My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Sebuah persetujuan



"Mommy ingin bertanya padaku, apa kau merasa sedih? Karena kejadian yang sudah menimpa mu bersama dengan putra mommy? Hmmmm.... Katakan saja. Jangan takut" Tanya Queena dengan pelan dan lembut kepada Liora.


"Aku... Aku tidak sedih karena kejadian semalam nyonya, tapi... Aku hanya sedih karena aku harus hadir didalam keluarga ini. Padahal aku hanya wanita bias dan tidak memiliki apa-apa tapi hikssss..." Lirih Liora pelan dengan menundukkan kepalanya kebawah sedari tadi, bahkan ketika dirinya mendapatkan pertanyaan dari Queena ia masih setia menundukkan kepalanya hingga ia menjawab pertanyaan dari Queena tadi iapun masih menundukkan kepalanya kebawah dan masih tidak berani menatap sekitarnya.


"Mengapa kau sangat suka menundukkan kepalanya kebawah? Mommy ada disini, angkatlah kepala mu dan wajahmu tatap mommy. Dan... Jangan panggil nyonya. Panggil lah mommy seperti Zanitha sahabat mu memanggil mommy" Ujar Queena terkekeh kecil.


"Tapi aku benar-benar tidak pantas memanggil nyonya dengan sebutan "Mommy" seperti Zea. Zea adalah menantu keluarga dirgantara sedangkan aku hanya---"


"Hanya apa...? Bukankah kau juga adalah menantu kami" Potong Alvaro dengan cepat.


"Itu..."


"Panggil lah kami dengan sebutan "Mommy dan daddy" karena kau sudah menjadi bagian keluarga ini saat ini. Nakk! Dengarkan kami, kami sama sekali tidak pernah memandang rendah seseorang entah itu status ataupun hal yang lainnya, karena kita semua ini sama jadi... Kau tidak boleh merasa bahwa kau ini tidak pantas bersama dengan kami" Tutur Queena.


"Seluruh keluarga kami tidak pernah memilih-milih atau pun membeda-bedakan antara sesama. Kami semua menganggap bahwa kami adalah sama, tidak peduli dari keluarga mana kau berasal dan apa status mu, kami semua tetap menerima mu apa adanya. Mulai sekarang kau adalah menantu dari keluarga dirgantara menantu kedua setelah menantu pertama" Sahut Zayyann dengan tersenyum lembut kepada Liora yang mana sudah mengangkat kepalanya keatas karena permintaan dari Queena tadi untuk mengangkat wajahnya keatas dan tidak lagi menundukkan wajahnya ke bawah.


"Tiga hari lagi adalah pesta pernikahan kalian, daddy akan menyiapkan nya seperti pesta kakak mu saat itu. Daddy tidak akan mem beda-bedakan kalian! Jadi... Kalian harus menikah kembali dihadapan publik nanti, ucapkan sumpah dan janji suci dihadapan kami. Karena kalian tadi tidak mengundang kami ketika pernikahan kalian di kantor catatan sipil barusan" Ujar Alvaro yang di angguki oleh Queena.


"Mommy setuju" Celetuk Queena dengan cepat.


"Kami berdua juga setuju dengan perkataan kau daddy" Sahut Alkenzo juga bersama dengan Zanitha.


"Kami semua juga setuju, Dan... Kami semua juga akan ikut membantu menyiapkan pesta pernikahan Alkenzie dan Liora" Sambung Alea dengan tersenyum manis.


"Terimakasih"


"Terimakasih, karena kalian semua sudah mau menerimaku apa adanya hikssss..." Lirih Liora pelan dengan menatap wajah satu persatu semua orang yang ada disana.


"Hey, jangan menangis! Kau ini. Sejak kapan kau menjadi cengeng? Padahal biasanya kau ini sangatlah pemberani" Ucap Zanitha dengan mendekat kearah sahabat nya itu sambil tersenyum bahagia.


"Aku tidak menangis tapi aku hanya terharu akan semua ini, padahal jelas-jelas kejadian selama hanyalah sebuah kecelakaan belaka saja" Kata Liora dengan menghapus pelan air matanya yang sempat keluar dari pelupuk matanya itu.


"Kau terlihat jelek ketika kau menangis" Ujar Alkenzie dengan ikut menghapus air mata Liora hingga membuat pergerakan tangan Liora terhenti ketika ingin menghapus air matanya karena Alkenzie sang suami lebih dulu menghapus air matanya itu.


