My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kembali bertemu



...Tinnn.. Tinnn......


"Siapa yang datang?" Gumam Maura dengan bertanya-tanya, lalu Kemudian iapun berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang.


Begitu juga dengan Sesillia yang senantiasa mengikuti Maura dibelakang. Karena dirinya juga yang ikut penasaran siapa yang datang berkunjung ke mansion Alqueen saat ini.


"Aunty? Aldo, uncle, grendpa, grendma" Panggil Sesillia dengan kebingungan.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Alea dengan memeluk tubuh Sesillia.


Yaa, jadi yang datang ke mansion Alqueen adalah keluarga Atmadja. Sudah jelas mereka datang kemari karena mendapat pesan dari Queena saat itu, makanya mereka buru-buru langsung terbang dan datang ke negara los angeles.


"Dimana anak-anaknya Queena?" Tanya Zayyann dengan langsung to the poins bertanya. Tapi sepertinya Maura dan Sesillia yang mendapat pertanyaan seperti itu justru malah mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan yang di katakan Zayyann.


Jelas saja mereka bingung, karena mereka berdua saja bahkan belum bertemu dengan putra putrinya Queena, tapi Zayyann sudah mempertanyakan dimana putra dan putrinya Queena.


"Anak-anak Anna?" Tanya Maura balik karena dirinya memang tidak tau menahu soal kepulangan cucunya itu.


"Benar, Anna tiba-tiba saja mengirim pesan kepada kami dan mengatakan bahwa kami harus menyambut kedatangan anak-anaknya. Lalu... Diaman mereka sekarang?" Celetuk Zian.


"Aku sendiri bahkan tidak tau bahwa cucu-cucuku akan kembali! Karena... Hanya Anna saja yang datang kemari barusan, belum lama di bawa pulang oleh anak buahnya putraku dalam keadaan pingsan" Balas Maura.


"Anna? Anna benar-benar kembali" Sahut Kiana dengan bahagia karena mendengar bahwa cucu pertamanya telah kembali.


"Benar, anak buah putraku yang bernama Ray dan Rey tadi datang dengan mengantarkan Anna kedalam kamarnya. Hanya saja... Saat ini Anna sedang tidak sadarkan diri dan tidak di izinkan oleh Alvaro untuk melihat dirinya saat ini" Ujar Maura dengan mengangguk kecil.


"Sebaiknya kita masuk terlebih dahulu" Ajak Sesillia yang diangguki semuanya, lalu... Mereka semua pun pergi keruang tamu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Zian dengan menatap wajah Maura.


"Sepertinya sangat baik" Jawab Maura.


"Kami ingin menemuinya" Kata Zayyann dengan berniat untuk bangun dari duduknya.


"Kau tidak akan bisa menemui Anna saat ini nakk, aku sudah mengatakannya padamu barusan bukan" Ucap Maura dengan menghentikan pergerakan Zayyann.


"Mengapa begitu?" Tanya Alea dengan kebingungan.


"Huuuuffff, saat ini kita tidak bisa menemui Anna, karena putraku telah memerintahkan anak buahnya untuk berjaga didepan pintu kamarnya... Dan putraku juga memerintahkan kepada anak buahnya untuk tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam menemui Anna. Bahkan tadi aku sendiri tidak di izinkan masuk" Jelas Maura dengan menghela nafasnya dengan berat.


"Lalu... Dimana Alvaro?" Tanya Kiana dengan menaikkan satu alisnya.


"Aku sendiri bahkan tidak tau, dimana putraku sekarang... Sudah sore begini ia masih belum pulang. Biasanya sebelum larut ia sudah pulang, tapi kali ini entah mengapa ia belum juga pulang" Kata Maura dengan lirih.


"Sebaiknya kalian beristirahat saja... Aku yakin kalian pasti sangat lelah karena perjalanan tadi" Tutur Maura yang dibalas anggukan kecil oleh seluruh keluarga Atmadja.


"Terimakasih"


...*****...


...Hospital Dirgantara...



...Ruangan VVIP No 4...


"Daddy, are you oke?" Tanya Arianna dengan menatap wajah sang daddy yang terlihat sangat tampan walau tengah pucat pasca melakukan operasi.


"Yes, grills daddy is good" Jawab Alvaro pelan.


