My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Anitha



"Mommy membuat kami dalam bahaya kali ini" Gumam Alkenzie pelan tapi masih bisa didengar oleh Alkenzo.


Jika yang lainnya sedang khawatir karena amukan yang akan menimpanya, Alkenzo justru hanya bersikap seperti tidak terjadi apa-apa! Tidak seperti adik-adiknya yang tengah cemas karena sang devil kini sudah terbangun dari tidurnya. Dan itu semua dibangunkan kembali oleh sang mommy.


Andres๐Ÿ“ž: Ah, Is that so? Then I will apologize later to your little son. As for my son, I'm not interested in, letting him sort things out on his own.


...(Ah, begitukah? Kalau begitu aku akan meminta maaf nanti pada putra kecilmu. Mengenai putraku, aku tidak tertarik, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri)...


Andres ๐Ÿ“ž: Wow, I heard the sound of a lion roaring near you! Is it really him?


...(Wahh, aku mendengar suara singa yang sedang mengamuk di dekatmu! Apa itu benar-benar dia?)...


Andres ๐Ÿ“ž: Yes baby, why are you silent? Baby why don't you reply to my words? You're still there aren't you?.


...(Yaa sayang, mengapa kamu diam? Sayang mengapa kamu tidak membalas perkataan'ku? Kamu masih disana kan?)...


^^^Queena: Yaa, Aku masih disi--^^^


...Brraaakkkk...


...Deggggg...


'Mampus! Habis sudah aku' Batin Queena.


Queena pun terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Alvaro dengan secara tiba-tiba! Alvaro membanting hendphone genggam milik Queena yang tengah berada didalam genggaman tangannya. Karena Queena tidak mau mendengarkan perkataannya, Alvaro pun kian semakin marah hingga merebut hendphone genggam milik Queena lalu membantingnya hingga hancur berkeping-keping.


"Keluar" Titah Alvaro kepada kelima anaknya dengan nada dingin ditambah ekspresi datar. Melebihi Alkenzo ketika sedang marah.


Triple Al dan double Ana yang mendengar perintah dari sang daddy menyuruhnya keluar langsung saja buru-buru pergi keluar dari ruang kerja milik sang daddy. Karena mereka berlima tidak ingin jika nantinya mereka ikut serta dalam amukan sang daddy maka dari itu, Mereka berlima-pun langsung saja pergi keluar menuju kamar masing-masing tanpa mau membantu sang mommy yang tengah terduduk diam.


'Oh ya tuhan, selamatkanlah aku dari suamiku' Batin Queena.


...Brraaakkkk...


...Deggggg...


Lagi dan lagi, Queena-pun dibuat terkejut oleh tindakan Alvaro yang membanting pintu ruang kerjanya dengan sangat keras! Lalu mulai kembali menatap wajah Queena dengan tatapan tajam.


"Kau sudah berani mengabaikan perkataan'ku? Hmmm, apa kau pikir aku tidak akan marah jika melihatmu berbicara dengan pria lain dihadapanku selain diriku? Hmmm" Kata Alvaro dengan berjalan menuju kearah Queena.


...Glekkkk...


'Habis sudah riwayatku kali ini! Mommy (Maura) sudah tidak ada jadi sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menyelamatkan aku dari suamiku ini' Batin Queena.


"Ee-mmm, suamiku" Panggil Queena dengan tersenyum paksa menatap wajah Alvaro.


"Maafkan aku, tolong jangan marah kepadaku! Aku hanya---" Ujar Queena yang terpotong.


"Hanya apa? Ha?!" Tanya Alvaro dingin.


"Aku... Aku hanya... Aku hanya..."


"Hanya apa!!" Bentak Alvaro kepada Queena.


...Deggggg...


"Maafkan aku! Aku tidak berniat untuk membuatmu marah, hanya saja aku--" Kata Queena dengan nada pelan karena dirinya kali ini benar-benar telah membangunkan singa yang sudah lama tertidur.


"Jangan pernah berani bermain-main denganku! Apalagi membuatku marah sayang... Aku akan mengingatkanmu kembali dan kau harus ingat ini baik-baik 'Kau milikku! Bukan milik siapapun, Hanya milikku! Tidak dengan orang lain' Jangan pernah bermain-main denganku bila tidak ingin aku menghukummu" Tegas Alvaro dengan berbisik pelan ditelinga Queena tapi bisikan nya itu selalu ditekan setiap kali ia berkata.


"Ak--aku aku tidak akan pernah bermain-main denganmu, kau tau bukan aku hanya akan patuh denganmu saja. Tidak dengan yang lain! Bila aku ketahuan bermain-main kau bisa langsung mengurungku dan menghukum ku sesuka hatimu aku tidak akan marah" Jawab Queena dengan nada gugup.


"Menghukum mu? Aku akan mengabulkannya" Bisik Alvaro kembali sambil menghisap pelan telinga milik Queena hingga membuat Queena menjadi geli dibuatnya.


