My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Anvaa



Sesampainya ditempat pakaian...


"Pilihlah... pakaian apa saja yang kau suka" Titah Alvaro pada Queena yang sedang menatap lesu kearah dirinya.


"Queena apa kau tidak dengar apa yang aku perintahkan?" Tanya Alvaro dengan nada sedikit tinggi karena dirinya kini mulai tersulut emosi akan Queena.


"Dengar" Ucap Queena dengan lesu.


"Lalu? Mengapa kau masih diam disini? pergilah" Usir Alvaro dengan menyuruh salah satu karyawan yang ada disana untuk mendampingi Queena yang ingin memilih beberapa pakaian.


"Baiklah-baiklah" Jawab Queena malas lalu berjalan menuju tempat dimana pakaian dan aksesoris branded.


...10 menit kemudian......


"Sudah, Al" Kata Queena tersenyum manis lalu berjalan menuju tempat kasir tapi tertahan oleh Alvaro yang menarik lengannya.


"Al, ada apa lagi? Bukankah aku sudah memilih baju?" Tanya Queena Kebingungan.


"Apa kau yakin sudah memilih baju yang benar?" Tanya Alvaro menatap pakaian yang dipilih Queena.


"Tentu saja" Jawab Queena dengan mengangguk kecil kepalanya.


"Percuma jika aku menyuruh'mu untuk memilih pakaian, tapi pada dasarnya kau memilih pakaian dengan model yang sama seperti di mansion!" Kesal Alvaro lalu menarik Queena untuk memilih baju yang lainnya dan melempar baju yang sudah dipilih oleh Queena tadi kepada salah satu karyawan yang ada disana.


"Ambil" Titah Alvaro yang mengambil acak pakaian untuk Queena, walaupun Alvaro mengambilnya secara acak tapi jangan salah loh pakaian yang dipilih oleh Alvaro sangat cantik-cantik.


"Aku tidak mau" Tolak Queena dengan menggelengkan kepalanya.


"Ambil!!" Tegas Alvaro dengan menatap wajah Queena sangat tajam.


"Baik" Jawab Queena dengan sangat amat terpaksa.


"Ini juga ambillah" Kata Alvaro dengan melempar kembali salah satu pakaian kepada Queena yang mana baru saja di keluaran oleh desainer terkenal dengan model yang tentunya bisa menutupi perut Queena.


"Ini jugaa" Tutur Alvaro kembali.


"Ini"


"Ini"


"Al, sudah" Pinta Queena yang menyuruh Alvaro untuk berhenti mengambil baju-baju untuknya.


"Ambil, ini juga" Kata Alvaro.


"Dan ini"


"Apakah, sudah Al?" Tanya Queena.


"Hmmm" Dehem Alvaro lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Berikan pakaian-pakaian ini pada kasir, dan gunakan ini untuk membayarnya" Tutur Alvaro dengan memberikan sesuatu kepada Queena, yaitu sebuah kartu berwarna hitam atau dikenal dengan nama blackcart.


"Hmmm.... Baiklah" Jawab Queena dengan mengambil blackcart milik Alvaro tersebut lalu setelah itu iapun pergi menuju tempat kasir untuk membayar semua pakaian-pakaian yang telah di pilihnya lebih tepatnya pakaian yang sudah dipilihkan oleh Alvaro.


...Beberapa menit kemudian......


"Sudah selesai Al" Kata Queena dengan memegang beberapa paper bag belanjaan bajunya yang sangat banyak.


"Berikan padaku sebagian" Kata Alvaro yang melihat Queena memegang paper bag belanjaan baju yang sangat banyak.


"Kenapa hanya sebagian saja Al? menapa tidak kau saja yang memegang semuanya" Tutur Queena dengan cengengesan.


"Diam, sudah bagus aku mau membantumu kau malah ingin aku yang membawakan semuanya" Kesal Alvaro dengan membawa sebagian belanjaan'nya dan sebagian lainnya Queena.


"Baiklah-baiklah"


"Al, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Queena.


"Katakan saja, tapi jangan yang aneh-aneh" Jawab Alvaro cepat.


"Aku ingin......"


...*****...


"Menapa kita datang kesini?" Tanya Alvaro dengan kesal.


"Karena kau ingin memelihara sesuatu" Jawab Queena tersenyum manis, yaa. Jadi Queena kini datang ketempat pemeliharaan hewan, karena dirinya ingin memelihara sesuatu.


"Memangnya kau ingin memelihara apa?" Tanya Alvaro.


