My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Keterkejutan semua keluarga



"Bila saat itu kau tidak membawaku pulang bersamamu ke mansionmu. Mungkin kau tidak akan pernah mengenalku.. dan mungkin kau tidak akan pernah mengalami seperti ini hikssss... Sayangnya tuhan malah mempertemukan kita" Lirih Queena pelan dengan menggenggam tangan Alvaro sambil mengecupnya pelan.


...Cuppppp...


"Bila saat itu kau dan aku tidak saling menaruh rasa... Mungkin sekarang aku dan kau tidak akan pernah saling seperti ini hikssss... Ke salahan terbesarmu adalah dengan membawaku pulang ke mansionmu saat itu... Hikssss... Dan kesalahan terbesarku adalah kembali datang dengan menutupi identitas hikssss... hikssss... Bila waktu bisa diputar. Aku pasti sudah sangat lama memutarnya, tapi sayangnya waktu tidak bisa diputar" Isak Queena kecil.


"Hikssss... Jika janjiku saat itu selalu aku ingkari... Mungkin kali Ini janjiku akan aku tepati, di hadapan putri kita. Aku Queena Angelina Kusuma berjanji kepada Alvaro Kenan Dirgantara bahwa aku tidak akan pernah kembali meninggalkanmu. Meski apapun tiu yang mengharuskan untuk kita berpisah, maka aku akan tetap selalu di sisimu apapun itu. Aku berjanji akan selalu bersamamu... Kapanpun dan dimanapun!! Hikssss... aku berjanji akan selalu mencintaimu dalam setiap hembusan nafasku. Baik suka maupun duka... Aku akan menjagamu dan merawatmu dengan baik hikssss... Aku tidak akan membiarkanmu kembali terluka hanya karen diriku, jika takdir tidak bisa diubah. Maka aku yang akan mengubah diriku! Mulai hari ini... Hikssss... hikssss..." Ucap Queena pelan dengan kembali mengecup pelan tangan Alvaro.


"Aku mencintaimu! Akan selalu sangat mencintaimu" Kata Queena lirih.


"Dan aku juga mencintaimu... Aku juga akan selalu mencintaimu sampai hembusan nafas terakhirku" Balas Alvaro dengan perlahan membuka matanya.


Sebenarnya Alvaro sudah sadar ketika dirinya baru saja selesai di jahit kembali lukanya, Tapi.. ia berpura-pura belum sadarkan diri karena ia penasaran bagaimana rekasi Queena saat tau dirinya sangat terluka tanpanya. Bahkan Alvaro sudah mendengar semuanya dari ketika David menceritakan tentang kehidupannya selama lima tahun terkahir ini sampai janji Queena barusan.


Lalu... David tadi pergi bukan karena apa-apa, David pergi karena tadi tidak sengaja melihat jari Alvaro bergerak seperti memerintahkan dirinya untuk keluar dan membiarkan dirinya bedua bersama dengan Queena saja. Maka dari itu tanpa basa basi lagi David-pun pergi.


"Kaa-kau su--sudah bangun? Hikssss... App-ap kau mendengar semuanya hikssss..." Tanya Queena dengan masih terisak.


"Aku sudah mendengar semuanya... Bisakah kali ini kau menepati setiap ucapanmu barusan" Jawab Alvaro dengan pelan.


"Tentu saja"


"Hikssss... Kali ini.. aku akan benar-benar menepati janjiku, perkataanku, ataupun ucapanku" Balas Queena dengan tersenyum bahagia lalu berhamburan memeluk tubuh Alvaro yang selama ini ia rindukan.


"Maafkan aku suamiku" Lirih Queena.


"Aku sudah memaafkanmu sejak awal... Tolong jangan mengulangi kesalahmu kembali, dan aku juga tidak akan mengulangi kesalahanku kembali" Bisik Alvaro.


...Cuppppp...


"Terimakasih" Jawab Queena dengan mengecup pelan bibir Alvaro, dan ketika ingin dilepas tiba-tiba saja tangan Alvaro menarik teguk lehernya dan membalas kecupan manis dari Queena tadi.


...Cuppppp...


"Ekhemmm. Mommy" Dehem seseorang dengan memanggil Queena.


