My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kambuhnya penyakit Alvaro



Alvaro pun terdiam mendengar cerita yang David ceritakan padanya, karena entah mengapa ia merasa salah satu cerita yang David ceritakan sama dengan Cerita seseorang. Alvaro'pun menjadi pusing dibuatnya hingga tanpa sadar penyakitnya kambuh kembali setelah sekian lama.


"Arghhhhhh" Teriak Alvaro dengan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit karena mendapat gambaran-gambaran hitam yang tidak jelas dikepalanya.


..."Apa penyebab mommy mu meninggal" Tanya Alvaro penasaran....


..."Al, Jangan berbicara sembarangan" Ujar Maura dengan menasehati putranya itu....


..."Dibunuh" Jawab Angel to the poins dengan cepat hingga membuat Alvaro dan Maura yang mendengar jawaban darinyapun terkejut setengah mati dibuatnya....


..."Apa kau tau siapa yang membunuh bundamu?" Tanya Alvaro kembali yang kian semakin penasaran....


..."Al"...


..."Namanya Mira... Dia adalah kakak angkatku yang di bawa masuk kedalam kediamanku oleh Ayahku dari jalanan" Jawab Angel dengan menunjuk raut wajah yang penuh dengan kebencian terhadap Mira....


"Arghhhhhh!!"


"Mira? Dibunuh, Angel! ARGHHHHHH..." Teriak Alvaro kesakitan dengan terus memegangi kepalanya.


"Al!!"


"Al dimana obatmu? Katakan padaku" Khawatir David terhadap Alvaro.


...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk...


"David!!"


"David tolong buka pintunya" Teriak Queena dari luar karena tidak sengaja mendengar teriakkan Alvaro yang begitu keras, entahlah mungkin Alvaro lupa menyalakan kedap suara ruangannya hingga Queena bisa mendengar teriakannya.


"Bagaimana ini!" Gumam David kebingungan karena di satu sisi ia ingin mengambil obat Alvaro, di satu sisi lagi Queena meminta untuk dibukakan pintunya.


...Ceklekkkk...


"Al!!" Teriak Queena dengan berlari kearah Alvaro yang tengah menahan sakit yang luar biasa di kepalanya.


"AAAAAAAAAA!!"


"Sialan! arghhhhhh" Jerit Alvaro dengan bersusah payah menahan sakit yang luar biasa di kepalanya.


"Katakan dimana obatmu? Kumohon cepat katakan" Kata Queena dengan khawatir.


"Kakak ipar ini obatnya, cepatlah minum obatmu Al" Sahut David dengan datang membawa obat dan air minum untuk Alvaro.


Alvaro pun dengan cepat mengambil obat yang berada ditangan David lalu meminumnya, setelah meminumnya iapun menjadi sedikit tenang tidak seperti tadi.


"Bagaimana kau bisa seperti ini?" Lirih Queena dengan bertanya kepada suaminya itu.


"Keluarlah Anna! Ada yang aku ingin bicarakan kembali dengan David!" Kata Alvaro dengan lembut.


"Tapi--"


"Keluarlah... Aku tidak apa-apa" Tegas Alvaro, lalu Queena'pun pergi dengan berat hati karena perintah dari suaminya itu.


"Nyalakan kedap suara ruangannya, David!" Tiyah Alvaro pada David dan itupun disetujui oleh David.


Alvaro'pun kembali duduk di kursi kebesarannya dengan perlahan karena ia masih sedikit lemas karena tadi akibat penyakitnya yang kambuh secara tiba-tiba.


"Sudah" Balas David.


"Apa kau benar-benar sudah tidak apa-apa Al?" Tanya David dengan memastikan kembali.


"Hmmmm, lanjutkan David" Titah Alvaro kembali.


"Sudah Al... Hanya segitu yang aku dapatkan" Jawab David.


'Maaf Al, ada beberapa cerita yang aku singkat karena aku yakin ka Queena masih belum memberitahukan padamu tentang identitasnya. Aku hanya ingin ka Queena sendiri yang menceritakan tentang identitasnya padamu secara langsung' Batin David.


"Baiklah"


...*****...


...Kamar Alqueen...



"Bagaimana jika ia berbohong?" Gumam Queena dengan mundur-mandir tidak jelas.


Karena bagaimana pun juga ia benar-benar sangat khawatir terhadap kondisi Alvaro suaminya itu, ia tidak tau apa yang di lihat Alvaro hingga membuat Alvaro menjerit kesakitan.


"Apakah ingatan Alvaro sudah kembali?" Gumam pelan Queena.


