My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kembali ke mansion kusuma



...Dreetttt... Dreetttt......


Tut.


"Apaa? Kenapa Queena menolak telpon dariku?" Kata Alvaro yang tak percaya pada Queena yang mana berani menolak panggilan telepon darinya, Alvaro pun tak percaya hingga ia kembali mengulang panggilan telpon masuk untuk istrinya itu lagi.


...Dreetttt.... Dreetttt.......


Tut.


"Ck, beraninya menolak telepon dariku!" Geram Alvaro pada Queena lalu iapun kembali menelpon No Queena lagi dan lagi.


..."Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi--"...


"Sial!"


"Dua kali kau menolak telpon dariku dan sekarang kau malah mematikan handphonemu! Queena... Kau memang benar-benar ingin aku beri hukuman, lihat apa yang akan aku lakukan nanti terhadapmu" Kesal Alvaro dengan tersenyum smrik.


...Mansion Kusuma...



Setelah sekian lama tidak datang ke Mansion Kusuma, kini akhirnya Queena kembali mengunjungi Mansion Kusuma! Mansion dimana telah terjadi banyaknya sebuah kenangan dan sebuah masalah. Tapi pada akhirnya itu semua sudah selesai walau Queena harus kehilangan kedua orang tuanya.


"Aku kembali" Gumam Queena dengan menatap Mansion Kusuma.


"Bibiiiii!!"


"Aku pulangggg" Teriak Queena dengan


berhamburan berlari untuk menemui Bi Ijah yang sedang berada didalam. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Bi Ijah, dan ketika sudah menemukan Bi Ijah Queena langsung saja memeluk tubuh Bu Ijah yang sudah lama semakin menua.


"Non Queenaaaa" Teriak Bi Ijah yang melihat Queena datang berkunjung ke Mansion Kusuma.


...Grepppp...


"Bibi, aku merindukanmu" Ujar Queena dengan memeluk erat Bi Ijah.


"Bibi juga non, akhirnya non Queena datang kemari lagi" Balas Bi Ijah lalu melepaskan pelukannya bersamaan dengan Queena.


"Hahah, maaf bibi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga aku lupa untuk berkunjung kemari" Kata Queena dengan cemberut lalu tertawa.


"Bibi, jangan duduk di bawah duduklah di sampingku" Tutur Queena yang melihat Bi Ijah bersiap untuk duduk dibawah.


"Tapi Non-"


"Bibi"


"Baiklah, bibi tidak bisa menolak jika non Queena sudah meminta" Ucap Bi Ijah lalu duduk disamping Queena.


"Bibi, apa semua baik-baik saja disini?" Tanya Queena dengan menatap seluruh sudut Mansion Kusuma.


"Semua baik non"


"Itu bagus"


"Hmm, bibi... Aku mohon sekarang kau lebih waspadalah" Ingat Queena.


"Memangnya ada apa Non?"


"Dia kembali Bi!"


"Siapa non?"


"Mira"


"Mira kembali bi, sekarang ia sedang mengincarku bi! Dia bilang bahwa dia akan mengahancurkan diriku bi. Sebelum ia berhasil untuk menghancurkan aku, ia tidak akan pernah berhenti menggangguku" Lirih pelan Queena dengan tersenyum sendu.


"Non, bibi yakin pasti non bisa melewati ini semua sama seperti waktu non Queena kecil! Jadi non, janganlah takut dengan sebuah ancaman yang tidak ada hasilnya itu" Ujar Bi Ijah dengan memegang lengan Queena.


"Apakah nanti akan ada yang pergi dariku lagi bi? Sama seperti Ayah dan Bunda?" Tanya Queena dengan mata berkaca-kaca.


"Kita berdoa saja non, agar kejadian 14 tahun yang lalu tidak terulang lagi! Bibi juga akan bantu doa. Agar kehidupan non Queena bisa jauh lebih baik dari sebelumnya" Jawab Bi Ijah dengan Menyemangati Queena.


"Hikssss... bibi, aku berharap begitu "


...Dreetttt... Dreetttt......


"Varo?" Gumam Queena yang masih bisa didengar oleh BI Ijah.


Tut.


"Kenapa tidak di angkat non?" Tanya Bi Ijah.


"Biarkan saja bi"


"Non Queena, sedang bertengkar dengan Tuan Alvaro?" Tanya kembali Bi Ijah.


"Ohh"


"Bibi, bisakah bibi membuatkan aku masakan kesukaanku? Aku merindukan masakanmu" Pinta Queena yang dibalas senyuman manis oleh BI Ijah.