Alvaro dan Queena yang mendengar suara deheman seseorang langsung saja melepaskan ciumannya dan menatap seseorang yang datang tersebut.


"Alzo?" Panggil Queena dengan terkejut karena melihat putranya yang kini tengah berada didepan pintu dengan menatap wajahnya dengan tangan yang berada didalam saku kedua celananya. Sama persis seperti Alvaro vibest-nya.


"Akhirnya kau menurunkan egomu" kata Alkenzo datar.


"Masuklah" Titah Alvaro dengan tersenyum kecil karena mendengar perkataan putranya itu.


"Ada apa?" Tanya Queena dengan menaikkan satu alisnya.


"Apa aku tidak boleh datang kesini? Apa aku menggangu momen kalian" Tanya balik Alkenzo dengan manaikkan satu alisnya pula.


"Tidak" Jawab Queena.


"Iyaa" Jawab Alvaro secara bersamaan dengan Queena.


"Kau sangat to the poins daddy" Balas Alkenzo dengan tersenyum kecil.


"Ohh tidak! Mimpi apa aku kemarin malam?" Ucap pelan Queena dengan terbengong karena melihat senyuman kecil Alkenzo barusan. Karena dirinya sudah lama tidak melihatnya dan hari ini akhirnya ia bisa melihatnya.


Bagi Queena, senyuman Alkenzo putra pertamanya itu adalah sebuah hal yang langkah! Karena selama ini Alkenzo selalu datar, dingin dan arogan melebihi Alvaro sang daddy dan tidak pernah menunjukkan raut wajah senyuman kepada siapapun. Sepertinya kali ini ia mendapatkan hadiah karena bisa melihat senyuman putranya itu walaupun hanya terlihat kecil mengukir bibirnya.


"Kau kenapa?" Tanya Alvaro dengan kebingungan melihat ekspresi wajah Queena yang sangat aneh menurutnya.


"Kau tau? Selama ini putramu ini tidak pernah tersenyum sekalipun kepada siapapun... Dan kali ini ia tersenyum... Sangat manis" Jawab Queena dengan tersenyum bahagia.


"Kau terlalu berlebihan mommy" Balas Alkenzo dengan menatap malas sang mommy.


"Iblis kecil ini" Gerutu Queena pelan.


"Daddy, bagaimana kondisimu? Sudah membaik" Tanya Alkenzo kepada Alvaro yang kini tengah berusaha untuk duduk diatas ranjangnya. Dan Queena yang melihat itu langsung saja membantu Alvaro.


"Terimakasih"


"Sama-sama suamiku"


"Daddy sudah sangat baik boy, berkat mommy mu" Ujar Alvaro dengan mengangguk kecil.


"Kapan mommy menjagamu? Mommy hanya menyusahakan mu" Tutur Alkenzo dengan pedas, Queena yang mendengar itu bukannya marah justru malah mengangguk kecil sebagai tanda setuju.


"Benar, yang dikatakan Alzo benar... Kapan kau mulai membaik karena ku?" Tanya Queena dengan menunjuk wajah bingungnya.


"Barusan"


"Dalam mimpimu sepertinya" Ucap Queena pelan.


"Emmmm"


Alvaro, Queena dan Alkenzo yang samar-samar mendengar suara Brianna langsung saja melihat kearah Brianna. Dan benar saja kini Brianna mulai sadarkan diri perlahan-lahan.


"Bria" Panggil Queena dengan mendekat kearah Ranjang Brianna.


"Mommy disini sayang..." Jawab Queena dengan berbisik.


"Daddy..." lirih Brianna kembali dengan memanggil sang daddy.


"Daddy, disamping mu girl" Jawab Alvaro yang ikut mendekat kearah Brianna juga.


"Suamiku kau." Kata Queena dengan terpotong.


"Apa?" Tanya Alvaro.


"Mommy, daddy, kakak..." Panggil Brianna yang kini sudah membuka kedua matanya dan menatap satu persatu yang ada disekitarnya.


"Iyaa, sayang ini mommy" Balas Queena kembali dengan tersenyum bahagia.


"Apa kau merasakan sesuatu girl?" Tanya Alvaro kepada Brianna.


"Tidak ada daddy, aku hanya merasa tubuhku sedikit lebih baik saat ini" Jawab Brianna pelan.


