My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Pertengkaran kecil



"Apa yang membuatmu terkejut?" Tanya Alvaro dengan kesal lalu mengambil tisu yang berada didekat ranjang miliknya.


"Karena ini" Tunjuk Queena dengan memberi lihat layar hendphonenya kepada Alvaro tentang sebuah foto yang di-posting oleh Sesillia begitu juga dengan David di akun sosmed milik mereka berdua dan seketika Alvaro'pun mengerutkan keningnya.


"Kau ingin seperti mereka?" Tanya Alvaro yang tak paham apa yang dimaksud Queena saat ini.


"Bukan Al!"


"Lalu?"


"Haisss, sudahlah" Kesal Queena lalu berhenti memainkan Hendphonenya dan bersiap untuk pergi menuju alam mimpi.


'Hari ini Queena benar-benar membuatku tidak mengerti tentang dirinya! Lama-lama darahku bisa mendidih jika begitu terus-menerus' Batin Alvaro.


...Cuuupppp...


"Night sayang, mimpikan aku" Bisik Alvaro dengan mencium puncak kepala Queena lalu setelah itu iapun pergi menuju kedalam kamar ganti untuk mengganti pakaiannya menjadi piyama tidur.


"Night too, sayang" Balas kecil Queena dengan tersenyum manis lalu kembali menutup kedua matanya.


...*****...


...>David Pradipta<...


...David Pradipta yang biasa dipanggil David adalah seorang pria tampan yang memiliki sifat Ceria, Jail, Cerewet, Periang, naik dan Pintar. David memiliki wajah yang tak kalah tampannya dari Alvaro....


...Visual David:...



...>Maura Dirgantara<...


...Maura Dirgantara yang biasa dipanggil Mommy Maura adalah seorang wanita Cantik memiliki sifat Penyayang, baik dan Ceria....


...Visual Maura:...



...Maafkan Author yang melupakan Visual David, dan Mommynya Alvaro yaitu Maura:)...


...Hayo ngaku siapa yang menganggap bahwa Maura sudah tua banget? Hahahaha, Maura itu udah tua tapi gak tua-tua amat....


...*****...


...Keesokan harinya......


"Morning" Sapa Queena pada Alvaro yang baru saja bangun dari tidurnya.


...Cuuupppp...


"Pergilah mandi, setelah itu turun kebawah aku sudah memasak makanan kesukaanmu" Ujar Queena dengan mencium pipi Alvaro lalu tersenyum manis hingga membuat Alvaro yang baru bangun tidur menjadi aneh dengan tingkah Queena, padahal jelas-jelas Queena tadi malam tengah marah kepadanya.


"Ada apa?" Tanya Queena kebingungan karena Alvaro tiba-tiba saja menempelkan telapak tangannya di kening Queena.


"Tidak demam? Kau juga baik-baik saja" Gumam Alvaro kecil tapi masih bisa didengar oleh Queena.


"Demam? Aku tidak demam ataupun sakit"


"Hmmmm"


"Cepatlah bangun dan bersiap, aku menunggumu dibawah dan ya... Baju kerjamu sudah aku siapkan jadi kau tinggal memakainya saja! Dah sayang" Tutur Queena lalu pergi begitu saja dengan senyumannya yang melekat di bibir manisnya.


"Apa aku sedang bermimpi?"


"Aneh, bukankah tadi malam dia sedang marah padaku? Lalu mengapa hari ini dia seperti orang yang melupakan tentang kejadian semalam! Arghhhh, sudahlah"


...30 menit kemudian......


Alvaro'pun sudah rapih dengan pakaian kantornya dan bersiap untuk turun kebawah tapi belum sempat dirinya menginjakkan kakinya di tangga Alvaro mendengar suara seseorang yang tengah bercanda tawa dengan Queena istrinya.


Alvaro menjadi penasaran dibuat Queena karena suara gelak tawa Queena yang menggelegar keseluruh mansion bersama dengan tawa seseorang dan suara seseorang itu seperti suara pria.


"Dengan siapa Queena tertawa? Dan... Suara pria?" Tanya Alvaro pada dirinya sendiri dengan bingung.


"Awas kau Anna! Aku akan menghukummu nanti" Kesal Alvaro lalu buru-buru untuk turun kebawah menuju ruang Tamu.


...Ruang Tamu...



Sedangkan di ruang tamu, Queena tak henti-hentinya tertawa bersama seorang pria yang tak lain adalah Karan Alexander. Yupss benar sekali jadi yang sedang tertawa bersama Queena adalah Karan yang sedang menceritakan tentang kejadian dimana ketika mereka sedang bermain bersama di Australia.


"Hahahaha, Karan kau membuatku ingin menangis, Hahahah" Tawa Queena dengan memegangi perutnya karena terasa sakit akibat tertawa terus-terusan.


"Ini sangat lucu Anaa, Hahahah... Hingga membuatku sulit berhenti tertawa" Kata Karan yang juga ikut memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa.


"Sayang" Panggil Alvaro dengan dingin.


'Kenapa hawanya menjadi lebih dingin?' Batin Karan.


'Hukuman menantiku saat ini' Batin Queena.


"Sayang, kemarilah" Ucap Queena dengan tersenyum kecut, setelah Alvaro duduk ruang tamu pun menjadi hening seketika.


"Ekhemmm, kau sudah sarapan?" Tanya Queena dengan memecah keheningan yang terjadi di ruang tamu.


