
...Keesokan harinya.......
Kini matahari telah naik keatas permukaan, dan semua orang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Burung-burung terus saja selalu berkicau-an! Hingga tanpa sadar membangunkan pria tampan yang sedari kemarin tertidur dengan pulas nya di bangsal rumah sakit, dan pria tersebut yang tak lain adalah Alkenzo Keano Putra Dirgantara. Alkenzo yang pada akhirnya kini mulai membuka kedua mata cantiknya secara perlahan.
Secara perlahan dan tak menimbulkan suara dan mampu membuat sang mommy dan sang daddy masih tetap stay di dalam alam mimpinya, dan masih tidak mau membuka kedua matanya! Alkenzo berfikir bahwa kedua orang tuanya pasti sangat lelah jadi ia membiarkan keduanya berisitirahat.
Sedangkan dirinya perlahan-lahan mulai terduduk dari tempat tidur rumah sakit! Dan dengan menyandarkan tubuhnya serta menatap pemandangan yang ada di depannya saat ini, percayalah bahwa Alkenzo saat ini tubuhnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan itu semua berkat obat herbal yang diberikan oleh Queena dan dibuat oleh Zanitha.
"Aku sudah membuat semua orang khawatir terhadapku, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pernah lagi menyusahkan kalian semua" Gumam Alkenzo pelan.
...Ceklekkkk...
Ketika Alkenzo tengah melamun, tiba-tiba saja suara pintu ruangannya terbuka secara lebar dan langsung menampilkan wajah cantik seseorang. Yang mana orang tersebut adalah Brianna serta Zanitha di sampingnya yang datang untuk menjenguk serta mengecek kondisi Alkenzo. Yaa! Zanitha, tidak salah memang benar Zanitha datang pagi-pagi ke rumah sakit hanya untuk menjenguk serta melihat kondisi keadaan Alkenzo dan tak lupa dirinya ingin memberikan kembali obat herbal untuk kondisi Alkenzo.
Makanya ketika Zanitha ingin menjenguk kondisi Alkenzo, Zanitha terlebih dulu mencari keberadaan Brianna, karena jika ia pergi menemui Alkenzo di dalam ruangan rawatnya rasanya ada sedikit tidak pantas untuk dirinya bila sendiri. Jadi saat itu ia lebih dulu mencari keberadaan Brianna yang malah tidak sengaja juga ingin pergi keruangan rawat sang kakak, dan dari situ mereka berdua pun pergi ke ruang rawat Alkenzo secara bersamaan.
Ketika mereka berdua sampai didepan ruang rawat Alkenzo, mereka berdua pun langsung saja membuka pintu dan masuk. Lalu ketika mereka berdua melihat Alkenzo yang tengah terduduk sambil menatap kearahnya mereka berdua pun terkejut.
"Kakak, kau sudah bangun?" Tanya Brianna yang langsung saja menghampiri sang kakak setelah melihat sang kakak tengah duduk sambil menatap datar sekitarnya.
"Hmmmm" Dehem Alkenzo pelan.
'Wanita ini... Bukankah wanita yang pernah menangis ditaman malam-malam? Dan juga wanita yang pernah berbicara di cafe'K saat itu? Mengapa ia bisa berada disini' Batin Alkenzo.
'Wajahnya sangat mirip dengan Anitha! Tapi... Hanya mirip' Batin Alkenzo.
"Kakak, biar aku periksa kondisi mu" Tutur Brianna yang hanya dibalas anggukan kecil saja oleh Alkenzo, Karena Alkenzo saat ini tengah fokus menatap wajah Zanitha hingga membuat Zanitha salah tingkah.
'Mengapa tuan Alkenzo menatapku seperti itu? Sangat tidak enak bila ditatap seperti ini... Rasanya seperti aku tengah menjadi tersangka pembunuh' Batin Zanitha.
"Syukurlah kakak, akhirnya kondisi tubuh mu sudah membaik bahkan sangat-sangat membaik aku senang melihatmu bisa cepat sembuh kakak" Kata Brianna dengan tersenyum manis.
"Kapan kakak bisa pulang?" Tanya Alkenzo pelan dengan wajah datar.
"Tiga hari kedepan, bila keadaan mu terus membaik mungkin kau bisa lebih cepat pulang ke mansion. Tapi sebaliknya jika kondisi mu kembali seperti sebelumnya maka terpaksa kau harus menginap kembali disini dengan waktu yang lama" Jawab Brianna.
