My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Perubahan cepat Queena



...Kusuma Grup...



..."Itu... Bukankah tuan Alkenzo? Benar bukan? Atau tuan Alkenzie?"...


..."Warna matanya hitam, yang berarti tuan Alkenzo. Aura nya saja bahkan beda"...


..."Tumben sekali tuan Alkenzo datang ke perusahaan Kusuma Grup dengan pakaian santainya?"...


..."Wajahnya pucat, apakah sedang sakit?"...


..."Apakah tuan Alkenzo yang akan mengambil alih perusahaan Kusuma Grup saat ini? Atau... Hanya datang untuk berkunjung saja?"...


..."Tuan Alkenzie saja bahkan belum datang, jadi... Ada apa deng--"...


"Berisik! Lanjutkan pekerjaan kalian" Ucap Alkenzo dengan menatap datar seluruh karyawan Kusuma Grup.


...Glekkkk...


Mendengar suara dingin dari Alkenzo, seluruh karyawan Kusuma Grup yang tengah berbisik-bisik tadi pun langsung saja terkejut. Hingga membuat mereka semua menundukkan kepalanya kebawah.


"Kembali bekerja" Titah Alkenzo kembali dengan datar.


"Ba--baik tuan" Jawab seluruh karyawan Kusuma Grup dengan nada gugup.


Setelah mendapatkan perintah kembali dari Alkenzo, Kini seluruh karyawan Kusuma Grup kembali kemeja masing-masing dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka! Sedangkan Alkenzo? Ia kini kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Alkenzie sang adik. Yaa, walaupun Alkenzie sendiri masih belum datang karena masih berada dirumah sakit ahh atau lebih tepatnya kini Alkenzie tengah berada dijalan menuju perusahaan.


...Ruangan Alkenzie...


Setelah sampai di dalam ruangan Alkenzie, Alkenzo pun langsung saja duduk di kursi kebesaran milik Alkenzie dengan menyandarkan kepalanya dan menghembuskan nafasnya secara berat. Tak terasa kini kedua mata cantik milik Alkenzo tertutup dengan sempurna. Bukan karena tertidur ataupun pingsan, melainkan hanya menutup matanya saja untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.


'Untuk apa aku kemari sebenarnya? Apa karena Anitha masih hidup jadi aku ingin menemuinya' Batin Alkenzo.


'Tapi... Saat ini aku tidak bisa menemuinya. Karena aku ingin ingatan Anitha kembali terlebih dahulu. Baru aku ingin menemuinya' Batin Alkenzo.


'Tapi mengapa aku tidak bisa menahan diriku untuk menemuinya?' Batin Alkenzo kembali.


...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk ...


"Tuan, apa saya boleh masuk?" Tanya seseorang dari pintu luar ruangan.


Alkenzo yang mendengar suara yang tidak asing ditelinga nya pun langsung saja membuka matanya dan terduduk kembali seperti biasa, lalu... Sesaat kemudian iapun menjawab dan memperbolehkan orang tersebut yang berada diluar ruangan itu masuk.


"Masuk" Jawab Alkenzo datar.


...Ceklekkkk...


"Tuan" Panggil seseorang yang tak lain adalah Zenitha.


Zenitha? Entah suatu kebetulan atau tidak, tapi yang jelas kini Alkenzo tengah membuang pandangannya. Setelah melihat wajah kekasih kecilnya yang kini sudah meranjak lebih dewasa dari delapan tahun yang lalu.


Ada rasa ingin memeluk sang kekasih saat ini, ia sangat amat merindukannya. Hanya saja... Dirinya kini tertahan oleh sesuatu, pikirannya? Mungkin saja.


"Hmmmm" Dehem Alkenzo.


"Maaf telah mengganggu waktu istirahat anda tuan, Saya kemari hanya ingin meminta tanda tangan tuan untuk dokumen ini. Manager Vivian yang telah memerintah saya kemari untuk mewakili nya, mohon tuan menandatangani berkas dokumen ini" Jelas Zenitha dengan hormat sambil memberikan dokumen kantor kepada Alkenzo.


Zenitha berfikir bahwa yang di depannya saat ini adalah Alkenzie, bukan Alkenzo. Tapi sebenarnya itu bukanlah Alkenzie melainkan Alkenzo. Karena saat ini, Alkenzo tengah membuang pandangan nya jadi Zenitha tidak bisa melihat jelas dan membedakan yang mana Alkenzo yang mana Alkenzie.


'Mengapa sifat Alzie berbeda? Biasanya ia akan sangat cepat membalas ucapanku. Tapi mengapa kali ini...' Batin Zanitha.


'Mungkinkah...' Batin Zanitha.


...Ceklekkkk...


Zenitha dan Alkenzo yang mendengar suara seseorang membuka pintu ruangan milik Alkenzie pun keduanya langsung saja menatap kearah pintu. Dannnn!.


"Tuan Alzie?" Panggil Zenitha dengan kebingungan setelah melihat siap yang datang dengan membuka pintu.


