My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Sebuah tamparan



"Totalnya semua jadi lima puluh juta tuan" Ucap kasir tersebut dengan hormat karena ia tau bahwa yang didepannya saat ini adalah pemilik mall tersebut.


Walaupun mall tersebut punya Alvaro sendiri, tapi ia tetap saja harus membayar apa yang ia ambil apapun itu sama halnya dengan Queena, Maura ataupun David.


"Pakai ini" Kata Alvaro dengan memberikan kartu black card miliknya dengan wajah yang seperti biasanya, datar.


"Kau menginginkan sesuatu lagi?" Tanya Alvaro dengan menoleh kearah Queena yang tengah diam entah sedang menatap siapa.


"Sayang" Panggil Alvaro.


"Ahh, ada apa?" Tanya Queena yang baru tersadar dari lamunannya.


"Apa kau tidak mendengarku?"


"Maaf"


"Apa yang kau lihat?"


"Tidak ada"


'Maaf Varo! Aku tidak bisa memberitahumu karena aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku lihat' Batin Queena.


"Apa kau menginginkan sesuatu kembali sayang?" Tanya Alvaro kembali.


"Tidak ada, bisakah kita pulang saja?" Jawab Queena yang diangguki oleh Alvaro yang sedang mengambil kembali kartu black card miliknya.


"Baiklah"


...*****...


"Apa kau sudah lihat Manda?" Tanya Mira dengan memandang wajah Amanda yang tengah merah karena menahan amarahnya.


"Sial! Pantas saja Alvaro tidak menjawab telpon dariku, ternyata ia memang sedang bersama dengan Queena" Kesal Amanda dengan mengepalkan kedua tangannya karena tengah melihat Alvaro dan Queena yang sedang bermesraan di depan kasir.


"Aku sudah mengatakannya bukan? Jika kau tidak datang kau pasti akan menyesal tidak melihat mereka, tapi... tapi sepertinya kau juga sudah menyesal karena sudah datang kesini benar bukan?" Ujar Mira dengan tersenyum sinis sambil mengejek Amanda.


"Diam!" Bentak Amanda lalu pergi begitu saja.


"Hahaha, manda-manda kau ini sangat bodoh sebenarnya kau hanya berpura-pura pintar saja bukan? Huuufff... Sepertinya seru jika aku melakukan sesuatu pada... Queena saat ini" Gumam Mira dengan memandang sinis wajah Queena dari kejauhan.


Entah apa yang Mira tengah rencanakan saat ini pada Queena, bahkan Amanda dan author pun tidak tau. Tapi yang jelas kini Mira tengah merencanakan niat jahat pada Queena.


Mira pun selepas itu langsung saja merencanakan rencana jahatnya pada Queena karena melihat Queena yang sepertinya ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu. Sebelum Queena benar-benar pulang bersama dengan Alvaro.


...*****...


"Suamiku" Panggil Queena dengan memberhentikan langkah kakinya dan seketika Alvaropun juga ikut menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?" Tanya Alvaro.


"Aku ingin ke toilet sebentar" Kata Queena.


"Baiklah, aku akan menemanimu" Ujar Alvaro pada Queena hingga membuat Queena seketika membulatkan kedua matanya karena jawaban yang Alvaro berikan.


"Suamiku ini tempat umum, jika kau menemaniku ikut kedalam wajah tampanmu pasti jadi jelek" Tutur Queena dengan wajah mengejeknya.


"Kenapa? Aku hanya ingin menemanimu saja? Kenapa Wajahku akan jelek" Tanya Alvaro yang tidak mengerti arti dari perkataan Istrinya Queena barusan.


"Apa kau ingin dikeroyok oleh para wanita hanya karena ingin menemaniku? Kau tau kan aku ingin seorang wanita sudah pasti aku akan masuk kedalam toilet wanita bukan pria. Jadi... Jika kau ikut bersamaku kemungkinan wajahmu akan jelek atau bisa jadi babak belur karena mereka mengira bahwa kau orang mesum" Jelas Queena dengan menaikkan alisnya.


"Orang mesum yang ingin menginap mereka, padahal kau hanya ingin menemaniku. Tapi apakah mereka akan percaya nantinya? Hmmm? Katakan?" Tanya kembali Queena dengan menahan tawanya karena melihat raut wajah suaminya yang berubah kembali menjadi datar.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini" Balas Alvaro yang ingin menunggu Queena didepan mobilnya.


"Yaa, baiklah kalau begitu aku pergi dulu" Jawab Queena yang diangguki Alvaro.


