My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Permintaan Alkenzo



Semua orang yang mendengar panggilan Alkenzie dan Arianna pun seketika mengalihkan pandangannya menuju kearahnya! Dan... Ketika mereka semua mengalihkan pandangannya secara bersamaan, mereka pun terkejut dangan menatap pandangan tidak percaya khususnya Maura.


Bagaimana tidak, wajah Alkenzie dan Arianna sama-sama mirip, bahkan sangat-sangat mirip seperti Alvaro kecil bedanya Arianna adalah versi perempuan dari Alvaro saja. Jika Arianna memotong rambutnya seperti Alkenzie mungkin saja mereka tidak akan bisa membedakan keduanya.


"Alkenzo?" Panggil David dengan pelan karena ia takut salah nama.


"Aku Alkenzie uncle" Jawab Alkenzie dengan turun secara perlahan sambil menggenggam tangan Arianna.


"Pegang tangan kakak, mari kita turun bersama" Ajak Alkenzie kepada adiknya itu.


"Baik kakak"


"Ooo-- ahhh.. Maafkan uncle, karena uncle masih belum bisa membedakan kalian. Kata David dengan tersenyum kecut.


"Uncle, kau hanya perlu membedakan kakak Alkenzo dan kakak Alkenzie hanya dari tinggi tubuhnya saja dan juga sifatnya! Kakak Alkenzie tidak tinggi sepeti kakak Alkenzo... dan kakak Alkenzie juga tidak sedingin dan se-datar bahkan se-arogan kakak Alkenzo. Warna mata kakak Alkenzie bahkan berbeda dengan kakak Alkenzo... Kakak Alkenzo matanya bewarna hitam seperti daddy! Kalau kakak Alkenzie seperti mommy bewarna biru" Jelas Arianna panjang kali lebar dengan wajah imutnya. Hingga terlihat gemas dimata seluruh keluarganya.


Siapapun yang melihat wajah imutnya saat ini mungkin saja langsung ingin mencubitnya, seperti semua orang yang ada disana saat ini... hanya saja mereka menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembam Arianna karena mereka takut nantinya Arianna menangis dan tidak ingin bersama mereka lagi.


"Baiklah baby girl, sepertinya uncle sudah bisa membedakannya" Ujar David dengan berjongkok sambil mengacak-acak pelan rambut Arianna.


"Lalu... Bagaimana dengan kau dan Brianna?" Tanya David kembali sambil menaik turunkan alisnya.


"Hanya perlu, mengetahui tingginya saja. Dan warna matanya saja... Arianna memilik warna mata biru dan Brianna bewarna hitam sama seperti kakak Alkenzo dan daddy" Sahut Alkenzie dengan nada sedikit datar.


"Hmmm, sepertinya uncle sudah menghafalnya" Balas David kembali dengan bergantian mengacak-acak rambut Alkenzie.


"Uncle, jika kau suka mengacak-acak rambut kami maka jangan pernah mengacak-acak rambut kakak Alkenzo" Ujar Arianna yang membuat semua orang mengerutkan keningnya.


"Mengapa begitu?" Tanya David lagi-lagi.


"Karena kakak Alkenzo tidak menyukai bila rambunya dibuat berantakan. Bahkan jangan pernah memeluk kakak Alkenzo tanpa izin darinya atau kakak Alkenzo akan marah dan tidak mau berbicara lagi denganmu nantinya" Ucap Arianna kembali.


"Hmmmm, baik... thanks you baby" Kata David dengan tersenyum gemas terhadap Arianna.


"Hmmm, Alzie dan Aria... Kemari dekat uncle! Uncle ingin memperkenalkan kalian dengan keluarga Kalian yang lainnya" Tutur David dengan menarik pelan pergelangan si kembar.


"Aria, Alzie! perkenalkan dia adalah orang tua dari daddy kalian namanya Maura... Kalian harus memanggilnya--" Ucap David terpotong.


"Omah" Jawab Arianna cepat dengan tersenyum manis.


"Benar!"


"Kalian harus memanggilku omah" Celetuk Maura dengan langsung saja berhamburan memeluk tubuh Alkenzie dan Arianna, tanpa sadar Maura-pun menangis.


"Omah, tu vas bien?" Tanya Arianna dengan menatap wajah Maura yang kini sudah mulai melepaskan pelukannya dan dengan buru-buru menghapus air matanya.


...(Omah, apa kau baik-baik saja?)...


"Arianna, mengatakan apa kau baik-baik saja omah" Translate Alkenzie kepada Maura karena sepertinya Maura tidak tau akan bahasa prancis.


"Omah baik-baik saja sayang... Omah hanya bahagia karena bisa melihat kalian" Balas Maura dengan tersenyum sendu.


