
Suara tepukan tangan pun terdengar begitu heboh nya hingga mampu menggema keseluruh mansion dirgantara, yang mana tepukan tangan tersebut pun diberikan untuk Lauren dan Karan yang mana kini pada akhirnya telah resmi bertunangan.
"Lauren, selamat untukmu sayang. Kakak sangat senang mendengar ini semua. H-hiks sebentar lagi... Kau benar-benar akan kakak lepas" Lirih Queena pelan dengan langsung memeluk tubuh Lauren dengan perasaan yang bahagia.
"Kakak, rerimakasih! Jangan menangis... Jika kau menangis aku nanti justru akan ikut menangis dan bukan malah bahagia" Ucap Lauren pelan.
"Aunty selamat, dan kau juga uncle" Kata Alkenzo dan Alkenzie secara bersamaan.
"Terimakasih sayang" Jawab Lauren dengan tersenyum manis kepada si twins Al.
"Auntyyyyyyyy! Selamat untukmu" Ucap Alan dengan berhamburan memeluk tubuh Lauren.
...Grepppp...
"Terimakasih sayang nya aunty" Jawab Lauren dengan membalas pelukan hangat dari Alan.
"Selamat untukmu juga uncle" Ujar Alan kembali memberikan kata selamat untuk Karan.
"Terimakasih"
"Selamat untuk kalian berdua" Sahut Zayyann dan Alea secara bersamaan.
"Terimakasih uncle, aunty" Jawab keduanya secara bersamaan.
"Selama untukmu aunty dan juga untukmu uncle" Celetuk Arianna dan Brianna.
"Sama-sama sayang"
"Terimakasih kembali"
"Selamat untuk kalian berdua, atas pertunangan kalian" Ucap Shaka yang juga ikut memberikan selamat atas pertunangan nya Lauren dan Karan.
"Hmmmm, terimakasih"
"Jadi kapan kalian ingin menikah?" Tanya Alvaro yang diangguki oleh Queena.
"Empat hari lagi" Jawab Karan dengan begitu santainya, Berbeda dengan yang lain.
Semua orang yang mendengar jawaban dari Karan justru malah terkejut setengah mati. Akan jawabannya Karan, mereka terkejut karena Karan mengatakan bahwa ia akan menikah empat hari lagi. Sedangkan untuk menyiapkan seluruh keperluan menikah itu membutuhkan waktu sekitar satu atau dua minggu. Belum lagi mereka terlebih dahulu harus menyebarkan undangan bukan? Lalu.... Mengapa Karan memilih waktu untuk menikah sangatlah singkat.
"Haa?"
"Empat hari lagi?"
"Kau jangan bercanda Karan, berhenti bercanda jika kau--" Kata Queena tapi terpotong oleh Karan lebih dahulu.
"Aku benar-benar serius dan tidak bercanda Anna, masalah untuk menyiapkan pesta biarlah aku yang mengatur dengan menyuruh seluruh anak buah ku. Jadi kau hanya tinggal membawa calon istriku saja, mengenai cincin dan gaun pengantin besok aku akan membawa Lauren pergi" Potong Karan dengan wajah tersenyum kecil.
"Emmmm baiklah"
"Lauren, tidak apa kan? Jika pernikahan kita aku percepat" Tanya Karan kepada Lauren yang kini tengah terbengong.
"Lauren"
"Ahh iyaa. Tidak apa karena lebih cepat lebih baik" Jawab Lauren dengan tersenyum manis kepada Karan.
"Jadi sudah ditetapkan bahwa empat hari lagi adalah hari pernikahan kau dan adik ku" Jelas Queena.
"Baiklah"
...*****...
"Mengapa kau tidak beristirahat? Aku sudah meminta izin hari ini untuk bolos dari pekerjaan hanya untuk menemani mu disini, tapi kau justru malah tidak ingin beristirahat" Ujar Tania yang kesal akan Zanitha yang mana kini tengah tidak ingin beristirahat.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar baik-baik saja. Aku hanya sedang tidak ingin beristirahat saat ini" Ucap Zanitha pelan dengan pandangan kosong.
"Aku kekamar" Pamit Zanitha lalu pergi begitu saja menuju kamar miliknya.
"Yaa baiklah"
...Kamar Zanitha...
Setelah sampai di kamarnya, Zanitha pun terduduk di atas kasurnya sambil terdiam kembali dengan pandangan kosong.
