
"Aaaaaaaaaa!" Teriak semua orang.
"TIDAAKKK!!" Teriak Queena dengan histeris.
"PUTRAKU ALVAROOO!!" Teriak Maura dengan berhamburan mendekat kearah Alvaro yang telah tertembak.
Saat ketika Mira manarik pelatuk pistol miliknya, Alvaro tiba-tiba saja dengan cepat melindungi Queena dengan tubuhnya! Hingga.. membuat dirinya tertembak tepat disebelah jantungnya dengan empat peluru yang masuk kedalamnya. Seakan tidak mempunyai tenaga lagi Alvaro-pun jatuh dan terbaring dengan memegangi dadanya yang terasa sangat panas dan sakit.
"Tangkap wanita Itu" Titah Ray dan Rey dengan berteriak.
"Hikssss... hikssss... Varo! Aku mohon jangan tinggalkan aku hikssss... Berjanjilah" Tangis Queena kembali histeris.
"Hikssss... hikssss... Aku mohon berjanjilah untuk tidak pergi meninggalkan diriku hikssss... Jangan tinggalkan aku sama seperti bunda dan ayahku. Berjanjilah kau tidak akan seperti mereka... hikssss..." Isak Queena dengan memangku kepala Alvaro yang kini tengah terus mengeluarkan darah segar dari dadanya dan juga mulutnya.
"Jangan menangis" Lirih Alvaro pelan dengan berusaha keras untuk tidak menutup kedua matanya saat ini.
"Maafkan aku! Ini semua salahku, harusnya aku yang tertembak dan bukan kau hikssss... hikssss..." Lirih Queena.
"Ja-jangan... pernah me-nya-lahkan dirimu at-tas ap--ap yang telah terjadi... Ini... Su--sudah kehendak tuhan" Kata Alvaro dengan terbata-bata.
"Hikssss... hikssss... Berjanjilah kepadaku! Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku hiksss..." Isak Queena.
"Aku janji!" Ucap Alvaro dengan tersenyum manis lalu tak lama kemudian iapun mulai menutup kedua matanya secara perlahan.
"TIDAKKKK!!"
"Kau tidak boleh menutup matamu!!"
"Varo... Buka matamu! Hikssss... hikssss... Kau tidak boleh menutup matamu hikssss... Varo!!" Teriak Queena dengan menepuk-nepuk pelan wajah Alvaro.
"Ak--ku ingin... ber--istirahat se---sebentar... Jaga cal-on... anak-anak kit--aa dengan ba-ik, ak-aku... men--mencintaimu" Ujar Alvaro lalu menutup kedua matanya.
...Deggggg...
"TIDAKKKK!! ALVARO BANGUN!!"
"Hikssss... hikssss..."
"Bangunlah suamiku! Varo hikssss... Alvaro bangunlah!! Hikssss.... ALVARO" Histeris Queena dengan mengguncang-guncangkkan tubuh Alvaro.
"Hikssss... putraku! Alvar--" Tangis Maura lalu tiba-tiba iapun menjadi tidak sadarkan diri.
...Brukkk...
"Mommy!"
"Hikssss... hikssss... Mommy bangunlah. Mommy bangun" Ucap Queena.
"Ray, Rey apa ambulance sudah datang?" Tanya David dengan menghapus air matanya.
"Sebentar lagi tuan" Jawab Ray yang ikut menghapus air matanya karena merasa sangat sedih melihat kondisi tuan besarnya itu.
...Ninuuuđ¨... Ninuuuđ¨... Ninuuuđ¨......
"Cepat kalian bawa menantuku!!" Teriak Zian dengan membantu Alvaro untuk naik keatas brankar diikuti David dan Zayyann yang ikut menggotong tubuh Alvaro.
"Mommy, aku takut" Lirih Aldo dengan tubuh yang terus gemetar.
"Mommy, bersamamu hikssss... jangan takut" Isak Alea dengan menghapus air matanya juga.
"Kakak" Panggil Sesillia dengan memeluk Queena yang masih terduduk sambil menangis.
Sedangkan Mira? Ia sudah pergi berlari keluar dengan diikuti seluruh anak buah dirga grup dan tara grup yang kini tengah mengejarnya. Sebelum Mira pergi... Ia terlebih dulu memberikan sebuah senyuman manis kepada Queena, karena melihat Queena yang merasa sangat kesakitan melihat suaminya yang kini tengah tak berdaya.
"Hikssss... hikssss... Apakah suamiku akan pergi juga Sesillia? Hikssss... Katakan padaku. Apakah suamiku akan baik-baik saja? Hikssss..." Tanya Queena dengan menatap wajah Sesillia.
"Hikssss... hikssss... Kakak ipar pasti akan baik-baik saja ka! Hikssss... Berdoalah" Jawab Sesillia dengan memeluk erat tubuh Queena untuk menenangkan Queena agar tidak terus-menerus menangis.
"Nakk! Mari kita pergi menyusul suamimu ke rumah sakit" Ajak Kiana dengan menghapus air mata Queena.
"Grendma" Panggil Queena dengan lirih.
"Mari" Ajak Kiana Kembali.
...*****...
...Hospital Dirgantara...
"Dokter bagaimana kondisi suami saya? Hikssss... Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia hikssss... Apakah dia bisa di selamatkan... Katakan sesuatu" Tanya Queena pada dokter Vito dan dokter Arlan secara bersamaan.
Masih ingat dengan dokter Vito? dokter Vito adalah dokter pribadi milik Alvaro dan dokter Arlan adalah dokter pribadi milik Alvaro yang kedua sebenarnya.