"Mommy bahagia mendengarnya" Lirih Queena dengan mata berkaca-kaca.


"No, mommy... Don't cry" Kata Brianna dengan menggelengkan kepalanya kecil.


"Mommy doesn't cry" Balas Queena dengan terburu-buru menghapus air matanya yang sempat ingin keluar.


"Mommy" Panggil Arianna dan Alkenzie secara bersamaan yang baru saja datang.


"Iyaa sayang?"


...Grepppp...


"I Miss you mommy" Kata Arianna dengan berhamburan memeluk tubuh Queena.


"Hanya beberapa jam mommy tidak ada disampimu! Kau sudah merindukan mommy" Tanya Queena dengan terkekeh geli.


"Tentu saja, bukan beberapa jam mommy. Tapi seharian... Pagi-pagi aku sudah pergi dan siang aku sampai kesini, lalu... Sore hari aku baru bisa bertemu denganmu kembali" Jawab Arianna dengan cemberut.


"Mengapa kau sangat menggemaskan! Hmmmm" Tutur Queena dengan mencubit pelan pipi Arianna karena saking gemasnya terhadap putrinya itu.


"Mommyyyy" Kesal Arianna.


"Hahahaha, baiklah maafkan mommy" Ucap Queena dengan tersenyum manis.


"Bagaimana kondisimu Bria? Apa kau sudah baik?" Tanya Alkenzie kepada Brianna.


"Sudah kakak. Sudah lebih baik" Balas Brianna pelan.


"Briaaa, kau tau? Kau sekarang sudah bisa bermain sepertiku. Kau tidak akan pernah dilarang lagi oleh Mommy... Benarkan mommy?" Kata Arianna berhamburan mendekat kearah Brianna.


"Tentu saja, tapi Bria masih butuh beberapa waktu untuk memulihkan kondisinya" Tutur Queena dengan membalas perkataan putrinya itu.


"Tidak masalah mommy" Jawab Twins Anna secara bersamaan.


"Good girl" Puji Alvaro dnegan tersenyum bahagia karena melihat keakraban putra putrinya.


"Daddy, terimakasih" Kata Brianna dengan tersenyum manis kepada Alvaro.


"Sama-sama girl" Balas Alvaro kembali dengan mengelus pelan puncak kepala Brianna.


...Ruang Tamu...



"Nakk, apa kami sudah bisa bertemu dengan Anna dan anak-anaknya?" Tanya Maura kepada David karena dirinya mulai tidak sabar untuk bertemu kelimanya.


"Sepertinya sudah mommy, karena kata penjaga yang berada di ruang medis mengatakan bahwa sekarang kakak ipar tengah menyuapi putri bungsunya yang bernama Brianna yang habis melakukan operasi tadi" Jawab David dengan santainya.


"Operasi?" Terkejut semua orang yang mendengar jawaban dari David tadi. Karena mereka memang belum diberi tahu tentang Alvaro dan putrinya Brinna yang baru saja melakukan operasi sumsum tulang belakang.


Mereka hanya tau bahwa saat ini Alvaro berada diruang medis karena luka jahitan diperutnya terbuka saja, tidak dengan tentang operasi sumsum tulang belakang tersebut.


"Yaa, Alvaro dan putrinya baru saja melakukan operasi sumsum tulang belakang, karena Brianna saat itu telah mengalami penyakit Leukemia bawaan sejak lahir. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan Brianna hanyalah melakukan transumsi sumsum tulang belakang... Karena Alvaro tidak mau kehilangan Brianna dan tidak mau melihat Brianna terus-menerus menahan sakit. Jadi... Alvaro-pun langsung saja menyuruh seluruh dokter terbaik luar negeri untuk datang kemari dan meminta mengoperasinnya" Jelas David.


"Lalu.... Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Kiana dengan khawatir.


"Sudah membaik, hanya butuh waktu untuk memulihkan kondisinya saja" Jawab David kembali.


"Syukurlah" Balas Semua orang dengan lega.


"Uncle" Panggil Seseorang yang tak lain adalah Alkenzie yang kini tengah berada diatas anak tangga bersama dengan Arianna.


...Deggggg...


...Deggggg...