My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Marahnya Alvaro



"Memang benar-benar cuplikan nya Alvaro versi kecil kembali. Setelah Alzo dan Alzie, kini Alan si anak busuk ini juga membicarakan ku" Geram David yang tidak sengaja mendengar perkataan Alan dan putranya Shaka yang mana tengah membicarakan dirinya.


"Jika bukan putra Alvaro, aku pasti sudah akan membuang nya ke jalan. Tapi sayangnya dia adalah putra dari Alvaro" Kata David yang kesal akan Alan, Lalu... Iapun langsung saja menghampiri kedua nya yang kini tengah asik berkebun dengan panas matahari yang luar biasa panasnya.


"Mengapa hawa panasnya bertambah uncle" Tanya Alan dengan menatap wajah tampan Shaka yang kian penuh dengan tanah saat ini.


"Jika kau merasa panas-nya bertambah, mungkin saja ada makhluk halus yang tak terlihat tegah mendekati mu" Ujar Shaka.


"Makhluk halus? Setan kah yang kau maksud uncle? Tapi.... Jika benar, mengapa setan yang suka dengan ku tidak takut akan matahari" Tanya Alan dengan wajah imutnya, hingga membuat Shaka yang melihat itu menjadi gemas sampai-sampai Shaka reflek mencubit pelan pipi Alan padahal jelas-jelas tangannya tengah kotor akan tanah.


Jika Alvaro melihat putra kecil nya kotor seperti itu, mungkin saja ia akan marah dan langsung menyuruh putranya mandi dan Shaka? Tentunya ia akan terkena amukan dari sang singa itu dan mendapatkan hukuman tentunya nanti.


"Uncle! Wajahku kotor oleh mu" Kata Alan dengan cemberut karena wajahnya kini menjadi sangat kotor dengan adanya tanah di pipi mulusnya itu.


"Biarkan saja, lagian siapa suruh kau ini sangat menggemaskan" Ucap Shaka dengan tersenyum manis.


"Kau ini kecil-kecil bermulut pedas. Sama seperti daddy mu" Celetuk David yang menghampiri keduanya.


"Demit nya beneran ada" Bisik Shaka kepada Alan hingga membuat Alan tertawa dengan geli-nya.


"Bukankah itu papah mu uncle? Jika ia setan lalu kau apa yang sebagai putranya? Hmmm hahaha" Balas Alan dengan tertawa sangat geli nya.


"Tentu saja uncle mah berbeda dengan pak tua itu, pak tua ya pak tua, uncle ya uncle. Jelas sudah terlebih berbeda dari jauh juga" Ujar Shaka.


"Masih ingin bermain bisik-bisik? Jika ingin membicarakan ku tidak perlu berbisik-bisik juga tidak apa" Kata David dengan nada kesal-nya.


"Uncle maaf. Tapi aku ini didikan daddy, mohon di maklumi jika kata-kata'ku ini sangat mirip dengan nya. Yaa, wajar saja karena aku adalah putranya bukan begitu uncle Shaka" Tutur Alan kepada David yang kini kembali membuat David bertambah kesal kepada dirinya itu.


"Tentu saja benar. Uncle bahkan menyukai sikap mu ini, sebagai tanda suka nya uncle. Uncle nanti akan membelikan mu mobil remot yang kau inginkan saat ini" Ujar Shaka dengan memberikan tanda acungan jempol sebagai tanda hebat.


"Who, benarkah? Terimakasih uncle"


"Sama-sama, tunggu uncle membersihkan tubuh uncle maka habis itu kita akan langsung membeli mobil remot yang kau inginkan"


"Yasudah kalau begitu mari kita sudahi kegiatan ini, biarkan uncle David yang melanjutkan. Itu pun jika uncle David tidak keberatan" Terang Alan dengan antusuas-nya.


"Baiklah-baiklah mari kita sudahi kegiatan berkebun ini, biarkan pak tua itu yang melanjutkan. Karena kau sudah tidak sabar jadi kalau begitu... Mari kita bersih-bersih" Ajak Shaka yang diangguki oleh Alan.


"Dah pak tua"


"Dah uncle"


"Hey kalian berdua. Aku sendiri bahkan belum setuju dengan keputusan yang kalian berdua ambil, beraninya kalian berdua langsung pergi meninggalkan ku" Teriak David kepada Shaka dan Alan yang pergi begitu saja dengan meninggalkannya bersama alat-alat berkebun.


Saking kesalnya kepada Alan dan Shaka putranya, David pun pergi begitu saja yang entah akan kemana dengan wajah yang penuh akan kekesalan.


...*****...


...Dirgantara company...



...Ruangan Alkenzo...


