
"Annaaa!!" Teriak Alvaro lalu berhamburan memeluk tubuh Queena yang kini tengah terduduk sambil menahan sakit yang luar biasa diperutnya.
"Ka--kau... pergilahhh" Lirih Queena yang tengah menahan sakit di perutnya sambil berusaha mendorong kerasa tubuh Alvaro.
"Diammm! Jangan banyak berbicara" Kata Alvaro dengan nada sedikit membentak kepada Queena.
"Ray! Rey! David!!" Teriak Alvaro sambil menggendong tubuh Queena.
"Tuan" Panggil ketiganya secara bersamaan.
"Cepat panggilkan Vanessa! Sekarang!!" Teriak Alvaro lalu membawa pergi Queena menuju ruang medis.
"Anna" Panggil semua orang yang ada disitu dengan nada khawatir.
"Tu--turunkan... Aku" Pinta Queena dengan terbata karena tengah menahan sakit di bagian perutnya itu. Yang begitu sangat luar biasa sakitnya.
"Kali ini kau diam Anna! Diam atau aku yang akan marah kepadaku. Perihal kemarin" Sentak Alvaro dengan nada panik.
"Hikssss... hikssss... Sakit! bunda sakit" Lirih Queena.
'Bahkan ketika disaat seperti ini, kau tetap memanggil dan menyebut bunda'mu nakk' Batin Zian.
...Skippppp......
...Ruang Medis...
"Dimana Vanessa! Kenapa dia lama sekali" Marah Alvaro.
"Vanessa sedang dalam perjalanan tuan... Mungkin sebentar lagi dia akan sampai" Jawab Ray dengan menundukkan kepalanya karena takut ketika melihat wajah Alvaro yang sangat menyeramkan ketika sedang marah.
"Maaf tuan... Saya sedikit terlambat" Kata Vanessa dengan nafas yang tersengal-sengal karena dirinya yang terburu-buru datang dengan berlari.
"Cepatlah periksa keadaan istriku..." Teriak Alvaro kepada Vanessa hingga membuat Vanessa terkejut setengah mati karena teriakkan Alvaro.
"Baik tuan" Balas Vanessa lalu buru-buru menghampiri Queena yang tengah menahan sakit.
"Permisi nyonya, saya akan memeriksa kondisi Anda" Izin Vanessa yang di angguki oleh Queena.
"....."
"Bagaimana?" Tanya Alvaro dengan nada khawatir.
"Saya akan memberikan obat penenang kepada nyonya muda... Setelah itu nyonya muda tidak akan merasakan sakit kembali" Ujar Vanessa.
"Cepat berikan!" Titah Alvaro dengan nada yang sangat amat khawatir mengenai kondisi Queena saat ini.
"Sudah tuan" Ucap Vanessa.
"Apa kau sudah merasa baikkan Anna? Katakan padaku" Lirih pelan Alvaro.
"Menyingkirlahh" Lirih Queena dengan pelan lalu memalingkan pandangannya kearah lain karena saat ini ia sedang tidak ingin melihat wajah Alvaro.
"Tuan" Panggil Vanessa.
"Hmmmm" Dehem Alvaro dengan menatap wajah Vanessa.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Vanessa yang hanya di balas anggukan kepala saja oleh Alvaro.
...*****...
...Ruang Tamu...
"Bolehkan saya tau... Mengapa nyonya muda menjadi setress?" Tanya Vanessa dengan hati-hati.
"Aku yakin kau mungkin sudah tau mengenai berita panas yang kini tengah trending topik pembicaraan bukan? Itu adalah penyebabnya" Tanya balik Alvaro dengan nada dinginnya menatap wajah Vanessa.
...Glekkkk...
'Lebih baik aku tidak ditatap oleh tuan Alvaro dari pada harus di tatap olehnya! Karena... Tatapan tuan Alvaro sangatlat menyeramkan. Hingga membuatku ingin pergi secepatnya' Batin Vanessa.
"Tuan... Saya sudah pernah mengingatkan anda untuk tidak membuat nyonya muda setres atau sebagainya. Maka dari itu saya akan mengingatkan anda kembali bahayanya stres pada ibu hamil" Ujar Vanessa.
"Saat stres atau sedang marah, tubuh ibu hamil akan memproduksi hormon stres yang bernama kortisol. Ketika jumlah hormon stres tersebut meningkat, pembuluh darah di dalam tubuh akan menyempit. Hal ini membuat aliran darah dan pasokan oksigen ke janin menjadi berkurang dan membuat tumbuh kembangnya terganggu... Oleh sebab itu sebaiknya ruan lebih baik lagi menjaga nyonya muda! Agar nyonya muda tidak stres ataupun depresi serta yang nantinya. Sebisa mungkin sebaiknya tuan menghibur nyonya muda ataupun mengajak nyonya muda pergi ke suatu tempat yang bisa membuat nyonya muda kembali ceria dan tidak lagi stres" Jelas Vanessa kepada Alvaro.
