My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kecemburuan Alvaro



...Keesokan harinya......


Kini matahari telah terbit bersama dengan sinarnya yang indah hingga sinarnya mampu membangunkan kedua pasangan instan yang tengah tertidur dengan lelap akibat kecapean dengan rutinitas yang tertunda tadi malamnya.


"Hmmmm"


"Hmmmm"


"Pagi, Al" Ucap Queena dengan suara khas bangun tidur.


"Pagi juga" Balas Alvaro dengan tersenyum manis karena ia yakin Queena masih belum sadar dengan apa yang ia abis lakukan tadi malam.


"Jika kau tersenyum seperti itu kau sangat tampan" Puji Queena tanpa sadar, dengan menatap wajah Alvaro yang baru bangun tidur.


"Benarkah?" Tanya Alvaro dengan suara seraknya.


"Hmmmm, aku tidak berbohong" Kata Queena, dan dengan hitungan detik Queena'pun akhirnya tersadar dengan ucapannya hingga terduduk.


"Ada apa?" Tanya Alvaro yang ikut terduduk juga.


Queena tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Alvaro, ia justru terdiam dan melamun karena mengingat apa yang telah ia lakukan dengan Alvaro kemarin malam.


"Kau ingin kemana?" Tanya Alvaro yang melihat Queena turun dari ranjangnya dan memakai pakaian miliknya.


"Akk-ku... ingin membersihkan tubuhku" Jawab Queena yang malu pada dirinya sendiri dan itupun dilihat oleh Alvaro, seketika Alvaro'pun mempunyai rencana untuk menjahili Queena.


"Mau ku bantu?" Tawar Alvaro dengan tersenyum nakal.


"Tii--dak... Tidak perlu akk--u bisa sendiri" Tolak Queena yang langsung berlari menuju ke kamar mandi, walaupun bagian sensitifnya terasa sangat sakit tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk berlari agar terhindar dari Alvaro yang sudah memasang wajah menakutkan'nya.



Dan Alvaro'pun yang melihat itu menjadi tertawa, tapi tanpa sengaja matanya menangkap tato lambang keluarga dirgantara yang di belakang pundak Queena. lalu iapun dengan cepat menyusul Queena yang berada di dalam kamar mandi untuk menanyakan perihal soal tato, sekaligus pergi membersihkan tubuhnya bersama dengan Queena.


"Kenapa Queena punya tato ituuu...? Tato lambang keluarga dirgantara? Dan tato itu... mengapa tepat dimana aku memasangkan'nya di belakang pundak Angel waktu itu? Walau aku masih tidak bisa mengingatnya tapi aku sangat yakin bahwa aku pernah memasangkan sebuah tato lambang keluarga dirgantara seperti itu di belakang pundaknya Angel! Apa Angel adalah Queena? Tapi... Ahh sudahlah aku harus menanyakan ini pada Queena" Gumam Alvaro lalu pergi menuju kamar mandi.


...Kamar Mandi...



"App-ap yang telah aku lakukan pada diriku sendiri? I-ini... Taand-a i-ni... Bukan seperti ini kehidupan yang aku inginkan aku hanya ingin Varo melupakan Angel tapi mengapa aku malah mendekatkan diriku kepadanya?" Kata Queena pelan dengan bercermin menatap dirinya sendiri, yang kini terdapat banyak sekali tanda kepemilikan yang diberikan oleh Alvaro tadi malam.


...Ceklekkkk...


"Aa-al... Al, mengapa kau masuk?" Tanya Queena yang terkejut hingga membuatnya langsung berbalik menatap wajah Alvaro dengan gugup.


"Dari mana kau mendapatkan tato lambang keluarga dirgantara?" Tanya Alvaro tanpa menjawab pertanyaan dari Queena dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tato?" Tanya Queena.


"Tato yang berada di belakang pundak'mu" Jawab Alvaro.


"In-i... Mommy yang memasangkannya, kenapa? Apa kau tidak suka? Kalau begitu aku akan menghapusnya" Jawab Queena yang baru teringat pasal tato lambang keluarga dirgantara yang pernah di pasangkan oleh Alvaro tanpa sepengetahuan'nya ketika dirinya kecil.


"Apa kau yakin tato itu bisa hilang?" Tanya Alvaro dengan menaikkan satu alisnya.


