My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Drama pakaian



"Kenapa kau menangis?" Tanya kembali Alvaro dengan mendekatkan dirinya kepada Queena, dan tiba-tiba saja Queena berhamburan memeluk tubuh kekar Alvaro.


...Grepppp...


Tanpa aba-aba Queena langsung saja memeluk tubuh kekar Alvaro sang suami dan berhasil membuat Alvaro terkejut dengan tindakan'nya itu yang secara tiba-tiba.


"Queena, lepaskan aku" Kata Alvaro yang ingin melepaskan pelukan'nya Queena, tapi tidak jadi setelah mendengar ucapan Queena.


"Sebentar saja Al... Hikssss... ku mohon izinkan aku untuk memelukmu sebentar saja Hikssss..." Isak Queena dengan memeluk erat tubuh Alvaro.


"Sebenarnya kau ini kenapa?" Tanya Alvaro yang pasrah dipeluk Queena saat ini untuk saat ini.


"Hikssss... Aku tidak apa-apa Al! Hikssss... aku hanya sedang merindukan kedua orang tuaku dan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku saja Hikssss..." Jawab Queena yang masih terisak di dalam dekapan Alvaro.


Tanpa sadar kedua tangan Alvaro mengepal dengan sangat erat, setelah mendengar Queena mengatakan sedang merindukan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, entah mengapa rasanya saat ini Alvaro ingin menghukum Queena tapi ia sadar bahwa sekarang Queena sedang Bersedih.


"Lepaskan aku Queenaaa, atau aku yang akan melepas paksa dirimu" Tegas Alvaro dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan tadi.


"Hikssss... baiklah" Balas Queena dengan menghapus sisa air matanya.


"Dengar ini baik-baik Queenaaa! Jika kau sedang bersama denganku sebaiknya kau tidak membicarakan orang lain. Kau mengerti!?" Ujar Alvaro dengan wajah yang sangat kesal lalu iapun pergi begitu saja.


"Ada apa dengan Varo? Apa dia sedang cemburu? Tapi apa iyaaa? Padahal jelas-jelas orang yang sangat berarti dalam hidupku adalah dirinya sendiri. Tapi sayang'nya saja ia tidak tau, Ahh... Sudahlah" Lirih Pelan Queena dengan menghapus sisa air matanya lalu mulai berjalan menuju kamarnya.


...*****...


...Ruang tamu...



"Cihhh... menapa aku menjadi sangat jesal setelah Queena menyebutkan orang lain!" Gerutu Alvaro dengan duduk di atas sofa dan kembali membuka layar laptop'nya.


'Siapa orang yang berharga dalam hidupnya itu?' Tanya Batin Alvaro yang kini menjadi tidak fokus pada pekerjaan'nya karena memikirkan tentang perkataan Queena tadi.


"Aaaaaa!! Sial, kenapa aku menjadi tidak fokus" Geram Alvaro yang ingin membanting sebuah cangkir teh yang berada di samping'nya tapi tertahan setelah melihat Queena turun dari anak tangga dengan tampilan yang rapih dan bersiap ingin pergi.


"Kau ingin kemana?" Tanya Alvaro tanpa sadar.


...Penampilan Queena...



"Aku ingin pergi ke mansion Williams" Jawab Queena tersenyum manis lalu mulai melangkahkan kakinya kembali, tapi lagi-lagi terhenti karena Alvaro.


"Kau tidak mengajakku?" Tanya Alvaro dengan kesal.


"Ha?"


"Apa? Bukankah semalam kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki waktu luang. Al?" Tanya balik Queena dengan keheranan sampai-sampai dirinya menatap Alvaro dengan tatapan yang aneh.


"Tidaakkkk! Setelah aku cek jadwal'ku kembali aku mempunyai waktu luang. Maka aku akan ikut denganmu" Bohong Alvaro padahal jelas-jelas ia masih mempunyai pekerjaaan yang banyak tapi ia malah berbohong, Entah ada apa dengan dirinya Alvaro saat ini bahkan ia sendiri juga dibuat bingung oleh tingkahnya.


"Kau tunggu sebentar, aku ingin bersiap-siap terlebih dahulu" Pinta Alvaro dengan menatap tajam kearah Queena lalu iapun dengan cepat pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian'nya.


"Ada apa dengan Varo? Hari ini ia sangat aneh?" Tanya Queena dengan pelan sambil menatap punggung Alvaro yang kian sudah menjauh.


"Ahhh... Sudahlah yang terpenting aku bisa membawa Alvaro pergi bersamaku ke mansion Williams. Pasti Sesillia sangat senang jika aku bisa membawa Alvaro datang berkunjung kesana" Gumam Queena dengan bahagia lalu duduk disofa dengan menunggu Alvaro tanpa mau memikirkan hal apapun kembali.


...15 menit kemudian......


"Mari kita berangkat sekarang, Al" Ajak Queena dengan tersenyum manis lalu melangkahkan kakinya lagi untuk keluar dari mansion, tapi sial nya lagi dan lagi dirinya terhenti karena ucapan Alvaro.


"Tunggu" Ucap Alvaro yang memberhentikan Queena.


"Ada apa lagi, Al?" Tanya Queena Keheranan.