"Ck"
"Mommy, daddy mereka..."
"Biarkan saja. Jangan mengganggu mereka, Bria bawa kakak keluar... Kakak ingin keluar menghirup udara pagi" Tutur Alkenzo.
"Tapi kakak kau kan baru saja--"
"Bawa kakak keluar" Ucap Alkenzo dingin.
"Huuuuffff, aku tidak bisa melawan ucapan mu. Jadi baiklah tapi tunggu sebentar aku akan membawa kursi roda untukmu terlebih dahulu" Balas pasrah Brianna dengan pergi mengambil kursi roda yang mana akan dikenakan oleh Alkenzo nantinya.
Brianna pun kini kembali dengan membawa sebuah kursi roda ditangannya, lalu setelah itu Brianna pun perlahan membantu sang kakak duduk dikursi roda dengan dibantu oleh Zanitha karena Brianna sempat tidak seimbang ketika membantu Alkenzo untuk duduk di kursi roda jadi Zanitha dengan cepat membantu keduanya.
"Hampir saja" Gumam pelan Zanitha.
"Kakak Anitha terimakasih, Ahh! Maksudku kakak Zanitha" Ucap Brianna yang tak sengaja memanggil nama Zanitha menjadi Anitha.
"Anitha?" Lirih pelan Alkenzo dengan langsung menatap dalam wajah Zanitha.
"Tidak apa-apa Bria, lagi pula sama saja itu namaku. Kau hanya menghilangkan huruf "Z" nya saja itu tidak masalah" Ujar Zanitha tersenyum kecil.
"Emmmm baiklah. Kakak mari kita keluar, tapi sebentar sepertinya cairan infusnya harus aku ganti terlebih dahulu lalu setelah itu baru kita keluar"
"Hmmmm"
...*****...
...Mansion Dirgantara...
"Kakak" Panggil Alan kepada Alkenzie yang kini tengah bersiap-siap memakai baju kantornya.
"Ada apa?" Tanya Alkenzie dengan berjongkok menyeimbangi tubuh tinggi Alan.
"Bisakah kita pergi kerumah sakit? Aku ingin bertemu kakak Alzo dan mommy begitu juga daddy" Pinta Alan dengan lirih.
"Mengapa kau tidak pergi mandi terlebih dahulu? Hmmmm, jika kau belum mandi seperti ini apa lagi kau masih menggenakan piyama tidur bagaimana mungkin kakak mau membawa mu kesana?" Tanya Alkenzie dengan tersenyum manis menatap wajah tampan Alan yang kini baru saja terbangun dari tidurnya.
"Kau sungguh-sungguh akan membawaku menemui kakak Alzo kan kakak Alzie?" Tanya Alan balik dengan menatap intens wajah Alkenzie.
"Tentu saja, tapi itu jika kau sudah mandi" Jawab Alkenzie dengan kembali berdiri dan kembali merapihkan dirinya.
"Baiklah, kakak kau harus menungguku. Karena aku akan segera bersiap" Balas Alan dengan antusias lalu pergi berlari menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
"Hahahaha bocah itu" Tawa Alkenzie yang menatap kepergian Alan.
"Kira-kira apa kau sudah sadar kakak?" Gumam Alkenzie.
"Tapi aku saat ini merasa jauh lebih baik, mungkin saja kakak juga sudah membaik"
Mereka bertiga sebenarnya ikut merasakan sakit yang tengah dialami oleh sang kakak, hanya saja mereka bertiga tidak ingin mengatakan hal tersebut kepada sang mommy maupun sang daddy. Mereka bertiga lebih memilih untuk diam dan bersikap biasa saja agar tidak membuat sang mommy dan sang daddy ikut serta khawatir terhadap mereka.
...Tokkk tokkk tokkk...
"Masuk" Jawab Alkenzie.
"Kakak" Panggil Arianna.
"Ada apa?" Tanya Alkenzie dengan menatap wajah Arianna.
"Aku merasa jauh lebih baik, mungkinkah kakak Alzo sudah membaik? Apa kau juga merasakan seperti yang aku rasakan kakak" Kata Arianna dengan bertanya kepada Alkenzie.