"Belum" Jawab datar Alvaro dengan terus menatap tajam kearah Karan dan Karan yang merasa ditatap justru tidak peduli. Ia justru malah asik menatap wajah Queena.


"Kalau begitu, mari kita makan. Aku sedari tadi menunggumu. Ayokkkk! Ran ikutlah dengan kami, kau pasti belum sarapan bukan?" Ajak Queena dengan Manarik lengan Alvaro menuju ruang Makan.


"Kau benar, aku memang belum sarapan" Balas Karan dengan tersenyum manis padahal jelas-jelas ia sedang ingin memanas-manasi keadaan.


'Aku akan membuatmu cemburu padaku! Agar aku bisa melihat seberapa cemburunya dirimu ketika Anaa bersamaku' Batin Karan.


"Duduklah Al! Aku akan mengambilkan makanan untukmu" Tutur Queena lalu menyendokan makanan kedalam piring Alvaro, sedangkan Alvaro ia justru hanya diam sambil menatap tidak suka akan kehadiran Karan.


"Sudah, makanlah" Kata Queena dengan diangguki Alvaro lalu Alvaro'pun langsung saja memulai makan-makanannya.


"Anaa" Panggil Karan dan seketika Alvaro'pun berhenti untuk menyendokan makanan kedalam mulutnya.


"Iyaa"


"Bisakah kau mengambilkan aku makanan yang berada didekatmu?" Tanya Karan dengan tersenyum manis.


"Ohh, baiklah" Jawab Queena lalu mengambil makanan yang berada didekatnya tapi tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh Alvaro.


"Biar aku saja, kau lanjutkan makananmu" Terang Alvaro lalu menyendokan makanan kedalam piring Karan.


"Apa sudah? Jika kau masih kurang kau bisa menghabiskan semuanya! Gratis" Tekan Alvaro dengan wajah yang tidak bersahabat.


'Jika tidak ada Queena saat ini sudah aku pastikan wajahnya tidak akan berbentuk kembali' Batin Alvaro.


"Al"


"Lanjutkan saja makanmu" Kesal Alvaro lalu kembali menyantap makanannya dengan sedikit tenang.


'Ini sangatlat seru' Batin Karan.


"Selamat makan Anaa dan kau Alvaro" Ujar Karan.


"Makan juga Karan"


"Lanjutkan makananmu"


"Iyaa, Al"


...Beberapa menit kemudian......


...Ruang Tamu...



"Anaa" Panggil Karan.


"Ada apa Ran?"


"Aku ingin bicara berdua denganmu boleh?" Tanya Karan sambil melirik kearah Alvaro.


"Bo--"


"Jika ingin bicara dengan istriku, maka bicaralah disini! Aku tidak mengizinkan kau membawa istriku" Celetuk Alvaro dengan wajah garangnya.


...Glekkk...


"Hmmm, tidak jadi sepertinya aku sudah lupa" Ujar Karan dengan santainya.


'Ada apa dengan Karan sebenarnya? Apa dia hanya ingin membuat Alvaro kesal saja?' Batin Queena.


"Al, Bukan kau harus berangkat kekantor?" Tanya Queena dengan mengalihkan topik pembicaraan yang ada.


"Kenapa? Apa kau ingin berduaan dengan monyet jantan ini? Hmmm, katakan bahwa aku benar bukan?" Kesal Alvaro dengan menatap tajam kearah Queena dan Karan.


"Siapa yang kau panggil monyet jantan?" Tanya Karan dengan kesal.


"Menurutmu?"


"Kau!!"


"Diamlah!! Kenapa kalian berdua malah bertengkar, Karan sebaiknya kau pulang dan kau Al... Sebaiknya kau pergi kekantor" Relai Queena dengan kesal lalu pergi begitu saja menuju kedalam kamarnya.


"Kenapa menjadi dia yang Kesal?." Tanya Alvaro.


"Kenapa Anaa menjadi marah?" Tanya Karan yang bersamaan dengan Alvaro.


"Itu karena kau" Ketus Alvaro dan Karan bersamaan sambil menatap tajam satu sama lain.


"Monyet jantan sialan, pergilah dari mansionku! Aku tidak ingin menerima orang asing di mansionku" Usir Alvaro dengan mengusir Karan.


"Jangan mengataiku! Dasar batu" Geram Karan dengan meledek balik Alvaro.


"Siapa yang batu?"


"Kauuu! memangnya siapa lagi?"


"Kau monyet"


"Kau batu"


"Kalian berdua pergilahhh!!" Teriak Queena dari lantai atas yang tengah mengamati Alvaro dan Karan dari atas.


"Heyy, Ini mansionku" Kesal Alvaro.


"Aku istrimu! Apapun yang kau punya semuanya juga adalah milikku, kau dengarrr!! Jadi sekarang pergilahhh" Teriak kembali Queena dengan wajah songongnya.


"Kau berani mengusirku?" Tanya Alvaro dengan kesal.


"Kalau iya, memangnya kenapa?"


"Awas kau, Anna" Ancam Alvaro.


"Tidak peduli"


"Hahahaha, lihat betapa lucunya drama ini! Haishhh seharusnya aku tadi membeli cemilan" Tawa Karan dengan terbahak-bahak.


...Bughhhh...


"Itu cemilanmu dariku" Geram Alvaro dengan memberikan satu bogeman keras kepipi mulus Karan.


"Sialan kau batu"


"Apaa?"


...Goarrrrr...