
...Ruang Tamu...
"Kau kenapa nakk?" Tanya Maura kepada David karena tak sengaja melihat David baru keluar dari kamar Alvaro dengan memasang wajah kesalnya.
"Tidak apa mommy" Jawab David dengan nada yang masih sedikit kesal terhadap Alvaro.
"Jangan berbohong, ceritakan kepada mommy ada apa denganmu?" Ujar Maura dengan duduk di sofa tapi pandangannya masih tertuju ke wajah David.
"Mommy, Tidak bisakah kau membujuk Alvaro untuk tidak seperti ini! Bukan karena apa-apa hanya saja aku kasihan melihat Alvaro yang terus saja mengurungkan dirinya didalam kamar, dan ia akan keluar hanya ketika sedang ada meeting saja" Kata David dengan mendaratkan bokongnya di sofa dengan sangat kasar.
"Mau bagaimana lagi nakk. Kau tau bukan bagaimana sifat Alvaro sedari kecil? Sifatnya itu sangatlah mirip dengan daddy-nya. Mommy tidak akan bisa menentangnya! Hanya ada satu orang yang bisa membuat Alvaro kembali seperti dulu.... Yaitu istrinya Queena. Hanya saja... Huuuffff" Tutur Maura dengan menghela nafasnya dengan sangat kasar.
"Jika Alvaro bisa berubah kembali seperti dulu karena adanya kakak ipar, maka aku akan berusaha untuk menemukan kakak ipar sekalipun aku harus membunuh siapapun yang menghalangi jalanku untuk bertemu kakak ipar" Tegas David.
"Sekarang satu-satunya cara agar Alvaro kembali seperti dulu hanyalah Queena. Sudah lima bulan ini Queena pergi dan sudah lima bulan terakhir ini juga Alvaro putraku selalu mengurungkan dirinya didalam kamar... Cara yang terbaik sekarang adalah menemukan Queena" Ujar Maura yang diangguki oleh David.
"Kau benar mommy! Mommy maukah kau ikut denganku? Ke suatu tempat" Ajak David kepada Maura, entah ia ingin mengajaknya kemana.
"Kemana?" Tanya Maura dengan menaikkan satu alisnya.
"Ikut dulu saja, mommy" Kata David dengan menarik pelan pergelangan tangan Maura, dan Maura mau tidak mau iapaun mulai mengikuti David.
...Skippppp......
...Markas Besar Dirga Grup dan Tara Gru
...
"Ini... mengapa kau membawa mommy kemari makk?" Tanya Maura yang kebingungan dengan pemandangan sekitarnya termasuk kebingungan melihat raut wajah David.
"Kita kesini untuk bertemu dengan Orang yang sudah membuat kakak ipar pergi mommy! Aku membutuhkanmu untuk bisa masuk kedalam penjara bawah tanah" Jawab David dengan membalas tatapan wajah Maura.
"Maksudmu... Wanita itu?" Tanya kembali Maura.
"Benar mommy" Balas David lalu turun dari mobilnya dan pergi untuk membukakan pintu buat Maura.
Setelah selesai membukakan pintu mobil untuk Maura, Maurapun langsung saja masuk bersamaan dengan David kedalam markas besar Dirga Grup dan Tara Grup. vibest-nya seperi mafia tapi bukan mafia.
"Selamat datang nyonya besar" Sapa seluruh anak buah Dirga Grup dan Tara Grup yang tidak sengaja melihat Maura datang berkunjung kedalam markas besarnya setelah sekian lama.
"Hmmmm, bisakah kalian mengantarkan-ku menuju penjara bawah tanah?" Dehem Maura dengan bertanya kepada salah satu anak buat Dirga Grup.
"Maaf menjawab nyonya besar, kami tidak berani untuk mengantar myonya besar menuju ruang bawah tanah! Karena tuan besar telah memberikan kami perintah yang tidak bisa di ganggu gugat lagi" Ujar Anak Buah Dirga Grup tersebut dengan hormat.
"Perintah apa yang tidak bisa di ganggu gugat?" Tanya Maura dan David secara bersamaan.
"Mengapa kalian kemari" Tanya seseorang dengan nada dingin dan kini mulai berjalan mendekat kearah Maura dan David.