"Wajahmu sangat pucat, apa sebaiknya aku memanggil aunty untuk memeriksa keadaanmu daddy?" Ujar Arianna dengan bertanya.


"No! Tidak perlu girls, wajah pucat itu wajar jika sedang sakit... Jadi kau tidak perlu khawatir mengenai hal ini" Tutur Alvaro dengan tersenyum kecil.


"Daddy, ada yang ingin bertemu denganmu" Kata Alkenzie.


"Siapa boy?" Tanya Alvaro dengan menaikkan satu alisnya.


"Mereka bilang bahwa mereka adalah anak buahmu!Namanya Ray dan Rey" Jawab Alkenzie.


"Biarkan mereka masuk" Titah Alvaro kepada putranya itu.


"Baik daddy" Balas Alkenzie lalu pergi untuk menyampaikan pesan kepada Ray dan Rey yang sudah mendapat perintah untuk masuk kedalam ruangan sang daddy.


"Daddy, mengapa Bria belum bangun?" Tanya Arianna dengan wajah sendu karena melihat kembarannya masih berbaring dan menutup matanya dengan rapat.


Memang benar, Alvaro dan Brianna satu ruangan saat ini, karena Alvaro yang menginginkannya... Ia mengatakan bahwa dia tidak bisa memisahkan dirinya dengan sang putri dan meminta para dokter dan suster untuk menyatukan dirinya dan putrinya didalam satu ruangan yang sama.


"Adikmu pasti akan bangun sebentar lagi" Tutur Alvaro dengan mengelus pelan puncak kepala Arianna yang tengah duduk disamping ranjangnya.


"Tuan" Panggil Ray dan Rey dengan menunduk hormat kepada Alvaro.


Alkenzo, Alkenzie dan Arianna langsung saja menatap keduanya dengan diam. Karena mereka memang tidak tau siapa keduanya saat ini.


"Katakan" Titah Alvaro dengan datar.


"Kami sudah membawa nyonya muda pulang! Sekarang nyonya muda sedang pingsan...." Jawab Rey.


"Apa kalian sudah memastikan bahwa tidak ada yang bisa menemui nyonya muda sekarang? Kalian sudah menempatkan para anak buah Dirga Grup dan Tara Grup bukan?" Tanya Alvaro yang kini didalam hatinya tengah merasa bahagia.


"Sudah tuan... Kami sudah menempatkan setengah dari anak buah Dirga Grup dan Tara Grup untuk menjaga kediaman anda. Bahkan kami telah menempatkan beberapa anak buah Tara Grup didepan kamar anda" Balas Ray.


"Hmmmm pergilahhh" Titah Alvaro dengan menyuruh Ray dan Rey untuk pergi kembali.


"Baik tuan, kalau begitu kami pamit" Kata Ray dan Rey secara bersamaan.


"Nyonya Muda? Apa yang dimaksud adalah mommy, daddy" Tanya Alkenzo dengan menatap datar wajah sang daddy.


"Menurutmu boy?" Tanya balik Alvaro dengan terkekeh.


"Kau sudah tau jawabannya" Balas Alkenzo.


...Callon...


'Halo' Panggil Alvaro yang kini tengah menelpon seseorang.


'Iyaa tuan' Jawab disebrang sana yang tak lain adalah dokter Vito.


'Keruanganku sekarang'


'Baik tuan'


Tut.


"Siapa yang kau telpon daddy?" Tanya Alkenzie yang penasaran siapa yang ditelpon oleh sang daddy.


"Kau akan tau nanti boy" Kata Alvaro.


...Ceklekkkk...


"Tuan" Panggil dokter Vito dengan hormat.


"Aku ingin kalian memindahkan putriku ke mansionku! Dan... Lepaskan jarum infus ini. Aku akan pulang" Titah Alvaro dengan datar.


"Tuan. Tapi anda baru saja selesai dioperasi... Anda masih butuh banyak istirahat... Sebaiknya anda tunggu beberapa hari lagi untuk memastikan kondisi anda. Apakah anda sudah bisa pulang atau belum itu ditentukan oleh kondisi anda" Tolak dokter Vito dengan halus.


"Aku akan beristirahat di kediamanku! Dan... Cepat urus perpindahan putriku ke mansion" Tegas Alvaro karena dirinya memang tidak suka berlama-lama didalam rumah sakit.