"Suamiku, bisakah hukumannya bukan ini? Aku takut kalau--" Pinta Queena dengan cengengesan sambil tersenyum paksa.


...Bruukkkkk...


"Tidak bisa! Dan jangan takut bila nyanyainmu nanti akan terdengar keluar, karena ruangan ini sudah aku aktifitas kembali penyadap suara" Ucap Alvaro pelan dengan perlahan membaringkan tubuh Queena diatas sofa.


"Suamiku tapi aku sedang ada tamu bulan, kau tidak bisa melakukannya sekarang" Bohong Queena dengan menunjukan ekspresi serius.


"Jangan membodohi ku, karena aku tidak bodoh sayang! Mana ada wanita kembali datang tamu bulannya setelah belum lama tamu bulannya itu datang? Hanya pria bodoh yang mempercayai ucapan itu. Aku tidak bodoh dan aku tidak mempercayainya" Kata Alvaro dengan tersenyum devil, sambil perlahan melepaskan setiap satu kancing baju yang melekat ditubuh Queena.


"Hahahaha, benarkah? Ta-tapi aku benar-benar kembali datang tamu" Bohong kembali Queena dengan tertawa kecil.


"Kalau begitu biar aku lihat" Ujar Alvaro dengan tersenyum manis.


...Glekkkk...


"Bagaimana cara aku bisa terlepas darinya" Gumam Queena kecil tapi masih bisa didengar oleh Alvaro.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku" Ucap Alvaro.


"Suamiku tapi aku benar-benar sedang ada tamu jadi kau tidak bisa, Ahhh"


...*****...


...Kamar Alkenzo...


"Puuuffff"


"Andai saat itu kau tidak menolongku, mungkin saat ini kau masih ada dan bukan aku yang masih ada disini tapi kau" Kata Alkenzo yang berada di balkon kamarnya dengan tengah berdiri memandangi langit malam sambil menghirup rokok nya.


Alkenzo memang suka merokok secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun tapi bagi Alvaro tidak ada yang ia tidak tau. Alvaro pasti tau mengenai sifat buruk putranya itu yang suka diam-diam merokok, tapi Alvaro tidak mempermasalahkan hal tersebut karena baginya itu adalah hal yang wajar! Karena pada dasarnya ia juga pernah merokok diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dan hanya David saja yang mengetahui keburukannya itu tidak dengan lainnya termasuk Maura.


"Anitha, bagaiman kabarmu diatas sana? Apa kau baik? Hahahaha! Aku yakin kau pasti baik. Karena diatas sana lebih baik dari pada di dunia ini!" Gumam Alkenzo kecil sambil tertawa hambar.


"Seperti suara Anitha? Tapi... Bagaimana mungkin ia berada disini?" Gumam Alkenzo.


"Kenzo awwaasss!!" Teriak Anitha.


...Brraaakkkk...


...Bruuukkkk ...


...Deggggg...


"Anithaaaa!!" Teriak histeris Alkenzo.


"Ingatan ini! Mengapa tidak pernah bisa aku lupakan" Kata Alkenzo dengan meremas kuat rambut miliknya itu.


"Arghhhhhh"


"Mengapa kau menolongku pada saat itu Anitha. Mengapaaaa, Aku benci pengorbanan mu untukku! Aku benci Anitha aku benci itu" Teriak Alkenzo frustasi.


"ARGHHHHHH"


...Pranggg...


...Pranggg...


...Pranggg...


Dengan sangat frustasi, Alkenzo pun memecahkan barang-barang yang berada didalam kamar miliknya itu. Dengan sekuat tenaga iapun menghancurkan dan melempar semua benda-benda yang ada disekitarnya termasuk foto keluarganya itu.


"ARGHHHHHH!!"


"Aku benci pengorbananmu Anitha! Aku benci" Teriak Alkenzo lagi-lagi.


...Ceklekkk...


"Alzo" Teriak Queena dengan berhamburan memeluk tubuh sang putra yang kini tengah terduduk lemas dipojokan sambil meremas kuat rambutnya.


"Kakak" Panggil Alkenzie, Arianna dan Brianna secara bersamaan.


"Alzo, apa yang kau lakukan?" Tanya Alvaro dengan marah karena melihat semua benda-benda yang berada di dalam kamar Alkenzo hancur berserakan di mana-mana.


"Mommy, biarkan aku memeriksa kondisi kakak aku takut kakak--" Ujar Brianna tapi terpotong oleh perintah Alkenzo.


"Pergi Bria, Alzie dan kau Aria! Kalian juga pergi dari kamarku sekarang" Titah Alkenzo dengan datar.


"Daddy! Mommy! Aku harap kalian juga mengerti aku. Pergilah" Ujar Alkenzo kembali.


"Tapi kakak--"


"Brianna Angelina Dirgantara!" Kata Alkenzo dengan menyebutkan nama panjang Brianna sambil ditekan setiap katanya.