'Bagaimana jika ia? Apa yang akan terjadi denganku? Apakah Alvaro akan memaafkan ku, memaafkan karena aku sudah menyembunyikan kebenaran tentangku? Bagaimana jika ia kecewa denganku? Bagaimana jika ia--' Batin Queena.


...Ceklekkkk...


"Apa kau baik-baik saja suamiku?" Tanya Queena kembali karena melihat siapa yang datang membuka pintu Kamarnya.


"Aku baik-baik saja! Tidak perlu mengkhawatirkanku" Jawab Alvaro dengan terrsenyum lembut lalu memeluk tubuh Queena secara tiba-tiba hingga membuat Queena kebingungan dengan tingkahnya.


"Apa kau tidak berbohong?"


"Tidak!"


"Kau kenapa?" Tanya Queena kebingungan, karena Alvaro tiba-tiba memeluk dengan erat.


"Tidak ada! Aku hanya ingin seperti ini, sebentar" Jawab Alvaro dengan menutup kedua matanya.


'Ada apa dengan Varo?' Batin Queena.


...15 menit kemudian......


"Suamiku?" Panggil Queena pelan.


"Hmmm"


"Apa kau baik-baik saja? Mengapa aku merasa kau ini sangat aneh" Tanya lagi dan lagi Queena pada Alvaro. entah mengapa mulutnya itu tidak ingin berhenti bertanya.


"Aneh? Aneh kenapa" Tanya balik Alvaro dengan melepaskan pelukannya secara perlahan lalu memutar tubuh Queena agar menghadap kearahnya.


"Aneh saja, karena kau tidak biasanya seperti ini" Balas Queena.


"Apa ini sakit?" Tanya Alvaro dengan mengusap pelan pipi Queena yang bekas tamparan tadi.


"Sudah tidak"


"Kau tidak berbohong?"


"Tentu saja tidak"


"Biarkan ku obati" Tutur Alvaro.


"Tidak perlu suamiku, aku sudah tidak apa-apa"


...*****...


"Sial!"


"Awas kau Angel! Aku pasti akan membalas dua kali lipat dari apa yang kau lakukan ini padaku" Geram Mira dengan menatap dirinya di pantulan kaca rias yang berada didalam apartemen miliknya itu.


"Jika bukan karena bunda Zia dan ayah Albert tidak melindungi'mu saat itu, mungkin saja sekarang hidupku tidak akan jadi seperti ini! Tapi... Karena kau! Karena kau aku menjadi salah membunuh orang, hehhhh" Kata Mira dengan memancarkan api kebencian yang begitu dalam terhadap Queena.


Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah terhadap dirinya mengenai empat belas tahun yang lalu, dimana ketika dirinya tidak sengaja membunuh Zia dan juga Albert. Ia sebenarnya tidak ingin seperti ini terus-menerus tapi karena rasa bencinya terhadap Queena, maka mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur seperti sekarang ini.


Dimana dirinya yang menjadi buronan polisi karena melarikan diri hanya untuk membalas dendam terhadap Queena, lalu dimana sekarang dirinya hidup bergantung pada Amanda saja. Ia bahkan tidak mempunyai uang sepeserpun saat itu, tapi ketika ia mengenal Amanda iapun perlahan berubah kembali menjadi seperti sebelumnya dimana ketika dirinya belum mengenal keluarga Kusuma.


Bahkan Mira sudah bertemu kembali dengan ibu kandungnya ketika dirinya baru terbebas (Melarikan diri) dan saat itu ia tidak sengaja melihat Mara lebih tepatnya ibu kandung Mira masuk kedalam sebuah kontrak yang kecil dan kumuh, bahkan Mira juga tidak sengaja mendengar bahwa Mara terkena penyakit menular akibat *** bebas yang ia lakukan, Mara divonis terkena penyakit gonere ketika dua tahun yang lalu.


Dan Mira yang mendengar itupun menjadi sangat bahagia, karena dirinya tidak usah capek-capek lagi untuk membuat ibu kandungnya menderita. Karena dengan penyakitnya saat ini ia sangat yakin bahwa Mara ibu kandungnya itu pasti sudah sangat menderita karena penyakitnya.


Mara sendiri sebenarnya tidak tau bahwa putrinya itu sudah mengetahui keberadaannya, bahkan penyakitnya karena saat itu Mira diam-diam mengikutinya dan bukan bertemu secara bertatapan dengannya.


"I hate you so much Angel! I will finish my revenge soon" Lirih Mira dengan tersenyum sinis menatap dirinya sendiri.


"Tunggulah dewi kematianmu! Bukan hanya kau saja tapi juga calon anakmu itu. Hahahaha" Tawa jahat Mira.