"Kau mengatakan apa? Katakan lagi" Tanya Alvaro dengan kesal karena mendengar gumaman Queena.


"Tidak ada? Sepertinya kau salah mendengar suamiku, dahh" Kata Queena dengan cengengesan lalu pergi menuju toilet.


...Toilet...


"Huwekkk"


"Bau nanas tadi, kenapa masih tercium di indra penciuman ku? Ini sangatlah menggangguku" Gumam Queena dengan memuntahkan isi dalam perutnya.


"Huwekkk"


"Huuufff, anak-anak mommy apa kalian baik-baik saja nak?" Tanyanya dengan mengelus-elus pelan perut datarnya itu sambil berkaca.


Queena tiba-tiba saja mematung ketika melihat seseorang yang tengah berdiri dibelakangnya dengan tatapan tidak suka dan memancarkan rasa bencinya dengan begitu jelas. Lalu Queena'pun langsung saja membalikkan badannya tepat dimana seseorang itu berdiri.


"Kau?!"


"Kau terkejut adikku?" Tanya seseorang itu siapa lagi jika bukan Mira.


"Mau apa kau?" Tanya Queena dengan kesal.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat adikku saja! Hmmm... Apa disini ada calon keponakanku?" Jawab Mira dengan perlahan mendekat lalu mengelus perut rata milik Queena.


Queena tentu saja menghindar dan menghempaskan lengan Mira dengan begitu kasar, karena dirinya yang tidak sudi ketika Mira menyentuh perutnya apalagi sekarang didalam perutnya ada calon anaknya. Queena tidak mau niat buruk terkena calon anak-anak nya.


"Kau menyakiti kakak mu ini adikku" Kata Mira dengan berpura-pura kesakitan.


"Jangan berakting didepankuuu! Apa mau mu sebenarnya? Katakannn!!" Bentak Queena yang sudah merasa sangat kesal terhadap Mira.


"Jangan terlalu emosi, itu tidak baik untuk kandungan mu adikku" Tutur Mira dengan tersenyum manis.


"Sudah beberapa kali aku mengingatkanmu untuk tidak memanggil diriku dengan sebutan adikku! Karena aku bukanlah adikmu, apa kau dengar" Marah Queena.


"Bukankah kau memang adikku? Lalu kenapa kau tidak menyukai panggilan dari kakakmu ini? Hmmm" Tanya Mira dengan wajah sok polosnya.


"Apakah aku dan kau mempunyai ikatan darah? Katakan? Dan... Ohhh aku baru ingat bukankah kau anak dari wanita malam yang kabur lalu pergi--" Ucap Queena dengan terpotong.


...Plaaakkkk...


"Diam!!"


"Berani-beraninya kau menyebutku anak wanita malam!" Marah Mira dengan menampar pipi mulus milik Queena dengan begitu keras hingga meninggalkan bekas kemerahan karena tamparan yang diberikannya di pipi Queena.


"Kenapaa? Bukankah aku bena, kenapa kau marah? Kau seorang anak yang lahir dari gen campur" Tanya Queena dengan sinis.


"Kauuu!!" Geram Mira yang ingin menampar kembali Queena tapi tangannya lebih dulu tertahan oleh


Queena.


...Plaaakkkk...


"Upsss, maaf aku tidak sengaja tapi aku berniat!Hahahaha" Tawa Queena dengan tersenyum.


"Beraninya kau menamparku" Marah Mira lagi-lagi dengan memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan keras yang diberikan Queena.


"Kenapa tidak? Bukankah kau tadi juga menamparku, aku mengembalikan tamparan yang kau berikan tadi padaku... Jadi bukankah itu impas?" Tutur Queena dengan bangga.


"Lihat saja Queena! Aku pasti akan membalaskan semua dendamku padamu suatu hari nanti, dan ingat kata-kataku berhati-hatilah dan jaga kandunganmu dengan baik atau kau tidak akan bisa melihat calon anakmu lahir nantinya" Ancam Mira lalu pergi begitu saja dengan wajah kesalnya.


"Jangan takut sayang, mommy pasti akan menjaga kalian dengan baik! Sampai kalian lahir kedunia" Lirih Queena dengan memandang tubuh Mira yang sudah menjauh sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata itu.


"Sudahlah sebaiknya aku pergi dari sini atau Alvaro lah yang akan datang kesini" Ujar Queena lalu pergi menuju tempat dimana Alvaro tengah menunggunya.