"Tentu saja non, kalau begitu akan bibi buatkan makanan kesukaan non dulu ya" Tutur Bi Ijah lalu pergi buru-buru menuju dapur untuk membuatkan makanan kesukaan Queena.


"Terimakasih bi"


...Dreetttt... Dreetttt......


Tut.


"Aku tidak akan menjawab telepon darimu saat ini Varo! Karena aku sedang ingin sendiri" Kata Queena lalu mematikan hendphonenya agar Alvaro tidak bisa menelponnya lagi.


"Aku merindukan kamarku" Gumam Queena lalu pergi menuju kamar lamanya yang berada dilantai atas.


Kamar Queena



...Bruuukkkk...


"Aaaaa! Aku merindukan suasana ini" Teriak Queena lalu menjatuhkan dirinya diatas kasur miliknya itu secara kasar.


"Aku yakin bibi pasti selalu membersihkan kamarku! Buktinya kamarku ini sangatlah bersih dan tidak ada debu sedikitpun" Terang Queena lalu mengguling-gulingkan badannya diatas kasur.


"Hacimmm" Bersin Queena yang secara tiba-tiba.


"Mengapa aku tiba-tiba bersin? Sepertinya ada yang sedang mengutukku"


"Ahhh, sudahlah aku tidak peduli" Uhar Queena lalu memejamkan matanya dan tanpa sadar iapun tertidur dengan lelapnya. Tanpa memikirkan bagaimana nasibnya nanti.


... Alqueen Mansion...


"Bi... bibi..." Teriak Alvaro yang memanggil-manggil Bi Lin.


"Iyaa, Tuan" Jawab Bi Lin yang berlari dari arah dapur dengan langkah yang terburu-buru karena mendapatkan sebuah panggilan dari Alvaro.


"Apakah Queen sudah pulang?" Tanya Alvaro.


"Tidak Tuan! nyonya belum pulang" Jawab kembali Bi Lin dengan hormat.


"Hmm, terimakasih bi! Bibi bisa kembali" Kata Alvaro.


"Baik, tuan" Balas Bi Lin lalu pergi kembali Kedapur.


"Dimana, kau Queena"


"Jika di sini tidak ada maka mungkinkah di mansion--"


"Aku tau, tunggulah aku istriku yang nakal" Gumam Alvaro dengan tersenyum devil lalu iapun kembali pergi entah kemana.


...*****...


...Apartemen...


"Kapan kita akan melaksanakan rencana yang kita buat?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Amanda Anastasya dengan bertanya kepada sekutunya itu.


"Besok" Jawab orang tersebut yang tak lain adalah Mira.


"Hehh, aku sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana ini! Akan aku pastikan Queena akan menyesal nanti karena sudah berani merebut Alvaro dariku" Tegas Amanda dengan memancarkan api kebencian pada Queena dengan begitu dalam.


"Kau tenang saja Manda, aku akan pastikan Angel Upss... salah Queena maksudku akan menderita sama sepertiku! Queena harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini" Sahut Mira dengan membakar foto Queena yang sedang ia genggam.


"Tapi kau harus ingat Mira! Kau tidak boleh melukai Alvaroku sedikitpun, kau mengerti!?" Tegas Amanda dengan mengingatkan kembali Mira untuk tidak menyentuh Alvaro sedikitpun.


"Kau tenang saja Manda, aku tidak akan menyakiti Alvaro sedikitpun" Ujar Mira dengan tersenyum devil.


'Aku tidak yakin aku bisa menepati ucapanku Manda! Karena jika aku ingin menyakiti Queena maka aku harus menyakiti orang-orang terdekatnya bukan? Salah satunya Alvaro, karena bagaimanapun juga Alvaro adalah suaminya Queena sudah pasti Alvaro akan melindungi Queena jika Queena terjadi apa-apa. Dan yang lebih jelasnya Alvaro sudah pasti menjadi pelindung untuk Queena' Batin Mira dengan tersenyum kecil.


'Aku tidak yakin Mira akan menepati ucapannya! Maka dari itu akan akan lebih berhati-hati dengannya, aku hanya takut ia akan menyakiti Alvaroku' Batin Amanda yang bersamaan dengan batin Mira berucap.


"Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba" Tutur Mira yang disetujui oleh Amanda.


"Kau benar Mira"


...*****...


...Happy new Year AllπŸŽ‰πŸŽ‰...


...Maaf ya baru bisa Up lagi!!πŸ₯€πŸ₯€...


...Jangan lupa, Like and Komen....