
"Yaa! Jadi kira-kira seperti itulah yang terjadi hari ini" Kata Zanitha yang kian baru saja menceritakan perihal kejadian tentang dirinya hari ini.
"Jadi... Kau sebenarnya mempunyai hutang kepada tuan Alkenzo dan bukan tuan Alkenzie?" Tanya Tania kembali dengan memastikan bahwa apa yang ia dengar itu tidak salah.
"Hmmm, benar! Awalnya aku memang sedikit tidak mengerti mengapa ketika aku membahas mengenai pada malam itu saat di cafe,K tuan Alkenzo tiba-tiba menghilang dan ketika aku mencari tuan Alkenzo aku justru malah bertemu dengan tuan Alkenzie, dan dari situlah aku salah dalam membedakan keduanya. Dan ketika tuan Alkenzie bercerita ternyata pada saat itu tuan Alkenzo mendadak mendapat sebuah telpon masuk dari klien nya dan akhirnya saat itu aku mengerti" Jelas Zanitha dengan tersenyum kecil.
"Bagaimana jika kita juga salah dalam mengenali tuan Alkenzo dan tuan Alkenzie?" Tanya Zaza dengan menatap dalam wajah semua orang satu persatu.
"Tidak! Jangan khawatir, aku mendengar bahwa keduanya memang sangat-sangat mirip tapi keduanya sebenarnya sangat berbeda. Tuan Alkenzo orangnya sangat dingin, arogan, datar dan irit dalam bicara. Tapi jika itu tuan Alkenzie maka akan kebalikan nya, tuan Alkenzie justru memiliki sifat murah senyum, baik, dan mudah dalam diajak bicara tidak seperti tuan Alkenzo. Dan aku dengar jika ingin mengenali keduanya cukup lihat dari sikap dan warna matanya saja maka kita bisa langsung mengenali keduanya nanti" Tutur Liora dan Tania secara tidak langsung mengucapkan kalimat yang sama.
"Ha?"
"Kalian... Kompak sekali?" Bingung Zaza dan Zea secara bersamaan menatap terkejut kearah keduanya.
"Tapi yang dikatakan kalian berdua memang benar, Alzie sendiri memberi tahuku bahwa jika aku ingin bisa mengenalinya. Aku hanya cukup melihat warna matanya saja" Sahut Zanitha dengan men-setujui perkataan dari Tania dan Liora.
"Warna mata?" Gumam Zaza dengan pelan sambil bertanya kepada dirinya sendiri! Tapi sayangnya gumam-man kecil itu masih bisa terdengar oleh ketiganya.
"Iyaa warna mata, karena warna mata mereka berdua berbeda, jika tuan Alkenzie bewarna mata biru maka tuan Alkenzo berwarna hitam" Jawab Tania.
"Owhh! Begitu rupanya... Yasudah, Liora bagiamana jika kita kembali ke apartemen? Lagi pula sebentar lagi akan malam" Ajak Zaza.
"Baiklah"
"Hey kalian bertetangga dengan kami, bagaimana jika hari ini kalian menginap disini? Kita bisa mengobrol lebih lama lagi dan kita juga bisa menonton drama atau film horor bersama. Bagaimana menurut kalian?" Ujar Tania kepada keduanya.
Liora dan Zaza yang mendengar ucapan dari Tania pun seketika saling pandang satu sama lain, lalu kemudian mereka berdua saling tersenyum manis dan membalas ucapan dari Tania tadi.
"Baiklah"
"Ini akan menjadi hari yang menyenangkan" Kata Zanitha dengan tersenyum bahagia.
...*****...
...Malam harinya......
...Dirgantara hospital...
...Ruangan vvip no 1...
"Mommy rupanya obat herbal yang dibuat oleh Zanitha benar-benar mampu menurunkan demam tinggi kakak Alzo, bahkan kakak Alzo tidak merasa alergi terhadap obat herbal tersebut" Kata Arianna dengan tersenyum bahagia menatap kondisi sang kakak yaitu Alkenzo yang kini sudah kembali stabil.
"Hmmmm, kau benar sayang. Mommy sangat berterima kasih kepada Zanitha. Jika ia tidak datang kemari mungkin saja kakak mu akan benar-benar pergi ke london" Jawab Queena dengan mengangguk kecil.
