
...Ruang Rawat Brianna...
"Jangan berisik" Bisik Queena kepada anak-anaknya dan itupun dibalas anggukan kecil oleh ketiganya saja.
"Mengapa wajah Brianna semakin hari semaki pucat mommy?" Tanya Arianna dengan menatap sendu kearah Brianna yang kini tengah berbaring lemah dengan jarum infus yang terus melekat disana.
"Mommy... Tidak tau" Jawab Queena berbohong.
"Apakah Brianna bisa ikut kami pulang nanti?" Tanya Alkenzie degan pelan.
"Tentu saja, tapi setelah cairan infus ini habis dan Brianna adik kalian sadar... Maka ia bisa pulang kembali" Balas Queena yang juga ikut memelankan suaranya.
"Daddy" Panggil Brianna dengan lirih.
...Deggggg...
Dada Queena yang mendengar panggilan putrinya yang tengah mengigo tersebut pun menjadi sesak seketika. Karena putrinya walaupun sedang tidak sadarkan diri masih terus saja memanggil nama daddy nya itu... Gemetar? Itulah yang sekarang Queena rasakan, sakit? Itu juga yang Queena rasakan saat ini... Ia ingin menangis, tapi tidak bisa... karena ia tidak ingin anak-anaknya melihat dirinya lemah seperti itu.
"Hei, Brianna sayang... Ini mommy nakk" Bisik pelan dengan tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Mommy mohon, cepatlah sembuh sayang" Lirih Queena dengan mengecup pelan kening putrinya itu.
...*****...
...Keesokan harinya......
...Bandara Charles de Gaulle....
"Ini..."
"Ini adalah alamat kantor milik daddy mereka... Jika kalian sudah sampai disana, hubungi kakak agar kakak bisa memberitahukan kepada daddy mereka bahwa mereka sudah berada di dekatnya" Ujar Queena dengan memberikan sebuah alamat milik Alvaro kepada Lauren.
Kini Queena, Lauren beserta twins Al dan twins An tengah berada di Bandara Charles de Gaulle.. dimana bandara tersebut adalah bandara terbesar di perancis. Mengapa Queena berada disana? Jawabannya hanya satu yaitu kini dirinya tengah mengantar kepergian putra dan putrinya menuju negara los angeles untuk mempertemukan anak-anaknya dengan sang daddy yang selalu mereka tunggu-tunggu.
Lalu apakah Queena akan ikut pulang? Tidak! Jawabannya adalah tidak. Entah apa alasannya tapi dirinya hanya mengatakan bahwa ia tidak bisa ikut pulang kesana, makanya Queena hanya menguntuskan Lauren saja untuk pergi ke negara los angeles atau lebih tepatnya untuk menemani anak-anaknya pulang ke tempat yang seharusnya mereka ada disana.
"Mommy, apa kau yakin tidak akan ikut dengan kami?" Tanya Alkenzie dengan menatap wajah sang mommy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mommy yakin, nanti... Mommy akan menyusul kalian kesana jika waktunya sudah tepat" Jawab Queena dengan berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi tubuh putranya itu.
"Mommy" Lirih Brianna.
"Tidak boleh menangis untuk saat ini... Bukankah Bria ingin bertemu dengan daddy? Maka Bria tidak boleh bersedih dan harus tersenyum" Ujar Queena dengan memeluk putrinya dan putranya itu secara bergantian tapi tidak dengan Alkenzo seorang saja.
"Mommy pasti akan merindukan kalian" Lirih pelan Queena yang merasa sedikit tidak rela untuk mengirim anak-anaknya pergi ke negara kelahirannya.
"Kami pasti akan merindukan kau juga mommy" Balas Brianna dan Arianna secara bersamaan.
"Sudah... Kalian pergilah, sebentar lagi pesawat kalian akan lepas landas" Tutur Queena yang diangguki semuanya.
...Muachhh...
"Aku mencintaimu mommy" Kata Brianna dan Arianna dengan mencium pipi Queena secara bersamaan.
"Mommy juga sayang" Balas Queena dengan tersenyum manis.
...Muachhh...
"Aku menyayangimu mommy" Ucap Alkenzie yang ikut memberikan sebuah ciuman manis kepada Queena.
"Jagalah dirimu baik-baik nak, mommy mencintaimu" Ujar Queena dengan membalas sang putra.