Betapa terkejut nya Zenitha ketika melihat bahwa Alkenzie lah yang baru datang, ketika melihat Alkenzie seketika Zenitha pun langsung saja membalik kan tubuhnya dan kembali menatap Alkenzo yang berada dibelakang nya. Secara bergantian iapun melihat wajah Alkenzie dan Alkenzo.


"Tu-tuan Alkenzo? Ja--jadi anda..." Terkejut Zenitha.


"Kakak, kau berada di mari? Aku pikir kau..." Ucap Alkenzie dengan memanggil nama sang kakak sambil masuk dan berjalan menuju kursi kebesarannya yang mana terdapat sang kakak disana.


"Tanda tangani ini, agar ia bisa kembali bekerja" Tutur Alkenzo dengan memberikan dokumen yang telah di kasih oleh Zenitha.


"Emmm, baiklah" Jawab Alkenzie dengan mengambil dokumen tersebut lalu langsung saja menandatangani dokumen tersebut, setelah itu iapun langsung saja memberikan kembali dokumen yang sudah ia tanda tangani kepada Zenitha.


"Ini... Pergilah" Kata Alkenzie kepada Zenitha dan Zenitha-pun langsung saja mengangguk patuh dan keluar dari ruangan Alkenzie.


"Mengapa kau malah mengusir kakak Anitha? Kakak" Tanya Alkenzie dengan menatap wajah sang kakak.


"Tidak apa. Biarkan kami seperti ini saja, agar ia tidak kembali terluka hanya karena diriku. Kakak ingin dirinya sendiri yang mengingat tentang kakak, Sampai waktu itu tiba! Kakak baru akan--"


"Bukankah selama ini kau selalu menginginkannya?" Potong Alkenzie dengan kembali bertanya.


"Duluuuu, sebelum kakak tau bahwa dirinya telah melupakan semua memori delapan tahun yang lalu terhadap kakak" Jawab Alkenzo lirih.


"Kakak" Panggil Alkenzie lirih kepada sang kakak.


"Tidak apa!"


...*****...


...Mansion Dirgantara...



"Mommy, mengapa kau membiarkan kakak pergi begitu saja" Terkejut Brianna dengan bertanya kepada sang mommy.


"Kakak mu sendiri yang pergi begitu saja! Kau tau bukan? Bagaimana sifat kakak mu?" Balas Queena dengan berbalik bertanya kepada sang putri yang kini tengah kesal terhadap sang kakak.


"Ini semua salah daddy. Jika bukan karena daddy menurunkan sifatnya kepada kakak bagaimana mungkin kakak akan bisa seperti ini" Kesal Brianna dengan mendaratkan pantatnya secara kasar ke sofa.


"Hmm! Kau benar sayang, ini semua salah daddy" Setuju Queena dengan pelan menjawab serta menyetujui perkataan sang putri.


"Daddy lagi? Terus saja salahkan daddy. Daddy hanya membuatnya, mana tau jika sifat daddy ikut menurun kepada kakak mu itu" Kesal Alvaro yang tidak sengaja mendengar perkataan sang putri ketika dirinya baru saja turun dari anak tangga terakhir.


"Ini memang salah daddy! Benarkan mommy?" Kata Brianna dengan bertanya kepada sang mommy.


"Tidak! Jangan salahkan daddy mu, daddy mu kan tidak tau jika sifatnya akan menurun kepada kakak mu. Jangan mengalahkan nya memang pada dasarnya kakak mu sendiri yang terobsesi terhadap sifat daddy mu" Bela Queena dengan tiba-tiba kepada sang suami yaitu Alvaro hingga membuat sang putri yaitu Brianna dibuat melongo olehnya.


"Apaa? Bukankah beberapa menit yang lalu kau menyetujui perkataan ku. Mengapa ketika daddy datang kau malah membelanya?" Ujar Brianna dengan nada tak percaya menatap wajah sang mommy siapa lagi jika bukan Queena.


"Kapan? Mommy tidak mengatakannya" Jawab Queena dengan berpura-pura tidak tau dan lupa.


"Jangan berpura-pura lupa mommy, aku tau kau pasti takut dengan daddy bukan? Makanya kau membela daddy ketika daddy berada di sampingmu. Tapi sebaliknya jika daddy tidak ada disekitarmu kau justru akan menyetujui ucapanku tadi bukan?" Terang Brianna yang gemas akan sang mommy.


"Tidak! Mommy tidak begitu"


"Mommyyyyy"


"Apa?"


"Tau ah, aku ingin pergi mencari kakak saja! Kondisi fisik tubuhnya masih lemah, jadi aku harus mencarinya" Kata Brianna dengan kesal.


"Kakak mu berada di perusahaan Kusuma Grup" Celetuk Alvaro dengan santainya.


"Kakak Alzo?"


"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang saat ini tengah lemah kondisinya? Kakak keduamu yang memberi tahukan kepada daddy tadi" Jawab Alvaro.


"Baiklah! Terimakasih daddy"


"Hmmmm"


"Mommy aku pergi" Pamit Brianna.


"Yaa! Berhati-hatilah"


"Emm"