"Emmm, daddy bisakah aku berbicara empat mata denganmu? Kita keruangan ku sebentar karena ada yang aku ingin tanyakan kepadamu" Tanya Brianna dengan menatap dalam wajah sang daddy.
"Hmmmm" Dehem Alvaro dengan mengangguk kecil lalu setelah itu Alvaro-pun langsung saja keluar dari ruang rawat Alkenzo dengan diikuti Brianna dibelakangnya.
"Apa yang ingin dibicarakan oleh Brianna kepada Alvaro?" Tanya Alea pelan yang kini merasa terheran-heran oleh tingkah Brianna.
"Tidak tau, tapi yang jelas raut wajahnya menunjukkan sedikit ada yang tidak beres. Kau temani Anna disini! Aku akan pergi menyusul mereka" Tutur Zayyann yang diangguki oleh Alea.
"Mommy, daddy ingin kemana?" Bisik Aldo dengan bertanya kepada sang mommy.
"Hanya ingin membuang air kecil" Jawab Alea dengan berbohong kepada Aldo sang putra, tapi bodohnya Aldo dengan cepat percaya oleh perkataanya tadi.
"Alan sayang, kau pulang lah terlebih dahulu bersama kakak mu! Karena mommy akan menginap disini. Kau pasti lapar pulanglah nak, besok mommy akan menjemputmu untuk melihat kakak mu lagi" Tutur Queena kepada putra kecilnya itu.
"Tapi mommy..."
"Biar aunty Al menemanimu. Bersama uncle Shaka dan kakak mu Arianna. Yaa... Mari kita pulang nak. Tidak baik untuk mu jika kau tetap berada disini bagaimana jika kau terkena penyakit yang ada disini nantinya?" Celetuk Alea dengan menasehati si kecil Alan.
"Baiklah aunty Al" Jawab Alan dengan pasrah.
"Anak pintar! Biarkan aunty Al menggendong mu... Happp" Balas Alea dengan menggendong tubuh mungil Alan dan perlahan membawa pulang Alan menuju mansion diikuti oleh Arianna dan Shaka dibelakangnya.
"Anak pintar. Berhati-hatilah sayang" Ucap Queena dengan mengelus pelan puncak kepala Alan sambil memberikan sebuah ciuman yang tadi Alan minta.
"Muachhh"
"Terimakasih mommy, kalau begitu aku pulang. Mommy jaga kesehatan mu" Kata Alan dengan melambaikan tangannya.
"Baik sayang nya mommy, mommy bakal inget kata-kata mu" Balas Queena dengan membalas lambaian tangan dari putra kecilnya itu yaitu Alan.
"Mommy aku juga akan pulang, karena besok pagi aku akan ada pemotretan. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu disini" Pamit Arianna kepada Queena.
"Tidak masalah sayang, kau pulang dan beristirahat lah dengan baik!" Ujar Queena dengan tersenyum manis membalas ucapan dari putrinya itu.
"Hmmmm, berhati-hatilah"
"Kau juga sayang"
Setelah mengucapkan kata terakhir itu, Arianna, Shaka, Alea beserta si kecil Alan langsung saja pergi dan pulang menuju mansion untuk beristirahat. Tidak dengan Queena pastinya karena Queena harus tetap menjaga Alkenzo dirumah sakit yang kini masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Cepat sembuh lah sayang... Mommy sangat menantikan mu untuk membuka matamu" Lirih Queena pelan dengan memegang erat tangan Alkenzo sang putra.
...*****...
...Ruangan Brianna...
"Daddy" Panggil Brianna.
"Daddy sudah tau apa yang kau ingin tanyakan! Perihal Zanitha bukan?" Tebak Alvaro dengan mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana kau bisa menebak? Apa yang ada didalam pikiranku saat ini benar tentang mu?" Tanya Brianna.
"Zanitha memang benar adalah Anitha! Kekasih kakak mu hanya saja ia tidak bisa mengingat semua yang pernah terjadi pada dirinya sendiri" Jawab Alvaro dengan terududuk santai disofa yang berada didalam ruangan Brianna.
"Mengapa kau menyembunyikan tentang kakak Anitha kepada semua orang daddy? Terutama kakak Alzo" Ucap Brianna dengan nada tak percaya.
