My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Queena ngambek



...Taman...


Queena'pun terdiam dengan memandang orang-orang yang tengah berlalu lalang di hadapannya saat ini, dengan terduduk dibawah pohon yang besar dan jangan lupakan dirinya yang tengah menangis saat ini.


"Hikssss... Kenapa setiap tindakan yang ku ambil selalu salah" Isak Queena dengan melamun.


"Sekarang suamiku sedang marah denganku! Apa yang harus aku lakukan, hikssss..." lirih Queena yang bersusah payah menahan isak tangisnya agar orang-orang tidak melihat kearahnya dengan tatapan aneh.


"Aku tidak akan pulang jika suamiku Alvaro masih marah denganku, hikssss... Ini semua salahku! Kenapa aku harus menutupi kebenaran tentang mira padanya" Lirih Queena kembali.


'Bagaimana jika Varo mengatahui fakta tentang diriku? Aku pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa nantinya jika Varo mengatahui rahasia'ku. Apa yang harus aku lakukan, akankah ia lebih kecewa dan marah dari hari ini setelah suatu saat ia tau mengenai diriku' Batin Queena.


"Ku harap Alvaro bisa memaafkan aku"


"Queena" Panggil seseorang.


"Kau disini?"


"Hmmmm, lalu kau? Mengapa kau disini sendiri dan... Kenapa kau menangis seorang diri disini" Tanya orang tersebut.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang merindukan Ayah dan bunda'ku saja. Lalu kau sendiri mengapa bisa berada disini?" Jawab Queena lalu menghapus sisa air matanya.


"Tentu saja aku bisa berada disini karena inikan taman. Tempat umum yang bisa di datangi setiap orang" Kata orang tersebut dengan terkekeh.


"Kau tidak pernah berubah" Ucap Queena dengan tertawa kecil.


"Hmmmm, kau benar Anna! Entahlah aku tidak yakin nantinya akan ada yang menyukaiku atau tidak dengan tingkah ku yang seperti ini. Huhhhh" Tutur orang tersebut dengan membuang nafasnya secara kasar.


"Percayalah Ran! Aku yakin suatu saat nanti akan ada wanita yang mencintaimu begitupun sebaliknya, tapi kau harus bersabar. Dan jika kau sudah mendapatkan wanita'mu nantinya aku hanya berpesan bahwa kau tidak boleh menyakitinya" Terang Queena dengan memandang orang tersebut yang tak lain adalah Karan Alexander.


"Itu sudah pasti Anna! Kau tau bukan aku ini bukan tipe laki-laki yang suka menyakiti wanita, aku lebih suka menyayangi dan memanjakan wanita salah satunya kau" Jawab Karan tertawa kecil.


"Kau benar. Tapi kau harus ingat bahwa seorang laki-laki sejati tidak akan pernah tau caranya menyakiti seorang wanita, apalagi membentaknya, memukulnya, atau menduakannya, wanita bukanlah mainan jika sudah bosan lalu dibuang begitu saja bagaikan sebuah sampah. Tapi Wanita adalah seorang ratu dimana seorang pria harus melindunginya, dan menjaganya dengan baik bukan malah sebaliknya" Jelas Queena.


"Kau sangatlat benar Anna, wanita adalah seorang ratu dimana seorang pria harus melindunginya dan menjaganya serta memanjangkan dengan baik! Bukan malah menyakitinya terutama hatinya. Itu tidaklah benar, kau tau Anna? aku sangatlah benci jika melihat seorang wanita disakiti oleh seorang pria. Apalagi itu didepan mataku sendiri" Kata Karan.


"Spesies langkah" Canda Queena.


"Aku bukan hewan Anna, aku manusia" Kesal Karan.


"Aku tidak mengatakan bahwa kau hewan? Tapi sepertinya kau sendiri yang mengatakannya... Bukan begitu?" Balas Queena dengan tertawa kecil.


"Sepertinya"


"Sudahlah, terimakasih telah menemaniku Karan! Kalau begitu aku pergi dulu, dahh" Pamit Queena.


"Kau ingin kemana?"


"Pulang ke mansion karena aku lelah, aku butuh istirahat" Balas Queena.


"Berhati-hatilah" Tutur Karan.