...Grepppp...
"Kakak, jagalah dirimu baik-baik disini! Jika terjadi sesuatu tolong segera hubungi aku" Ujar Lauren dengan memeluk erat tubuh Queena.
"Pasti" Balas Queena.
"Masuklah segera, pesawat kalian sebentar lagi akan lepas landas" Tutur Queena kepada anak-anaknya serta Lauren.
"Mari kita masuk kedalam pesawat" Ajak Lauren kepada keempat ponakannya.
"Baiklah" Jawab ketiganya secara bersamaan berbeda dengan Alkenzo ia hanya membalas dengan anggukan kecil saja.
Ketika Lauren, Alkenzie, Arianna serta Brianna akan pergi menuju pesawat tiba-tiba saja mereka menghentikan pergerakan mereka karen Alkenzo yang sedari tadi hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri saat ini.
"Alzo... Mengapa kau tidak ikut jalan nakk?" Tanya Queena dengan mengerutkan keningnya.
...Muachhh...
"Selamat tinggal, aku berharap kau akan menyusul kami mommy. Aku mencintaimu dan juga menyayangimu" Ucap Alkenzo kepada Queena sambil memberikan sebuah ciuman manis kepada Queena.
Queena-pun justru malah diam sambil mematung karena mendapatkan sebuah ciuman yang langkah dari putra pertamanya itu, dan kata-kata yang sangat jarang dikeluarkan untuknya... Bahkan untuk pertama kalinya Queena mendapatkan itu semua dari putranya itu.
"Terimakasih..."
"Mommy juga mencintaimu dan menyayangimu lebih darimu, jaga dirimu baik-baik disana... Dan berhati-hatilah. Lindungilah adik-adikmu nakk" Balas Queena dengan memeluk erat tubuh sang putra.
Lalu setelah itu Queena pun mulai melepaskan pelukannya karena pesawat yang akan ditumpang putra dan putrinya akan segera lepas dari landasan bandara. Alkenzo yang sudah terlepas dari pelukan hangat dari Queen langsung saja pergi dengan memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan tidak lupa ia memaki kaca mata hitamnya pergi menyusul sang aunty. Lauren.
"Dahh" Sapa Queena dengan melambaikan tangannya.
"Dahh" Balas mereka berempat secara bersamaan sedangkan Alkenzo ia tetap seperti biasa dengan menunjukan sikap arogannya.
"Sampai jumpa... Semoga kalian bahagia hidup dengan daddy kalian" Lirih Queena dengan meneteskan air matanya.
"Putra dan putrimu akan pulang... Sambutlah mereka dengan baik suamiku" Gumam Queena pelan, lalu setelah itu iapun mulai pergi menuju rumahnya.
...Skippppp......
...Los Angeles...
...Bandara Los Angeles Internasional Airport...
Sembilan jam berlalu... Akhirnya setelah sembilan jam mereka berlima menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai di bandara Los Angeles Internasional Airport dengan selamat tanpa ada sebuah kendala.
"Aunty aku lelah" Kata Brianna.
"Aunty akan menggendongmu" Ujar Lauren dengan menggendong tubuh mungil Brianna yang kini mulai terlihat lelah. Karena pada dasarnya Brianna memang tidak pernah kuat untuk beraktivitas lebih seperti saat ini.
"Apa ini negara kelahirannya mommy aunty?" Tanya Arianna dengan sangat antusiasnya.
"Benar... Ini adalah negara kelahiran mommymu" Jawab Lauren dengan tersenyum bahagia.
^^^Kakak Queena♡:^^^
^^^Kakak, aku sudah sampai di bandara dengan selamat bersama dengan anak-anakmu.^^^
...Prancis...
...Rumah Queena...
"Huuuffff, sudah sembilan jam apakah mereka sudah sampai dengan selamat disana?" Gumam Queena dengan terus mondar-mandir tidak jelas didalam kamarnya karena merasa cemas terhadap anak-anaknya dan juga adiknya saat ini.
...Dreetttt... Dreetttt......
Lauren♡📩:
Kakak, aku sudah sampai di bandara dengan selamat bersama dengan anak-anakmu.
"Akhirnya..."
"Terimakasih tuhan, karena engkau telah memberikan keselamatan kepada mereka" Doa Queena dengan sangat bahagia setelah mendapatkan kabar dari Lauren.
