My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Mara Renata



...Kusuma Grup...



...Ruangan Queena...



Setelah mengantarkan istrinya itu kedalam kamar, Alvaro'pun langsung pergi pamit ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Sebenarnya bukan pekerjaan kantornya melainkan pekerjaaan kantor milik istrinya itu! Dan untuk kantornya sendiri Ia memerintahkan kepada David untuk mengambil alih sementara sebagai CEO karena ia akan fokus kepada kantor milik istrinya terlebih dahulu.


Tapi Alvaro akan memantau terus kantornya dari jarak jauh, begitu juga dengan Queena! karena mereka tidak mungkin lepas tangan begitu saja terhadap kantornya ataupun perusahaan nya. Dan soal Alvaro mengambil alih perusahaan kusuma untuk sementara waktu juga sudah diketahui oleh seluruh keluarga Atmadja, dirgantara maupun jusuma bahkan seluruh karyawan kusuma sudah tau bahwa Queena sementara waktu menyerahkan jabatan CEO-nya kepada suaminya itu yang tak lain adalah Alvaro Kenan Dirgantara.


Makanya Saat Ini Alvaro berada di dalam kantor milik istrinya itu bukan berada didalam kantor miliknya.


"Istriku ini! Benar-benar nakal... Bisa-bisanya ia tidur diatas sofa bukan diatas kasur, padahal jelas-jelas kasur lebih nyaman dari pada sofa" Gumam Alvaro yang tengah memantau istrinya itu dari layar laptopnya.


...Callon...


'Halo nakk! Ada apa?' Sahut disebrang sana yang tak lain adalah Maura.


'Halo mommy, mommy kau sekarang berada dimansionku kan?'


'Bagaimana kau tau? Bukankah mommy belum memberitahumu?'


'Itu tidak penting mommy, yang terpenting sekarang adalah Anna'


'Kenapa dengan Anna?'


'Bisakah mommy pergi kekamarku? Dan bangunkan Anna untuk pindah dari sofa'


'Anna tidur disofa?'


'Hmmm, jadi mommy... Bisakah membantuku? aku takut tubuhnya akan terasa sakit setelah ia bangun'


'Tentu saja, mommy akan segera naik keatas bersama nakk Alea untuk pergi menuju kamarmu'


'Baik mommy, terimakasih'


'Sama-sama nakk'


Tut.


...Toko tokkk tokkk...


"Masuk" Titah Alvaro dengan wajah datar dan nada dinginnya.


...Ceklekkkk...


"Maaf tuan, karena mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa sebentar lagi kita akan mengadakan meeting dengan perusahaan Alexander Grup" Ucap Sekertaris Queena yang tak lain adalah Nathania.


"Hmmm, dimana?" Tanya Alvaro dengan Dingin.


"Di Cafe,K ruangan VVIP no 4" Jawab Nathania dengan sopan.


"Hmmm, pergilah" Titah Alvaro yang lagi-lagi Bernada Dingin serta Wajahnya yang datar.


"Baik, tuan kalau begitu saya permisi" Pamit Nathania lalu keluar secepat mungkin.


...Ceklekkkk...


...Di luar ruangan Queena (Alvaro)......


"Huuuffff... menegangkan sekali! Kenapa nona Queena bisa menikahi pria seperti tuan Alvaro? Yang berwajah datar bak tembok dan bernada dingin seperti es itu" Gumam Nathania dengan mengelus dadanya karena jantungnya berdetak sangat cepat akibat ulah Alvaro yang membuatnya ketakutan setengah mati. Padahal Alvaro tidak berbuat apa-apa padanya tapi ia malah ketakutan.


"Semoga nona Queena cepat-cepat kembali, atau kalau tidak.... Ihhhhh.... Menyeramkan" Ucap Nathania lalu pergi menuju ketempat ruangannya yang tidak jauh dari ruangan milik Queena.


"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nathania dengan sopan kepada salah satu karyawan yang memanggilnya tadi.


"Sekertaris Niaa, bolehkan kami bertanya?" Kata karyawan tersebut.


"Tentu saja, katakan" Balas Nathania dengan sedikit kebingungan.


"Apa, Benar Suami Nona Queena sangat tampan? Tapi... Juga sangat datar dan dingin? Bahkan irit bicara, benarkah?" Tanya karyawan itu hingga membuat Nathania semakin kebingungan.


"Hmmm, benar"


"Bagaimana situasi di dalam tadi ketika sekertaris Niaa berada di dalam?" Tanya karyawan yang lainnya.


"Kalian ini sebenarnya niat bekerja atau tidak? Jika kalian ingin tau bagaimana situasinya ketika menghadap tuan presdir sebaiknya kalian mencobanya secara langsung dengan masuk kedalam sana" Ujar Nathania dengan nada sedikit kesal sambil menunjuk kearah ruangan Queena yang terdapat Alvaro didalamnya.