"Sama-sama Anna"


"Aku sangat tidak suka jika melihatmu bersedih Anna, sebenarnya kita disini bukanlah suatu kebetulan Anaa, tapi aku tadi tidak sengaja mengikutimu" Gumam Karan dengan memandang mobil Queena yang sudah terlihat pergi menjauh.


...Flashback...


"Huuuffff, sedang apa Anna sekarang? Aku harus buat perhitungan dengannya. Bisa-bisanya ia membatalkan pertemuan yang sudah aku buat susah-susah untuknya dan dengan begitu mudahnya tanpa memikirkan diriku, ia membatalkan nya yang mana aku telah menunggu begitu lama dirinya. Hingga membuatku harus meluangkan waktu untuknya, bahkan saat jadwalku tengah sangat padat" Gerutu Karan yang kesal dengan Queena saat itu, dan sekarang ia tengah menatap bangunan Kusuma Grup dari dalam mobilnya itu dan berniat untuk turun tapi tiba-tiba saja ia urungkan niatnya kembali.


"Bukankah itu Anna? Kenapa ia berlari dan... Menangis? Kenapa Anna menangis?" Tanya Karan pada dirinya sendiri karena melihat Queena berlari keluar dari kantornya dan pergi masuk kedalam mobilnya yang entah mau kemana.


Tanpa berfikir panjang Karan'pun langsung saja mengikuti mobil Queena dari belakang hingga sampai ditaman iapun berhenti, karena melihat Queena yang menghentikan mobilnya dan pergi berjalan menuju bawah pohon lalu menangis.


"Siapa yang membuatmu menagis Anna?" Gumam Karan lalu turun dari mobilnya untuk menghampiri Queena yang tengah menangis.


"Hikssss... Kenapa setiap tindakan yang ku ambil selalu salah" Isak Queena dengan melamun.


"Apa maksud dari ucapan Anna?" Kata Karan pelan dengan bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari Queena.


"Sekarang suamiku sedang marah denganku! Apa yang harus aku lakukan, hikssss..." lirih Queena yang bersusah payah menahan isak tangisnya agar orang-orang tidak melihat kearahnya.


"Jadi... Anna menangis karena sedang bertengkar dengan Alvaro? Dan Alvaro sedang marah dengan Anna?" Lirih pelan Karan.


"Aku tidak akan pulang jika suamiku Alvaro masih marah denganku, hikssss... Ini semua salahku! Kenapa aku harus menutupi kebenaran tentang mira padanya" Lirih Queena kembali.


"Mira? Siapa orang yang bernama Mira? Kebenaran apa? Memangnya apa yang sedang disembunyikan Anna hingga membuat Alvaro marah padanya?" Tanya Karan yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Ku harap Alvaro bisa memaafkan aku"


"Queena" Panggil Karan.


...Flashback off...


"Hufff, sebaiknya aku tidak boleh terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga Anna! Biarkan Anna menyelesaikan masalahnya sendiri, aku yakin Anaa pasti bisa melewatinya" Kata Karan dengan menghela nafasnya.


"Sebaiknya aku pergi saja! Lagi pula untuk apa aku masih berada disini, bahkan Anna saja sudah pergi... Ck, aku melupakan tentang yang kemarin nanti saja aku berbuat perhitungan'nya dengan Anna karena sekarang bukan waktunya yang tepat untuk berbuat perhitungan" Kesal Karan lalu pergi menuju mobilnya lalu setelah itu iapun langsung menancapkan gas mobilnya untuk pergi kembali ke perusahaannya.


...Sedangkan disisi Alvaro......


"Dimana kau Queena" Gumam Alvaro yang pergi mencari Queena dengan mobilnya.


"Ck, harusnya aku tidak membentaknya saat itu! Aku yakin pasti dia marah denganku" Lirih Alvaro yang merasa bersalah.


"Tunggu.... Kenapa Queena harus marah? Seharusnya kan aku yang marah padanya lalu kenapa Queena.... Ckk. Sial! Sial! Sial!" Kesal Alvaro pada dirinya sendiri hingga memukul-mukul stir mobil miliknya.


"Mengapa kau sangat bodoh Alvaro"


"Hufff, aku akan menelpon Queena" Kata Alvaro lalu memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan setelah itu iapun langsung saja mengeluarkan hendphone miliknya untuk menelpon no Queena sang istri.