My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Rasa bersalah Queena



"Sekarang bagaimana dengan kondisinya?" Tanya Alvaro kembali sama seperti tadi dingin dan datar.


"Syukurlah, tidak terjadi apa-apa dengan janin yang berada didalam kandungan nyonya muda, tuan. Tapi... mohon ruan beserta dan yang lainnya lebih memperhatikan kembali nyonya muda, saya sudah pernah mengatakan bahwa nyonya muda tidak di izinkan untuk melakukan tugas yang berat-berat atau nyonya muda akan seperti ini kembali" Jawab dokter Vanessa yang kembali mengingatkan tentang Queena.


"Dan... mengapa nyonya muda bisa pingsan itu disebabkan oleh kondisi nyonya muda yang lemah karena nyonya muda terlalu banyak beraktivitas diluar... Mungkinkah nyonya muda tidak meminum vitamin yang pernah saya berikan tuan... Maaf jika saya lancang dalam bertanya kepada anda" Kata dokter Vanessa kembali.


"Dia selalu meminum vitamin yang saya berikan, dan dia meminum vitaminnya selalu di depan saya setiap kali jadwal ia meminum vitaminnya. Tapi hari ini saya terlalu sibuk hingga lupa menanyakannya... mungkin saja ia belum meminumnya" Balas Alvaro dengan diam-diam mengepalkan kedua tangannya.


Karena Alvaro sendiri bahkan nelupakan istrinya untuk terus mengingatkan Queena yang harus selalu meminum vitaminnya, agar kondisinya selalu stabil dan sehat, karena jika kondisinya sehat dan stabil maka bayi yang Queena jandung juga akan ikut merasakannya. Tapi... Karena kesibukannya didalam perusahaan ia melupakan tanggung jawabnya untuk mengingatkan Queena perihal vitamin yang harus selalu Queena minum.


Tapi.... Tapi Alvaro juga kesal terhadap Queena. Karena Queena tidak meminum vitaminnya tepat jadwal minumannya, apakah Queena harus selalu diingatkan oleh Alvaro untuk terus meminum vitaminnya? Tidak bukan, maka dari itu Alvaro-pun kesal dengan Queena juga.


Ingin sekali rasanya saat ini ia menegur Queena istrinya itu, tapi... Kini Queena masih belum mau membuka kedua matanya hingga membuat Alvaro hanya bisa diam sambil menahan kekesalannya itu.


"Hmmm, jalau begitu... biarkan nyonya muda beristirahat terlebih dahulu! Jika nyonya muda sudah sadar tolong tuan langsung berikan vitamin nyonya muda kepada nyonya muda untuk segera diminum. Agar kondisi nyonya muda cepat stabil.


"Hmmmm" Dehem Alvaro.


"Kalau begitu saya pamit tuan..." Pamit dokter Vanessa kepada Alvaro, karena tugasnya untuk memeriksa kondisi Queena sudah selesai.


"Hmmm, Ray" Panggil Alvaro kepada Ray untuk pergi menemani Vanessa hingga kebawah.


"Baik tuan" Jawab Ray yang memang sudah paham dengan Panggilan dari Alvaro.


"Permisi tuan, dan nyonya" Pamit Vanessa kepada yang lain.


"Hmmmm" Dehem semua orang.


Setelah itu Ray-pun mulai mengikuti dokter Vanessa dari belakang karena mendapat perintah dari Alvaro untuk mengantarkan Vanessa sampai kebawah. Dan untuk yang lainnya-pun kini hanya diam sambil menatap Queena yang tengah berbaring dengan jarum infus ditangannya.


"Bisakah kalian keluar... Aku hanya ingin berdua dengan Anna saat ini" Pinta Alvaro dengan memerintahkan kepada seluruh keluarganya untuk keluar dari ruang medis saat ini. Karena kini ia hanya ingin berdua bersama dengan Queena saja.


"Hmmmm, baiklah nakk" Balas Zian yang mengerti dengan situasi saat ini begitu pun yang lainnya.


"Beristirahatlah Al... Uncle tau kau pasti juga lelah karena sedari tadi mencari keberadaan Anna" Tutur Zayyann dengan memegang pelan pundak Alvaro.


"Iyaa uncle" Jawab Alvaro yang enggan untuk menatap wajah keluarganya, karena matanya tidak ingin berpaling kepada wajah pucat istrinya saat ini.


"Nakk" Panggil Maura.


"Hmmmm" Dehem Alvaro kepada Maura.


"Beristirahatlah sebentar... Mommy yakin kau pasti lelah bukan? Beristirahatlah" Ujar Maura yang memperingatkan putranya untuk beristirahat sejenak.