^^^Lauren♡:^^^
^^^Syukurlah... Kakak senang mendengarnya.^^^
Kata Queena dengan membalas pesan dari Lauren tersebut.
"Apakah aku harus memberitahukan kepada Varo bahwa putra dan putrinya sudah pulang?" Tanya Queena kepada dirinya sendiri.
^^^Aunty Alea:^^^
^^^Aunty.^^^
^^^Aunty Alea:^^^
^^^Bagaimana kabarmu dan yang lainnya? Apakah baik? Ini aku Anna!.^^^
^^^Aunty Alea:^^^
^^^Aunty... Bisakah kalian menyambut kepulangan anak-anakku? Aku berharap kalian bisa menyambut kedatangan mereka disana.^^^
^^^Aunty Alea:^^^
^^^Aku merindukan kalian.^^^
"Huuuffff..."
"Aku berharap semua akan baik-baik saja... Maafkan aku karena aku masih tidak bisa pulang ke sisimu Varo" Lirih Queena pelan dengan membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
"Aku mencintaimu... Maafkan aku" Ucap pelan Queena dengan memejamkan kedua matanya secara perlahan.
...Dirgantara Company...
...Ruangan Alvaro...
"Sudah lima tahun kau masih tidak ingi kembali? Huuuuffff... Bagaimana kabar anak-anakku disana? Apa mereka baik-baik saja" Tanya Alvaro dengan memandangi foto Queena dan foto hasil USG milik Queena saat itu.
"Kembalilah" Lirih Alvaro pelan
...Tokkkkk tokkkkk tokkkkk...
"Masuk" Titah Alvaro dengan nada datar.
"Al" Panggil David dengan nada panik.
"Ada apa?" Tanya Alvaro dingin.
"Kau harus ikut denganku" Ajak David dengan menarik pergelangan tangan Alvaro.
"Lepaskan jika kau tidak ingin mati" Kata Alvaro dengan mengancam David.
"Bukan waktunya sekarang kau mempermasalahkan ini kepadaku. Jadi... Sekarang kau ikutlah denganku" Ujar David dengan kesal.
"Apa?" Tanya Alvaro dengan kesal.
"Ikutlah" Tutur David dengan menarik paksa pergelangan tangan Alvaro.
...*****...
...Lobby Kantor Alvaro...
"Excusez-moi, pouvons-nous rencontrer M. Alvaro?." Tanya Lauren dengan memakai bahasa prancis hingga membuat resepsionis yang ada didepannya kebingungan.
...(Permisi, bisakah kami bertemu dengan tuan Alvaro?)...
"Sorry Miss, Can you use English only? Sorry that I can't speak your language" Jawab Resepsionis tersebut.
...(Maaf nona, bisakah anda memakai bahasa Inggris saja? Maaf karena saya tidak bisa berbahasa anda)...
"Jangan memakai bahasa prancis" Ketus Alkenzo dengan datar.
Resepsionis yang mendengar perkataan dari Alkenzo pun langsung saja menatap wajah Alkenzo dengan terkejut, karena wajah keempat anak-anak tersebut sangatlah mirip dengan tuan nya yaitu Alvaro.
"Hei adik tampan, mengapa wajahmu sangat mirip dengan tuanku?" Tanya resepsionis itu dengan wajah yang masih terkejut.
"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?" Tanya Alkenzo dengan dingin.
...Glekkkk...
'Mengapa bocah tampan ini sangatlah mirip dengan tuan Alvaro? Bahkan nada bicara dan tingkahnya sama dengan tuan... Apa jangan-jangan mereka...' Batin Resepsionis itu.
"Bisakah kami bertemu dengan tuan Alvaro?" Tanya Lauren kembali yang kini mulai memaki bahasa yang berada di Los Angeles.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan tuan presdir kami?" Tanya Balik Resepsionis itu dengan sopan.
"Belum" Jawab Lauren.
"Maaf nona... Tapi anda harus membuat janji terlebih dahulu jika anda ingin menemui tuan presdir kami" Ujar resepsionis tersebut.
"Ada apa ini" Tanya seseorang yang tidak sengaja melihat Lauren.
"Tuan David" Sapa resepsionis itu dengan menunduk hormat.