"Nyonya muda"
"Maaf kami harus menyampaikan ini terhadapmu! Mohon... Nyonya muda mengizinkan kami untuk melakukan operasi terhadap tuan Alvaro! Karena dengan cara ini adalah satu-satunya untuk bisa menyelamatkan nyawa tuan Alvaro... Bisakah nyonya muda mengizinkan kami?" Izin dokter Vito.
"Lakukan apapun yang bisa kalian lakukan untuk menyembuhkan suamiku hikssss... hikssss.. Cepatlah bawa suamiku ke ruang operasi sekarangggg!Keluarkanlah empat peluru itu dari tubuhnya" Jawab Queena.
"Operasi kali ini sangatlah beresiko! Mohon nyonya muda terus berdoa agar tuan Alvaro bisa melewati ini semua" Ujar dokter Arlan.
"Anna" Panggil Kiana dengan lirih.
"Hikssss... Grendma! Hikssss... Ini semua salahku Grendma. Ini semua salahku! harusnya Varo tidak menolongku saat itu hikssss..." Tangis Queena dengan memeluk tubuh Kiana dengan sangat erat.
"Hikssss... Tenanglah sayang, kau dengar apa yang suamimu katakan saat itu? Hikssss... Jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi! Ini semua sudah kehendak tuhan" Tutur Kiana dengan membalas pelukan Queena dengan erat pula.
Kiana sangat yakin saat ini, pasti Queena sangatlah tertekan dengan apa yang telah terjadi saat ini! Kiana yakin bahwa sekarang Queena pasti sangatlat lelah... Dan ia sangat yakin bahwa saat ini Queena selalu menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi di hari baik-nya pernikahan Sesillia dan David. Tapi... Karena dirinya, hari baik itu menjadi hari terburuk baginya.
...*****...
...Sedangkan didalam ruang operasi......
...Ruang Operasi...
...Tiiitttttt.... Tiiitttttt.......
"Gawat dokter!" Ucap salah satu suster yang berada didalam ruang operasi.
"Ada apa sus?" Tanya dokter Arlan dan dokter Vito secara bersamaan.
"Detak jantung tuan Alvaro melemah! Bagiamana ini dokter" Jawab Suster tersebut dengan nada panik.
"Cepat siapkan alat pacemaker jantung! Segera suster" Panik dokter Vito.
"Bagaimana bisa kita memakai alat pacemaker jantung dokter? Kita sedang mengoperasi tuan Alvaro saat ini dan itu tepat disebelah jantungnya! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Tanya dokter Arlan yang sangat panik karena jika ia salah mengambil tindakan maka resikonya akan sangatlah fatal.
"Kita akan berhati-hati dengan alat pacemaker jantung ini! Jika kita tidak memakai ini maka tuan Alvaro akan..." Ujar Dr. Vito dengan terhenti ketika diakhir Ucapannya.
"Baik! Kalau begitu suster cepat siapkan alat pacemaker jantung sekarang! Cepatlah..." Titah dokter Arlan.
"Baik dokter" Jawab suster tersebut dengan terburu-buru menyiapkan alat pacemaker jantung tersebut.
"Sudah siap?" Tanya dokter Vito yang dibalas anggukan kepala oleh semuanya.
"Satu... Dua... Tiga..."
"....."
"Dokter! Jaitan-nya berdarah kembali" Panik suster kembali.
"Diamlah suster! Jangan mengganggu dokter Vito saat ini" Marah dokter Arlan yang membungkam mulut suster tersebut karena bukan hanya dirinya saja yang panik tapi semuanya ikut merasa panik.
"Satu! Dua! Tiga!"
"....."
"Satu... Dua... Tiga..."
"....."
...Titttt... Titttt... Titttt......
"Detak jantung pasien kembali normal dokter" Kata Suster tersebut dengan menarik nafasnya berat.
"Hmmmm, kalau begitu mari kita lanjutkan operasi ini!" Ujar dokter Vito yang diangguki oleh semuanya.
"Baik dokter" Jawab semuanya yang ada disitu tanpa terkecuali Arlan, karena ia hanya menggangguk-kan kepala kecil saja.
...Empat jam berlalu......
"Mengapa belum ada satupun suster atau dokter yang keluar dari dalam?" Tanya Maura dengan kebingungan.
Jadi.... Setelah beberapa menit tadi pingsan, kini Maura telah sadar kembali lalu setelah sadar iapun dengan cepat pergi menyusul yang lainnya di depan ruang operasi untuk menunggu putranya juga! Tapi... Yang anehnya kini Maura tidak ingin berbicara terhadap Queena bahkan Maura kini perlahan menjauhi Queena entah mengapa.
...Ceklekkkk...
Kini pintu ruang operasi yang ditunggu-tunggu selama empat jam-pun akhirnya terbuka dengan menampilkan kedua dokter tersebut dengan keringat yang melekat dikeduanya.
"Dokter" Panggil Queena dan Maura secara bersamaan.
"Bagaimana Keadaan suamiku?" Tanya Queena dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Operasinya berjalan dengan lancar nyonya muda dan nyonya besar. Hanya saja tadi ada sedikit kendala makanya Operasinya berjalan dengan sangat lama... Dan tuan Alvaro kini sudah melewati masa kritis-nya" Jawab dokter Vito dengan tersenyum manis.
"Syukurlah..." Kata Semua orang yang mendengar perkataan dokter Vito tadi.
"Tapi..."
"Tapi apa dokter?" Tanya Queena dan Maura secara bersamaan.
"Tuan Alvaro mengalami koma" Celetuk dokterArlan yang membuat seluruh keluarga menjadi diam dan hening seketika.
...Deggggg...
Queena yang mendengar kata 'Koma' yang keluar dari mulut dokter Arlan pun seketika jantungnya mulai berdetak tak beraturan, hingga membuatnya bahkan kini menjadi diam mematung. Sambil menatap kosong sekitarnya.
"Tidak mungkin" Lirih Queena pelan.