"Alvaro?" Panggil Maura dan David yang terkejut dengan kedatangan Alvaro.
"Kenapa?" Tanya Alvaro dengan datar.
"Nakk! Mommy datang kemari hanya untuk bertanya sesuatu kepada wanita gila itu" Ucap Maura dengan lembut agar putranya itu tidak marah akan kehadirannya didalam markas besar Dirga Grup dan Tara Grup.
"Selamat datang tuan besar" Sapa kembali seluruh anak buah Dirga Grup dan Tara Grup kepada Alvaro kali ini.
"Hmmmm" Dehem Alvaro.
"Ikuti aku" Tutur Alvaro lalu berjalan menuju penjara bawah tanah, sedangkan Maura dan David yang mendapat jawaban dari Alvaro justru malah saling pandang.
...Ruang Bawah Tanah/ Penjara...
"Lepaskan akuuuu!"
"Aku bilang lepaskan aku!!" Teriak seseorang yang tengah memberontak dan berusaha untuk membuka kunci sel nya.
"Kaliannnn!"
"Lepaskan Akuuuu!! Jika kalian tidak melepaskanku, maka kalian akan tau akibatnya. Cepat lepaskan akuuuu" Teriak kembali seseorang tersebut, siapa lagi jika bukan Mira wanita terjahat nomor satu didunia itu.
"Berisik" Bentak Alvaro kepada Mira hingga membuat semua orang yang berada di dalam ruang Bawah tanah menjadi terkejut.
"KAUUU!!"
"Apa kau tidak dengar! Cepat lepaskan aku dan bebaskan aku!" Pinta Mira dengan berteriak kembali.
"Kau ingin lepas?" Tanya Alvaro dengan tersenyum miring, sedangkan Maura dan David justru hanya diam sambil mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Alvaro barusan.
"Yaa! Aku ingin lepas dari neraka ini" Jawab Mira dengan mengangguk kecil.
"Beritahu padaku, dimana Queena sekarang" Ujar Alvaro dengan menatap jijik kepada Mira.
"Aku tidak tau" Jawab Mira dengan cepat.
"JANGAN BOHONG!"
"Bukankah kau yang merencanakan Ini semua!!" Bentak seseorang yang tak lain adalah David dan bukan Alvaro kepada Mira.
"Itu memang rencanaku! Tapi... Aku tidak tau dimana Queena pergi. Aku hanya memberikan sebuah paspor palsu saja kepadanya tapi aku tidak tau dia akan pergi ke negara mana" Balas Mira dengan nada membentak pula.
Memang benar yang dikatakan Mira, bahwa dirinya benar-benar tidak tau diaman Queena pergi atau lebih tepatnya negara mana yang Queena tempati saat ini, Karena pada saat itu... Ia hanya memikirkan untuk menyingkirkan Queena secepatnya saja dari negara los angeles! Hingga ia lupa untuk bertanya kepada Queena negara mana yang akan ditempatinya.
"Jangan coba-coba untuk berbohong denganku. Atau kau akan mati detik ini juga" Marah Alvaro dengan mencengkeram kuat leher Mira.
"Uhukkk"
"Uhukkk. Ak-aku... Ak-aku tidak ber--bohong! Akk-u Uhukkk... Mem-ang benar-benar tid--dak tau... Uhukkk! Negara mana ya-yang Quee-naaa tempati saat i-ini" Ucap Mira dengan terbata-bata karena lehernya yang kini tengah di cekik dengan begitu kerasnya oleh Alvaro.
"Al! Lepaskan nakk" Pinta Maura yang tak tega melihat Mira kesakitan seperti sedang sekarat. Bukan karena apa-apa Maura meminta putranya untuk melepaskan Mira saat ini.
Karena Maura sangat takut bahwa putranya akan membunuh seorang wanita tepat didepan matanya, dimana dirinya juga adalah seorang wanita. Dan Alvaro yang mendengar ucapan sang mommy langsung saja melepaskan cengkramannya terhadap Mira.
"Uhukkk!"