"Jangan salahkan daddy, daddy hanya menepati janji daddy saja kepada Anitha beberapa tahun yang lalu" Kata Alvaro.
"Tapi... Bukankah pada saat itu denyut nadi kakak Anitha sudah berhenti? Lalu mengapa tiba-tiba kakak Anitha bisa..."
"Akan daddy ceritakan"
...Flashback on...
...Beberapa tahun yang lalu......
Beberapa tahun yang lalu tepatnya hari dimana Anitha tertabrak dan dinyatakan telah tiada, pada saat itu Alkenzo terlebih dahulu membawa tubuh Anitha kerumah sakit untuk diperiksa dan dirawat walau kenyataan nya Brianna sudah menjelaskan dan mengatakan bahwa Anitha sudah tidak ada.
Tapi Alkenzo tetaplah Alkenzo! Ia tetap masih tidak percaya dengan semua hal yang terjadi hari itu. Jadi ia memutuskan untuk tetap memeriksa Anitha ke rumah sakit dirgantara tapi hasilnya sama saja Anitha telah dinyatakan tiada. Dan pada saat itu juga Alkenzo mengamuk hingga menarik satu persatu kerah baju kebesaran para dokter.
Hingga di detik dan menit itu juga, Alvaro datang lebih dahulu dari pada yang lain dan langsung saja membuat pisang sang putra yaitu Alkenzo. Sedangkan Brianna pada saat itu juga membawa tubuh sang kakak menuju ruang istirahat dengan dibantu para dokter yang lainnya, Tapi Alvaro? Ia justru membawa Anitha pergi menuju rumah sakit kusuma dan ketika sudah berada disana, Anitha langsung saja diperiksa oleh para dokter yang sudah ia panggil dari berbagai negara.
"Tuan, denyut nadi nona Anitha memang berhenti setiap satu menit. Dikarenakan kondisi yang begitu amat lemah. Tapi nona Anitha masih hidup dan sekarang nona Anitha perlu ditindak lanjuti segera" Ujar salah satu dokter yang mana telah dipanggil oleh Alvaro dari negara filandia.
"Segera lakukan yang terbaik untuk calon menantuku. Jangan biarkan calon menantuku pergi begitu saja" Jawab Alvaro cepat.
Ketika semua para dokter dan perawatan ingin membawa Anitha kedalam ruang operasi akibat kecelakaan tadi. Tiba-tiba saja Anitha membuka kedua matanya secara perlahan dan perlahan mengucapkan sebuah kata-kata.
"Da--ddy to-tolong" Ucap Anitha dengan terbata-bata.
"Daddy akan menolong mu. Tapi kau harus bisa melewati ini semua. Jika kau benar-benar mencintai putra daddy dan ingin hidup bersama putra daddy, kau harus bisa melewati ini semua" Jawab Alvaro.
"J-jika ak--aku tidak bis-bisa me-lewati semua i--ini, tol-long kata--kan pad-pada kenzo d--dan samp-aikan padanya ba---hwa aku sang-sangat mencintai-nya dan sam-samp--aikan juga permin---taan maaf-ku bah-wa ak--aku tid--daak bis-bisa menepa--ti jan-janjiku untuk te--tap bers--saman-nya. Tap--tapi ji--jika aku bis--bisa melewati in--ini sem--mua tolong da--ddy sembu--nyikan tent---tang diri--ku" Pinta Anitha dengan terbata-bata karena menahan sakit yang begitu amat luar biasa disetiap bagian tubuhnya terutama kepalanya.
Seluruh tubuh Anitha semua tergores-gores dengan luka yang begitu dalam, hidung, mulut, telinga, kepala serta yang lainnya hingga sampai saat ini kini masih terus mengeluarkan darah segar. Makanya Anitha sampai saat ini dengan sekuat tenaga memakai sisa kekuatannya untuk membuka kedua matanya dan mengatakan apa yang ia ingin katakan sebelum ia kembali menutup kedua matanya.
"Mengapa daddy harus menutupi semuanya kepada Alkenzo?" Tanya Alvaro dengan mengerutkan keningnya sambil menatap aneh wajah Anitha yang terdapat begitu banyak luka.