"Emmmm, kakak juga merasakan hal yang sama seperti mu mungkin saja kakak Alzo sudah membaik kondisinya saat ini. Ahh! Kakak akan pergi kerumah sakit bersama Alan nanti, kau ingin ikut?" Ajak Alkenzie.
"Iyaa. Aku akan ikut lagi-pula jadwal pemotretan ku tiba-tiba saja diundur nanti siang. Jadi pagi ini aku bisa ikut kerumah sakit bersama mu dan Alan" Jawab Arianna dengan tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu bersiaplah! Kakak akan menunggu kalian dibawah nanti"
"Baik"
...Dirgantara hospital...
...Taman dirgantara hospital...
"Kakak, apa kau ingin disini?" Tanya Brianna.
"Hmmmm" Dehem Alkenzo.
"Baiklah aku akan menemanimu disini" Jawab Brianna dengan terduduk di kursi taman yang tak jauh dari Alkenzo dengan diikuti Zanitha yang duduk bersebelahan dengan Brianna.
"Kakak apa kau tidak ingat denganku?" Tanya Brianna pelan kepada Zanitha.
"Kau bertanya padaku Bria?" Tanya balik Zanitha dengan menatap wajah Brianna.
"Emmmm, aku bertanya padamu. Apakah kau tidak mengingatku" Jawab Brianna dengan kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Zanitha mengerutkan keningnya.
"Maksudmu? Aku tidak mengerti? Bukankah kita baru saja saling mengenal? Lalu... Pertanyaan yang kau lontarkan tadi mengapa seolah-olah kita sudah lama kenal dan seolah-olah aku telah melupakanmu" Kata Zanitha dengan kebingungan.
"Ahh, lupakan saja" Ujar Brianna.
"?"
"Dokter Bria" Panggil seseorang orang yang tak lain adalah suster pendamping Brianna.
"Iyaa?"
"Dokter, pasien yang anda tunggu sudah datang. Sekarang ia berada didalam ruangan anda" Ucap suster tersebut.
"Hmmmm baiklah, suster kau pergi duluan dan temani dia" Titah Brianna kepada suster pendamping miliknya itu.
"Baik dokter" Balas suster tersebut lalu kembali pergi begitu saja setelah mendapat perintah dari Brianna.
"Kakak Zanitha. Bisakah kau temani kakak ku sebentar? Karena pasien ku ini tengah menungguku dan aku harus memeriksa kondisi nya jadi... Aku titip kakak ku, jika kakak ku bertanya tolong jawab saja" Pinta Brianna.
"Tapi--"
"Aku buru-buru kakak, terimakasih. Aku titip kakak ku" Kata Brianna dengan pergi begitu saja meninggalkan Zanitha dan Alkenzo berdua ditaman.
"Yaa baiklah"
'Apa yang harus aku katakan nanti ketika tuan Alkenzo menanyakan tentang keberadaan Brianna?' Batin Zanitha.
'Apa yang harus aku katak---'
"Bria" Panggil Alkenzo secara tiba-tiba.
"Emmmm tuan"
"Brianna sudah pergi untuk menangani pasien nya jadi..." Jawab Zanitha dengan nada sedikit gugup.
"Bawa aku kedalam ruangan ku" Pinta Alkenzo datar.
"Ahhh, baik" Balas Zanitha dengan terburu-buru mendekat kearah Alkenzo lalu Zanitha pun perlahan mendorong kursi roda milik Alkenzo untuk membantu Alkenzo.
"Brianna mengatakan sesuatu untuk ku?" Tanya Alkenzo dingin hingga membuat Zanitha merinding seketika ketika mendengar aura dan suara dingin dari Alkenzo.
"Tidak ada tuan, Brianna hanya mengatakan bahwa pasien nya telah menunggu dirinya saja tidak ada yang lain" Balas Zanitha.
"Hmmmm"
'Suaranya... Ck, tidak bisa seperti ini terus. Dia bukan Anitha dia Zanitha' Batin Alkenzo.
'Zanitha Zayna Alzea! Sepertinya daddy mengatakan itu ketika aku tertidur. Mataku memang tertutup tapi telingaku masih bisa bekerja. Aku akan tanyakan kepada daddy setelah daddy bangun, mengapa ia mengatakan nama wanita ini di telinga ku tadi malam' Batin Alkenzo kembali.