"Hanya seekor kucing kecil" Jawab Queena dengan tersenyum manis.


"Hmmm, pergilah aku akan tetap di dalam mobil saja" Ujar Alvaro diangguki Queena lalu tanpa membuang waktu lagi Queena langsung saja masuk kedalam.


...15 menit kemudian......


"Apa sudah selesai?" Tanya Alvaro.


"Sudah" Balas Queena.


"Lalu dimana kucing'mu yang kau bilang itu" Tanya Alvaro keheranan karena tidak melihat Queena membawa seekor kucing'pun ditangan'nya.


"Mereka akan mengantarkan'nya ke mansion nanti" Jawab Queena dengan santainya.


"Hmmm, apa sudah semua yang kau inginkan? Tidak ada lagi?" Tanya kembali Alvaro kepada Queena.


"Tidak, ada"


"Ohh, yaa Al, ini aku kembalikan kartumu" Ujar Queena dengan mengembalikan kartu blackcart milik Alvaro kembali kepada Alvaro tapi justru Alvaro malah menolaknya.


"Buat kau saja" Kata Alvaro.


"Haa? Apaa? Kenapa?" Tanya Queena dengan keheranan sekaligus kebingungan.


"Sudahlah Queena jangan banyak bertanya!" Ujar Alvaro dengan malas.


"Ohh, Baiklah"


"Terimakasih Al"


"Emm"



...Kamar Alqueen...



"Akhirnya sampai juga" Kata Queena dengan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


...Bruuukkkk...


"Aww... Al mengapa kau melempar semua belanjaan'nya?" Tanya Queena yang kesakitan karena ulah Alvaro yang membuang belanjaan miliknya tepat di wajah cantiknya.


"Bereskan, belanjan'mu" Titah Alvaro lalu masuk kedalam kamar mandi begitu saja setelah melempar semua belanjaan Queena tanpa bersalah.


"Aishhh, menyebalkan!" Gerutu Queena dengan mengusap-usap pelan wajahnya.


"Perasaan, Alvaro mengambil semua pakaian ini secara acak, lalu mengapa yang dipilih oleh Alvaro semuanya sangat bagus-bagus dan cantik-cantik?" Tanya Queena yang kebingungan karena melihat baju yang sudah dibelinya.


"Ah mungkin saja Alvaro sudah terbiasa membelikan sekaligus memilih pakaian wanita untuk Amanda, tidak heran kalau Alvaro pintar memilih pakaian wanita" Lirih Queena.


"Tapi... menapa hari ini Alvaro sangat banyak bicara dan lagi menapa hari ini ia sangat berbeda dari yang biasanya?" Gumam Queena bertanya-tanya kepada dirinya sendiri perihal sifat Alvaro yang kini tengah berubah-ubah seperti seorang bunglon.


"Tapi walaupun begitu aku sangat bahagia bisa bersama dengan Alvaro" Ucap Queena pelan dengan tersenyum bahagia.


"Semoga kau tidak berubah kembali seperti biasanya, aku berharap kau akan terus seperti ini Al" Lirih Queena pelan.


...30 menit kemudian......


"Akhirnya... selesai juga" Kata Queena yang baru saja selesai membereskan Belanjaannya tadi.


...Ceklekkkk...


"Al." Panggil Queena dengan berbalik ingin melihat Alvaro, tapi saat ia sudah membalikkan badannya ia langsung malah berbalik kembali.


"Ada apa?" Tanya Alvaro dengan bodohnya.


"Ka--u... ka--kau... menapa kau tidak memakai baju dan mengapa kau hanya memakai handuk saja Al?" Tanya Queena dengan gugup karena Alvaro hanya memakai handuk dari atas pinggang hingga lutut saja tanpa mengenakan pakaian'nya.


"Karena aku baru selesai membersihkan badanku... Tentu saja aku hanya memakai handuk" Ketus Alvaro lalu berjalan menuju ruang ganti.


"Sabar Queena ini ujian... Tapi, Aaaaaa... bolehkah aku memegang roti sobek milik Alvaro sebentar saja?" Gumam Queena yang tak sengaja melihat roti sobek milik Alvaro suaminya itu.


...Tingggg... Tonggg......


"Apakah kucing kecilku sudah datang?" Tanya Queena dengan antusiasnya pergi, lalu tanpa aba-aba Queena langsung saja berlari untuk turun kebawah menyambut kedatangan kucing kecil yang ia beli.