"Uhukkk"
"Mengapa kau tidak langsung membunuhku saja? Uhukkk" Kata Mira dengan menatap tajam ke arah Alvaro yang kini justru membalas tatapannya lebih tajam.
"Baik, aku akan mengabulkannya" Balas Alvaro lalu berjalan mendekati tempat persenjataan miliknya.
"Al, Apa yang kau inginkan nakk?" Tanya Maura dengan nada panik karena putranya benar-benar akan menuruti permintaan dari Mira?.
"Ingin mengabulkan keinginannya" Jawab Alvaro singkat lalu kembali berjalan mendekati Mira yang tengah terduduk sambil memegangi lehernya karena masih merasa sakit akibat cekikikan yang diberikan oleh Alvaro kepadanya.
Sedangkan Alvaro, ia kini justru mendekati Mira dengan membawa sebuah pisau kecil miliknya dan juga pistol ditangannya, walaupun Alvaro membawa sebuah pisau kecil tapi jangan ditanya seberapa tajamnya benda itu walau terlihat kecil tapi menyakitkan.
"Kau ingin mati bukan? Kalau begitu aku akan mengabulkannya hari ini!" Ujar Alvaro dengan tersenyum Devil.
"Al, kau jangan nekat" Celetuk David yang berniat ingin menghentikan pergerakan Alvaro tapi justru Alvaro malah menatapnya dengan tatapan yang tajam hingga membuatnya justru malah berhenti karena takut dengan tatapan Alvaro.
"Kau tidak akan berani membunuh-ku! Hehhh... Hahahaha" Tawa Mira dengan kecil.
"Benarkah?" Tanya Alvaro dengan menaikkan satu alisnya lalu perlahan menggores leher Mira dengan pisau kecil miliknya.
"Arghhhhhh!! Bunuh saja akuuuu" Teriak Mira dengan kesakitan karena lehernya perlahan-lahan tengah disayat oleh pisau kecil milik Alvaro saat ini.
Rasa sakit yang begitu luar biasa yang kini tengah dirasakan-nya. Rasanya seperti ia lebih ingin mati saja dari pada harus seperti ini, yang disiksa secara perlahan dan memperlambat proses kematiannya.
"Tidak semudah itu Mira!" Ucap pelan Alvaro dengan terus saja menyayat leher Mira dengan pisau kecilnya.
"AAAAAAAAAA!!"
"Hentikan!! Hikssss... Agrhhhh hikssss... hikssss... Hentikan" Tangis Mira dengan terus berteriak karena dirinya tidak bisa bergerak sama sekali, kedua tangannya dirantai begitu juga dengan kakinya bahkan tubuhnya kini tengah tidak berdaya karena ulah Alvaro tadi.
...Dretttt... Dretttt......
Ketika Alvaro tengah asik-asiknya bermain pisau ditubuh dan leher Mira, tiba-tiba saja hendphone miliknya bergetar dengan sangat kencang. Bukan ada yang menelponnya tapi ada yang tengah mengirim sebuah pesan dan foto beserta vidio dengan begitu banyaknya... Entah siapa yang mengirimnya karena Alvaro sendiri tidak mengenali nomor hendphone orang tersebut.
"Nakk!"
"Tolong bantu mommy untuk keluar dari sini" Lirih Maura dengan meminta David untuk membantunya keluar dari ruang bawah tanah tersebut karena dirinya sangat lemas akibat pertunjukan yang diberikan putranya itu terhadap Mira.
"Aku akan menggendongmu mommy" Ujar David lalu mulai menggendong tubuh Maura yang kini lemas tidak bertenaga setelah melihat aksi yang dimainkan oleh Alvaro.
Sedangkan Alvaro, ia sudah keluar sedari tadi setelah mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang tidak ia kenal, tapi ketika dirinya hendak keluar ia terlebih dahulu melemparkan pisau kecilnya tepat mengenai kedua jari tangan Mira hingga membuat kedua jari Mira terputus makanya Maura langsung lemas tidak bertenaga.
"Ambil kembali pisau kecilku! Lalu bersihkan..." Titah Alvaro dengan datar kepada salah satu anak buah dirga grup yang ada disana.
"Baik tuan" Jawab Anak buah dirga grup tersebut.