Bukan Alvaro namanya jika bekerja tidak teliti, kini dihari yang sama dengan putranya yang sudah membaik, Alvaro sekarang tengah marah akan para karyawan miliknya yang sebagaimana tidak pernah becus dalam menangani setiap urusan pekerjaan yang ia tugaskan.


"Buang semua sampah tidak berguna ini! Jika perlu bakar saja, untuk apa kau memberitahukan semua ini kepadaku" Marah Alvaro dengan membuang berkas-berkas berharga miliknya yang berakhir sia-sia.


"Buang!!" Tegas Alvaro.


"Baik, tuan kalau begitu saja pamit undurkan diri untuk membuang berkas ini" Jawab Dion dengan hormat lalu mulai pergi keluar ruangan.


'Lebih baik aku setiap hari bersama dengan tuan Alzo saja dari pada harus bersama dengan tuan besar, yang mana jauh lebih... Lebih keras mendidik dari pada tuan Alkenzo' Batin Dion.


'Aku harap tuan Alkenzo bisa cepat-cepat kembali, jika harus terus begini setiap harinya. Aku tidak yakin bahwa aku tidak akan mati' Batin Dion kembali.


"Bagiamana mereka bisa sangat tidak becus dalam menangani masalah ini. Apakah mereka selama ini hanya memakan gaji buta saja? Beraninya bersantai-santai tanpa memikirkan perusahaan" Kesal Alvaro.


"Alzo ini. Apa yang ia kerjakan sebenarnya, mengapa ia sangat tidak tau tentang penggelapan dana sebanyak lima ratus miliyar ini. Apa yang ia lakukan sebenarnya" Marah Alvaro kepada sang putra.


"Lalai, untuk pertama kalinya ia lalai dan langsung merugikan perusahaan dengan begitu besarnya" Kata Alvaro lalu mulai mengeluarkan hendphone miliknya dan dan setelah itu mulai menekan nomor hendpone milik Alkenzo sang putra.


...Dretttt... Dretttt......


...Callon...


Alkenzo πŸ“ž: Yaa, daddy ada apa?


^^^Alvaro: Sedang apa kau^^^


Alkenzo πŸ“ž: Tidur, tapi... Sudah bangun saat ini


^^^Alvaro: Daddy mengganggu mu^^^


Alkenzo πŸ“ž: Tidak, katakan saja kepadaku sebenarnya apa yang kau ingin katakan saat ini, aku akan mendengarkan mu, daddy


^^^Alvaro: Penggelapan dana sebesar lima ratus miliyar? Apa kau sudah tau? Atau sebaliknya^^^


Alkenzo πŸ“ž: Jangan khawatir, aku tidak lalai! Dan aku tidak bodoh seperti apa yang kau pikirkan saat ini daddy. Aku sudah tau sejak awal mengenai penggelapan dana sebanyak itu


^^^Alvaro: Mengapa kau hanya diam? Kau tau bukan, jika kau salah dalam melangkah satu langkah saja maka jaminan nya adalah seluruh para karyawan yang akan hilang. Jangan bermain-main^^^


Alkenzo πŸ“ž: Aku tau dan aku mengerti daddy, aku bukan putra mu yang masih berusia lima tahun. Aku sudah besar dan aku sudah tau langkah mana yang benar yang harus aku ambil.


Alkenzo πŸ“ž: Mengenai penggelapan dana tersebut,


sebenarnya aku adalah orang yang menerima uang sebesar itu, karena pada dasarnya aku saat ini tengah menyamar menjadi salah satu anggota dari komplotan itu.


AlkenzoπŸ“ž: Aku harao kau tidak terkejut daddy


^^^Alvaro: Terkejut? Tentu saja Alzo. Daddy terkejut karena sejak kapan kau merencakana ini semua? Kau tidak mengatakannya kepada daddy dan malah mengambil langkah sendiri^^^


Alkenzo πŸ“ž: Hahaha... Sudahlah daddy jika kau ingin tau kelanjutan nya sebaiknya tunggu kau pulang saja. Lagi pula bukankah sebentar lagi waktu siang? Kau bisa kembali pulang ke mansion dan bertanya lagi padaku nanti, sekarang aku ingin membersihkan tubuhku terlebih dahulu


^^^Alvaro: Hmmmm, pergilah^^^


Alkenzo πŸ“ž: Hmmmm


Tut.


"Anak ini! Selalu saja suka membaut ku marah, kapan ia akan berubah dan tidak kembali bermain-main" Gumam Alvaro dengan menghela nafasnya berat sambil kembali meletakan hendpone nya ke atas meja kerjanya.


"Mungkin jika ia sudah menikah, sama seperti dirimu dulu" Celetuk seseorang.