My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Alan Keandra Putra Dirgantara



...Pemakaman...


"Omah, aku datang! Sekarang dimana senyum mu ketika melihatku? Mengapa ketika aku datang kembali kau tidak lagi menunjukkan senyuman mu?" Lirih seseorang yang kini tengah temerung di depan pemakaman seseorang sambil memandang sebuah nisan tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Omah, apa kau tau? mommy dan daddy telah sudah melahirkan satu adik laki-laki lagi untuk kami! Namanya Alan Keandra Putra Dirgantara... Omah, Apa kau sudah melihatnya diatas sana? Dia sangat imut bukan? Hikssss... Kau pasti sangat menyayanginya bukan? Sama seperti aku dan yang lainnya" Isak kecil seseorang itu dengan mengelus pelan batu nisan yang berada di depannya yang mana nisan tersebut tertera nama 'Maura Dirgantara'.


Yupsss, jadi Maura sudah kembali ke sisi tuhan beberapa tahun yang lalu setelah drama yang kehidupan putranya yaitu Alvaro berakhir dan Queena, bukan karena kecelakaan atau apa tapi Maura meninggal dikarenakan penyakit yang di deritanya selama ini. Tanpa sepengetahuan Alvaro dan yang lainnya! Hingga ketika di detik-detik terkahir sisa hidupnya Maura baru menceritakan semua perihal tentang penyakitnya yang ia derita selama ini kepada semua orang.


Dan semua orang yang mendengar itu pun menangis dengan histeris bahkan sempat tidak percaya ketika mendengar cerita dari Maura tersebut, bahkan Alvaro yang saat itu tengah melakukan perjalanan bisnis di luar negeri.... Langsung saja kembali pulang secepat mungkin karena mendengar bahwa Maura saat itu sedang sekarat... Dan saat ketika Alvaro sampai Maura langsung saja menatapnya dengan wajah tersenyum manis dan pucat kearah nya pada saat itu juga Maura mulai menutupkan kedua matanya secara perlahan untuk terakhir kalinya.


Rasa sedih pun mulai menyelimuti Alvaro, hingga membuat Alvaro tidak kuasa menahan tangisnya dan langsung berlari memeluk tubuh Maura yang sudah tidak bernyawa. Dengan histerisnya Alvaro pun berteriak sambil memanggil nama Maura.


Hingga dua tahun kemudian nya, Queena pun mendapatkan kabar dari Aldo. Bahwa Kiana dan Zian mengalami kecelakaan maut ketika baru saja selesai liburan... Dan kecelakaan tersebut pun mengakibatkan kedua orang tersebut kehilangan nyawanya. Lalu... Queena pun dengan susah payah berdiri dari duduknya karena ketika ia mendengar berita duka dari Aldo iapun sempat terjatuh ke lantai.


Queena pun langsung saja berteriak saat itu dengan memanggil nama Alvaro sekuat tenaganya! Dengan tangisan yang begitu kencang dan teriakkan nya pula. Membuat Queena beserta keluarga kecilnya langsung saja pergi lepas landas menuju Australia untuk melihat wajah Kiana dan Zian untuk terakhir kalinya.


Kini semua orang yang Queena sayang perlahan pergi meninggalkannya untuk kembali ke sisi tuhan, tapi... Dengan perlahan Queena mulai mengikhlaskan semua kepergian orang-orang yang ia sayang begitu juga dengan yang lainnya.


Setelah mendapat kabar buruk dari orang-orang tersayangnya pun tak lama kemudian Queena mendapat kabar bahagia dari dirinya sendiri bahwa dirinya saat itu sedang mengandung kembali. Dan berjenis bayi laki-laki... Lalu kini usianya sudah menginjak tiga tahun. Yang saat ini telah diberi nama Alan Keandra Putra Dirgantara. Nama Alan adalah gabungan dari nama Al dan An yang artinya Alvaro dan Anna, bahkan bisa juga gabungan dari nama twins four juga.


Alkenzie pun terus saja temerung di depan makam Maura, dengan derai air mata yang terus saja keluar dari pelupuk matanya. Karena dirinya mulai kembali merindukan sosok seorang Maura yang mana telah pergi bertahun-tahun lamanya.


"Omah, aku akan selalu berdoa untukmu disini agar kau disana selalu bahagia bersama dengan opah. Dan juga yang lainnya" Kata Alkenzie dengan tersenyum kecil.


"Aku berharap, doa ku selalu sampai kepadamu" Gumam pelan Alkenzie.


...Dretttt... Dretttt......


"Alan?" Ucap Alkenzie pelan dengan menatap layar hendphone-nya yang kini telah tertera nama Alan diatasnya, Alan adik kecil laki-lakinya itu.


...Callon...