"Bahasa prancis?" Gumam Zayyann yang masih bisa di dengar oleh David.


"Kakak ipar Queena selama ini tinggal di negara prancis, Jadi wajar saja jika Arianna tiba-tiba memakai bahasa prancis..." Bisik David kepada Zayyann.


"Aku mengerti" Ucap pelan Zayyann.


"Cicitku" Panggil Kiana dengan lirih.


"Dia adalah grendma nenek dari mommy kalian... namanya Kiana, kalian bisa memanggilnya grendma juga sama seperti mommy kalian" Celetuk David kembali menjelaskan karena sepertinya Arianna masih belum mengerti.


"Grendma" Panggil Arianna dengan mengangguk kecil.


"Ohh, Cicitku yang manis..." Lirih Kiana dengan memeluk tubuh Arianna dan Alkenzie secara bergantian.


"Dan dia adalah grendpa, kakek dari mommy kalian juga... Namanya Zian kalian tau bukan kalian harus memanggilnya apa?" Ujar David dengan bertanya.


"Grendpa, sama seperti grendma" Jawab Arianna dengan antusiasnya.


"Good girl" Puji David dengan bangga.


"Dan di samping grendpa itu adalah uncle kalian... namanya Zayyann. Kalian harus memanggilnya uncle juga, dan disebelahnya lagi itu adalah aunty kalian. Istri dari uncle Zayyann namanya Alea kalian harus memanggilnya aunty. Mengerti?" Ucap David kembali.


"Mengerti, Uncle." Balas Arianna dengan mengangguk kecil.


"Lalu... Siapa dia uncle?" Tanya Arianna dengan menunjuk kearah Aldo yang sedari tadi hanya diam saja.


"Namanya Aldo, dia adalah paman kecil kalian" Balas David.


"Paman kecil?"


"Benar, paman kecil"


"Apa sudah semua uncle?" Kata Arianna dengan bertanya kembali.


"Kalian berdua tidak ingin mengenal aunty?" Tanya Sesillia dengan cemberut.


"Aunty?" Panggil Arianna dengan menaikkan satu alisnya.


"Dia juga aunty kalian, namanya Sesillia dia adalah stri uncle. Sekaligus adik dari mommy kalian" Jelas David dengan menarik Sesillia kedalam dekapannya.


"Jangan bermesraan didepan mereka" Celetuk Zayyann dengan menatap malas David dan Sesillia saat ini.


"Tidak masalah uncle, uncle juga bisa bermesraan bersama dengan aunty Alea sama seperti aunty Sesillia" Sahut Arianna dengan imutnya.


"Hahahaha, benarkah?" Tawa Zayyann dengan gemas.


"Aria sayang, bolehkan omah tau dimana kakakmu?" Tanya Maura dengan lembut.


"Kakak Alkenzo sedang berada di dalam ruang medis bersama dengan mommy dan daddy" Jawab Arianna.


...Haaappppp...


"Mari kita pergi kesana" Ajak Zian dengan menggendong tubuh mungil Arianna.


"Mari" Ucap Arianna dengan Antusiasnya sambil mengangguk kecil didalam gendongan Zian.


"Alkenzie, biarkan aunty menggendongmu" Tutur Alea dengan mendekatkan kepada Alkenzie karena ia ingin menggendong tubuh Alkenzie juga.


...Haaappppp...


Tanpa menjawab kembali, Alkenzie-pun langsung saja mengulurkan tangannya sebagai tanda setuju bahwa dirinya menerima permintaan Alea yang ingin menggendon-nya.


"Good boy" Puji Alea dengan gemas.


...Skippppp......


...Ruang Medis...



"Mommy, sudah... Aku sudah tidak kuat menampung bubur ini" Pinta Brianna dengan menggelangkan kepalanya kecil. Karena sedari tadi Queena terus saja menyuapinya makan kedalam mulutnya dengan bubur.


"Baiklah... Kalau begitu! Minumlah... Agar buburnya bisa turun dengan cepat kedalam perutmu" Ujar Queena dengan memberikan air putih kepada Brianna.


"Terimakasih mommy" Ucap Brianna, lalu... Iapun mulai meminumnya setelah itu memberikannya kembali kepada Queena.


"Alzo" Panggil Queena dengan tersenyum manis menatap wajah tampan sang putra sambil memainkan kedua alisnya itu.


'Firasatku tidak enak' Batin Alkenzo.


"Apaa? Aku tidak ingin" Tanya Alkenzo lalu setelah itu iapaun langsung saja menjawab panggilan dari Queena.


"Mommy mu bahkan belum mengatakan sesuatu boy. Hahahaha" Tawa Alvaro kecil karena melihat rekasi dari sang putra yang sangat imut menurutnya.