"Ganti pakaian'mu" Titah Alvaro.


"Ada apa dengan pakaian'ku?" Bingung Queena.


"Ku bilang ganti pakaian'muuu! Sekarang!" Perintah kembali Alvaro dengan menekan ucapannya.


"Tapi kenapa Al?" Ucap Queena lesuh.


"Jangan banyak bertanya Queenaaa, sebaiknya cepat kau ganti pakaian'mu atau aku tidak akan pernah mengizinkan:mu untuk pergi keluar lagi" Ancam Alvaro dengan menatap tajam kearah Queena.


"Al, tapi kenapa? Aku tidak ingin mengganti pakaianku!" Tolak Queena yang kesal lalu pergi melangkahkan kakinya dan tidak menghiraukan Alvaro begitu saja.


...Grepppp...


"Al!"


"Turunkan akuuuu!!" Teriak Queena yang tiba-tiba saja di angkut seperti karung beras oleh Alvaro.


Karena Queena tidak ingin mendengarkan perintahnya maupun ucapan'nya, maka terpaksa Alvaro menggendong Queena seperti mengangkut beras secara paksa dan membawa Queena pergi kedalam kamar mereka berdua.


"Al turunkan aku!! Kau ini sebenarnya kenapa?" Tanya Queena dengan terus memberontak.


"Al, tapi aku takut! Kau tau aku melihat semuanya terbalik!" Ujar Queena dengan menutup kedua matanya.


"Maka dari itu menurutlah" Tutur Alvaro.


"Baik"


...Kamar Alqueen...



"Ganti pakaianmu!" Titah kembali Alvaro dengan menurunkan Queena secara perlahan.


"Tapi Al--"


"Mau kau yang menggantikan'nya apa aku yang menggantikan'nya?" Tanya Alvaro dengan wajah garangnya.


...Glekkkk...


Queena yang mendengar ucapan Alvaro tadi'pun seketika bersusah payah menelan salivah'nya, karena perkataan Alvaro yang mana ingin menggantikan pakaian'nya jika ia tidak mau mengganti pakaian'nya sendiri.


"Oh... baiklah-baiklah aku akan ganti, kau tunggulah sebentar" Jawab Queena cepat dengan tersenyum kecut lalu berlari masuk kedalam kamar ganti.


...Beberapa menit kemudian......


...Penampilan Queena...



"Al, aku sudah mengganti pakaianku, jadi mari kita berangkat sekarang okey?" Kata Queena sambil mengangguk kecil.


"Ganti pakaianmu" Titah Alvaro kembali dengan nada geram.


"Lagi?"


"Tapi barusan aku sudah mengganti'nya Al!?" Jawab Queena dengan malas.


"Ku bilang ganti pakaian'mu Queena Angelina Kusuma" Kata Alvaro dengan geram terhadap Queena.


"Tapi Al--"


"Aaaaaaa!! baik aku akan ganti kembali pakaian'ku sekarang" Teriak Queena ketakutan karena Alvaro mendekatkan dirinya serta mulai menunjukkan tanduk merahnya.


...Beberapa menit kemudian......


...Penampilan Alvaro...



...Penampilan Queena...



"Al, apa sudah?" Tanya Queena dengan hati-hati.


"Apa kau tidak punya pakaian yang bisa menutupi perutmu?" Marah Alvaro dengan bertanya kepada Queena pasal bajunya.


"Tapi... pakaian ini sangatlah cantik Al" Lirih Queena.


"Aku tidak ingin tau! Ganti kembali pakaian'mu dengan pakaian yang bisa menutupi perutmu itu!" Titah Alvaro lagi menyuruh Queena mengganti kembali pakaiannya untuk kesekian kalinya.


"Al" Lirih Queena.


"Cepat ganti" Tegas Alvaro.


"Sebaiknya aku kabur saja, atau aku akan terus dipaksa untuk mengganti pakaian'ku kembali oleh Alvaro" Gumam kecil Queena yang bersiap untuk melarikan diri tapi tanpa Queena ketahui Alvaro mendengar gumama'nya itu.


"Jangan mencoba untuk melarikan diri sebelum kau mengganti pakaianmu" Tegas Alvaro kembali dengan menatap tajam kearah Queena bahkan tatapan yang diberikan Alvaro sangatlah tajam dan itu membuat Queena sangat ketakutan.


"Monster" Lirih pelan Queena lalu berlari masuk kedalam ruang ganti kembali.


...5 menit kemudian......


...Penampilan Queena...



"Apa sudah?" Tanya Queena dengan tatapan memohon agar Alvaro berhenti menyuruh'nya kembali berganti pakaian'nya.


"Hmmm" Dehem Alvaro yang akhirnya menyetujui pakaian yang akan dikenakan oleh Queena, walaupun hanya dibalas sebuah deheman saja.


"Yesss.... Aahahahah... Akhirnya selesai juga" Tawa Queena dengan keras dan tanpa sadar Queena melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil.


"Huuuffff... Cepatlah turun Queena" Kata Alvaro yang juga ikut senang tapi tidak ia ungkapkan ia hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresinya saja dan tidak seperti Queena yang kegirangan.


"Baiklah"