My Boy📞: Kakak


^^^Alkenzie📞: Ohh, My boy ada apa?^^^


My Boy📞: Kapan kau akan pulang? Sudah setengah jam aku menunggumu! Aku lelah


^^^Alkenzie📞: Hahahaha, kakak tidak menyuruhmu untuk menunggu kakak. Jika kau lelah.. Kau bisa beristirahat di dalam kamarmu^^^


My Boy📞: Tidak! Aku tidak ingin beristirahat... Aku hanya ingin kau... Apa kau lupa?


^^^Alkenzie📞: Ohhh tidak! Maafkan kakak... Kakak lupa kalau hari ini kakak harus pergi mengajakmu bermain di taman^^^


My Boy📞: Kakakkkk


^^^Alkenzie 📞: Baiklah, tunggu kakak sebentar lagi kakak akan pulang^^^


My Boy📞: Baiklah


^^^Alkenzie 📞: Hmmmm^^^


Tut.


"Huuuffff, omah. Kalau begitu aku pamit pulang... Karena hari ini aku sudah berjanji untuk membawa Alan pergi! Jadi... Aku pamit" Kata Alkenzie dengan tersenyum manis.


"Selamat tinggal, omah" Ucap Alkenzie lalu memakai kaca mata hitamnya dan setelah itu iapaun mulai pergi.


...*****...


...Mansion Dirgantara...



Mansion Alqueen kini sudah berubah nama menjadi mansion dirgantara, karena sekarang mansion utama dirgantara sudah tidak ada semenjak kepergian Maura dan mulai seterusnya mansion dirgantara sebelumnya hanya akan menjadi sebuah mansion kenangan saja, Dan kini mansion Alqueen lah berubah nama menjadi mansion utama dirgantara.


"Mommy" Panggil seorang anak laki-laki tampan.


"Ada apa sayang?" Tanya seseorang kepada anak laki-laki tersebut dan orang tersebut yang tak lain adalah Queena.


"Mommy, bukankah kau mengatakan bahwa kakak Alzie akan segera pulang? Lalu.... Dimana kakak Alzie sekarang? Mengapa ia belum juga sampai hingga detik ini" Tanya Alan dengan nada sendunya sambil menatap wajah sang mommy.


"Hahahaha, Alan sayang... Dengarkan mommy! Kau tau bukan? Kakak mu adalah orang yang super sibuk!Sama seperti kakak Alzo... Jadi, Alan harus bersabar menunggu kakak Alzie. Mungkin saja sebentar lagi kakak Alzie akan segera sampai" Jawab Queena dengan tersenyum manis sambil terkekeh menatap wajah sang putra.


"Baiklah" Balas Alan dengan lesuh.


"Memangnya kau ingin kemana, boy?" Tanya seseorang kepada Alan yang kini baru saja turun dari lantai atas.


"Daddy" Panggil Alan dengan berlari menuju Alvaro, Yupsss... Orang yang baru datang dan menanyakan itu adalah Alvaro.


...Happppp...


"Jangan berlari" Kata Alvaro dengan menggendong tubuh mungil putra kecilnya itu yaitu Alan.


"Aku ingin pergi keluar dengan kakak Alzie, tapi.. hingga detik ini kakak Alzie masih belum juga datang menjemputku" Jawab Alan dengan cemberut.


"Bukankah itu kakak mu?" Tunjuk Alvaro kepada Alkenzie yang baru saja datang dan kini tengah berjalan menuju kearahnya.


"Daddy turunkan aku, daddy" Pinta Alan kepada Alvaro.


"Baik-baik" Jawab Alvaro dengan perlahan menurunkan putra kecilnya Alan dari gendongannya.


"Kakakkkk" Teriak Alan dengan berlari menyambut Alkenzie, dan Alkenzie yang melihat adik kecilnya berlari langsung saja berjongkok untuk menangkap tubuh mungil Alan.


...Happppp...


"Hahahaha.... kakak, akhirnya kau datang" Tawa Alan dengan bahagia sambil menampilkan deretan gigi putih dan rapinya.


"Bagaimana mungkin kakak tidak datang, jika adik kakak yang imut ini meminta kakak untuk datang?" Balas Alkenzie dengan bertanya sambil mencubit gemas hidung Alan tapi pelan.


"Kakak, mari kita pergi" Ajak Alan yang sudah tidak sabar untuk pergi bermain diluar.


"Baiklah, tapi... Beritahu mommy dan daddy terlebih dahulu. Bagaimana?" Ujar Alkenzie kepada Alan dan itu-pun diangguki oleh Alan dengan cepat.


"Mommy, daddy, bolehkan aku pergi bersama kakak Alzie?" Tanya Alan dengan imutnya.


"Pergilahhh. Tapi kau harus berhati-hati dan jangan nakal, jangan menyusahkan kakak mu! Kau mengerti?" Jawab Queena dengan cepat dan tidak lupa memperingati Alan untuk tidak berbuat ulah jika sedang berada diluar bersama dengan sang kakak.