"Baik kakak, aku harap kau tidak kenapa-kenapa" Jawab Brianna lalu pergi begitu saja yang diikuti oleh Arianna dan Alkenzie dibelakangnya.


"Mommy! Daddy!"


"Suamiku pergilah, aku akan tetap disini" Ujar Queena pelan dan itupun diangguki oleh Alvaro pelan.


"Hmmm" Dehem Alvaro.


...Ceklekkkk...


"Mommy" Panggil Alkenzo dengan menatap wajah Queena dalam.


"Ingin mommy pergi juga? Tidak akan! Mommy tidak akan pergi sama seperti daddy dan adik-adikmu... Mengapa kau seperti ini Alzo? Hmmm katakan! Apa kau pikir dengan cara melampiaskan amarahmu kepada benda-benda ini kau bisa mengembalikan nya? Kau bisa tenang? Dan tidak akan memikirkannya kembali? Hmmm apa itu yang kau pikir? Tidak Alzo! Kau tidak akan bisa tenang selagi kau belum bisa mengikhlaskan kepergiannya" Jelas Queena dengan menatap serius wajah putranya itu yang kini tengah kacau.


"Lihat keningmu! Karena ulah mu sendiri kau terluka hingga berdarah" Kata Queena.


"Luka kecil seperti ini tidak ada apa-apanya di bandingkan--"


"Dibandingkan dengan nyawa seseorang? Apa kau akan berkata seperti itu? Hahhh, sayangnya dialog itu sudah sering kau sebutkan Alzo! Tatap mata mommy"


"Alzo tatap mata mommy, jika kau benar-benar pernah mencintainya, maka ikhlaskan kepergiannya! Ia sudah tenang diatas sana Alzo. Jangan kau tangisi dan kau beratkan atas kepergiannya" Ucap Queena dengan nada sedikit dingin.


"Hikssss... hikssss... Mommy tapi--"


"Mommy pernah ada diposisi mu. Mommy sudah pernah melewati pahitnya hidup ini, mommy tau dan mommy mengerti bahwa melupakan seseorang yang sangat kita cintai itu berat. Mommy tau Alzo karena mommy pernah merasakan itu semua! Tapi... Jangan pernah terus berlarut-larut seperti ini. Apalagi sudah delapan tahun ini kau selalu seperti ini! Mommy mohon untuk kesekian kalinya lupakan Anitha dan lepaskan ia, ia sudah tenang diatas sana Alzo. Ia sudah bahagia disana. Mommy mohon Alzo mommy mohon jangan seperti ini terus" Pinta Queena dengan memohon kepada putra pertamanya itu.


"Tidak mommy! Jangan memohon seperti ini, kali ini... Aku benar-benar berjanji padamu bahwa aku pasti akan belajar melupakannya dan itu semua demi dirimu mommy dan demi Anitha" Balas Alkenzo lirih.


"Kemari" Ajak Queena kepada Alkenzo untuk duduk diatas tempat tidur milik Alkenzo.


"Berbaringlah dan taruh kepalamu dipangkuan mommy! Kali ini mommy memerintahkan mu untuk menangis buat yang terakhir kalinya atas nama Anitha" Ujar Queena dengan menepuk pelan pahanya.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Alkenzo pun menurut dengan perintah Queena kembali. Dengan perlahan Alkenzo berbaring diatas kasurnya dengan kepala yang ditaruh di atas paha milik sang mommy.


Dan Queena yang melihat putranya itu kian menurut, Iapun langsung saja mengelus kepala putranya itu dengan pelan sambil menatap lirih wajah sang putra.


"Menangis lah Alzo, mommy tau kau pasti ingin menangis" Tutur Queena dengan nada lirih.


"Mommy apa kau tau? Kemarin Anitha menemuiku dalama mimpi, Ia mengatakan bahwa ia sudah lelah. Lalu aku pun berusaha untuk membantunya beristirahat. Namun mengapa sejak saat itu ia tidak pernah bangun kembali?" Lirih Alkenzo dengan perlahan-lahan meneteskan air mata.


"Alzo, bukankah ia sudah mengatakan bahwa ia sudah lelah? Kau seharusnya mengerti apa arti kata lelah baginya! Mungkin saat itu ia hanya ingin menemuimu saja karena mungkin saja ia merindukanmu. Anggap saja seperti itu lah" Ucap Queena pelan.


"Alzo, dengarkan perkataan mommy baik-baik! Orang yang sudah meninggal tidak bisa dibandingkan dengan orang yang masih hidup. Kamu harus percaya dengan dirimu sendiri" Kata Queena dengan tersenyum kecil.


...Author: Queena sama Alvaro ga jadi main-main nya, karena tadi Queena pergi berlari keluar. Dan tepat mendengar suara pecahan dari kamar Alkenzo putranya, jadi ia langsung saja menghampiri putranya....