"Tidak mungkin itu hanya ilusi yang aku ciptakan sendiri, bagaimana bisa... Seperti ini" Gumam Zanitha pelan.
"Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu. Aku yakin ada sesuatu yang aneh kepada diriku sendiri, dan aku... Aku harus mencari tahunya sendiri" Ucap Zenitha pelan.
"Dia Zanitha! Bukan kakak Anitha" Balas Alkenzie dengan berbisik pelan.
"Mengapa wajahnya sangat amat mirip?" Tanya Shaka dengan menatap bingung Zanitha.
"Anitha?" Panggil Queena kepada Zanitha karena dirinya sempat mendengar percakapan antara Alkenzie dan Shaka lalu iapun langsung saja mencari keberadaan Zanitha.
"Anitha?" Gumam Zanitha dengan kebingungan.
"Maafkan saya nyonya, tapi... Nama saya Zanitha bukan Anitha" Ujar Zanitha dengan menggeleng pelan kepalanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya denganku? Mereka semua seperti telah mengenal ku sejak lama" Lirih Zanitha.
"Kakak Anitha terimakasih, Ahh! Maksudku kakak Zanitha" Ucap Brianna yang tak sengaja memanggil nama Zanitha menjadi Anitha.
"Anitha?" Lirih pelan Alkenzo dengan langsung menatap dalam wajah Zanitha.
"Tidak apa-apa Bria, lagi-pula sama saja itu namaku! Kau hanya menghilangkan huruf "Z" nya saja itu tidak masalah" Ujar Zanitha tersenyum kecil.
"Anitha? Mereka semua selalu memanggilku dengan nama "Anitha"? Sebenarnya apa hubungan ku dengan mereka semua?" Tanya Zanitha kepada dirinya sendiri.
"Lihatlah kotak ini dan buka lah kotak ini jika kami sudah tidak ada. Tapi jika kami sudah tidak ada, karena kami masih ada. Jadi kau masih tidak boleh membuka kotak ini" Tutur seseorang.
"Ibu, mengapa aku harus membuka kotak ini? Tapi ketika kalian sudah tidak ada?" Tanya seorang gadis cantik yang mana gadis cantik tersebut adalah Anitha atau lebih tepatnya Zanitha.
"Kau tidak perlu tau, kau hanya perlu menjalankan apa yang kami katakan kepadamu tadi" Sahut seseorang yang mana ia adalah ayah angkat dari seorang Zanitha.
"Kau hanya perlu membuka kotak ini saja nanti... Ketika kami sudah tidak ada, jangan membantah. Kunci kotak ini ada dibalik bingkai foto mu yang besar itu" Tunjuk ayah angkat Zanitha kepada salah satu tembok yang ada di rumah miliknya yang mana tembok tersebut memang terpasang sebuah foto Zanitha.
"Emmmm, baiklah aku mengerti" Jawab Zanitha dengan patuh.
"Baguslah"
"Kotak itu... Yaa, Mungkin saja aku bisa mendapatkan sesuatu dari dalam kotak itu. Lagi pula aku sama sekali belum membuka isi kotak itu" Kata Zanitha lalu dengan terburu-buru mencari sesuatu didalam lemarinya.
"Ketemu! Kotak ini, aku harap aku bisa mendapatkan sesuatu dari dalam kotak ini" Ujar Zanitha dengan cepat membuka sebuah kotak yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tua angkatnya untuk dirinya itu.
"Ini.... Foto-foto apa?" Gumam Zanitha dengan bertanya-tanya ketika melihat sebuah foto.
"Ada sebuah tulisan dibelakang foto ini?"
..."Ketika kita menjadi satu, siapapun tidak bisa memisahkan kita. Ketika aku pertama kali bertemu denganmu... Aku tidak pernah tau dan tidak pernah menduga bahwa suatu hari aku akan jatuh cinta dengan mu, kalau saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan mu mungkin... Aku tidak akan pernah tau siapa cinta pertamaku, siapa laki-laki yang terbaik untuk ku dan bagaimana hidupku kedepannya. Tapi ketika aku bertemu denganmu aku merasa bahwa aku adalah wanita paling beruntung didunia ini. Karena aku bisa memilikimu"...
...(Al) Kenzo Keano Putra Dirgantarađź–¤...
...đź–¤(Z) Anitha Zayna Alzea...
...Hari: Sabtu sore. Tanggal: 25-05...
"Anitha?! Ak--aku..."