"Baik, aku mengerti" Balas Alan dengan mengangguk kecil sambil tersenyum manis.


"Berhati-hatilah, boy" Kata Alvaro.


"Pasti daddy" Jawab Alan kembali.


"Yasudah, kalau begitu kami pamit mommy, daddy" Tutur Alkenzie dengan berpamitan kepada Alvaro dan Queena terlebih dahulu.


"Berhati-hatilah nakk! Jaga adikmu" Tutur Queena.


"Yaa mommy" Balas Alkenzie lalu setelah itu menggendong tubuh mungil Alan dan mulai pergi.


"Tidak terasa, putra dan putri kita sudah tumbuh besar secepat ini" Ujar Alvaro dengan menarik tubuh Queena kedalam pelukannya.


"Hmmm, kau benar suamiku. Waktu sangat cepat berlalu dan tahun sangat cepat berganti" Balas Queena dengan menatap punggung sang putra yang kini mulai menjauh darinya.


"Hmmmm, kau benar sayang"


...*****...


...Taman...


"Kakak" Panggil Alan.


"Ada apa? Hmmmm" Tanya Alkenzie dengan perlahan menurunkan Alan dari gendongannya.


"Kapan kakak Alzo pulang? Aku merindukannya" Lirih Alan pelan dengan bertanya kapan Alkenzo pulang karena dirinya kini tengah amat sangat merindukan Alkenzo. Karena Alkenzo saat ini tengah sibuk dengan perjalanan bisnisnya bersama dengan Shaka.


"Tiga hari lagi, kakak Alzo akan pulang tiga hari lagi bersama dengan uncle Shaka" Jawab Alkenzie dengan tersenyum manis.


"Benarkah? Apa kau tidak membohongiku?" Tanya Alan dengan bertanya sambil menaikkan kedua alisnya dan menatap imut wajah Alkenzie.


"Tentu saja, lagi pula apa untungnya jika kakak berbohong kepadamu? Hmmmm katakan?" Jawab Alkenzie dengan bertanya balik.


"Tidak ada" Balas Alan singkat sambil menggelengkan kepalanya kecil.


"Yasudah, Kalau begitu pergilah bermain! Kakak akan menunggumu disini" Tutur Alkenzie yang diangguki oleh Alan.


"Baiklah" Ucap Alan lalu pergi untuk bermain sedangkan Alkenzie hanya duduk sambil memantaunya saja.


...Dretttt... Dretttt......


My girl 2(Bria)📩: Kakak


"Brianna? Ada apa?" Gumam Alkenzie dengan mengerutkan keningnya.


^^^Alkenzie: Ada apa, Bria?^^^


...Dretttt... Dretttt......


My girl 2(Bria)📩: Kakak, jemputlah kakak Alzo! Hari ini ia pulang, dua jam lagi ia akan sampai di bandara.


"Kakak Alzo kembali? Tapi... Mengapa kakak Alzo tidak menghubungiku terlebih dahulu?" Ucap Alkenzie pelan dengan kebingungan.


^^^Alkenzie: Baiklah, setengah jam lagi kakak akan ke bandara. Karena kakak saat ini tengah menemani Alan bermain^^^


...Dretttt... Dretttt......


My girl 2(Bria)📩: Baiklah kakak, terimakasih


^^^Alkenzie: Hmmmm^^^


"Tidak bisanya kakak Alzo pulang tidak memberitahu kabar kepada ku seperti ini? Apa... sebenarnya kakak Alzo tidak sempat memberitahuku? Huuuffff.... Sudahlah sepertinya begitu, dengan kepribadian kakak Alzo seperti itu aku mengerti" Kata Alkenzie dengan membuang nafasnya secara kasar.


"Kakak" Panggil Alan dengan berlari menuju kearah Alkenzie.


"Sudah berapa kali kakak mengatakan padamu untuk tidak berlari? Bagaimana jika kau terjatuh bila kau terus berlari seperti itu" Tegas Alkenzie kepada sang adik.


"Jika aku terjatuh, hal yang terpenting adalah bangkit kembali bukan?" Jawab Alan.


"Yaa, memang seperti itu! Tapi intinya jangan pernah berlari bila tidak ingin terjatuh dan terluka" Balas Alkenzie kembali.


"Baik, maafkan aku" Ucap Alan.


"Ada apa?" Tanya Alkenzie kembali.


"Kakak, aku haus. Bisakah kau membelikan ku air?" Kata Alan dengan bertanya.


"Tentu, kalau begitu mari kita pergi mencari seseorang yang menjual air minum" Ajak Alkenzie dengan menggandeng tangan mungil Alan lalu pergi mencari tukang dagang sekitar yang menjual air.


"Mari"