"Mommy pasti akan menyuruhku untuk menghabiskan bubur hambar itu, aku sudah tau maksud dari tatapan mommy barusan" Jawab Alkenzo datar.


"Hahahaha, benarkah sayang?" Tanya Alvaro kepada Queena dengan tertawa.


"Yaa, Alzo selalu bisa menebak apa yang aku inginkan" Jawab Queena dengan mengangguk kecil.


"Karena ekspresi wajahmu sangat mudah ditebak bagiku" Balas Alkenzo kembali.


"Mommy, biarkan daddy saja yang menghabiskan bubur itu... Lagi pula daddykan juga sakit sama sepertiku! Kalau kakak Alzo tidak kan" Tutur Brianna dengan memberikan ide kepada Queena, dan itupun dibalas anggukan kecil oleh Queena sebagai tanda setuju.


Sedangkan Alvaro yang mendengar ide dari putrinya itu seketika membulatkan kedua matanya, karena merasa bahwa putrinya kini tengah membela sang kakak dan menumbalkan dirinya.


"Baiklah, Daddy buka mulutmu" Ujar Queena dengan tersenyum manis. Bila ada anak-anaknya Queena akan memanggil Alvaro dengan kata 'Daddy' tapi jika hanya berdua saja ia akan memanggil Alvaro Seperti biasa yaitu dengan kata 'Suamiku'.


"Mommy, bukankah kau tau bahwa daddy tidak menyukai bubur? Jadi... Berhenti menyogokan sendok yang berisi bubur ini dari mulut daddy" Kata Alvaro dengan tersenyum kecut.


"Tidakkk! Daddy tidak bisa menolak... Mommy selalu mengatakan bahwa tidak baik jika kita tidak menghabiskan makanan. Atau nanti makanan ini akan menangis" Tegas Brianna dengan menunjuk ekspresi seperti kesal.


"Daddy akan bertanya, pertama-tama ini bubur buat siapa? Dan siapa yang pertama memakan bubur ini?" Tanya Alvaro kepada Sang Putri.


"Tentu saja punya Bri--" Kata Brianna dengan cepat Membalasnya tapi ketiak mengatakan bahwa itu pertama miliknya iapun menjadi diam seketika.


"Hmmmm?" Dehem Alvaro dengan menaikkan satu alisnya sambil menatap Wajah Brianna.


"Hehehe, punya Bria... Tapikan Bria sudah kenyang jadi... Daddy yang harus melanjutkannya! Benar bukan mommy?" Balas Brianna dengan cengenges.


"Sudahlah, biarkan mommy yang menghabiskannya nanti" Relai Queena dengan menggelangkan kepalanya pelan.


"Mommy, ada yang aku ingin katakan padamu" Tutur Alkenzo dengan menatap wajah Queena.


"Hmmmm, Katakan! Apa yang kau ingin katakan Mommy ingin mendengarnya" Ujar Queena dengan berjongkok di depan Alkenzo.


"Bisakah kau selalu seperti ini" Kata Alkenzo.


"Maksudmu Alzo? Mommy tidak mengerti" Tanya Queena dengan mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan perkataan dari Alkenzo tadi.


"Bisakah kau tidak menangis kembali? Seperti sebelumnya. Aku ingin selalu melihatmu seperti ini tidak dengan menangis seperti sebelumnya. Kau terlihat cantik jika kau tersenyum seperti ini, dan kau terlihat jelek jika kau menangis bagaikan anak kecil" Ucap Alkenzo.


Queena yang mendengar ucapan dari Alkenzo-pun seketika terdiam dengan memandang dalam wajah sang putra yang benar-benar sangat mirip seperti Alvaro suaminya itu. Tidak ada yang tidak mirip dengan Alvaro semuanya sangat-sangat mirip! setelah terdiam cukup lama, Iapun akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Tentu saja, mommy pasti akan selalu seperti ini kedepannya... bila kau tidak menyukai sifat mommy yang kemarin kau bisa langsung mengatakannya dihadapan mommy" Jawab Queena dengan tersenyum manis.


"Berjanjilah satu hal, kalau kau tidak akan seperti sebelumnya" Ujar Alkenzo.


"Mommy berjanji dan tidak akan mengingkari" Balas Queena.


"Mommy, dimana kakak Aria dan kakak Alzie?" Tanya Brianna dengan melihat-lihat kearah sekitarnya.


"Kami disini Bria" Sahut seseorang yang tak lain adalah Alkenzie dan Arianna. Queena, Alkenzo dan Brianna-pun seketika mengalihkan pandangannya kearah pintu.


...Deggggg...


"Anna" Panggil Kiana, Zian dan Zayyann secara bersamaan dengan lirih.


"Gg-grendpa... Gg-rendma... U-uncle..." Panggil Queena dengan terbata-bata karena dirinya tiba-tiba saja ingin menangis.