"Tapi tuan--" Ucap dokter Vito yang terpotong oleh perkataan Alvaro.


"Jalankan perintahku sekarang atau kau akan tau akibatnya" Ancam Alvaro dengan nada dingin..


"Baik, kalau begitu saya permisi untuk menjalankan perintah anda" Pamit dokter Vito lalu setelah itu iapun pergi.


"Kondisimu masih belum sepenuhnya baik daddy, sebaiknya kau beristirahat disini terlebih dahulu" Ujar Alkenzie yang diangguki oleh Arianna.


"Tidak boy! Daddy tidak suka bila daddy harus berlama-lama disini... Lebih baik daddy dirawat di mansion saja dari pada harus disini" Kata Alvaro dengan menggelengkan kepalanya kecil.


'Rupanya sifatku benar-benar mirip daddy, apapun yang aku tidak suka itu karena daddy yang juga ikut tidak menyukainya. Yang dikatakan mommy memang benar rupanya' Batin Alkenzo.


...*****...


...Kamar Alqueen...



"Eeemmmm"


"Leherku sakit sekali" Lirih pelan Queena dengan terduduk di atas ranjangnya yang mana dirinya kini telah bangun dari pingsannya.


"Dimana ini? Tunggu.... Ini bukankah kamarku dan Alvaro" Gumam Queena dengan menatap sekitarnya karena merasa tidak asing dengan sekitarnya saat ini.


"Mengapa aku bisa... aku sudah ingat! Ini semua ulah Ray dan Rey" Kata Queena dengan kesal lalu berniat untuk pergi keluar tapi tidak bisa karena pintunya telah dikunci dengan kata sandi.


"Haa? Sejak kapan Alvaro memakai sebuah sidik jari di pintu ini. Bukan hanya sidik jari tapi... Yang lainnya juga ada" Gumam Queena yang kebingungan.


...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk...


"Tolong bukakan pintunya!" Teriak Queena sekeras mungkin tapi tidak ada jawaban dari luar.


...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk...


"Siapapun yang ada diluar saat ini... Bisakah kalian membukakan pintunya?" Teriak kembali Queena dengan sekeras mungkin..


"Bodoh! Seberapa kerasnya aku berteriak, pintu ini tetap tidak akan terbuka karena kamar ini pasti telah dinyalakan peredam suara" Kesal Queena kepada dirinya sendiri, lalu... Iapun mulai berjalan menuju balkon kamarnya.


"Lagi... Mengapa ini juga dikunci" Ucap Queena dengan kebingungan karena pintu menuju balkon kamarnya juga terkunci dengan rapat.


"Ck! Aku tidak bisa keluar..." Gumam Queena dengan mundar mandir ditempat.


...Ceklekkkk...


Queena yang mendengar suara pintu terbuka pun seketika langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah pintu tersebut.... Dan ketika ia baru saja membalikkan tubuhnya iapun seketika menjadi diam mematung dan menatap diam yang ada didepannya saat ini dengan pandangan mata berkaca-kaca.


...Deggggg...


"Aa-Al" Lirih Queena dengan terbata karena melihat Alvaro lah yang datang dengan terduduk diatas kursi roda.


Alvaro memakai kursi roda karena permintaan sang putra yang masih khawatir akan dengan kondisinya yang baru saja selesai melakukan operasi. Sebenarnya Alvaro bisa berjalan hanya saja masih ada sedikit rasa sakit di bagian yang habis dioperasi itu. Makanya sang putra yaitu Alkenzo dan Alkenzie meminta kepadanya untuk memakai kursi roda untuk saat ini dan itupun ia setujui oleh nya.


Hening... Tidak ada suara dari keduanya. Suara Queena maupun suara Alvaro! Karena mereka kini hanya diam sambil menatap satu sama lain dengan diam... Seakan-akan tidak ada topik pembicaraan yang akan dibahas.


"Kau ingin pergi?" Tanya Alvaro datar dengan membuka pembicaraan kali ini.


"....."


"Mengapa kau diam? Bukankah kau tadi sedang berusaha untuk keluar dari sini? Hmmmm" Kata Alvaro dengan menatap wajah Queena yang selama ini ia tidak pernah liat lagi, dengan pandangan yang berkaca-kaca menatap wajah Queena. Alvaro-pun sekuat tenaga menahan air mata yang seakan-akan meminta untuk keluar.