"Hmmmm, ada lagi?." Tanya Alvaro.
"Hmmm, sebaiknya tuan juga jangan terlalu membiarkan nyonya muda menangis... Karena bila nyonya muda menangis terus-menerus, nyonya muda bisa mengalami stres berat, kecemasan, hingga depresi. Kondisi-kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan nyonya muda, seperti sulit tidur dan nafsu makan menurun. Jika hal ini terjadi, tubuh nyonya muda akan kekurangan energi dan nutrisi" Terang Vanessa kembali.
"Baik! Aku akan mengingat itu" Kata Alvaro.
"Kalau begitu saya pamit tuan!" Pamit Vanessa.
"Hmmmm" Dehem Alvaro lalu pergi menuju ruang medis untuk melihat kondisi Queena kembali.
...Ruang Medis...
"Mengapa kau tidak masuk nakk?" Tanya Zian yang tak sengaja melihat Alvaro yang berdiri di depan pintu ruang medis dan tak berniat untuk masuk.
"Grendpa, tolong pelankan suaramu! Jangan biarkan Anna mengetahui keberadaan..." Pinta Alvaro pelan kepada Zian. Karena ia tidak ingin Queena mengetahui dirinya saat ini.
"Mengapa kau tak masuk?" Tanya Zian kembali dengan pelan.
"Tidak Grendpa... Aku tidak akan masuk! Jika aku masuk aku takut Anna tidak akan bisa kembali mengontrol emosinya lagi dan berakibat ia akan stres nanti... Sama seperti tadi" Jawab Alvaro dengan terus memandangi Queena yang tengah tertidur sambil ditemani seluruh anggota keluarga Atmadja dan Williams dan tak lupa juga sang mommy yaitu Maura yang kini juga berada didalam.
Hanya Zian saja yang tak berada didalam ruang medis... Karena tadi Zian sempat pergi ke kamarnya sebentar untuk mengganti pakaiannya makanya ketika Zian ingin kembali keruang medis ia bertemu dengan Alvaro yang tengah berdiri didepan pintu ruang medis.
"Bersabarlah nakk! Grendpa yakin kau tidak melakukan apa-apa dengan wanita yang bernama Amanda itu... Cepat atau lambat Anna akan mengetahui fakta yang sebenarnya. Hanya saja saat ini, ia sedang tersesat di dalam hutan pikirannya" Ujar Zian dengan menepuk pelan pundak Alvaro.
"Aku tau itu Grendpa... Hanya saja aku merasa akan ada hal yang lebih buruk dari hari ini, tapi... Itu hanya sebuah firasatku saja" Kata Alvaro.
"Itu hanya sebuah firasat... Grendpa yakin, firasat buruk itu akan pergi dengan sendirinya nanti... Yang terpenting adalah... Kau harus tetap kuat dan jangan rapuh ketika melewati ujian ini" Tutur Zian.
"Itu pasti Grendpa... Hmmmm, bolehkan aku meminta sesuatu kepada Grendpa?" Tanya Alvaro dengan menatap wajah Zian.
"Katakan saja nakk! Selagi Grendpa bisa membantumu" Balas Zian.
"Tolong berikan vitamin ini kepada Anna! Dan jangan katakan padanya bahwa aku yang telah menyuruhmu untuk memberikan ini kepadanya, Grendpa" Tutur Alvaro dengan memberikan satu botol besar yang berisi vitamin milik Queena kepada Zian.
"Baiklah, Grendpa mengerti" Jawab Zian dengan mengambil botol besar yang berisi Vitamin milik Queena tersebut ditangan Alvaro.
"Terimakasih Grendpa, kalau begitu aku pamit pergi dulu... Karena masih ada urusan yang masih harus aku kerjakan hingga tuntas" Pamit Alvaro kepada Zian lalu setelah itu iapun pergi entah ingin kemana.
"Berhati-hatilah nakk. Jangan sampai kau kecapean dan kelelahan... Karena jika kau sakit tidak ada yang akan lebih memperhatikan kondisi istrimu dan calon anakmu selain dirimu" Kata Zian yang diangguki oleh Alvaro.
"Pasti Grendpa, terimakasih" Jawab Alvaro dengan tersenyum kecil.
...*****...
..."Kamu boleh menangis dan berteriak! Tapi tidak untuk menyerah"...
..._Alvaro Kenan Dirgantara 🥀....