My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Lamaran



...Tuang Tamu...



Setelah seluruh keluarga selesai melakukan aktivitas makan siangnya, mereka semua pun kini tengah berkumpul di dalam ruang tamu. Karena kini keluarga besar dirgantara tengah berkumpul begitu juga dengan Alkenzo dan Alkenzie serta Lauren yang mana mereka bertiga juga ikut serta dipanggil.


"Mengapa kita semua dipanggil suamiku?" Tanya Alea yang kebingungan dengan kumpulnya seluruh keluarga.


"Ada yang akan dilamar" Bisik Zayyann ditelinga sang istri sambil tersenyum manis.


"Siapa?" Tanya Alea kembali dengan berbisik.


"Siapa lagi yang belum menikah? Selain...."


"Kakak ipar, ada apa kau memanggilku kemari juga? Apakah ada sesuatu hal yang penting?" Tanya Lauren kepada Alvaro yang mana kini tengah menunggu seseorang. Hingga membuat semua orang harus menunggu.


"Ada seseorang yang akan datang, kau tunggulah sebentar lagi" Jawab Alvaro dengan tersenyum kecil sambil menatap wajah Lauren.


'Apa yang daddy ingin lakukan? Siapa yang ia tunggu' Batin Alkenzo.


'Apa yang ditunggu daddy sebenarnya?! Siapa yang ingin datang' Batin Alkenzie.


'Siapa yang akan di lamar' Batin Alea.


...Tiinnnn... tiiinnnnn.......


"Siapa itu?"


"Bi, tolong buka pintunya" Titah Alvaro kepada Bi Lin yang mana Alvaro memerintahkan kepadanya untuk segera membuka pintu besar kediaman dirgantara.


"Baik tuan" Jawab Bi Lin dengan cepat berhamburan membuka pintu kediaman dirgantara, ketika sampai Bi Lin pun langsung saja membuka lebar pintu tersebut.


Dan... Terdapat lah seorang pria tampan dengan jaz mahal yang ter tampang melekat jelas di tubuh kekarnya, pria tersebut pun langsung saja berjalan dan masuk kedalam menuju ruang tamu dengan sudut bibir yang ditarik keatas.


"Karan?"


"Karan?"


"Uncle Karan?"


"Uncle?"


"Yang ditunggu sedari tadi adalah Karan?"


"Suamiku Karan ia?" Lirih Queena pelan dengan bertanya sambil menatap wajah sang suami.


"Emmmm, si monyet jantan. Memang ia yang sedari tadi aku tunggu" Balas Alvaro pelan.


"Siang" Sapa Karan kepada semua orang dengan tersenyum manis sambil melirik wajah seseorang.


"Siang kembali"


"Duduklah"


"Terimakasih"


"Karan? Ada apa kau kemari?" Tanya Quenna dengan menaikkan satu alisnya.


"Pertama-tama kedatangan ku kemari, aku ingin mengatakan bahwa kedatangan ku kesini untuk melamar seseorang. Sudah sejak lama sebenarnya aku ingin kemari dengan membawa sebuah lamaran. Hanya saja... Waktu ku selalu padat! Tapi kali ini, hari ini, jam ini, menit dan detik ini aku bisa datang dengan membawa sebuah lamaran besar untuk seseorang" Balas Karan.


"Lamaran?"


"Siapa yang kau akan lamar uncle?" Celetuk Shaka dengan bertanya kepada Karan, bukannya menjawab pertanyaan dari Shaka.


Karan justru malah menghampiri Lauren lalu mulai berlutut, sambil membuka sebuah kotak kecil bewarna krem yang mana terdapat sebuah cincin didalamnya.


...Visual Cincin...



"Lauren Adilla Putri Kusuma, aku ingin mengatakan kepada mu mengenai diriku. Kau tau? Entah sejak kapan, entah mengapa? Entah karena apa, dan entah ada angin apa. Aku sendiri bahkan tidak tau mengapa aku bisa mencintaimu! Pandangan pertama ketika melihatmu adalah... Jatuh cinta, jujur! Memang saat pertama kali aku melihatmu aku memang langsung jatuh hati kepadamu"


"Bukan karena wajah mu, bukan karena karir mu atau karena apa. Tapi aku mencintaimu dari sifat mu, Jiwa mu dan raga mu dan juga karakter mu. Tidak peduli apa yang semua orang katakan tentang mu atau tentang ku nantinya tapi yang jelas hatiku telah jatuh kedalam ruangan hatimu. Maafkan aku karena aku tidak bisa seperti pria lain yang mana mereka semua ketika ingin melamar wanita yang mereka cintai mereka semua harus menyiapkan suatu yang romantis, dan tidak denganku karena kenyataan nya aku tidak bisa seperti mereka. Aku bukanlah tipe pria yang romantis" Ungkap Karan dengan tulus.


