna.


Kali ini Arianna tidak menolak ia justru menerima sebuah dokumen bukti dari Arkanza tersebut, entah karena apa ia tiba-tiba mau menerima penjelasan dari Arkanza tersebut bahkan ia sendiri'pun tidak tau.