"Hmmm, terimakasih mommy" Balas Alvaro yang lagi-lagi tidak menatap lawan bicaranya. Pandangan Alvaro justru selalu mengarah kepada wajah Queena yang sedang pucat seakan-akan pandangannya itu terkunci oleh wajah cantik Queena, hingga ia tidak bisa menatap lawan bicaranya.


Akhirnya... Maura dan Semua keluarga Atmadja-pun pergi meninggalkan Alvaro seorang diri didalam ruang medis tempat dimana kini Queena tengah berbaring dengan jarum infus ditangannya.


"Kau pergi tanda seizinku. Hingga membuatku pergi mencarimu, bahkan kau hampir saja melukai calon anak-anakku! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Anna, bagaimana mungkin kau tega melakukan ini kepada anak-anakku. Kau hampir saja membuatku kehilangan mereka" Ucap Alvaro pelan.


"Aku tidak akan pernah mengampuni-mu... Jika terjadi apa-apa dengan calon anak-anakku! Anakku adalah segalanya bagiku, walaupun mereka belum lahir ke-dunia ini. Begitu juga denganmu, kau adalah segalanya bagiku... Tapi, jika kau membuatku kehilangan anakku, maka cintaku bisa saja menghilang untukmu... Selamanya" Kata Alvaro dengan mata berkaca-kaca.


"Anakku adalah segalanya bagiku"


"Emmmmmm...."


"Shehhh"


Akhirnya setelah sekian lama pingsan, Queena pun mulai membuka kedua bola mata cantiknya dengan perlahan sambil memegangi jepalanya yang sedikit agak terasa sakit. Dan kesadaran Queena-pun hanya bisa ditatap oleh Alvaro dengan diam.


"Dimana Ini" Tanya Queena dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit sambil melihat kearah ruangan yang menurutnya sangatlah asing.


"Sudah sadar" Tanya Alvaro dengan datar.


"Suamiku"


"Kau... Ini... Ada dimana?" Kata Queena dengan lirih yang bertanya kepada Alvaro dimana dirinya sekarang.


"Lebih baik kau diam, dan beristirahat saja... Jangan terlalu memikirkan tempat ini sekarang! Berusahalah untuk menstabilkan kondisimu dulu, setelah itu kau boleh bertanya" Tutur Alvaro dengan nada dingin hingga membuat Queena menjadi terkejut dengan nada yang euaminya berikan untuknya berbeda.


...Deggggg...


'Ada apa dengan Varo... Nada bicaranya, mengapa sangat dingin. Dingin dari sebelumnya, ada apa dengannya' Batin Queena dengan bertanya kepada dirinya sendiri perihal nada dingin yang Alvaro berikan untuknya saat ini.


"Suamiku" Panggil Queena dengan berusaha untuk duduk dari ranjang miliknya itu.


"Jika kau berani untuk duduk... Maka jangan salahkan aku yang akan memaksamu untuk kembali berbaring" Tegas Alvaro dengan wajah yang tak bisa diartikan saat ini, hingga membuat Queena seketika berhenti dalam pergerakannya. Lalu Queena-pun langsung saja berbaring kembali dengan raut wajah yang ketakutan sekaligus kebingungan terhadap suaminya itu.


"Suamiku ka---" Ucap Queena yang terpotong oleh perkataan Alvaro.


"Diam dan jangan kembali bergerak... Aku akan menyuruh bi Lin untuk membawakan vitaminmu dan makanan untukmu... Kau tunggu saja, aku akan pergi karena aku masih ada urusan" Kata Alvaro yang memotong ucapan Queena, lalu setelah itu iapun mulai pergi tanpa berpamitan dengan Queena.


"Suamikuuu" Lirih Queena.


"Ada apa dengan Varo... Mengapa ia menjadi seperti itu, aku tidak mengerti dengannya saat ini" Gumam Queena kecil dengan menatap pintu yang telah tertutup oleh Alvaro.


"Anak mommy, apa kalian baik-baik saja... Hmmm, maafkan mommy untuk kejadian tadi nakk! Maafkan mommy yang lupa untuk meminum Vitamin mommy... Maafkan Mommy karena, Tunggu... Apa jangan-jangan" Ujar Queena dengan mengelus perut rata miliknya itu, tapi tiba-tiba pergerakan tangannya terhenti seketika.


"Apa jangan-jangan... Varo tiba-tiba saja begini karena nasalah yang aku buat tadi. Yaitu masalah karena aku pergi tanpa seizin darinya dan.... dan... masalah vitamin yang aku lupakan untuk meminumnya. Vitamin yang seharusnya untuk aku terus meminum" Kata Queena dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri perihal Alvaro yang kini tengah marah kepadanya.


"Ini... Maafkan aku Varo. Karena telah membawa anak-anak kita dalam bahaya karena-ku" Ucap Queena yang kini merasa bersalah kepada Alvaro.


"Nyonya..."