"Terimakasih" Ucap Liora pelan dengan tersenyum kecil kepada Alkenzie.


"Ekhemm, sisini masih ada kami semua. Jika ingin bermesraan sebaiknya kalian lanjutkan saja didalam kamar kalian berdua, Bukan begitu kakak?" Dehem keras Lauren dengan tersenyum nakal menatap wajah Alkenzie dan Liora yang kini tengah tersipu malu keduanya hingga menjadi salah tingkah.


"Aku tidak bermesraan, aku hanya membantu istriku menghapus air matanya saja yang keluar dari kedua mata cantik nya, karena jika air matanya itu terus melekat disana ia akan terlihat sangat jelek" Terang Alkenzie dengan terduduk kembali tapi kali ini disamping Liora.


"Yasudah, kalau begitu kalian berdua pergilah ke kamar sekarang dan beristirahat. Setelah perjalanan kalian dari luar negeri kemari mommy yakin kalian lelah bukan" Tutur Queena kepada Liora dan Alkenzie.


"Aku tidak lelah, 5api aku yakin istriku lelah mommy. Karena dari sini ia ke prancis dan setelah itu ke jerman tapi kemudian ia kemari lagi. Jadi.... Ia pasti yang lebih lelah dariku" Balas Alkenzie dengan menarik pelan pergelangan tangan Liora.


"Kau pasti juga lelah karena seharian terus mencariku, jadi... Mari beristirahat bersama" Balas Liora dengan tersenyum kecil lalu mulai membuang pandangannya ke sembarang arah karena dirinya kini tengah merasa malu akan ucapannya itu barusan terhadap sang suami.


"Baiklah, aku tidak akan menolak! Tapi... Aku ingin bertanya terlebih dahulu kepada mommy saat ini" Jawab Alkenzie dengan terkekeh geli melihat tingkah malu sang istri saat ini.


"Apa?" Tanya Queena dengan cepat sambil mengerutkan keningnya kecil dengan wajah tersenyum manis menatap keduanya.


"Dimana Arianna? Mengapa sedari tadi aku tidak melihatnya... Bahkan ketika aku mengirim pesan untuk nya, ia belum menjawabnya juga?" Tanya Alkenzie balik.


"Adikmu sedang ada pekerjaan di luar negeri, tapi pagi kami baru mengantarkannya ke bandara. Mungkin saat ini ia tengah fokus akan pemotretan dirinya itu, jadi... Ia tidak sempat membaca ataupun membalas pesan darimu" Sahut Alvaro dengan cepat membalas pertanyaan sang putra untuk sang istri.


"Owhh, yasudah! Kalau begitu kami berdua pergi kedalam" Balas Alkenzie dengan berpamitan kepada semua untuk pergi menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


"Pergilah" Ucap seluruh keluarga dengan membalas ucapan dari Alkenzie.


"Aku juga akan pergi, permisi"


"Pergilah nak"


Setelah itu, Alkenzie pun dengan cepat manarik pelan pergelangan tangan Liora untuk pergi menuju kamarnya. Dan ketika mereka berdua sudah tidak terlihat Zanitha pun tiba-tiba meminta sesuatu kepada Alkenzo sang suami secara terang-terangan.


"Suamiku, bolehkan kau mengambilkan aku sebuah daun yang terdapat di pohon belakang mansion?" Pinta Zanitha secara terang-terangan.


"Daun?" Tanya Alkenzo dengan mengerukan keningnya.


"Apakah ini akan terjadi lagi?" Gumam Alvaro pelan yang mana masih bisa di dengar oleh Queena tapi sayangnya Queena berpura-pura tidak dengar apa yang dikatakan oleh sang suami barusan.


"Daun?"


"Daun apa nak?" Tanya Queena.


"Daun yang sama seperti koleksi kau mommy, daun yang kau pajang itu. Aku menginginkan itu juga" Jawab Zanitha dengan cepat sambil menunjuk kearah sebuah bingkai yang terdapat sebuah daun didalamnya.


Daun yang berada didalamnya itu adalah daun yang pernah Queena minta kepada Alvaro saat dimana Queena tengah mengidam dan mengandung si twins four itu, memang benar! Daun yang Queena inginkan ketika mengidam itu kini menjadi pajangan dan disimpan selama bertahun-tahun oleh Alvaro. Apakah tidak rusak? Tentu saja rusak hanya saja Alvaro tetap ingin memajangnya.