"Aku mencintaimu... Aku Mencintaimu seperti malam, yang dipenuhi oleh diam. Aku tidak mau menjadi bintangmu. Karena aku tidak mau menjadi satu diantara seribu, aku tidak mau kau menjadi bulan mu. Karena bulan selalu berubah-ubah, aku mau kita seperti angin. Hembusan dengan mulus menghiraukan segalanya yang akan tidak pernah di duga... Jadi Lauren Adilla Putri Kusuma, hari ini aku melamar mu dengan menyatakan cintaku padamu sebagai mana untuk menjadi sebuah pasangan ku! Pasangan hidup ku kelak sampai nafas terakhir ku dan sampai maut memisahkan ku dengan mu" Kata Karan kembali dengan menatap dalam wajah cantik Lauren.


"Lauren Adilla Putri Kusuma, maukah kau menjadi calon istriku dan calon ibu dari anak-anak'ku kelak?' Tanya Karan dengan melontarkan kata lamaran kepada Lauren yang sedari tadi diam mematung karena merasa tak percaya dengan apa yang saat ini Karan lakukan.


"Jawablah, apapun keputusan mu kakak akan selalu mendukungmu" Bisik Queena pelan dengan tersenyum manis.


"Aunty cepatlah jawab. Vidio ini akan bagus jika kau membalas lamaran yang romantis ini" Celetuk Arianna yang mana kini memang tengah memvidiokan momen lamaran dari Karan untuk sang aunty. Aunty cantiknya itu.


"Nak, jawablah. Jawab apa yang hatimu katakan utarakan apa yang kau ingin ucapkan kepada nak Karan saat ini" Tutur Alea dengan tersenyum manis kepada Lauren.


"Aku..."


"Ak--aku..."


"Katakanlah, tidak apa jika kau ingin menolak ku juga! Karena pada dasarnya aku melamar mu ini secara mendadak" Ujar Karan dengan meyakinkan Lauren.


"Sebelumnya, terimakasih karena kau sudah mau mencintaiku dan memilih ku untuk menjadi pasangan hidupmu tapi...." Ucap Lauren dengan terhenti diakhir kalimat.


"Baiklah" Lirih Karan pelan dengan langsung kembali berdiri dari jongkok-nya.


"Kau tidak ingin memasangkan cincin lamaran itu dijari manis ku?" Tanya Lauren secara tiba-tiba hingga menghentikan pergerakan Karan.


Karan yang mendengar pertanyaan dari Lauren pun seketika terdiam dan terhenti dari pergerakan nya, mendengar itu pun seketika Karan langsung saja membalikkan tubuhnya dan langsung menatap dalam wajah cantik Lauren yang kini tengah tersenyum manis menatap dirinya.


"Kau menerimaku?" Tanya Karan dengan nada tak percaya.


"Mengapa? Kau meragukan jawaban ku" Tanya Lauren balik.


"Tidak! Hahaha, kau menerima ku sungguh? Kau tidak asal menjawab bukan" Kata Karan dengan tersenyum bahagia seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kau tau? Sebenarnya sudah sejak lama aku juga mencintaimu... Aku bahkan selalu bercerita tentangmu kepada kakak. Hanya saja... Aku terlalu malu untuk mengutarakan rasa suka dan cintaku kepadamu, aku terdiam tadi ketika kau melamar ku karena tiba-tiba saja dunia ku terhenti begitu saja setelah mendengar pengakuan cintamu untuk ku. Karena selama ini, aku berfikir bahwa cintaku tidak akan pernah terbalaskan tapi aku salah"


"Justru cintaku malah terbalas dengan begitu singkat nya, rasa senang, bahagia kini sedang bercampur aduk didalam lubuk hatiku yang terdalam dan itu semua karena mu. Yang aku ingin katakan padamu adalah hanya sebuah kata terimakasih! Terimakasih karena kau sudah mencintai ku, terimakasih" Ujar Lauren dengan mata berkaca-kaca menatap wajah semua orang.


"Aku yang seharusnya berterima kasih kepada mu, Karena kau sudah mau menerimaku. Menerima ku sebagai pasangan hidup semati" Ujar Karan dengan langsung mengambil tangan cantik milik Lauren.


Perlahan-lahan karan pun mulai memasangkan cincin lamaran cantik yang ia bawa untuk Lauren kepada jari manis Lauren, dan pada akhirnya jari manis tersebut pun telah terdapat sebuah lingkaran emas putih yang indah.


...Prokkk...


...Prokkk...


...Prokkk...