"Aku tidak tau" Balas Queena dengan cepat sambil memasang wajah sok polosnya agar Alvaro percaya kepadanya.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan itu" Ujar Alvaro lalu berjalan menuju bathub dan duduk untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengket itu.


"Al" Panggil Queena.



"Al, mengapa kau disana, keluarlah... aku ingin membersihkan tubuhku. Kau bisa membersihkan tubuhmu nanti setelah aku selesai membersihkan tubuhku" Kesal Queena dengan menatap wajah Alvaro yang malah menatapnya.


"Kenapa? Apa kau malu? Lagi pula aku sudah melihat seluruh tubuhmu jadi apa salahnya jika aku ingin mandi bersama denganmu" Kata Alvaro dengan entengnya, lalu kemudian menarik pergelangan tangan Queena hingga membuat Queena terjatuh tepat di atas tubuhnya.


"Aaaaaaa" Teriak Queena yang terkejut dengan tindakan yang Alvaro berikan.


"A-al Lee--paska-n... akuuuu" Pinta Queena yang berusaha keras mendorong tubuh Alvaro tetapi justru tidak ditanggapi oleh Alvaro, Alvaro justru tersenyum jahil kepadanya.


"Jika aku tidak mau?" Tanya Alvaro dengan tersenyum miring.


"Maka aku akan berteriak!" Balas Queena.


"Apa kau lupa jika kamar ini kedap suara?" Tanya Alvaro dengan wajah jahilnya.


"It-u"


...Skippppp......


...30 menit kemudian......


...Ceklekkk...


"Apa kau tidak pergi ke kantor, Al?" Tanya Queena yang sedang berada di dalam gendongan Alvaro, Queena di gendong oleh Alvaro karena saat Queena ingin berjalan keluar kamar mandi tiba-tiba ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit di area sensitifnya dan itu membuat Alvaro tertawa hingga membuatnya membantu Queena dengan menggendong tubuh Queena.


"Tidak!" Balas Alvaro dengan cepat.


"Mengapa?" Tanya Queena kembali.


"Hanya tidak ingin saja" Jawab Alvaro santai lalu perlahan menurunkan Queena diatas ranjang.


"Bukankah kau bilang kemarin kau akan ada meeting bersama dengan perusahaan Mangga Crop, perusahaan dari luar negri itu?" Tanya Queena penasaran.


"Tidak jadi... Karena aku sedang malas jadi aku telah mengundurkan jadwal meeting-ku untuk besok saja" Kata Alvaro lalu berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini dan tidak lupa ia juga mengambilkan pakaian untuk Queena.


"Ambilah" Ucap Alvaro dengan memberikan pakaian untuk Queena kenakan.


"Terimakasih, Al" Jawab Queena dengan Tersenyum manis.


"Hmmmm" Dehem Alvaro.


"Al... kau tidak boleh seperti itu! Apa kau tidak merasa kasihan kepada direktur Mangga Crop? Ia sudah datang jauh-jauh hanya untuk melakukan meeting bersamamu, tapi kau? Kau justru malah ingin memundurkan'nya" Ujar Queena dengan menasehati Alvaro.


"Mengapa kau sangat perhatian terhadap direktur dari perusahaan Mangga Crop itu? Apa hubunganmu dengan direktur Mangga Crop?" Kesal Alvaro karena Queena membahas tentang Direktur Mangga Crop.


"Aku hanya merasa kasihan saja Al... Lagi pula aku juga ada meeting bersama perusahaan Mangga Crop hari ini bersama dengan perusahaan'mu" Jelas Queena dengan menatap wajah Alvaro yang sedang kesal terhadap.


'Queena apa kau tidak merasa bahwa sebenarnya aku sedang cemburu dengan Direktur Mangga Crop!' Batin Alvaro.


'Apa Alvaro sekarang sedang cemburu dengan direktur Mangga Crop? Tapi... Ahh, sudahlah mana mungkin Alvaro cemburu dengan Direktur Mangga Crop' Batin Queena yang berbarengan dengan suara batin milik Alvaro.


"Kau juga akan meeting dengan perusahaan Mangga Crop?" Tanya Alvaro.


"Iyaa"


"Kalau begitu cepat pakai pakaian'mu agar kau tidak terlambat untuk melakukan meeting bersama dengan Direktur Mangga Crop!" Tutur Alvaro lalu pergi begitu saja setelah memakai pakaiannya.


"Apa Alvaro benar-benar sedang cemburu?" Tanya Queena kepada dirinya sendiri.