"O-ohh, baik terimakasih sekertaris Niaa! Kalau begitu kami pamit untuk melanjutkan kembali pekerjaaan kami" Ucap karyawan tersebut dengan nada sedikit gugup.


"Yaa, pergilah"


"Baik"


"Ada-ada saja mereka ini!! Mengapa harus bertanya pertanyaan yang sangat aneh itu? Jika mereka penasaran kenapa tidak langsung mencobanya?" Kesal Nathania lalu masuk kedalam ruangannya.


...*****...


...Disisi lain......


"Kapan kau akan menjalankan rencanamu itu? Ini sudah sangat lama kau membiarkan Queena terus dekat dengan Alvaro" Kesal Amanda terhadap Mira.


"Diamlah bodoh! Kau pikir menjalankan rencana besar ini tidak membutuhkan persiapan yang matang? Apa kau tidak tau bahwa keluarga Atmadja sekarang berada di mansion Queena? Jika kita menjalankannya sekarang! Bisa-bisa kita sudah masuk penjara duluan dan rencana besar kita akan berantakannn" Geram Mira pada Amanda.


"Beraninya mengataiku bodoh! Kau sendiri bahkan tidak bisa membunuh Queena saat itu, bukankah kau juga bodoh? Bahkan kau lebih-lebih bodoh dari padaku" Marah Amanda dengan mengatai Mira balik.


"Sudahlah diam!! Aku pusing mendengarmu" Kesal Mira lalu pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Amanda.


"Kau ingin kemanaaaa?" Teriak Amanda kepada Mira yang pergi begitu saja dari apartemen miliknya.


"Sial! Beraninya dia tidak menjawab pertanyaanku dan pergi begitu saja" Geram Amanda.


"Apakah dia pikir aku ini benar-benar bodoh? Hanya karena rencanaku yang belum aku jalankan ia malah menganggapku seseorang yang sangat Bodoh, bahkan jika aku bodoh ia lebih bodoh" Gerutu Mira dengan berjalan menuju parkiran mobil untuk mengambil mobil miliknya lebih tepatnya mobil dari Amanda.


"Tidak semudah itu menghancurkan Angel! Karena Angel dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai, jadi tidak mudah bagiku untuk menghancurkannya! Apalagi suaminya itu orang yang sangat berkuasa didunia ini" Kata Mira dengan membuka pintu mobilnya dan berniat untuk masuk kedalamnya.


Tapi ketika dirinya ingin masuk kedalam, tiba-tiba saja ia ditarik oleh seseorang dan dipeluk entah dengan siapa.


...Grepppp...


"Heeyyyy"


"Lepaskan! Sipaa kau?!" Teriak Mira dengan memberontak karena tiba-tiba saja ia ditarik secara paksa bahkan dipeluk secara paksa juga tanpa seizin darinya. Entah dengan siapa.


"Lepaskan! Beraninya kau--" Kesal Mira dengan melepas paksa pelukan tersebut lalu menunjuk kearah seseorang tersebut yang memeluknya secara paksa itu, dan... Dan ketika melihat siapa seseorang itu Mira pun malah menjadi diam membisu dengan jari yang masih menunjuk kearah seseorang tersebut.


"Izinkan aku memelukmu sekali lagi, Mira... Putriku..." Izin seseorang itu dengan memanggil Mira dengan sebutan 'Putriku' yaa siapa lagi yang memanggil Mira dengan sebutan tersebut jika bukan ibu kandung dari Mira atau lebih tepatnya Mara Renata.


"Ka--kau!!" Tunjuk Mira dengan nada gugup, bagaimanapun juga ia sudah bertahun-tahun tidak pernah berhubungan kembali dengan ibu kandungnya.


"Mengapa kau pergi dariku saat itu? Bertahun-tahun lamanya kau bahkan tidak mencariku? Apa kau lupa dengan ibu kandunganmu?" Tanya Mara dengan mata berkaca-kaca.


Walaupun ia dulu pernah mengajarkan putrinya Mira dengan tidak baik, tapi didalam lubuk hatinya yang terdalam Mara sangat menyayangi putrinya Mira. Mara memang salah dengan mengajarkan kepada Mira ketika kecil seperti dirinya tapi... Tapi hanya itulah yang bisa membuat dirinya mampu bertahan hidup. Ia pikir dulu dengan mengajarkan Mira Seperti dirinya yang menjadi 'Wanita malam' Mira tidak akan membencinya.


Tapi justru ia salah besar, Mira putri semata wayangnya itu justru malah pergi meninggalkannya dengan membawa kebencian yang mendalam terhadap dirinya.


Mara mengajarkan Mira untuk seperti dirinya itu agar nanti ketika dirinya sedang bercinta dengan pria-pria hidung belang didepan Mira, maka Mira akan bersikap biasa dan tidak memperdulikannya, tapi ia justru malah salah. Mira justru tidak menyukai ajaran yang di berikan dirinya hingga membuat Mira putrinya itu justru membencinya. sangat-sangat membencinya.