"Nona hati-hati, nanti anda terjatuh" Teriak Bi Lin yang melihat Queena berlari dari atas hingga kebawah lalu iapun langsung saja memperingati Queena.


"Tenang saja bibi!" Teriak Queena dengan membalas teriakan Bi Lin.


"Nona, biar bibi saja yang membuka pintunya" Kata Bi Lin lalu melangkahkan kakinya tapi ditahan oleh Queena.


"Jangan Bi! biar aku saja" Balas Queena dengan menolak tawaran dari bi Lin.


"Baiklah nona, kalau begitu bibi pamit ke dapur lagi" Ujar Bi Lin lalu pergi menuju dapur.


"Silahkan bii"


...Ceklekkkk...


"Apa benar ini kediaman nyonya muda Queena dirgantara?" Tanya orang tersebut yang mengantarkan hewan peliharaan milik Queena yang sudah dibeli oleh Queena tadi.


"Benar, dengan saya sendiri" Jawab Queena dengan tersenyum.


"Nona ini hewan peliharaan anda, silahkan ditanda tangani disini sebagai tanda bahwa anda sudah menerimanya nyonya" Kata orang itu yang mengantarkan hewan peliharaan Queena.


"Ohh, baiklah" Jawab Queena tersenyum manis lalu buru-buru menanda tangani kertas tanda terima tersebut.


"Terimakasih nona, kalau begitu saja pergi dulu... dan ini hewan peliharaan baru anda" Kata orang tersebut dengan memberikan hewan peliharaan baru milik Queena kepada Queena.


"Sama-sama" Balas Queena dengan senang hati mengambil hewan peliharaan baru miliknya.


...Ceklekkkk...


"Aaaaaaaa... Akhirnya kau datang jugaa! Karena kau belum mempunyai nama maka aku akan menamai'mu. Anvaa... (Gabungan dari Angel dan Varo) sesuai nama yang aku buat dengan Varo saat Kecil" Ucap Queena dengan tersenyum bahagia.


"Apa kau menyukainya, Anvaa?" Tanya Queena pada hewan peliharaan'nya itu.


...Goooaaarrrrr...


"Aaaaa!! Ternyata kau sangat menyukainya" Kata Queena lalu memeluk hewan peliharaan'nya yang tak lain adalah seekor macan yang bewarna hitam putih yang di pilihnya.


"No--nona It-u.. ada-ada macan..." Ucap Bi Lin yang ketakutan ketika melihat macan putih milik Queena yaitu Anvaa disamping Queena.


"Bibi... kau tidak perlu takut ini dengan Anvaa, hewan kesayangan'ku ini... Bibi tidak perlu khawatir karena Anvaa tidak akan menggigit bibi... Anvaa hanya akan menggigit orang yang berniat jahat saja kepadanya, Ia sudah terlatih bi..." Tutur Queena lalu menarik pergelangan tangan bi Lin dengan lembut.


"Bibi...coba bibi pegang Anvaa, agar Anvaa dapat mengenali'mu" Titah Queena dengan meyakinkan bi Lin untuk tidak takut kepada Anvaa.


"Tap-i... nona bibi sangat takut, Bagaimana jika Anvaa tiba-tiba menggigit bibi?" Kata bi Lin dengan mengumpat dibelakang Queena.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, bibi... Lihat sepertinya Anvaa menyukaimu bi..." Ujar Queena yang melihat Anvaa perlahan mulai mendekati dirinya kepada bi Lin lalu Anvaa tiba-tiba duduk didepan bi Lin.


"Iyaa, nona benar.. sepertinya Anvaa tidak ingin menyakiti bibi" Kata bi Lin yang kini mulai sudah berani dengan Anvaa, bahkan sekarang bi Lin tengah mengelus kepala Anvaa. Walaupun masih ada rasa sedikit takut.


"Wahhhh, sepertinya Anvaa benar-benar sudah menyukai bibi..." Ucap Queena dengan bahagia.


"Benar nona, sepertinya bibi lupa kalau bibi harus pergi sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang sudah menipis, kalau begitu bibi pergi dulu ya" Tutur bi Lin yang dibalas anggukan kepala oleh Queena.


"Pergilah bi, hati-hati" Balas Queena.


"Baik, nona" Jawab Bi Lin.


"Anvaa, tunggulah disini sebantar... Aku ingin membuatkan'mu susu terlebih dahulu okee?" Tutur Queena dengan mengelus kepala Anvaa lalu mulai mencium'nya dan setelah itu ia pergi ke dapur.


...Goooaaarrrrr...


...Visual Anvaa...